
BRAK
"Jangan bicara omong kosong! Itu bukan tubuh adikku." Teriak Dalfa kesal pada Dokter galant. Dalfa bahkan mendorong kuat Dokter Galant ke tembok menyudutkan pria itu.
"Tapi hasil tes DNA menunjukkan bahwa itu benar nona Rhiana. Saya sudah memastikannya berulang-ulang, Tuan." Balas Dokter Galant setelah menghembuskan nafas pelan. Dia juga tidak mengharapkan hasil seperti ini. Tapi bagaimana mungkin teknologi canggih milik mereka bisa salah? Sudah belasan tahun teknologi canggih milik mereka tidak pernah memberikan hasil yang salah.
BUGH
Dalfa meninju kuat tembok laboratorium. Dalfa tidak terima dengan hasil yang dikatakan dokter Galant. Tidak mungkin adiknya mati semudah itu. Apa yang harus dia katakan pada kedua orang tuanya? Padahal dia berjanji akan menjaga adik-adiknya sebelum mereka bersekolah jauh dari kedua orang tua mereka.
"Permisi, Dok. Tuan muda kedua sudah sadar." Seorang wanita yang bekerja sebagai asisten Dokter Galant memberitahu.
Dalfa yang mendengarnya menghembuskan nafas pelan menenangkan dirinya sendiri sebelum mengikuti Dokter Galant untuk bertemu Dalfi.
Kamar Dalfi.
"Bagaimana keadaan adikku?" Tanya Dalfi saat melihat kemunculan Dokter Galant.
"Lebih baik aku berhadapan dengan Dalfa dari pada dengannya. Dia terlalu menyeramkan," Ucap dokter Galant dalam hati.
Dokter Galant sampai saat ini tidak mampu berhadapan dengan Dalfi, si jenius dingin julukan para anggota cruel devil. Punggung Dokter Galant bahkan merinding saat ini. Padahal pria yang duduk di brankar ini hanya bocah 15 tahun, tapi auranya begitu menekannya. Dia bahkan lebih menyeramkan dari kedua orang tuanya. Sepertinya genetik kedua orang tuanya bercampur menjadi satu sehingga menghasilkan buah berkualitas seperti itu.
"Jawab jujur!" Ucap Dalfi dingin. Jika saja Dalfi bisa berjalan sekarang, dia akan pergi sendiri tanpa harus bertanya.
Dalfi tidak menyangka, ternyata kedua kakinya tidak bisa digunakan sementara waktu karena efek obat yang disebarkan dari ruang rawat Rhiana menyebabkan mereka yang pingsan di luar ruangan juga ikut terkena efeknya.
"No... nona muda tidak bisa disela-"
"Periksa dengan benar!" Potong Dalfi. Dokter Galant bisa merasakan aura yang semakin mencekam di dalam sana. Dokter Galant menoleh ke belakang ingin mencari Dalfa, ternyata bocah itu juga tidak ada. Bukannya tadi dia ikut di belakangnya?
"Saya sudah memeriksanya berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Tidak mungkin teknologi buatan Nyonya Rihan salah mendiagnosis." Ucap Dokter Galant seadanya.
"Bawakan aku kursi roda!"
"Tapi, anda-" Dokter Galant menahan perkataannya karena mendapat tatapan tajam dari Dalfi.
"Saya akan menyiapkannya,"
15 menit kemudian.
"Mom, Dad?" Ucap Dalfi melihat kedua orang tuanya sedang berbicara di samping brankar tepatnya jasad yang tidak bisa dikenali lagi identitasnya yang didiagnosis adalah Rhiana.
"Itu bukan adikku, kan?" Tanya Dalfi pelan saat Rihan, sang mommy berlutut dan memeluknya.
"Itu bukan jasad adikku, kan, Dad?!" Tanya Dalfi pada Zant, sang Daddy yang berdiri di sebelahnya sambil mengusap kepalanya. Dalfi sudah menangis. Ini pertama kalinya Dalfi menangis. Betapa dia sangat menyayangi adiknya itu.
"Scan DNA menunjukkan bahwa benar itu adikmu. Tapi Daddy dan Mommy akan memeriksanya lagi secara manual. Sebaiknya kamu fokus untuk penyembuhanmu. Bukankah masih ada efek samping obat dalam tubuhmu? Dan Alfa, jaga Alfi!" Ucap Zant kemudian merangkul Dalfa yang berdiri di sebelahnya. Kedua saudara kembar itu hanya mengangguk.
