
Halo guys...
Bagaimana kabar kalian?
Sebelumnya, Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Aku baru up, karena sibuk dengan kuliahku. Aku mahasiswi semester akhir, jadi lagi sibuk-sibuknya. Maafkan aku, ya.
Aku akan tetap up, kalau ada waktu luang.
Jangan khawatir, cerita ini akan sampai tamat.
Tetap stay menunggu cerita Rhiana, ya.
Terima kasih.
Mari lanjut kisah Rhiana.
*
*
*
"Pelayan itu tidak berhasil melakukan tugasnya, Tuan. Nona Rhiana sepertinya menyadarinya," Felix melapor kepada Artya di ruang pribadinya.
"Benar-benar gadis kecil yang tidak sederhana," Balas Artya tanpa menatap Felix. Pria itu sedang sibuk menggerakan kuas untuk melukis.
"Selanjutnya, apa yang harus saya lakukan, Tuan?" Tanya Felix masih menatap Artya.
"Untuk sementara jangan lakukan apapun." Artya berhenti sebentar untuk menjawab Felix.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit." Artya tidak menjawab apapun dan membiarkan Felix pergi.
Artya berhenti sebentar dan menatap sapu tangan milik Rhiana yang berada dalam sebuah kotak kaca di atas meja. Tepatnya di sampingnya.
"Entah ini kebetulan atau bukan," Gumam Artya dan kembali melanjutkan lukisannya.
...
Beralih pada gadis yang dibicarakan Artya dan Felix.
Rhiana yang melihat ponselnya dioper ke sana kemari, menyeringai dan mulai menarik ikat rambutnya. Rhiana lalu menyatukan rambutnya yang tadinya dikepang, menjadi satu dan dikuncir kuda ke atas.
Rhiana maju perlahan menghampiri para preman itu.
Bugh!
Sekali tendangan, preman yang mencuri ponsel Rhiana jatuh. Preman yang lainnya seketika syok melihat salah satu teman mereka jatuh menimpah beberapa tong sampah di gang itu.
SRET!
Para preman itu kembali dibuat syok, karena Rhiana berhasil mengambil ponselnya di tangan salah satu preman tanpa mereka sadari. Mereka hanya bisa berkata dalam hati, 'gadis kecil ini sangat kuat, bahkan cepat!'
"Sama sekali tidak menghibur," Komentar Rhiana yang bosan karena ponselnya sudah berada di tangannya.
Rhiana awalnya berpikir akan membutuhkan waktu untuk mengambil ponselnya karena wajah para preman itu begitu sangar, ditambah tubuh mereka yang kekar. Sayangnya, sangat mudah mengambil ponselnya. Para preman itu hanya kuat di luar saja. Rhiana benar-benar bosan.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Ponsel Rhiana bergetar. Ada panggilan masuk. Rhiana menaikkan sebelah alisnya ketika nama Ellyanno Stefann muncul di layar ponselnya. Ellyanno adalah nama lengkap El. Pria yang kalah melawan Rhiana dalam balapan beberapa waktu lalu.
"Ada apa?" Rhiana bertanya dengan tenang setelah menjawab panggilan itu. Rhiana bersandar pada tembok di sana.
"Anu... begini, Bos. Saya sudah sembuh. Hari ini saya keluar dari rumah sakit,"
__ADS_1
"Lalu?" Rhiana mengernyit lalu beralih menatap para preman yang juga menatapnya.
Rhiana tersenyum tipis ketika menyadari para preman itu sepertinya merencanakan sesuatu padanya. Rhiana berpura-pura tidak melihat dan berbalik membelakangi mereka.
"Saya hanya ingin bertanya apa tugas pertama saya, Bos."
Bugh!
"Bos?" El di seberang telepon memanggil Rhiana karena mendengar suara benturan.
"Istirahatlah selama beberapa hari. Aku akan menelpon nanti," Rhiana membalas setelah memberikan tendangan dan menghindar dari salah satu preman yang menyerangnya diam-diam, ketika dia membelakangi mereka.
"Bos! Apa terjadi sesuatu?" El tentu saja penasaran apa yang sedang Rhiana lakukan. Pria itu hanya mendengar suara perkelahian.
"Hanya menghilangkan kebosanan," Rhiana menjawab lalu mundur dua langkah untuk menghindari tinju seorang preman.
"Butuh bantuan, Bos?" Suara El terdengar khawatir.
"Tidak perlu!" Rhiana menjawab dengan santai, kemudian melempar ponselnya ke atas.
Setelah ponselnya terlepas dari tangannya, Rhiana lalu menahan pukulan dua preman sekaligus. Dia menahan mereka dengan masing-masing tangannya. Rhiana kemudian memutar kedua tangannya sehingga dua preman itu juga kesakitan. Tidak sampai di situ, Rhiana lalu menendang tepat di perut mereka, kemudian melepas tangannya sehingga kedua preman itu jatuh.
Hap!
Rhiana dengan tenang menangkap ponselnya kembali yang jatuh dari atas. Panggilan masih tersambung.
