Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Turun Gunung


__ADS_3

Setelah melampiaskan kekesalannya, Rhiana menghembuskan nafas lelah kemudian berbaring ingin tidur siang. Padahal dia sama sekali tidak mengantuk. Rhiana hanya ingin memejamkan matanya karena tidak tahu harus melakukan apa.


Di ruangan lain, Artya sedang menunggu laporan dari para ahli yang meneliti chip milik Rhiana. Artya ingin tahu apa saja yang tersimpan dalam chip itu.


Sambil menunggu, Artya kembali membuka laptop dan mengawasi gerak-gerik Rhiana. Meski awalnya dia merasa itu tidak sopan mengawasi Rhiana, tapi dia sengaja ingin melihat gadis itu marah. Faktanya, Rhiana biasa saja. Bagus juga, pikirnya. Dengan begini, dia leluasa mengawasi gadis itu.


Senyum tipis terukir di bibir Artya ketika melihat Rhiana yang bersiap tidur. Tingkah Rhiana sangat menggemaskan di matanya. Artya lalu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.


"Bersihkan kamarnya! Berhati-hati agar tidak membangunkannya,"


***


Rhiana membuka matanya setelah terlelap cukup lama. Padahal dia tidak berencana tidur, ternyata dia terlelap juga. Rhiana menaikkan sebelah alisnya melihat kamar yang tadinya kotor dan acak-acakkan sebelum dia tidur, kini terlihat rapi dan sangat bersih.


Rhiana tidak menyangka, para pelayan di sini membersihkan kamar ini tanpa dia sadari. Sepertinya tidurnya sangat nyenyak sehingga tidak terusik. Rhiana tidak sadar, bahwa para pelayan sebelum membersihkan kamar, mereka sengaja menaruh pewangi ruangan yang membuatnya tertidur nyenyak.


Rhiana mengerutkan kening setelah menggerakkan kakinya. Sakitnya sudah hampir tidak terasa. Mungkin besok dia sudah bisa berjalan dengan baik.


"Jangan sampai chip itu berhasil dibuka," Gumam Rhiana dalam hati tidak melihat kemunculan chip itu. Padahal dia sudah meminta itu dikembalikan, tapi sampai sekarang chip itu tidak muncul di depannya. Dia yakin, chip itu sedang diperiksa.


Rhiana ingin meminta chip itu, tapi cctv tiba-tiba mati. Sepertinya orang yang mengawasinya tahu dia ingin melakukan apa. Rhiana mendengus dan turun dari tempat tidur. Langkah kakinya pelan. Dia sedikit berhati-hati. Meski Artya sudah melarangnya turun dari tempat tidur, tapi Rhiana tidak peduli. Dia sudah bosan duduk sepanjang hari di tempat tidur.


Rhiana berkedip beberapa kali melihat pemandangan dari balkon kamar yang dia tempati sekarang. Benar-benar sangat indah. Tidak ada bangunan apapun di depannya. Rhiana pikir, dia mungkin tinggal dekat dengan perkotaan atau didekat rumah warga, ternyata tidak.


Pemandangan di depannya benar-benar indah. Suasana pegunungan, sungai, dan hutan lebat membuat siapa saja ingin berlari ke sana untuk bermain. Jarang bagi Rhiana melihat pemandangan indah ini. Senyum senang terukir di bibirnya. Sepertinya dia harus berterima kasih pada si penggila kebersihan itu.


Rhiana menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Benar-benar sejuk. Ingin sekali dia berlari ke arah sungai itu. Kapan lagi dia bisa mencoba rasanya air sungai di siang hari? Dia sejak kecil tidak pernah bepergian ke daerah dengan pemandangan indah seperti ini. Bukan tidak bisa pergi ke sana, tapi dia tidak punya waktu untuk berlibur.


Banyak misi yang harus dia lakukan sehingga dia tidak punya waktu berlibur. Tempat misinya juga di ibukota dan tempat yang banyak penduduknya, membuatnya tidak pernah menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.


Rhiana menatap keindahan sekelilingnya hingga matanya sedikit menyipit menatap intens jaring laba-laba cukup besar beberapa meter di bawah sana. Hanya dengan melihat jaring laba-laba itu, Rhiana tahu dia ada di sebelah barat. Entah masih di Rusia, atau di negara lain.