Interaksi keluarga kecil itu membuat para bawahan mereka yang berada dalam ruangan itu terharu. Beberapa bahkan meneteskan air mata.
***
Rihan dan Zant sedang bersiap dibantu oleh dua orang dokter. Mereka akan melakukan pemeriksaan manual untuk jasad Rhiana. Bukan hanya untuk memastikan DNA, tetapi juga pemeriksaan seluruh tubuh secara manual.
Jika hanya dilihat saja mereka akan berpikir itu jasad Rhiana karena ciri-cirinya sangat mirip. Tato di punggung yang bisa menjadi bukti pertama identitas Rhiana sama sekali tidak terlihat karena jasad itu tidak hanya hangus terbakar, tetapi juga dalam keadaan melepuh dan mulai membusuk secara perlahan-lahan. Ini bahkan belum melewati 12 jam, tetapi kondisi jasad hangus itu sudah mulai membusuk.
"Semua persiapan sudah selesai," Dokter Galant datang melapor. Rihan menatap Zant sebentar sebelum menatap dokter Galant dan mengangguk. Mereka kemudian bergegas pergi.
Laboratorium tempat jasad Rhiana berada.
"Mereka menggunakan cairan yang tidak biasa," Ucap Rihan sambil menatap tangan jasad hangus itu yang melepuh dengan kaca pembesar di tangannya.
__ADS_1
"Aku pikir juga begitu. Warna jasad ini mulai berubah menjadi kekuningan padahal ini jasad hangus terbakar. Tubuhnya sudah mulai meleleh dan akan menjadi abu dan menghilang."
Mendengar perkataan Zant, Rihan tiba-tiba teringat dengan serum buatannya yang sudah tidak lagi digunakan. Serum itu juga akan membuat apapun yang mengenainya akan meleleh dan kemudian menghilang tanpa meninggalkan jejak satupun.
"Siapa yang mengelola serum-serum laboratorium?" Tanya Rihan pada Dokter Galant.
"Prof. Gio. Apa perlu saya panggilkan?" Rihan hanya mengangguk dan kembali menatap jasad itu.
"Ada apa, My Queen?" Tanya Zant.
"Aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kamu akan tahu setelah prof. Gio tiba di sini,"
"Eng. Tapi setelah aku pikir-pikir, punggungnya tidak terlihat seperti pernah ditatoo. Bagian punggungnya terlalu bersih." Ucap Zant sambil memperhatikan punggung jasad itu.
"Apa maksudmu bersih?" Canda Rihan. Punggung melepuh itu dibilang bersih? Mata suaminya sepertinya sudah katarak karena usia.
"Aduh... aku tidak sedang bercanda, My Queen. Memang punggungnya melepuh, tapi tidak semua bagiannya melepuh, kan? Lihat bagian ini... jika menggunakan lup, bagian yang tidak melepuh ini tidak terdapat tatoo. Tidak mungkin aku salah mengenali punggung anak kesayanganku." Jelas Zant pada Rihan.
"Aku setuju. Tato itu memenuhi hampir semua bagian punggung Rhia. Jadi, tidak mungkin tidak terlihat." Balas Rihan setelah menghembuskan nafas legah. Setidaknya kekhawatirannya sedikit berkurang.
Kedua orang tua Rhiana itu meski khawatir setengah mati, mereka tidak bisa menunjukannya pada orang lain apalagi kedua putra mereka. Selain sebagai orang tua yang harus tenang lebih dulu sebelum menenangkan anak-anak dalam keadaan apapun, mereka juga harus tenang di depan para bawahan agar tidak terjadi kekacauan.
Belum lagi, mereka adalah dokter yang sudah melihat berbagai jenis luka dan jasad. Apalagi jika itu anggota keluarga sendiri, mereka harus tetap tenang. Karena tidak ada yang lebih alih dari mereka tentang hal-hal seperti ini.
"Aku akan mengambil darah di bagian tubuh yang berbeda untuk pengecekan kecocokan." Ucap Rihan. Tentu saja jika ini campur tangan organisasi bawah tanah, maka apapun itu bisa mereka lakukan. Jadi, Rihan tidak bisa lengah. Sudah banyak hal jahat yang diciptakan organisasi itu sehingga Rihan tidak kaget lagi.
