Namaku Maira

Namaku Maira
- Namanya Rasya -


__ADS_3

***


Dimas menepati setiap ucapannya, dia menghubungiku setiap hari.


Dia kembali seperti dimas saat kita masih menjadi mahasiswa di jogja.


Setiap malam dimas selalu menelvonku sampai aku tertidur, atau kadang dimas tertidur lebih dahulu.


Dimas menjadi tidak aktif di sosial media, tapi dia sering menceritakan hari-harinya denganku.


Kedekatanku kembali dengan dimas, membuatku menarik diri dari arman.


Kami masih makan siang bersama, tapi aku selalu menolak untuk pergi dengan arman sepulang kerja.


Arman menyadari kalau aku menjauh darinya, tapi dia tidak menanyakan apapun.


Jika aku ingin tetap mempertahankan arman disisiku, itu bisa saja, tapi aku tipe perempuan yang tidak bisa mencintai beberapa pria sekaligus, hatiku hanya mampu untuk mencintai satu pria saja.


Dimas yang saat ini masih menjadi penghuni tetap hatiku, dia merupakan sosok yang sangat penting dihidupku saat ini.


Setelah dua minggu berpisah, dimas kembali datang ke jakarta untuk menemuiku.


Dia memintaku untuk menjemputnya di bandara jumat malam ini.


Begitu keluar dari kantor, aku langsung lari mencegat taksi di lobby.


Hanya saja, jalanan luar biasa macet menjelang akhir pekan.


Meski aku sudah berangkat jam tujuh malam dari sudirman, tapi aku baru sampai di bandara pukul setengah sepuluh.


Aku langsung turun dari taksi begitu sampai terminal dua, dan langsung berlari saat melihat dimas sudah menungguku di lobby bandara dengan muka kesal.


"Maaf, tadi jalanan macet banget", ujarku sambil memeluk dimas.


"Aku marah", ujar dimas.


"Aku tunggu kamu hampir dua jam disini, tau nggak", ujar dimas lagi.


Aku memeluk dimas semakin erat, kemudian aku melepaskan pelukanku, dan menarik kerah kaos dimas, supaya wajah dimas lebih dekat denganku, dan aku mencium bibir dimas.


Aku ingin meredam sedikit amarahnya.


Aku baru melepasnya setelah lima menit, dan dimas kemudian tersenyum kembali padaku dengan wajahnya yang memerah.


"Maaf", ujarku sambil memasang wajah menyesal.


Dimas hanya menarikku kepelukannya, dan membelai rambutku.


"Kamu ganteng banget hari ini", ujarku pada dimas.


"Hari ini aja", tanya dimas.


"Iya", jawabku dengan tertawa.


Dimas kembali menciumku, kita kemudian memanggil taksi untuk membawa kita ke tujuan selanjutnya.


Aku memeluk dimas sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel tempat dimas menginap.


Aku menyarankan dimas untuk menginap di hotel dekat bandara, supaya dimas tidak perlu terburu-buru saat harus pulang kembali ke solo seperti sebelumnya.


"Besok mau main nggak", tanyaku pada dimas saat kita sudah di kamar hotel.


"Mau main kemana sih", tanya dimas balik.


"Nonton gitu", jawabku, menirukan dimas saat dulu mengajakku untuk nonton di ambarukmo plaza.


Dimas hanya tertawa lalu menciumku.


"Emang bawa baju ganti", tanya dimas padaku.


"Bawa dong", jawabku, sambil menunjuk paper bag yang aku letakkan di meja dekat tv.


"Boleh, tapi sekarang kita makan dulu ya di bawah, aku udah laper berat soalnya", ujar dimas padaku.

__ADS_1


Aku kemudian memeluk dimas, dan menggandeng tangan dimas untuk turun ke restaurant yang ada di lobby.


Setelah makan, kita langsung kembali ke kamar dan mandi.


Dimas memintaku untuk menceritakan hari yang kujalani, begitu kita sudah di tempat tidur.


