Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Bangunan Tua


__ADS_3

Rhiana mengerutkan kening melihat keributan teman sekelasnya yang berlari keluar. Sepertinya sesuatu telah terjadi. Rhiana yang berjalan dengan tiga penjaganya, tetap tenang. Jika sesuatu yang berbahaya terjadi, sudah pasti dia akan menerima laporan dari Gledy atau orang kepercayaannya yang lain.


"Kami ada janji dengan teman club. Kalian bisa pulang lebih dulu." Dalfa membuka suara setelah menerima pesan untuk misi bersama Dalfi.


"Jaga Rhiana baik-baik. Sedikit saja dia terluka, kamu akan tahu akibatnya." Dalfi mengancam Brilyan yang sepertinya terlihat senang karena bisa berdua dengan Rhiana.


"Jangan mengajariku. Sudah pasti aku akan menjaganya lebih baik dari pada kalian." Brilyan membalas dengan nada datar.


Bagaimana mungkin dia membiarkan gadis yang dia sukai terluka? Luka goresan saja dia tidak akan tinggal diam. Apalagi luka yang besar? Secepatnya namamu akan terukir di batu nisan.


"Terserah. Kami pergi dulu," Dalfa menyahut dan merangkul Dalfi dan pergi. Mereka sudah ditunggu.


"Aku bisa pulang sendiri," Rhiana berhenti dan menatap Brilyan.


"Tidak! Tinggalkan saja motormu di sekolah. Naik mobil bersamaku," Brilyan tidak mungkin membiarkan Rhiana pergi sendiri.


Drrttt


Drrttt


Ponsel Rhiana di saku roknya bergetar. Rhiana yang ingin menjawab Brilyan mengurungkan niatnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Untuk apa dia menelponku? Aku janji akan bertemu dengannya malam nanti. Ada urusan apa?" Gumam Rhiana dalam hati ketika nama si penggila kebersihan tertera di layar ponselnya.


^^^"Ada apa, Kak?"^^^


"Aku sudah di gerbang sekolahmu."


^^^"Huh? Jangan bilang..."^^^


Rhiana sepertinya menyadari sesuatu. Berarti keributan yang dibuat gadis-gadis di sekolahnya karena kemunculan Artya. Pria itu memang selalu menjadi pusat perhatian kemanapun dia pergi. Tentu saja dia menjadi pusat perhatian karena selalu membawa bodyguard kemana-mana karena tidak suka dengan kotoran yang berdekatan dengannya.


"Ada apa, Tupai kecil?"


^^^"Bukannya waktu janjiannya malam?" Rhiana menghela nafas berusaha tenang.^^^


"Aku ada waktu, jadi ingin menjemputmu. Dilarang menolak!"


^^^"Ck. Masalahnya sekarang, aku akan jadi pusat perhatian, Kak."^^^


Rhiana meremas tengkuknya berusaha tenang. Si penggila kebersihan ini sangat suka membuatnya kesal. Apalagi setelah hubungan mereka diklaim Artya sebagai sepasang kekasih, pria itu semakin membuatnya kesal. Semakin seenaknya.


"Siapa, Rhi?" Brilyan yang sedari tadi mendengar percakapan Rhiana merasa kesal. Dia kesal karena diabaikan.


"Ini kakakmu." Rhiana yang tiba-tiba lupa seperti apa hubungan dua bersaudara itu menjawab dengan polos.


Brilyan mendengus kemudian menarik ponsel di tangan Rhiana dan memutuskan panggilan tanpa menunggu lama.


"Eh... kenap-"


"Berhenti berhubungan dengannya! Dia berbahaya, Rhiana."


"Berbahaya? Apa maksudmu?" Rhiana sepertinya tertarik dengan topik yang Brilyan bicarakan.


"Sudahlah. Tidak penting. Ikut aku pulang! Mobil sudah menunggu di gerbang." Brilyan dengan cepat menarik pergelangan tangan Rhiana dan pergi dari sana.


...


"Maaf, Tuan muda kedua. Tuan muda pertama ingin berbicara dengan Nona Rhiana." Suara Felix berhasil menghentikan Brilyan dan Rhiana yang berusaha melewati kerumunan para gadis yang mengantri untuk melihat siapa pemilik mobil yang begitu menarik perhatian di gerbang sekolah elit Swiss.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dibicarakan dengan kekasihku. Bilang padanya untuk pulang dan jangan menarik perhatian. Tidak cukup dia dirumorkan dengan Nona muda Veenick, sekarang dia ingin membuat rumor apa lagi dengan Rhiana?" Brilyan kesal dengan kakak beda ibu dengannya itu. Dia selalu saja ingin mengambil semua yang menjadi miliknya.


