Namaku Maira

Namaku Maira
- Berperang dengan rasa -


__ADS_3

***


Minggu terakhir sebelum masa praktek kerja kami berakhir, mas wisnu mengajak kami untuk mengelilingi kota kebumen di hari minggu.


"Kalian sudah dapat ide untuk topik skripsi kalian", tanya mas wisnu pada kami sembari dia menyetir mobilnya.


"Sudah mas, tinggal di ajukan nanti", jawab ayu.


"Maira rencananya nanti kalau sudah lulus mau kerja dimana", tanya mas wisnu padaku.


"Belum tau mas, mungkin di sekitar jogja aja, biar dekat dengan orang tua", jawabku.


"Kalau kamu dit", tanya mas wisnu pada dita.


"Mungkin di semarang aja mas", jawab dita ringan.


"Aku nggak ditanya mas", tanya bowo pada mas wisnu.


Mas wisnu langsung terkekeh, dan mengatakan kalau dia sudah tau rencana bowo, karena bowo sering berdiskusi dengannya.


Mas wisnu mengajak kami untuk mampir ke pantai terdekat setelah mengajak kami berkeliling kota kebumen.


Kami bermain di pantai hanya sampai sekitar habis maghrib, karena kami masih harus menyiapkan program kami untuk minggu terakhir, sebelum kami kembali ke kampus.


Minggu terakhir di kebumen, menandai kalau tiga minggu masa kuliah kerja nyata telah berlalu.


Tiga minggu yang tanpa aku sadari, kalau ternyata aku baik-baik saja tanpa dimas di sekitarku.


Saat kita baru sampai di depan penginapan sepulang dari pantai, ibu menelvonku.


Ibu khawatir karena sudah tiga hari aku tidak mengabari ibu.


"Maaf bu, soalnya jadwalnya lumayan padet, materi kita banyak tapi waktu kita sempit, kan rara seminggu lagi juga pulang", jawabku menenangkan ibu.


"Yaudah, ibu tuh udah kangen banget sama kamu, ibu mau jenguk kamu di kebumen tapi nggak dibolehin sama ayah", ujar ibu yang terdengar cukup kesal.


"Oh ya, rara emang nggak kasih tau dimas, kalau rara pergi ke kebumen", tanya ibu padaku.


Hampir tiga minggu, aku tidak mendengar nama dimas disebut oleh siapapun, mendengar nama itu lagi setelah cukup lama, membuat hatiku kembali berdebar.


"Kasih tau kok, tapi dimas sibuk", jawabku berbohong pada ibu.


Aku berusaha menutupi debaran di hatiku karena mendengar nama dimas.


"Masa sih, kok dimas kaget pas sabtu kemaren kerumah, waktu ibu bilang kamu udah di kebumen dari awal libur semester", ujar ibu merasa curiga.


"Dimas mungkin lupa bu, atau nggak baca pesan dari rara", jawabku berbohong lagi pada ibu.


Aku melihat bowo melambaikan tangan ke arahku, dia memintaku untuk menghampirinya, dan mulai menyusun laporan bersama yang lain.


"Bu, udah dulu ya, rara mau bikin laporan soalnya", ujarku pada ibu.


Setelah ibu mengiyakan dan memintaku untuk tidak melupakan waktu makan, aku menutup telvon dan kembali ke teman-temanku.


*

__ADS_1


Satu minggu yang aku kira akan berjalan dengan normal, ternyata berjalan sangat cepat.


Beberapa penduduk desa yang sudah cukup dekat kami, menangis haru saat kami mengucapkan perpisahan di hari terakhir kami.


Mereka berterimakasih pada kami, karena sudah membagikan ilmu yang kami punya pada mereka.


Tanpa arahan dan bimbingan dari mas wisnu, belum tentu kami bisa menjalani masa pkl ini dengan mudah.


Mas wisnu juga tak pernah pelit memberi ilmu baru pada kami, selama kami menjalani praktek kerja di desanya.


Malamnya, mas wisnu mengadakan pesta bebakaran yang di hadiri oleh beberapa warga desa sebagai salam perpisahan untuk kami.


Kami menutup pesta dengan mengucapkan terimakasih yang sangat banyak, karena penduduk desa sudah mengijinkan kami untuk praktek kerja di desa mereka, dan kami juga berjanji untuk datang lagi berkunjung suatu saat nanti.


Keesokan paginya, paman ayu sudah datang menjemput kami, dan langsung mengantar kami ke stasiun kereta.


Mas wisnu meminta kami untuk sering-sering menghubungi dia, jika kami memiliki kendala saat kami mulai menyusun skripsi.


Kami lalu pamit pada mas wisnu, dan beberapa penduduk desa yang datang ke penginapan kami, untuk melihat kami pergi.


Kami mengambil jadwal keberangkatan ke jogja sekitar pukul dua siang, jadi kita punya waktu yang cukup untuk mampir ke toko oleh-oleh sebelum berangkat ke stasiun.


Tidak hanya menjemput kami dari desa mas wisnu, paman ayu juga menunggu kami di stasiun sampai kereta kami datang.