Aku menceritakan hal yang lucu yang terjadi di kantor hari ini, ada salah satu training baru yang membuat lelucon, tapi belum selesai aku bercerita, dimas sudah tertidur dipelukanku.


Aku melihat dimas yang sudah tertidur beberapa saat, karena dimas terlihat seperti bayi saat tidur, lalu aku mencium pipi dimas dan mengucapkan selamat tidur.


*


Sabtunya, kita menonton di taman anggrek di sore hari.


Aku membeli tiket velvet class, untuk menonton film terbaru bersama dimas.


Selesai menonton, aku mengajak dimas makan di sunda kelapa marina, tapi langsung kembali ke hotel setelah makan, karena dimas terus menerus mengeluh soal polusi dan macetnya jakarta.


Dimas memintaku untuk menghabiskan sisa waktu akhir minggu di kamar hotel, karena dimas lelah dengan macetnya jakarta.


"Giliran sama mila, betah banget jalan keluar", protesku pada dimas, saat kita sudah kembali di hotel.


"Beda dong, kalau sama kamu kan aku nggak perlu pura-pura", jawab dimas menanggapi protesku.


"Udah dong ngambeknya, kalau kita lagi di solo atau jogja, aku kan selalu turutin kemanapun kamu mau pergi", ujar dimas berusaha membujukku.


"Kamu mau liburan kemana, aku turutin, aku bakal cuti buat kamu", ujar dimas sambil menarik wajahku untuk menatapnya.


"Mau ke lombok, atau mau ke bali, ayo kapan", ujar dimas lagi menambahi.


"Bohong", jawabku singkat.


Aku kemudian menarik selimut untuk menutupi wajahku.


"Kamu mau aku pesen tiketnya sekarang", ujar dimas sambil menarik selimut yang menutupi wajahku.


Aku mengatakan kalau aku perlu ijin untuk cuti dulu, lagipula dimas juga harus bekerja, jadi tidak bisa mendadak.


Dimas menjanjikan, kapanpun aku siap, kita langsung berangkat liburan.


Kita menutup malam dengan rencana liburan, dan sentuhan panas dimas yang selalu membuatku terlelap dengan bahagia setelahnya.


*


Aku terbangun dengan mata masih tertutup karena getar dari ponselku yang tidak berhenti.


Aku memang menaruh handphone milikku di meja di sebelah tempat tidurku.


Aku menerima telvon dengan mata yang masih terpejam.


Aku mendengar suara tangis, saat aku menjawab telvon tersebut.


Saat aku melihat ke layar handphoneku, untuk mencari tahu siapa yang menelvonku, ternyata kak alan, dan kulihat waktu masih menunjukkan pukul empat pagi.


"Kenapa kak", tanyaku pada kak alan dengan suara yang masih sangat mengantuk.


Kak alan masih terus menangis, dimas yang tidur di sampingku terbangun, karena aku berpindah posisi dengan duduk bersandar pada bantal.


Dimas kemudian meraih handphone dari tanganku, dan mengembalikannya padaku setelah melihat nama yang menelvonku adalah kak alan.


"Kak", ujarku lagi karena kak alan masih belum juga berhenti menangis.


Sambil terbata, dan masih dengan tangisnya, kak alan bilang kalau rani baru saja selesai melahirkan.


Mataku langsung terbuka, dan rasa senang menyelimutiku, akupun sedikit teriak kegirangan.


Dimas yang berusaha untuk tidur kembali, kaget mendengar teriakanku


Aku kemudian mengusap rambut dimas untuk membuat dimas kembali tidur.


Mendengar kabar bahwa keponakanku sudah lahir, membuat kantukku hilang.


Aku menjadi tidak sabar untuk bertemu dengannya.

__ADS_1


Kak alan tidak menjelaskan lebih rinci, dan hanya menutup telvonnya setelah mengatakan kalau rani sudah kembali keruang perawatan.


Aku langsung menelvon nia dan kiki, tapi tak satupun dari mereka ada yang menjawab telvonku.