Mendengar apa yang dikatakan Brilyan, Rhiana baru sadar. Benar juga. Jika dia bertemu Artya sekarang, dia akan menjadi pusat perhatian lagi. Padahal rumor Artya yang memboyongnya untuk naik jet pribadi belum reda, dia sudah ingin menambah rumor lagi. Rhiana tidak ingin itu terjadi. Identitasnya sebagai Rhiana Senora yang paling aman sekarang. Jadi, dia tidak boleh terlihat bersama Artya dengan penampilannya sekarang.


"Bagaimana pendapat anda, Nona?" Felix mengalihkan pandangannya pada Rhiana. Sorot mata Felix terlihat berharap Rhiana mau ikut dengannya.


"Kami ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Jadi, aku tidak bisa pergi sekarang. Sampaikan permohonan maafku padanya." Rhiana segera menjawab dengan tenang. Ini yang terbaik.


Drrttt


Drrttt


Artya kembali menelpon. Rhiana menghela nafas sebelum menjawab panggilan itu.


"Ikut dengan Felix, Tupai kecil!"


^^^"Tidak bisa, Kak. Kami ada tugas kelompok."^^^


"Ikut dengan Felix atau aku yang menjemputmu sekarang. Kamu pasti senang semua orang melihat kita."


^^^"Tidak bisa sekarang, Kak." Rhiana greget ingin sekali menenggelamkan Artya ke laut lepas.^^^


"Seharusnya kamu tahu aku tidak pernah menerima penolakan dalam bentuk apapun."


^^^"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa bertemu sekarang, Kak. Aku sedang dalam penyamaran. Tolong pikirkan keadaanku, Kak." Rhiana menghela nafas berharap pria satu ini mau mengerti.^^^


"Baiklah. Aku akan menunggumu di villa. Jangan terlambat!"


Rhiana menarik senyum tipis akhirnya bisa bebas dari Artya. Sebelum Rhiana berbicara dengan Felix, asisten Artya itu sudah menerima panggilan dan pamit pergi. Sepertinya itu panggilan dari Artya.


"Sudah?" Brilyan menarik senyum tipis merasa senang karena Rhiana tidak jadi bertemu dengan Artya. Berarti dia punya kesempatan berdua dengan Rhiana tanpa ada pengganggu.


...


"Ada apa?" Brilyan bertanya setelah menepikan mobil didekat trotoar. Padahal mereka baru keluar dari sekolah sekitar beberapa meter.


"Turunkan aku di sini! Ada yang harus aku lakukan." Rhiana sudah melepas seal beat dan bersiap keluar.


"Kemana? Aku antar." Brilyan menyadari ekspresi tidak biasa Rhiana. Pasti sesuatu telah terjadi.


"Tidak. Aku bisa sendiri." Rhiana dengan cepat membuka pintu mobil dan pergi karena tidak ingin Brilyan menahannya.


Rhiana kemudian mencari tempat yang aman untuk mengganti pakaiannya. Untungnya dia selalu membawa pakaian penyamarannya sehingga tidak perlu waktu menunggu para pengawal bayangan membawa pakaiannya.


Rhiana hanya perlu beberapa menit untuk mengganti pakaian dan segera menuju alamat yang dikatakan para pengawal.


"Aku butuh kendaraan, Gledy!" Rhiana membuat permintaan pada Gledy melalui chip di belakang telinga kanannya.


"5 menit lagi sampai di kordinatmu."


"Oke. Secepatnya!"


Rhiana menatap sekeliling siapa tahu ada yang mengikutinya. Ternyata tidak ada. Baguslah. Jadi dia bisa bergerak bebas sekarang.


***


Rhiana menatap dengan kening berkerut sebuah bangunan tua di depannya. Itu bangunan bekas pabrik gas yang sudah tidak terpakai lagi karena insiden ledakan tahun lalu.


Menurut laporan pengawal bayangan yang mengawasi Yeandre, pria itu terlihat panik setelah pulang sekolah dan bergegas kemari. Entah apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Rhiana menggeleng kepala berusaha menyingkirkan hal buruk di kepalanya. Dia berharap apa yang dipikirkan sejak tadi tidak benar.


"Bersembunyilah sampai aku memanggilmu nanti, Gledy. Untuk sementara biar aku yang urus."


"Oke."