Rihan kemudian menggunakan jarum suntik dan mengambil darah jasad itu. Mulai dari kedua pergelangan tangan, kedua lengan, kaki, leher, paha, dan perut. Jadi total sampel darah yang diambil adalah 10 jarum suntik.
"Letakkan dalam tabung pendingin," Ucap Rihan pada seorang pria muda bernametag prof. Kennedik. Tujuan diletakkan di sana, agar tidak terjadi perubahan tiba-tiba atau mungkin tercemar udara sekitar. Suhu tabung pendingin itu bisa diatur menjadi normal sehingga aman diletakkan di sana.
"Saya di sini, Tuan majikan!" Prof. Gio melapor kedatangannya pada Rihan. Mereka yang bekerja karena direkrut oleh Rihan tidak mengubah panggilan mereka. Bagi mereka, menikah atau tidak, menjadi nona atau nyonya, Tuan majikan tetap Tuan majikan.
"Persediaan sikver masih ada? Sudah sejak lama aku tidak membuatnya. Apa ada yang membuatnya?" Tanya Rihan. Sikver adalah nama yang Rihan berikan pada cairan penghancur itu.
"Sejak kapan sikver terakhir dibuat?" Tanya Zant ikut berpikir.
"Di sini tertulis 10 tahun lalu, Tuan besar." Jawab Prof. Gio setelah melihat layar iPad di tangannya.
"Bagaimana dengan datanya?" Tanya Rihan.
"In... ini..." Prof. Gio tertegun melihat layar iPadnya.
"Kenapa?" Zant bertanya dengan kening berkerut.
"Datanya hilang beberapa bulan lalu saat kekacauan saat itu,"
"Maksudmu, saat penyerangan di mansion? Waktu hilangnya prof. Jean?" Dokter Galant ikut bersuara.
"Benar. Beberapa data laboratorium hilang bersama data sikver. Saya juga baru mengetahui hilangnya sikver setelah kekacauan berakhir." Jawab Prof. Gio.
Rihan tertegun. Bagaimana dia bisa lupa tentang hari itu? Karena penghianatan yang dilakukan salah satu orang kepercayaannya, mansion keluarga Veenick hampir saja rata dengan tanah. Jika saja dia terlambat bertindak, para anggota cruel devil pasti tersisa setengah. Tidak hanya itu. Anak-anaknya yang sedang menjalankan misi hampir saja gagal. Karena penghianatan itu juga akhirnya Lycoris terbunuh.
"Kenapa tidak melaporkannya?" Tanya Zant marah. Maksudnya melaporkan hilangnya data sikver.
"Saya berpikir siikver tidak lagi penting karena tidak dibutuhkan. Jadi-"
"Sudahlah. Jangan berdebat untuk sesuatu yang sudah berlalu. Kamu bisa pergi," Ucap Rihan memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
"Maafkan saya, Tuan majikan." Sesal Prof. Gio sebelum pergi dari sana.
"Pembuatannya tidak mudah, sehingga hasilnya seperti ini. Entah aku harus bersyukur atau tidak," Ucap Rihan pelan.
__ADS_1
"Istirahat dulu, My Queen. Biar aku yang melakukan sisanya. Lagipula kita sudah mendapatkan sedikit bukti." Ucap Zant dan tersenyum tipis sebelum menuntun Rihan duduk di salah satu kursi di sana dan kembali melakukan pekerjaannya setelah mencium pucuk kepala istri tercintanya.
"Maafkan aku, My King." Rihan merasa bersalah. Kenapa dia harus menciptakan serum berbahaya itu?
"Tuan majikan, jika boleh memberi saran... ini sama sekali bukan salah anda. Hanya itu yang bisa saya katakan," Ucap Dokter Galant yang berdiri di samping Rihan. Dokter Galant bisa menebak melalui ekspresi Tuan majikannya. Sejak dia mengenal Rihan, Dokter Galant sangat tahu jelas betapa baiknya Rihan. Tuan majikannya itu bahkan rela mengorbankan nyawa sendiri demi orang lain. Jadi, tidak heran jika ia merasa bersalah karena apa yang sudah terjadi.
