Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Foto Bersama


__ADS_3

Artya menarik sedikit bibirnya membentuk senyum sangat tipis melihat Rhiana yang terlelap dalam pelukannya. Setelah marah-marah, akhirnya gadis kecil miliknya ini tidur juga.


Hmmzzz...


Terdengar dengkuran halus dari Rhiana yang terlelap. Artya mengusap pelan punggung Rhiana dan kembali menoleh keluar jendela.


Perjalanan ke hotel masih beberapa menit lagi. Artya tetap tenang dengan membiarkan Rhiana di atas pangkuannya dengan kepala di cekuk lehernya.


Sret


Gerakan kecil Rhiana yang tiba-tiba membuat Artya menegang di tempatnya. Ini alarm bahaya untuknya!


Sret


Gerakan kecil yang lain menyusul karena Rhiana ingin mencari posisi nyaman dalam tidurnya. Wajah Artya menggelap. Gadis kecil ini tidak sadar sudah membangunkan singa yang tertidur.


"Gadis kecil..." Gumam Artya lalu menghembuskan nafas pelan. Gerakan Rhiana membenarkan tidurnya membuat Artya ingin segera pulang dan mandi air dingin.


"Apa dia seperti ini dengan pria itu juga?" Artya tiba-tiba teringat dengan Gledy yang menggendong Rhiana tadi.


Jika Rhiana bisa senyenyak ini dan tidak khawatir dengan keadaan sekitar, bahkan tanpa sadar mengusik singa yang tertidur lama, Artya berjanji tidak akan membiarkan miliknya dekat dengan pria lain, apalagi digendong. Cukup dia melihat miliknya digendong tadi. Tidak untuk lain kali.


Semakin memikirkan kemungkinan hal ini terjadi ketika gadis kecilnya bersama Gledy, aura di sekitar Artya tiba-tiba mencekam. Sopir di kursi depan mulai berkeringat dingin.


Artya menoleh ingin melihat wajah Rhiana. Bertepatan dengan itu, Rhiana juga menoleh ke arahnya.


Sret


Gerakan kecil Rhiana membuat bibir keduanya tiba-tiba menempel sebentar kemudian terlepas karena Rhiana sudah mendapat posisi terbaiknya dan kembali mendengkur halus.


Aura dalam mobil yang tadinya mencekam, tiba-tiba berubah seperti banyaknya bunga bertebaran di dalam sana. Kemarahan Artya lenyap begitu saja. Wajah Artya sudah memerah. Tubuhnya menegang bercampur panas. Dia ingin segera pulang dan mengurus tubuhnya yang sudah hampir mencapai batasnya ini.


"Kamu terlalu lengah, gadis kecil." Gumam Artya frustasi. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Rhiana.


***


Rhiana sedang serius membaca isi kertas yang diambil di kediaman Lawrence dua hari lalu. Berkas-berkas ini dibawa oleh Gledy untuk disimpan sementara.


Berbicara tentang dua hari lalu, Rhiana kembali melarikan diri dari Artya dan dengan cepat mengambil penerbangan ke Rusia. Padahal jika dia meminta izin, Artya dengan senang hati akan membiarkannya pergi. Tapi, Rhiana yang tidak tahu jalan pikiran Artya, berpikir pria itu tidak akan membiarkan dia pergi lagi.


Wajar Rhiana berpikir seperti itu, karena setelah bangun dari tidurnya, dia berada di kamar hotel. Dia bahkan tidak diberi izin keluar hotel selama dua hari.


Jadi, Rhiana kembali meminta Gledy menjemputnya kemudian keduanya berangkat ke Rusia. Artya hanya bisa geleng kepala sudah biasa dengan tindakan melarikan diri gadis kecilnya.


Hanya saja, Artya tidak senang karena gadis kecil yang sudah dia klaim miliknya pergi bersama pria lain. Dia menjadi tidak senang. Artya bahkan mengerahkan pengawalnya untuk mencari tahu identitas Gledy. Sayangnya, dia tidak menemukan apa-apa.


Kembali pada Rhiana. Isi dokumen salinan yang diambil dari kediaman Lawarence membuatnya tercengang.


Ternyata, Lycoris dan Yeandre sejak kecil sudah menjadi kelinci percobaan ibu kandung mereka sendiri. Keduanya sejak usia 3 dan 4 tahun, sudah tinggal di dalam tabung untuk menjadi kelinci percobaan ibu kandung mereka yang seorang maniak penelitian. Apapun akan dilakukan ilmuwan bernama Wenny itu hanya demi membuat terobosan baru.