Begitu kereta kami datang, kami pamit pada paman ayu dan mengucapkan rasa terimakasih berulang kali pada paman ayu, karena sudah membantu kami, dan mengantar kami ke stasiun.


Kami melihat paman ayu keluar dari stasiun begitu kereta kami jalan.


Kami langsung tertidur di kereta, karena rasa lelah yang tidak bisa kami sembunyikan.


Sampai di stasiun tugu jogja, aku langsung bisa melihat ayah dan ibu di luar peron, saat aku turun dari kereta.


Aku langsung berlari ke arah ibu yang tidak berhenti memanggil namaku dari luar peron.


"Aduh kangen sekali ibu sama kamu nak", ujar ibu begitu aku sudah di dekat ibu, ibu lalu memelukku.


"Ayo ayah anter kalian pulang ke kos", ujar ayah pada dita, ayu dan bowo.


Mereka kemudian berjalan mengikuti ayah ke arah parkiran, sementara aku dan ibu berjalan di belakang, karena ibu terus merangkulku dan menciumi pipiku.


Setelah ayah selesai mengantar satu persatu temanku ke kosnya, ayah menawariku untuk makan di restaurant langganan keluarga kami, sebelum kami pulang, tapi aku menolak karena lelah.


Aku langsung masuk ke kamar untuk tidur, begitu ayah memarkirkan mobilnya di garasi rumah.


Aku hanya punya waktu istirahat selama tiga hari, karena aku punya jadwal kuliah yang harus aku hadiri selasa minggu depan.


Aku berencana hanya ingin bermalas-malasan selama tiga hari, sebelum kembali ke kampus.


Aku mendengar suara lembut ibu membangunkanku, perasaan lelah masih menempel padaku, meski aku sudah tidur lebih dari satu jam.


"Ra", ujar ibu membangunkanku dengan lembut.


"Bangun sayang, makan dulu, udah jam delapan malam loh", ujar ibu.


"Masa sih bu, orang rara aja baru tidur", ujarku pada ibu, dengan suaraku yang masih mengantuk.

__ADS_1


"Ada dimas tuh di depan, temuin gih", ujar ibu lagi.


Aku langsung membuka mataku, tapi kemudian aku menarik selimutku kembali, dan memejamkan mataku.


"Bilang aja bu, rara masih di kebumen", pintaku pada ibu.


"Jangan gitu dong ra, dimas sudah jauh-jauh datang dari solo, kamu hargain dong ra", ujar ibu padaku, sambil menarik selimut yang menutupiku wajahku.


Aku lalu bangun, dan turun dari tempat tidur, kemudian berjalan keluar dari kamar.


Dimas ternyata sudah duduk di teras menungguku.


"Hai", sapaku pada dimas.


Aku tersenyum saat aku melihat dimas.


Teras rumahku memang dilengkapi dua kursi yang biasa di pakai ayah dan ibu bersantai, ada meja kecil juga diantara kedua kursi tersebut.


"Capek ya, maaf ya aku gangguin istirahat kamu", ujar dimas tersenyum.


Meski aku masih sangat kecewa pada dimas, tapi ternyata aku merasa senang dimas datang untuk menemuiku.


Aku kembali menyadari kalau perasaanku untuk dimas tidak berubah, dan masih terbungkus dengan sempurna.


"Aku salah apa, sampai kamu nggak ngabarin kalau kamu pergi PKL ke kebumen", tanya dimas, dengan suara pelan.


"Bilang kok, aku telvon kamu, tapi yang angkat zahra, emang nggak disampein ke kamu", jawabku pahit.


Rasa sedih menyelimutiku saat aku menjawab pertanyaan dimas.


Rasa senang yang semula aku rasakan, berubah menjadi rasa sedih dan kecewa, yang memang sudah cukup lama aku pendam.


Dimas tidak mengatakan apapun lagi, dan hanya menyandarkan kepalanya di tembok.


"Kamu bisa nggak sih ra, sekali aja mikirin perasaanku", ujar dimas, yang akhirnya membuka mulutnya setelah lima belas menit terdiam.


"Emang dimas mikirin perasaanku, waktu dimas jalan berdua sama zahra", ujarku pada dimas.


Aku berusaha terdengar senormal mungkin, meski aku tidak bisa memungkiri, kalau hatiku masih sakit ketika aku mengingat soal zahra.


Aku mengetahui zahra pergi berdua dengan dimas, saat aku menghabiskan waktu di sosial media selama perjalananku ke kebumen.


Aku melihat zahra dengan bangganya mengucapkan terimakasih di twitter, karena dimas sudah mengajaknya keluar untuk makan malam.


Zahra mempostingnya di twitter dua jam setelah dia mengangkat telvon dimas dariku.


Postingan zahra, yang membuatku mengabaikan telvon dimas selama aku PKL di kebumen.


"Aku nggak jalan berdua sama zahra", ujar dimas dengan suara cukup tinggi.


"Udahlah, kalau dimas cuma mau kasih alasan lagi, mending dimas pulang, aku capek", ujarku memotong kalimat dimas.


Aku lalu bangun dari kursi, dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan dimas yang duduk di teras, sendirian.


***

__ADS_1


__ADS_2