
Di salah satu kamar VIP rumah sakit terkenal di Rusia, lebih tepatnya di tempat tidurnya terbaring seorang gadis dengan infus di tangannya. Wajah pucat gadis itu tidak bisa menutupi betapa cantiknya dia. Gadis itu tiba-tiba mengerutkan kening sebelum akhirnya membuka matanya sambil menyesuaikan keadaan sekitar.
"Benar juga, aku pingsan karena racun dari R10." Gumamnya dan berusaha bangun. Sayangnya, gadis dengan nama panggilan Rhiana itu meringis karena perutnya yang sakit.
"Semoga dua sister kompleks itu tidak khawatir," Rhiana yakin, kedua kakaknya pasti khawatir padanya.
"Kemari!" Suara datar itu mengagetkan Rhiana. Bisa-bisanya dia tidak sadar, ada orang lain di sini.
Menenangkan dirinya, Rhiana mengalihkan pandangannya pada Artya yang sedang menatap serius iPad di tangannya.
"Terima kasih, Kak."
"Hmm. Dokter akan datang memeriksamu," Rhiana tidak menjawab dan justru menanyakan hal lain.
"Anu... bagaimana dengan pelelangannya?"
"Dua barang milikmu sudah disimpan, jika kamu khawatir."
"Eh... dia menebak dengan benar," Rhiana bergumam dalam hati. Pipinya sedikit merona karena malu.
Tidak lama kemudian, dokter datang dan memeriksa Rhiana.
"Racun sudah hilang sepenuhnya, Tuan. Nona muda hanya perlu beristirahat agar lukanya segera sembuh," Dokter memberitahu dengan sopan.
"Pergi." Hanya satu kata, dokter muda itu memberi hormat sebelum keluar dari sana.
"Boleh aku meminjam ponselmu, Kakak ipar?" Rhiana harus menghubungi kedua kakaknya.
"Sepertinya kamu melupakan sesuatu,"
"Eum... Pinjamkan aku ponselmu, Kak." Rhiana dengan cepat mengubah panggilannya pada Artya.
Artya menarik sudut bibirnya dan menghampiri Rhiana untuk memberikan ponsel padanya.
"Ini... terima kasih sudah membawa ponselku kembali, Kak." Rhiana tidak menduga, ponselnya ternyata dibawa oleh Artya. Bukankah auditorium itu sangat kacau? Kakak Brilyan ini bisa membawa pulang ponselnya dengan utuh. Sungguh hebat!
"Hmm."
Rhiana lalu mengirim pesan pada kedua kakaknya agar tidak khawatir. Dia akan pulang setelah beristirahat beberapa hari.
***
Hanya membutuhkan tiga hari, Rhiana sudah diperbolehkan pulang. Karena dokter milik Artya hebat, sehingga luka Rhiana dengan cepat sembuh.
Meski Artya menahannya agar lebih lama di sisinya, Rhiana tidak semudah itu menurut. Dengan berbagai cara, Rhiana akhirnya kembali ke hotel. Lagipula, tim basket putri sekolah elit Swiss akan bertanding dua hari lagi. Rhiana sebagai kapten harus ada bersama timnya.
Selama beberapa hari dirawat, Rhiana jadi tahu sisi lain seorang Artya. Ternyata pria itu sangat lembut padanya. Rhiana tidak tahu saja, bahwa seorang Artya hanya lembut padanya.
Hari ini, Rhiana akan kembali ke hotel. Di depan pintu hotel dia sudah dijemput oleh Dalfa dan Dalfi. Tentu saja dua saudara kembar Rhiana itu khawatir.
Sebelum membuka pintu mobil, Rhiana melirik ke arah pengemudi di sebelah kanannya.
"Terima kasih sudah mengantarku, Kak. Hati-hati dijalan," Rhiana lalu membuka pintu setelah berbicara pada Artya.
"Aku akan mengirim pesan padamu," Rhiana hanya tersenyum karena tidak mengerti maksud Artya.
__ADS_1
Mobil Artya melaju pergi. Rhiana kemudian berbalik menatap wajah marah bercampur khawatir milik kedua saudaranya.
"Hehe... maafkan aku," Rhiana tidak tahu harus mengatakan apa. Dia jelas tahu betapa marah dan khawatirnya kedua kakaknya itu.
"Sudahlah... kami tidak bisa marah padamu. Bagaimana keadaanmu?" Dalfa berbicara setelah menghembuskan nafas pelan. Wajah bersalah Rhiana membuatnya tidak jadi marah. Daripada marah, dia lebih khawatir dengan luka tembak sang adik.
"Aku baik-baik saja, lukanya juga sudah sembuh." Rhiana menggaruk tengkuknya kemudian menyengir kuda karena tidak dimarahi. Dia bersyukur untuk itu.
Saat ketiga akan beranjak masuk ke dalam hotel, seseorang menghampiri mereka dengan menenteng paperbag kecil.
"Untukmu," Orang itu mengulurkan paperbag itu pada Rhiana.
"Ambil." Ulangnya. Rhiana hanya mengerutkan kening ketika menerima pemberian orang itu.
"Ada apa dengannya?" Rhiana bingung. Ada apa dengan Brilyan. Tingkahnya sedikit aneh. Dia hanya memberi paperbag padanya kemudian pergi begitu saja.
"Cemburu." Suara Dalfi membuat Rhiana dan Dalfa menatapnya.
"Bisa jadi. Dia cemburu karena kamu diantar oleh kakaknya." Dalfa menjelaskan.
Dalfa memang melihat taxi yang Brilyan tumpangi tiba setelah mobil yang mengantar Rhiana sampai. Brilyan baru keluar setelah mobil Artya pergi.
"Cemburu? Tidak mungkin. Ayo masuk, Kak. Aku harus melihat latihan tim basket putri." Rhiana lalu bergegas masuk.