Yeandre dan Lycoris dijadikan kelinci percobaan untuk pembuatan senjata hidup mematikan. Hanya saja, fisik Lycoris tidak sebaik Yeandre, sehingga anak berusia 3 tahun itu gagal menerima suntikan virus yang mengakibatkan kanker dalam tubuhnya.

__ADS_1


Sejak itu, Lycoris dibuang oleh ibunya karena dianggap tidak berguna. Dia dibuang ke panti asuhan yang tidak terlalu diperhatikan. Tempatnya juga jauh dari kota.


Sedangkan Yeandre, bocah berusia 4 tahun itu sangat dijaga untuk kepentingan sekelompok orang, dengan ilmuwan Wenny sebagai anggota kelompok itu.


Sampai pada puncak pengembangan virus dalam tubuh Yeandre kecil, laboratorium tempat tinggal Yeandre dan ibunya bersama beberapa ilmuwan ketahuan. Mereka semua ditangkap. Yeandre sendiri dirawat oleh ayah angkatnya dokter Lawrence.


"Ibu kandung macam apa ini?" Gumam Rhiana tidak habis pikir. Bisa-bisanya ada orang tua seperti itu yang menggunakan anaknya sebagai kelinci percobaan hanya untuk memuaskan keinginannya.


Rhiana kembali membaca berkas lain. Semua berkaitan dengan tubuh Yeandre. Semua isi dalam kertas itu benar-benar berbahaya. Tubuh istimewa Yeandre sangat cocok menjadi senjata mematikan. Jika tidak diperhatikan, senjata hidup itu akan sangat berbahaya.


Belum ada anti virus untuk membunuh virus dalam tubuh Yeandre. Untuk sementara virus itu ditekan dengan sejenis obat yang wajib dikonsumsi sehari 2 kali. Ada juga pantangan makanan yang tidak boleh dimakan. Sepertinya Rhiana harus mengawasi Yeandre hingga pola makannya yang selalu sembarangan di kantin sekolah.


Rhiana kini beralih menatap beberapa foto bukti eksperimen terhadap Yeandre kecil. Hanya dengan melihat, Rhiana bisa merasakan sakit jika berada di posisi Yeandre kecil.


Beralih ke foto lain, Rhiana mengerutkan kening. Itu foto beberapa ilmuwan. Rhiana merasa mengenal beberapa orang dalam foto itu. Salah satunya ada ayah angkat Yeandre, Dokter Lawrence.


Rhiana menghela nafas sebelum menyimpan isi map di depannya. Dia hanya berharap ayah Yeandre tidak menyadari isi brangkas yang hilang. Rhiana hanya menyalin berkas lainnya, sedangkan untuk foto, dia mencurinya.


...


Rhiana hari ini kembali ke identitasnya sebagai Rhiana si ketua basket putri sekolah elit Swiss. Dia tidak ingin melihat kekhawatiran teman-temannya. Apalagi besok adalah penutupan olimpiade, sehingga Rhiana harus bergabung bersama teman-temannya.


Setelah penyamarannya selesai, Rhiana memesan taxi untuk pulang ke hotel tempat tinggal para peserta olimpiade.


Sampai di hotel, orang pertama yang Rhiana temukan adalah Brilyan yang kebetulan ingin keluar hotel. Keduanya bertemu di depan pintu masuk.


Brilyan bahkan tidak bergerak sepersekian detik sebelum bereaksi. Pria itu dengan cepat menubruk Rhiana dengan pelukannya.


"Apa dia benar-benar merindukanku?" Gumam Rhiana dalam hati.


"Syukurlah... Terima kasih sudah kembali. Aku khawatir." Suara sendu milik Brilyan membuat Rhiana berkedip beberapa kali.


"Eh? Dia menangis?" Tanya Rhiana dalam hati. Dia merasa bahunya basah. Apa pria ini menangis?


"Please... jangan begini lagi... aku bisa mati," Keluh Brilyan yang masih memeluk Rhiana. Tubuh pria itu bergetar dengan kepala masih di bahu Rhiana. Juga terdengar isakan kecil di sana.


"Hei, bro... kita tidak sedekat itu sampai kamu harus mati karena tidak bertemu aku," Monolog Rhiana dalam hati cukup kaget dengan Brilyan.


"Aku mengerti, tolong lepaskan aku."  Rhiana berusaha mendorong tubuh bongsor Brilyan.


"Tidak! Biarkan aku memelukmu lebih lama," Brilyan menolak dan semakin mengeratkan pelukannya. Pria itu bahkan mencium berulang kali pucuk kepala Rhiana.


"Pria ini... sabar Rhiana, belum waktunya dia dipukul," Rhiana berusaha menenangkan diri.