Merasa puas menikmati pemandangan di luar, Rhiana bergegas masuk ke dalam. Ternyata sudah ada seorang wanita paru baya dengan pakaian pelayan menunggunya. Wanita itu sangat sopan padanya. Rhiana lalu bertanya dimana mereka sekarang, dan pelayan itu menjawab, mereka saat ini ada di barat laut Rusia. Rhiana hanya mengangguk dan mengitari kamar yang sudah ditempati beberapa hari ini.


...


Tangan Rhiana terus menari di atas keyboard laptop yang dia pinjam dari pelayan tadi. Rhiana sedang mengakses situs rahasia milik organisasi cruel devil. Rhiana ingin menghubungi Gledy untuk menjemputnya. Dia sudah bosan tinggal di sini. Dia tidak bisa meninggalkan Yeandre terlalu lama.


Mengangguk kepalanya, Rhiana dengan tenang keluar dari situs itu setelah mendapat jawaban yang dia inginkan. Sebelum benar-benar keluar, Rhiana mengerutkan kening ketika membaca trending topic urutan kedua.


...'Siapa gadis malaikat?'...


Seingatnya, gadis malaikat adalah julukan netizen padanya karena pengorbanannya beberapa hari lalu. Semua orang penasaran dengan identitas asli gadis malaikat itu.

__ADS_1


Ada beberapa akun asal Swiss yang mengupload ulang video keren Rhiana yang berhasil menangkap para penjahat di sekolah elit Swiss. Semua orang mulai memberi komentar setuju karena ciri-ciri dua orang itu sama.


Semakin banyak orang berkomentar, tapi tidak ada yang tahu seperti apa wajah asli gadis malaikat itu.


Rhiana hanya menggeleng dan beralih mengetik berita terbaru serangan ******* di gedung olimpiade Rusia. Rhiana ingin tahu apa yang pihak keamanan dapatkan selama penyelidikan.


Ternyata mereka hanya mendapat bajunya yang sengaja dia buang karena menghambat pergerakannya. Selain itu, pihak keamanan Rusia juga mendapatkan sepuluh bom yang sudah dijinakkan. Mereka kini bertanya-tanya, orang baik mana yang sudah menjinakkan bom-bom itu.


Ketika berita sepuluh bom yang dijinakkan keluar, korban ledakan yang ada dalam gedung olimpiade itu sangat bersyukur dan berterima kasih pada orang baik itu yang sudah menolong mereka. Jika saja sepuluh bom itu tidak dijinakkan, sudah pasti mereka akan mati mengenaskan.


Ada beberapa komen yang mengatakan bahwa orang baik itu pasti si gadis malaikat. Ada beberapa orang juga setuju dengan komentar itu. Sayangnya, tidak ada bukti bahwa gadis malaikat yang sudah menolong semua orang.


Sudah empat hari pihak keamanan mengevakuasi reruntuhan gedung olimpiade, tetapi tidak ditemukan jasad satupun. Jika jasad itu hancur karena bom, tim forensik pasti menemukan sesuatu. Sayangnya, teknologi canggih milik Rusia tidak menemukan adanya jasad di sana.


Semua orang senang mendengar berita ini. Dengan begitu, mereka berharap gadis malaikat yang mereka puji itu masih hidup. Komentar mulai membanjiri media sosial yang berterima kasih pada si gadis malaikat.


"Orang-orang ini..." Rhiana tersenyum tipis membaca komentar pujian para netizen.


Rhiana lalu menutup laptop karena dia harus segera bersiap. Kebetulan cctv tidak aktif, sehingga dia leluasa bergerak tanpa diketahui. Dia harus pergi hari ini.


***


Artya mengerutkan kening ketika layar laptopnya tidak menampilkan kemunculan Rhiana. Kemana gadis itu pergi? Artya merasa ada yang aneh. Pria itu lalu membuat panggilan pada pelayan baru yang menjaga Rhiana.


Mendengar jawaban pelayan, Artya segera keluar dan menuju kamar Rhiana di lantai dua. Langkah kakinya dipercepat. Jawaban pelayan baru itu membuatnya tidak senang. Rhiana tidak ada? Kemana perginya gadis itu?