Aku kembali ke sisi dimas yang sudah terlelap, dan mengecup pipi dimas berulang kali.


Aku tidak bisa tidur karena merasa terlalu senang, akhirnya aku memilih untuk melihat sosial mediaku, sambil mengusap rambut dimas yang tidur dipelukanku.


Saat dimas bangun jam enam pagi, aku langsung mengatakan kalau aku akan pulang ke jogja pagi ini.


Dimas memintaku untuk membeli tiket dengan jadwal penerbangan siang, supaya dimas bisa membatalkan tiketnya ke solo, dan ikut bersamaku ke jogja.


Aku menyetujui dimas, dan langsung menelvon nia untuk memberitahu kabar kelahiran keponakanku.


Aku mengajak nia untuk ke jogja bersama, tapi nia tidak bisa, karena dia sedang di bandung.


Nia kemudian mengatakan, kalau dia akan cuti minggu depan untuk menjenguk rani di jogja.


Saat aku menelvon kiki, kiki memintaku untuk langsung menghubunginya melalui panggilan video saat aku sudah bersama rani.


Siangnya aku dan dimas langsung berangkat ke jogja, dan langsung pergi ke rumah sakit tempat rani melahirkan.


Saat dimas ingin turun dan menemaniku untuk melihat bayi milik rani, aku menghentikan dimas.


Aku belum siap untuk menjawab setiap pertanyaan yang muncul karena kehadiran dimas kembali dihidupku.


Dimas setuju untuk menungguku di villa milik maminya, setelah aku berjanji aku akan kembali ke dimas di malam hari.


Begitu aku sampai di kamar rawat rani, aku langsung memeluk rani dan mengucapkan selamat.


Meski rani terlihat letih, tapi wajahnya tampak bersinar.


Aku kemudian melihat dan menyapa keponakanku yang ada di tempat tidur bayi di sebelah rani.


Aku berjanji pada bayi mungil itu, untuk menjadi tante yang penuh kasih dan juga keren.


"Namanya rasya", ujar kak alan yang berdiri di sampingku.


Aku tersenyum pada kak alan dengan binar dimataku, lalu aku meminta ijin pada rani untuk menggendongnya.


Aku langsung meneteskan air mata, saat merasakan bayi mungil yang sedang menguap ada dilenganku.


"Duh nggak kakaknya, nggak adeknya, dua-duanya cengeng", ujar rani.


Rani menceritakan kalau sepanjang persalinan, kak alan hanya menangis di samping rani.


Kedua nenek dari keponakankulah yang berusaha memberi dukungan rani saat rani menjalani persalinan.


Aku kemudian meletakkan ponakanku di tempat tidur miliknya, dan menelvon kiki sesuai janjiku.


"Mia mana", tanya kiki di video saat tidak melihat mia di sekitar rani.


"Mia baru tadi pagi pulang, dia semalaman di rumah sakit nungguin aku", jawab rani pada kiki.


Kiki menyudahi videonya, karena dia harus kembali bekerja.


Kiki melihat sekali lagi bayi mungil milik rani yang masih tertidur, dan meminta rani untuk mengirim foto rasya setiap hari, kemudian memutus panggilan video.


"Kamu cuti berapa hari ra", tanya rani.


Aku menjawab rani dengan tetap menatap rasya di keranjang tidurnya.


"Belum ijin, nanti aku telvon supervisorku sorean", jawabku pada rani.


"Yang lama ya ra, anakku butuh baby sitter soalnya", ujar kak alan padaku.


"Sebulan gitu", ujar kak alan menambahi.


"Maunya sih bisa cuti sebulan, tapi kalau aku dipecat kak alan yang kasih aku gaji ya", jawabku pada kak alan.


"Sama kan tarifnya kaya mbak imah", ujar kak alan.


"Enak aja", jawabku sambil melihat kak alan dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Rani hanya tertawa, tapi kemudian rani memintaku dan kak alan untuk tidak melucu, karena perut rani masih sakit kalau dibuat tertawa.


***


__ADS_2