"Bos? Anda masih di sana?" El tentu saja khawatir, karena beberapa saat lalu dia tidak mendengar suara Rhiana yang dia panggil berulang kali. El berpikir Rhiana sudah dikalahkan.
"Hmm. Aku akan menelponmu nanti. Jaga kesehatanmu," Rhiana memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban El. Padahal El masih penasaran dan ingin tahu lebih lanjut tentang situasi Rhiana.
Rhiana memasukan ponselnya ke dalam saku seragamnya. Rhiana beralih menatap para preman yang sudah terkapar kesakitan.
"Tenaga kalian sebesar ini, seharusnya gunakan untuk mencari pekerjaan yang layak, bukannya mencuri." Rhiana berbicara dengan kedua tangan terlipat di dada dan menatap malas para preman itu.
"Maafkan kami, Nona. Bisakah anda menjadi bos kami?" Seorang preman kini berlutut di hadapan Rhiana.
"Kualifikasi apa yang kalian miliki hingga pantas menjadi orang-orangku?" Rhiana mencibir setelah menguap malas.
"TOLONG KAMI NONA!" Yang lain menyahut penuh harap sambil menatap Rhiana.
"Jika aku menerima kalian, lalu... bagaimana dengan Bos kalian yang koma di rumah sakit?" Rhiana tersenyum tipis ingin mendengar tanggapan mereka.
Para preman itu tersadar. Mereka hampir melupakan Bos mereka yang koma di rumah sakit karena insiden kecelakan beberapa bulan lalu.
"Sebelum Bos kami koma, beliau berpesan; kami boleh memilih Bos baru jika beliau tidak bangun selama sebulan. Ini sudah 3 bulan lebih. Kami sebenarnya tidak menerima itu. Kami akan tetap menunggu Bos kami hingga bangun.
Hanya saja, kami tidak punya cukup uang untuk biaya rumah sakit lagi. Semua aset milik geng kami sudah diambil semua oleh geng musuh. Untuk mencari pekerjaan di kota ini begitu sulit. Orang-orang di sini akan melapor kami pada pihak kepolisian setiap mereka melihat kami.
Jadi... kami hanya bisa mencuri. Hasilnya dibagi dua. Sebagian untuk biaya rumah sakit, sebagian untuk biaya hidup kami. Kami juga tidak punya keluarga. Bos yang merekrut kami dan membiayai kami semua.
Sebelum insiden itu, kami memiliki pekerjaan tetap. Kami selalu disewa oleh warga kota untuk mengawal ataupun mengantar barang ke kota lain. Sayangnya, kami dijebak oleh geng musuh dan Bos berakhir kecelakaan dan koma. Bukan hanya itu, mereka juga menyebar rumor bahwa kami menghianati Bos sehingga semua warga kota membenci kami.
Akhirnya, kami hanya bisa bersembunyi dan mencuri untuk biaya berobat Bos dan bertahan hidup di kota ini. Kami juga tidak ingin pergi dari kota ini, karena ini kota kelahiran kami. Kami akan tetap di sini meski harus hidup bersembunyi dari orang-orang." Preman yang mencuri ponsel Rhiana berbicara panjang lebar.
Rhiana mendengar dan mengangguk pelan. Perkataan preman itu benar. Rhiana sudah mendengar cerita singkat itu beberapa saat lalu dari Gledy melalui earpice di telinganya.
"Siapa namamu?" Tanya Rhiana.
"Saya Leon, Nona." Rhiana hanya mengangguk.
"Aku terharu mendengar cerita kalian. Sayangnya, aku tidak tertarik merekrut orang yang sudah bertuan. Aku hanya akan membuka jalan untuk kalian. Besok, pergi kepadanya! Dia akan membantu kalian," Rhiana memberikan alamat El pada preman bernama Leon itu.
"Terima kasih, Nona."
"Bawa ini juga bersama kalian," Rhiana kembali memberikan sebuah kartu debit pada Leon.
"Tapi, Nona..." Leon menatap Rhiana ragu.
"Katakan!"
__ADS_1
"Anda tidak menjual kami, 'kan?"
Mendengar pertanyaan itu, Rhiana tidak tersinggung. Rhiana justru tersenyum. Wajar jika mereka berpikir seperti itu. Mereka selama ini dibenci oleh warga kota setempat. Jadi, jika ada yang memberikan bantuan, mereka pasti ragu. Belum lagi, mereka sudah mencuri ponsel Rhiana sebelumnya. Mereka bahkan terlibat dalam perkelahian.
"Kalian akan tahu jika sampai ke alamat itu. Aku pergi! Gunakan kartu itu sesuka kalian," Rhiana lalu berbalik pergi.
"Tunggu, Nona! Kenapa anda membantu kami? Kami sudah mencuri ponsel anda. Kami bahkan..." Leon menunduk merasa malu juga merasa bersalah.
"Anggap saja, aku terlalu baik." Rhiana melenggang pergi dengan melambaikan tangannya.
"TERIMA KASIH BANYAK, NONA!" Mereka semua berterima kasih dengan semangat.
***
"Wah... sudah malam," Rhiana bergumam setelah keluar dari gang dan berdiri di trotoar jalan sambil menatap langit yang mulai gelap.