"Terima kasih sudah berpikir begitu, Kak." Balas Rihan dan tersenyum tipis. Perkataan pria yang sudah lama berada di sisinya sebagai perjaka tua ini membuat Rihan sedikit legah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku ingin kamu melihat sendiri, bagaimana pria malang ini berubah." Ucap Sienna setelah memberi isyarat untuk diberikan tempat duduk. Sienna ingin menonton pertunjukan.
Deg
Rhiana menelan ludahnya gugup saat Brilyan membuka matanya. Rhiana bisa melihat sorot mata Brilyan berubah total tidak seperti biasanya. Jika biasanya sorot mata itu dingin pada orang lain dan lembut padanya, kini sorot mata itu berubah sangat dingin saat keduanya bertatapan.
"Sial... apa yang harus aku lakukan?" Ucap Rhiana dalam hati.
"Hoho... sudah bereaksi rupanya," Ucap Sienna dan menyeringai.
"Sekarang, haruskah kita mencobanya?" Sienna kini bersidekap sambil bersandar pada kursi. Sienna sedang memasang pose berpikir.
"Ambil pisau bedah itu dan luka dirimu sendiri!" Perintah Sienna mutlak pada Brilyan.
"Berhenti! Jangan dengarkan dia, Brilyan. Sadarlah!" Teriak Rhiana melihat Brilyan dengan patuh turun dari brankar dan mengambil pisau di atas meja didekatnya.
"Kamu pikir dia akan mendengarmu? Dia sekarang sudah menjadi anjing yang patuh. Satu perintah dariku, maka dia akan mati untukku! Lihatlah betapa patuhnya dia," Ucap Sienna dengan angkuh.
Sienna begitu senang melihat Brilyan yang sedang menyayat lengannya sendiri dengan pisau bedah yang tajam itu. Sienna lebih senang lagi saat melihat ekspresi khawatir Rhiana.
"Apa yang kamu inginkan? Katakan padaku! Aku akan mengabulkannya. Jadi tolong... jangan melukainya," Ucap Rhiana pelan.
Rhiana tidak tahan melihat kondisi Brilyan saat ini. Luka bekas operasinya sudah mengeluarkan banyak darah, jika ditambah dengan darah yang keluar banyak di lengannya, pria itu bisa mati karena kehabisan darah. Wajah Brilyan bahkan semakin pucat. Tapi wajah pria itu sama sekali tidak ada ekspresi.
"Aku hanya ingin melihatmu menderita. Dan ini belum seberapa. Akan kubuat semua orang di sekitarmu menderita satu per satu. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Jadi, jangan menyerah begitu cepat dan mari nikmati pertunjukannya! Inilah akibat berurusan denganku." Rhiana hanya bisa mengepalkan tangannya mendengar perkataan Sienna.
"Berhenti!" Perintah dari Sienna dengan patuh dilakukan oleh Brilyan. Lengan kiri Brilyan sudah dipenuhi darah hasil dari 5 sayatan pisau bedah itu.
"Obati dia karena pertunjukan belum berakhir." Ucap Sienna pada seorang wanita muda di sana yang mengenakan jas putih.
Brilyan terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajah pria itu begitu datar. Padahal tubuhnya sedang terluka, tapi Brilyan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikitpun. Brilyan hanya memasang wajah datar saat lukanya di perutnya dijahit ulang tanpa menggunakan obat pereda rasa sakit. Tentu saja si dokter wanita itu tidak menggunakannya atas perintah Sienna.
"Lihat... betapa kuatnya pria malang ini." Provokasi Sienna dengan santai. Rhiana hanya bisa menggertakkan giginya menahan marah.
"Oh, benar juga... aku ingin menunjukan sesuatu padamu. Bawa dia masuk!" Ucap Sienna setelah Lodwik berbisik padanya. Rhiana mengerutkan kening merasakan firasat buruk.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki terdengar memasuki ruangan. Rhiana menatap orang itu mulai dari sepatunya hingga wajah orang itu.
Deg
Jantung Rhiana berdebar kencang. Gadis itu menelan ludahnya. Tangannya mengepal menahan emosi. Rhiana kemudian menghembuskan nafas pelan berusaha menenangkan diri. Dia harus tenang dan memikirkan rencana ke depannya.
"Sudah sampai?" Ucap Sienna dan tersenyum senang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...