
***
Senyum masih terus terukir di bibirku, meski sudah satu bulan berlalu, setelah aku dinyatakan lulus.
Lulus dari sidang skripsi, adalah hal yang sangat aku banggakan sebulan terakhir.
Setelah dua jam berjuang di depan tiga dosen penguji, di ruang sidang skripsi, aku merasa lega, karena itu semua sekarang sudah tinggal kenangan.
Aku memang tidak mendapatkan nilai sempurna untuk sidang skripsiku, tapi aku cukup bangga dengan perolehan nilaiku.
Sebulan yang lalu, aku datang ke kampus ini dengan perasaan khawatir, dan juga gugup.
Ayu dan bowo yang mendampingiku, dan mereka tanpa lelah memintaku untuk tenang, saat aku mulai masuk ke ruang sidang.
Rasa khawatir tetap menemaniku selama jalannya sidang skripsi.
Ayu dan bowo juga mendampingiku sampai nilai sidangku di umumkan, di buletin kampus.
Rasa lega dan bahagia langsung menyebar di seluruh hati dan pikiranku, saat aku membaca namaku dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan di buletin kampus.
Bowo dan ayu langsung memelukku, dan pelukan lain juga menungguku saat aku sampai di rumah.
Pelukan itu tidak hanya datang dari ibu dan nenek, tapi juga dari kiki, nia, mia dan rani yang sudah menungguku di rumah.
Sebulan telah berlalu, sekarang aku berdiri di lapangan kampus, sambil memandang gedung kampus yang menjulang dengan kokohnya.
Aku bisa melihat cat di ujung dinding bangunan, sudah mulai terkelupas, dan di selimuti oleh lumut yang datang setelah hujan.
"Terimakasih sudah memberiku pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa selama empat tahun terakhir", renungku dalam hati.
Hari ini, aku sudah menyelesaikan semua berkas dan administrasi skripsiku.
Aku juga sudah mendaftar, dan memilih untuk wisuda di periode ke dua tahun ini.
Upacara kelulusanku, atau wisuda, rencananya akan berlangsung kurang dari tiga bulan.
Aku yakin waktu akan cepat berlalu, karena kurang dari tiga minggu, rani dan kak alan akan melangsungkan pernikahannya.
"Raraaaaa", teriak dita yang berlari dari arah gedung kampus.
"Ditaaa", teriakku kembali pada dita dengan merentangkan tanganku.
Saat dita sudah di dekatku, kami langsung berpelukan.
"Kamu udah selesai urus administrasi", tanya dita padaku.
"Udah, aku juga udah daftar untuk wisuda periode ke dua, ayu sama bowo juga, tadi bareng", jawabku pada dita.
"Jadi kita berempat wisuda bareng dong", teriak dita riang.
__ADS_1
Aku langsung tersenyum dan merangkul dita, kita berdua kemudian memandangi bangunan kampus.
"Akhirnya harapan kita untuk wisuda bareng tercapai ya", ujarku pada dita.
"Iya ra, aku seneng banget, tapi juga sedih soalnya habis wisuda langsung pada pulang", ujar dita dengan raut muka sedih.
"Iya, apalagi ayu, jauh banget di lampung", ujarku pada dita.
"Kita bisa ketemu ayu lagi nggak ya setelah wisuda", ujarku lirih.
Dita kemudian menggenggam tanganku, dan mengatakan kalau suatu saat ini, saat kita sudah dewasa, kita pasti punya kesempatan untuk kumpul bersama lagi.
Wisuda memang moment yang sangat membahagiakan bagi setiap mahasiswa, tapi meski begitu, selalu ada rasa sedih akan perpisahan yang terselip di moment bahagia tersebut.
Setelah empat tahun bersama, kenyataan hidup membuat kita terpisah, dan membawa kita memulai kehidupan menjadi orang dewasa yang sesungguhnya.
Aku dan dita lalu berjalan ke parkiran bersama, sambil mengenang kembali setiap sudut kampus yang kita pernah lewati.
Dita rencananya akan langsung pulang ke semarang, untuk mulai mencari lowongan kerja.
Ayu dan bowo memilih untuk tinggal di jogja sampai hari wisuda.
Bowo akan berusaha mencari posisi pekerjaan yang di tawarkan oleh jogja, untuk mahasiswa yang baru lulus.
Sementara aku, aku masih bimbang dengan keputusan yang harus aku pilih.
Dua minggu yang lalu, kiki dan mia juga sudah dinyatakan lulus dari kampusnya.