Ketika Rhiana akan memesan taxi, pandangannya tertuju pada halte bus. Memikirkan sesuatu, Rhiana pergi ke sana. Dia berencana pulang dengan bus.
Menunggu hingga 10 menit, belum ada bus yang datang. Padahal menurut jadwal, bus akan tiba sebelum 10 menit. Rhiana ingin segera pulang. Dia tiba-tiba merasa lapar.
Belum lagi, kedua kakaknya pasti khawatir dia belum pulang. Rhiana sengaja memblokir nomor mereka agar tidak diganggu. Dia bahkan menutup akses panggilan darurat. Bukan hanya kedua kakaknya yang diblokir. Nomor ponsel Brilyan juga Rhiana blokir. Rhiana sama sekali tidak ingin diganggu hari ini.
Ketika melihat ponselnya untuk menghubungi seseorang, ternyata ponselnya kehabisan daya. Rhiana hanya bisa menghela nafas dan bersandar pada tembok kaca halte bus.
"Hujan? Padahal aku benar-benar lapar. Apa sebaiknya minta Gledy menjemputku?" Gumam Rhiana pelan sambil menatap hujan lebat yang turun.
Rhiana sedikit berpikir ingin meminta Gledy menjemputnya atau tidak. Dan akhirnya dia membatalkannya. Rhiana membatalkan niatnya setelah tersadar bahwa dia sedang diawasi sedari tadi. Ada lamborgini hitam yang terparkir tidak jauh dari halte bus.
Rhiana merasa diawasi, karena lamborgini itu terparkir di sana setelah dia duduk di sini. Rhiana ingin tahu siapa pemilik lamborgini itu.
Rhiana menaikkan sebelah alisnya setelah lamborgini itu mulai mendekati halte bus dan berhenti tepat di depannya. Rhiana berpura-pura tidak melihat ketika seseorang keluar dengan payung dan menghampirinya kemudian duduk tepat disebelahnya. Ternyata seorang pria.
"Ekhem... aku Hann. Ini pertama kalinya kita bertemu. Salam kenal," Pria itu memperkenalkan diri.
"Pria di rotroof itu? Rupanya dia," Gumam Rhiana dalam hati.
"Salam kenal, Aku Rhiana."
"Kalau aku memanggilmu sayang, bagaimana?" Sifat menggombal Hann pun keluar.
"Boleh saja, asalkan tidak di depan kekasihku." Rhiana tentu saja tidak akan kalah dengan pria ini.
"Sudah punya kekasih?" Nada suara Hann terdengar pelan. Rhiana tersenyum tipis mendengarnya.
"Hahaha... Aku hanya bercanda. Boleh kita berteman?" Hann tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Beberapa saat lalu, ketika ingin pulang, Hann tidak sengaja melihat Rhiana keluar dari gang. Hanya melihat sekilas, Hann tentu saja mengenal Rhiana karena dia sudah lama mencari gadis itu. Tidak ingin kehilangan jejak gadis yang menarik perhatiannya, Hann memutuskan untuk mengikuti Rhiana diam-diam.
Melihat Rhiana sepertinya menunggu bus, Hann tetap mengawasi dari dalam mobilnya. Hingga hujan deras turun membuat Hann berinisiatif menghampiri Rhiana sekedar menawarkan tumpangan.
Mendengar pertanyaan Hann, Rhiana mengerutkan kening. Rhiana penasaran tujuan pria ini yang tiba-tiba ingin berteman dengannya.
"Boleh saja, asal jangan melewati batas. Kekasihku seorang pencemburu," Rhiana menjawab dengan malas.
"Aku mengerti." Hann tentu saja senang. Meski gadis ini sudah memiliki kekasih, setidaknya berteman dengannya sudah cukup.
"Aku juga bersekolah di sekolah yang sama denganmu. Jurusan apa yang kamu ambil?" Hann akan bertanya hal umum agar tidak dicurigai. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Rhiana di rooftop. Dia akan berpura-pura tidak tahu.
"Aku di kelas khusus,"
"Kelas khusus? Benar juga, aku belum mencarinya di sana." Gumam Hann dalam hati menyadari hal ini. Bagaimana dia bisa lupa jika sekolahnya masih ada kelas khusus.
"Begitu, ya. Kapan-kapan ayo makan bersama di kantin. Aku akan yang traktir," Rhiana hanya mengangguk. Tentu saja mereka tidak boleh bertemu di lingkungan sekolah.
"Di mana rumahmu? Aku antar pulang," Hann menawarkan tumpangan ketika hujan tidak terlalu deras.
Rhiana menatap jam tangannya melihat waktu. Ternyata sudah pukul 8. Tepat ketika Rhiana akan menolak tawaran Hann, sebuah taxi muncul dan berhenti tepat di halte bus.
"Terima kasih, tapi aku akan pulang dengan taxi." Rhiana dengan tenang masuk ke dalam taxi. Hann hanya berkedip melihat Rhiana pergi dengan taxi.
__ADS_1
"Bodoh! Aku lupa meminta nomornya," Hann mengutuki dirinya sendiri. Hann lalu bergegas pergi dari sana.