Setelah Gledy menghilang, Rhiana menghela nafas dan menghembuskannya pelan sebelum masuk ke dalam gedung tua ini.


...


"Ughh..." Rhiana meringis sebelum membuka matanya.


Kepalanya pusing. Dia juga bisa merasakan basah di dahinya. Apa itu darah? Sepertinya, benar. Rhiana berpikir seperti itu karena setelah masuk ke dalam gedung tua ini, tiba-tiba saja kepalanya dipukul dari belakang membuatnya kehilangan kesadaran. Bisa-bisanya dia lengah sehingga berhasil disekap.


Rhiana menatap sekelilingnya. Ruangan ini hanya seluas 5X5 meter. Rhiana menatap ruangan kosong ini hingga pandangannya jatuh pada seorang gadis berseragam Sekolah Elit Swiss yang terikat di kursi di pojok ruangan. Rhiana tidak tahu siapa gadis itu karena wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya.


Terus melihat gadis itu, Rhiana menyadari sesuatu. Laporan para pengawal bayangan tentang kekhawatiran Yeandre yang membawanya hingga sampai di sini, sudah pasti karena gadis ini diculik dan disekap di sini. Siapa lagi gadis yang bisa membuat wajah datar Yeandre berubah jika bukan karena Annalisha? Tapi, dimana Yeandre berada?


Untuk sementara, Rhiana tidak akan memanggil Gledy. Dia akan melihat situasi lebih dulu. Entah siapa yang berulah sekarang, dia harus tahu.


BANG!


Pintu ruangan yang sudah cukup tua ditendang dari luar sehingga roboh dan membuat suara cukup bising. Rhiana mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan melihat dua pria dengan pakaian hitam menutupi seluruh tubuh dan hanya terlihat bola mata mereka. Keduanya masuk dengan salah satu membawa Yeadre yang sedang merontak ingin dilepas.


BRUK


Pria yang membawa Yeandre melepasnya dengan kasar hingga kakak Lycoris itu jatuh di lantai dengan tidak elitnya. Sudah pasti itu sakit, apalagi wajahnya yang terkena lantai lebih dulu.


"Bajingan!" Yeandre memaki karena kesal.


BUGH


BUGH


"Orang lemah sepertimu berani mengumpat?" Salah satu pria menendang dan menginjak dada Yeandre dengan keras.


"Uhuk... Sialan... lepaskan Annalisha! Apa yang kalian inginkan? Berapa uang yang kalian mau? Sebutkan nominalnya!" Yeandre berteriak dengan marah.


"Bodoh! Percuma kamu mengumpat," Rhiana mendengus dalam hati. Betapa bodohnya pria satu ini.


"Apa yang kami inginkan? Kita akan tahu sebentar lagi."


"Oh... gadis itu sudah bangun. Lihat dia!" Pria berpakaian hitam kedua menghampiri Rhiana yang sedang melihat mereka. Rhiana sebenarnya ingin berpura-pura pingsan, tapi dia lebih penasaran apa yang sebenarnya diincar orang-orang ini.


SET


Dengan tidak berperasaan, pria kedua itu menjambak rambut Rhiana sehingga wajahnya menengadah ke atas. Rhiana meringis dan menatap tajam pria kedua yang masih menggenggam kuat rambutnya.


"Kamu... Apa yang kamu lakukan di sini? Gadis lemah sepertimu untuk apa datang ke sini? Merepotkan!" Yeandre berbicara dengan kesal.


Rhiana mengerutkan kening tidak senang. Dia dibilang merepotkan? Pria satu ini ingin sekali ditenggelamkan. Tapi tunggu! Yeandre tidak mengenalnya? Bukankah dia saat ini tidak menyamar? Yeandre juga seharusnya tidak lupa dengan penampilannya yang sudah menolongnya beberapa kali.


Setelah Rhiana melihat penampilannya dengan baik, dia baru sadar. Ternyata dia tidak memakai masker. Rambutnya acak-acakan. Ada memar di bibir dan darah yang mengalir dari kepala di dahi. Jelas sekali wajah yang terlihat menyedihkan ini adalah wajah Rhiana Senora si gadis cupu.


Belum lagi, gadis misterius yang Yeandre tahu adalah gadis keren dengan penampilan tidak biasa dan sangat kuat. Jadi, Yeandre tidak akan pernah menduga jika gadis yang disekap bersamanya saat ini adalah gadis misterius yang selalu menolongnya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Like dan komen jika kalian suka, ya.😁


__ADS_2