...'Aku pergi, Kakak ipar. Terima kasih sudah merawatku. Aku akan berterima kasih ketika kita bertemu.'...


"Gadis itu..." Artya tersenyum sangat tipis dan beralih ke arah balkon kamar. Sepertinya itu rute kepergian Rhiana.


Artya yakin Rhiana pergi bukan melewati pintu keluar, karena ada banyak penjaga dan cctv dimana-mana, sehingga jika Rhiana pergi, mereka pasti akan tahu.


Masalahnya sekarang, bagaimana gadis itu pergi, sedangkan tidak ada jejak tali atau alat untuk turun dari balkon lantai dua ke bawah. Belum lagi, bangunan vila ini dibangun tepat di daerah pegunungan. Jadi, jalur turun ke sana harus dipersiapkan sebaik mungkin. Jika tidak menggunakan alat bantu, itu akan beresiko.


Para pengawal hanya menemukan jejak turun gunung, tetapi tidak menemukan adanya alat bantu. Ini benar-benar aneh! Mereka biasanya menggunakan helikopter untuk bepergian atau menggunakan kendaraan khusus untuk turun gunung.


"Mungkin nona Rhiana turun tanpa alat bantu, Tuan." Felix mengemukakan pendapatnya.


Artya juga berpikir seperti itu. Tapi, kaki gadis itu masih terluka. Itu belum sepenuhnya sembuh. Jadi, jika dia turun gunung tanpa alat bantu, itu memakan banyak waktu. Mereka pasti akan menemukan gadis itu karena menggunakan kendaraan. Hanya ada satu jalan dari sana menuju jalan raya, sehingga mereka pasti akan bertemu.


Para pengawal sudah menyusuri satu-satunya jalan menuju jalan raya. Mereka menemukan jejak sepatu di setiap jalan. Tapi itu terlihat seperti jejak sepatu pria. Dari jejak itu, mereka menemukan bahwa Rhiana dibawa oleh seorang pria.


"Lapor, Tuan Muda. Kami menemukan jejak sepatu pria di setiap jalan." Seorang ketua pengawal datang melapor.

__ADS_1


"Sepatu pria?" Felix mengerutkan kening.


"Iya, Tuan. Kami menduga, pria itu menggendong nona Rhiana dan berlari turun gunung."


"Berlari turun gunung? Apa dia manusia? Dia berlari turun gunung tanpa alat bantu. Dia bahkan sangat cepat." Felix tentu saja heran.


Jika ada yang berjalan kaki turun gunung, itu memakan banyak waktu hingga berjam-jam. Tapi, kecepatan pria yang membawa Rhiana begitu cepat. Kekuatan macam apa itu? Dan juga, dia bahkan tidak menggunakan alat bantu.


"Melihat dari jejak sepatu, memang benar, Tuan. Mungkin pria itu sudah terbiasa dengan daerah pegunungan." Ketua pengawal menjelaskan sedikit yang dia tahu.


"Kamu bisa kembali," Felix mengangguk dan membiarkan ketua pengawal itu pergi.


"Apa saya harus mencari nona Rhiana, Tuan?" Tanya Felix pada Artya.


"Tidak perlu. Dia akan mencariku," Artya punya alasan sendiri mengatakan itu. Dan dia yakin Rhiana pasti yang akan menghubunginya lebih dulu.


"Baik, Tuan."


***


Rhiana sedikit menguap dan memeluk erat pinggang Gledy. Keduanya di atas motor menuju hotel. Setelah turun gunung dengan Gledy yang membawanya di punggung dan berlari, keduanya akhirnya sampai di jalan raya. Ternyata sudah ada motor sport yang terparkir menunggu mereka.


Karena Rhiana yang hanya memakai piyama, dia menjadi pusat perhatian. Sayangnya dia tidak peduli. Rhiana tidak sempat mengganti pakaian karena Gledy sudah menjemputnya.