Meski aku pertama yang dinyatakan lulus di antar kami berempat, tapi upacara wisudaku yang paling terakhir.
Aku sebenarnya masih ingin berlama-lama di kampus, tapi kampus masih sepi, perkuliahan juga belum di mulai, jadi aku memutuskan untuk pulang, dan mengendarai sepeda motorku secara perlahan menuju rumah.
Aku ingin menikmati moment terakhirku pulang dari kampus.
Moment yang mungkin tidak bisa kuulangi dengan perasaan yang sama.
Moment yang mungkin hanya bisa aku kenang, saat aku melewati setiap jalanan di sekitar kampus.
Moment terakhir dari statusku sebagai mahasiswa, yang sebentar lagi akan berlalu.
Saat aku sampai di rumah, sudah ada rani dan ibu yang sedang melihat box kardus yang ada di atas meja di ruang tamu.
"Assalamualaikum", sapaku, pada mereka berdua.
"Waalaikumsalam", jawab rani dan ibu bersamaan.
"Udah selesai urusannya", tanya ibu padaku.
"Udah bu", jawabku, lalu mencium tangan ibu.
__ADS_1
Aku kemudian melihat isi box, bersama ibu dan rani, dan aku langsung teriak girang begitu melihat isinya.
"Undanganya udah jadi", tanyaku dengan rasa senang.
"Udah nih, baru aja dateng, ini lagi mau di check", jawab rani.
Rani lalu membuka box kardus di depan kami dengan perasaan senang, ibu langsung melihat design kartu undangan, kemudian menghitung isinya.
Ibu lalu bergumam, apakah undangannya sudah pas, atau ada yang ketinggalan.
"Ra ini undangan buat dimas dan maminya", ujar ibu, mengulurkan satu kartu undangan padaku.
"Kamu anter sendiri ya, kasih langsung ke maminya dimas", ujar ibu dengan nada yang tidak ingin dibantah.
"Lewat pos aja ya bu", ujarku, mencoba menego pada ibu.
"Jangan dong ra, kan maminya dimas udah baik sama kamu, kamu anterin ya ke solo", pinta ibu.
"Rara ke sana sama siapa", tanyaku dengan bibir manyun.
"Sendiri, nanti aku sama kak alan anterin kamu sampe stasiun, dan juga pulangnya kita jemput kamu di stasiun", ujar rani ringan.
"Emang nggak bisa di anter sampai solo, kalau naik kereta, terus di solonya gimana sampai rumah dimas", jawabku manja.
"Nggak bisa ra, urusan aku sama kak alan masih banyak, kalau udah sampai solo, kamu kan bisa minta jemput dimas", jawab rani tanpa beban.
"Tuh dengerin rani, kalau dimas sibuk, kamu bisa naik taksi", ujar ibu padaku.
"Ran, bilangin nia dong, suruh anter aku", pintaku pada rani dengan nada memohon.
"Kamu lupa, nia kan sibuk packing barang-barang yang mau dikirim ke jakarta", jawab rani.
Aku kemudian mengeluarkan semua kemungkinan nama, yang bisa mengantarku ke solo.
Tapi ternyata tidak ada satupun dari nama yang kusebut, yang punya waktu untuk mengantarku ke solo.
Akhirnya aku mengiyakan dan mengalah, setelah ibu berjanji akan memberikan ongkos lebih.
Ibu dan rani selesai memisahkan setiap kartu undangan berdasarkan lokasi, tanpa bantuanku, karena aku sibuk menyebut setiap nama yang bisa menemaniku ke solo.
Ibu kemudian menugaskanku untuk mengirimkan kartu undangan pernikahan rani dan kak alan ke kerabat dan tetangga, yang tinggal di lingkungan yang dekat dengan rumah kami.
Aku juga bertugas memberikan undangan pada teman terdekatku di kampus, dan juga teman arisan ibu.
Saat aku tanya kenapa tidak menggunakan jasa kurir saja, ibu menjawab kalau dia punya anak perempuan yang bisa jadi kurir, jadi tidak perlu pakai kurir.
Aku langsung manyun mendengar jawaban ibu.
Sorenya, saat kak alan pulang dari kantor, dia mengatakan kalau dia hanya bersedia mengantarku ke stasiun lempuyangan pada hari minggu, karena itu satu-satunya hari, yang menurut kak alan, dia tidak sibuk.
__ADS_1
Tujuannya juga tidak hanya mengantarku ke stasiun, tapi kak alan juga ingin mengantarkan undangan ke guru sekolah, dan dosen kampus yang sudah membimbing kak alan untuk menuntut ilmu.
***