"Ayo ikut aku!" Brilyan melepas pelukannya dan menggenggam tangan Rhiana entah pergi kemana. Rhiana tidak sempat bereaksi karena Brilyan sudah membawanya pergi.


***


Penutupan olimpiade berjalan lancar. Perwakilan setiap negara pemenang diwajibkan berdiri di podium untuk menerima piala maupun penghargaan. Rhiana termasuk salah satunya karena memenangkan kejuaran takewondo putri. Ada Brilyan juga sebagai perwakilan takewondo putra.


Sedangkan basket putri, Nare sebagai wakil ketua tim basket putri, maju sebagai perwakilan sekolah elit Swiss. Untuk basket putra, Dalfa maju sebagai perwakilan juara dua.

__ADS_1


Rhiana baru sadar, ternyata final basket putra antara tim perwakilan dari New York yang diketuai oleh Axtton berhasil mengalahkan perwakilan dari Swiss yang diketuai oleh Brilyan.


Rhiana tidak tahu saja, Brilyan tidak dalam kondisi yang baik untuk bertanding. Pikiran Brilyan hanya tertuju pada Rhiana yang belum pulang sudah hampir 3 minggu.


Karena kelengahan itu, Axtton dengan senang hati mencetak poin untuk kemenangan timnya. Meski ada Dalfa dan Dalfi, tapi Axtton tidak ingin kalah dari dua sepupunya itu. Dia bertekad harus menang dari Brilyan. Dia ingin menunjukan pada Brilyan bahwa dia lebih layak dari pada pria itu.


...


"Semuanya berbaris! Kita foto bersama!" Pemimpin pelatih tim Swiss memberi perintah untuk Rhiana dan teman-temannya.


Terlebih khusus untuk tim yang memenangkan kejuaraan olimpiade. Seperti, juara 1 basket putri, juara 2 basket putra, juara 1 takewondo putra dan putri, juara 1 tenis meja putra, juara 3 volly putra dan beberapa juara lainnya.


Semuanya berfoto dengan senang. Rhiana hanya memasang wajah senyum terpaksa karena Brilyan sama sekali tidak ingin jauh darinya. Setiap berfoto, pria itu tetap berada di sampingnya. Rhiana hanya bisa mendengus dan membiarkan pria itu.


"Foto bersamaku!" Setelah sesi foto bersama berakhir, Brilyan segera menarik Rhiana untuk foto berdua dengannya. Kebetulan keduanya memakai seragam takewondo, sehingga Brilyan berinisiatif untuk foto bersama.


Rhiana menghela nafas dan mengikuti Brilyan untuk foto berdua. Ponsel Brilyan diberikan pada salah satu teman takewondonya untuk mengambil gambar keduanya.


"Kak Anya... ayo foto bersamaku!" Baru satu jepretan, Axtton tiba-tiba muncul ingin berfoto bersama Rhiana. Sepupu Rhiana itu menggunakan seragam basket New York.


Aura di sekitar Brilyan menggelap. Pria itu menatap tajam Axtton. Sangat mengganggu, pikirnya.


"Kamu sudah kalah. Jadi, biarkan aku berfoto bersama kak Anya." Axtton memasang wajah bangga dan segera menarik Rhiana ke sisinya.


Setelah itu, Axtton juga memberikan ponsel mahalnya pada temannya untuk mengambil gambarnya dan Rhiana.


Cekrek


Rhiana dan Axtton hanya berdiri berdampingan dengan memegang piala dan penghargaan masing-masing. Jangan lupakan senyum manis keduanya. Benar-benar sangat serasi!


Cekrek


Foto kedua dengan pose, Axtton memeluk Rhiana dari samping.


Cekrek


Foto ketiga dengan pose, Axtton mencium pipi Rhiana.


"Bocah ingusan..." Kesal Brilyan dalam hati.


Sret


Brilyan menarik dengan kasar baju bagian belakang Axtton untuk menjauh dari Rhiana. Brilyan tidak akan membiarkan Axtton mencium Rhiana untuk kedua kalinya.


"Sudah cukup! Pergi dari sini!" Brilyan dengan datar mengusir Axtton.


"Kamu tidak punya hak mengusirku!" Axtton tidak terima diusir seperti ini. Dia masih belum cukup mengambil gambarnya bersama Rhiana.


"Pelatih memanggil untuk foto bersama, Ax. Ayo pergi!" Seorang pria dengan seragam basket New York memanggil Axtton.


"Aku akan segera kembali. Tunggu aku, Kak." Axtton pergi dengan wajah lesuh. Brilyan sendiri memasang wajah penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2