Sampai di lampu merah, Rhiana bersandar di punggung Gledy dan memejamkan matanya. Angin dari gunung hingga jalan tol membuatnya mengantuk. Rhiana lalu meminta Gledy memegang tangannya karena dia ingin tidur. Gledy dengan satu tangan memegang erat tangan Rhiana yang memeluknya, sedangkan satu tangan memegang setir motor.


Tidak jauh di tempat Rhiana dan Gledy, ada satu taxi yang penumpangnya adalah Brilyan. Pria itu sedang menatap intens seorang gadis dengan piyama silver yang terlihat menguap dan bersandar di punggung pria yang memboncengnya.


Brilyan merasa gadis itu familiar. Dia terlihat sedikit mirip dengan Rhiana. Tapi Rhiana memakai kaca mata, dan penampilannya sangat cupu. Sedangkan gadis piyama itu tidak. Brilyan terus menatap gadis itu hingga dia tersadar, gadis itu adalah anak bungsu keluarga Veenick yang cukup terkenal di media soal karena aksi kerennya di taman bermain waktu itu.


Brilyan lalu mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya. Tatapan matanya tiba-tiba redup ketika melihat senyum manis gadis berkaca mata bulat dengan rambut dikuncir dua. Dia merindukan gadis di ponselnya itu. Sudah hampir satu minggu, tapi dia tidak menemukan gadis itu dimana-mana.


Brilyan sangat merindukan gadis itu. Kantung matanya menghitam karena tidak bisa tidur. Setiap malam ketika dia ingin tidur, bayangan gadis itu selalu menghantuinya. Di saat orang-orang mencari keberadaan si gadis malaikat, Brilyan justru mencari keberadaan si gadis cupu kapten basket putri sekolah elit Swiss.


Dia sudah memberitahu pelatih, sehingga nama Rhiana Senora ikut masuk dalam daftar pencarian orang hilang. Tidak ada yang menduga bahwa Rhiana dan gadis malaikat adalah satu. Tentu saja mereka tidak akan pernah memikirkan itu.


Ini sudah hampir satu minggu, tapi belum ada kabar baik dari pihak kepolisian Rusia. Brilyan semakin tidak tenang. Entah kemana dia harus mencari lagi. Dia bahkan sudah mengunjungi hampir 50 persen korban serangan di gedung olimpiade itu, hanya untuk bertanya apa mereka melihat Rhiana atau tidak.


Sayangnya, jawaban mereka berbeda-beda. Ada yang menjawab melihat Rhiana terakhir kali saat dia terluka dan duduk di bangku cadangan, ada yang menjawab melihat Rhiana pergi ke toilet, ada yang menjawab melihat Rhiana sedang berbicara dengan seseorang. Dan beberapa jawaban lain yang sama sekali tidak menunjukan keberadaan Rhiana dimana.


Hampir semua jawaban mengarah ke Rhiana yang berada dalam gedung. Tidak ada yang pernah melihat kapten basket putri sekolah elit Swiss itu keluar dari gedung olimpiade. Ini yang menjadi tanda tanya. Jika tidak ada yang melihat gadis itu keluar gedung, kalau begitu kemana gadis itu pergi? Atau, siapa yang membawa gadis itu? Bahkan cctv juga tidak memperlihatkan kepergian Rhiana selain memasuki salah satu toilet.


Brilyan mengusap wajahnya frustasi. Padahal semua orang sudah dia kerahkan untuk mencari Rhiana, tapi tidak ada hasil apapun. Bagaimana dia bisa tenang, jika dia tidak mendapatkan kabar baik?

__ADS_1


Brilyan tidak pernah sefrustasi ini mencari seseorang. Sejak dia bertemu dengan Rhiana, sikapnya yang tidak peduli dengan orang lain hilang entah kemana. Dia akan cepat bereaksi jika itu berhubungan dengan seorang Rhiana. Gadis itu benar-benar mengubahnya cukup banyak.


Brilyan memejamkan matanya merasa lelah. Dua hari lagi kegiatan olimpiade kembali dibuka untuk beberapa lomba lagi sebelum penutupan. Waktunya tidak banyak. Dia harus mencari Rhiana selagi dia punya waktu. Brilyan tidak peduli lagi dengan pertandingan, padahal timnya harus bertanding untuk final yang belum selesai.


__ADS_2