Dalam perjalanan ke tempat latihan yang juga disediakan pihak hotel, Rhiana mengambil ponselnya dan mengirim pesan.
...'Terima kasih untuk hadiahnya. Aku menyukainya. Aku akan mentraktirmu nanti,'...
Padahal Rhiana tidak tahu apa isi dalam tas kecil itu. Setidaknya dia sudah membuat pria itu senang.
Di sisi Brilyan, pria itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Tentu saja karena melihat betapa ramahnya Rhiana pada kakaknya. Senyum Rhiana bahkan tidak lepas hingga kepergian kakaknya itu. Sangat jarang Rhiana tersenyum padanya. Itu membuatnya tidak senang.
Sedang memikirkan Rhiana, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk di sana. Brilyan membaca pesan itu. Hanya beberapa kata, tapi itu berhasil membuat moodnya seketika berubah.
Brilyan tanpa penundaan segera membalas pesan itu.
...'Hm.'...
Setelah pesan terkirim, Brilyan menyimpan kembali ponselnya. Pandangannya beralih keluar jendela taxi. Sudut bibirnya tertarik ke atas.
***
1 minggu berlalu.
Olimpiade kini memasuki babak final. Tim basket putra-putri, takewondo putra-putri, bola volly putra dan tenis meja putra sekolah elit Swiss masuk ke babak final.
Dalam pertandingan final nanti, tim basket putri sekolah elit Swiss yang dipimpin oleh Rhiana akan melawan tim basket putri Rusia yang dipimpin oleh Marie. Sedangkan basket putra melawan tim dari New York yang dipimpin oleh Axtton.
Rhiana sangat menunggu pertandingan kedua tim ini. Tentu saja dia ingin melihat pertandingan satu lawan satu antara Brilyan dan Axtton. Padahal ada kedua kakaknya juga dalam tim itu.
Entah siapa yang menang, Rhiana tidak terlalu peduli. Dia hanya ingin menonton Brilyan melawan Axtton. Apalagi Brilyan dan Axtton sama-sama kuat dalam permainan basket. Rhiana sangat ingin menonton mereka berduel.
Takewondo sekolah elit Swiss yang diwakili oleh Rhiana juga melawan perwakilan dari Rusia yaitu Marie. Rhiana hanya tersenyum ketika membaca dua nama perwakilan itu di papan pengumuman. Ternyata dia akan berhadapan dua kali dengan Marie. Itu bagus, pikirnya. Sedangkan volly dan tenis meja, Rhiana tidak terlalu peduli.
...
__ADS_1
Takewondo yang seharusnya sudah berakhir dua hari lalu, dibatalkan karena ada beberapa alasan. Jadi babak finalnya baru dimulai hari ini. Pertandingan pertama final takewondo putra. Ada Brilyan, perwakilan sekolah elit Swiss melawan perwakilan dari Jerman.
Rhiana ikut menonton, karena setelah final putra, final putri akan berlangsung. Lagipula, peserta diwajibkan hadir setengah jam sebelum olimpiade dimulai.
Lawan Brilyan cukup kuat. Keduanya sama-sama saling menyerang dan bertahan. Banyak luka juga mereka dapatkan. Tapi menurut penglihatan Rhiana, Brilyan masih sedikit unggul dalam gerakan.
Hingga, perwakilan dari Jerman itu memukul matras beberapa kali tanda menyerah karena dibungkam oleh Brilyan. Jadi, Brilyan yang menduduki posisi pertama. Rhiana ikut bertepuk tangan ketika Brilyan menatapnya. Tentu saja, dia harus merayakan kemenangan sekolah mereka.
"Selamat!" Rhiana memberi selamat saat Brilyan menghampirinya dengan senyum bangga.
"Terima kasih. Kamu juga semangat. Aku mendukungmu," Brilyan berbicara dengan lembut, kemudian mengusap pelan kepala Rhiana. Brilyan tidak sadar dengan ekspresi tidak senang Rhiana karena kepalanya diusap orang lain selain keluarganya.
...
Rhiana tersenyum tipis setelah membenarkan kacamata olahraga yang diberikan Brilyan padanya seminggu lalu. Rhiana cukup terkejut ketika melihat kacamata ini ada dalam paperbag yang Brilyan berikan padanya. Ada juga catatan kecil di sana. Ternyata Brilyan khawatir Rhiana terganggu dengan kacamata miliknya yang sewaktu-waktu bisa saja terjatuh karena berlari di lapangan selama pertandingan basket.
Padahal Rhiana biasa saja dengan kaca mata yang biasanya dia pakai. Tapi, sudahlah. Apa salahnya menerima hadiah dari pria itu? Itu juga cukup bagus.
Marie yang berdiri di depan Rhiana yang tersenyum, menjadi tidak senang. Tingkah gadis di depannya ini mengingatkannya dengan seseorang. Tentu saja orang yang sudah mengalahkannya di permainan volly.
Belum lagi, orang itu adalah musuh utama organisasi bawah tanah. Akan tetapi, Marie tidak berani memusuhi gadis itu, karena Marie jelas sadar betapa mengerikannya gadis itu. Di saat organisasi tempatnya bekerja tidak bisa menemukan keberadaan keluarganya, ternyata gadis itu sangat mudah menemukan mereka. Sudah pasti gadis itu sangat hebat.
Jika gadis itu tidak hebat, bagaimana bisa dia melumpuhkan semua anggota organisasi bawah tanah yang Marie bawa seorang diri?
Melihat ekspresi gadis di depannya ini, Marie menjadi tidak senang. Karena tidak bisa melawan gadis yang dia tahu bernama Rhiana itu, maka dia harus melampiaskan kemarahannya pada gadis di depannya saat ini. Marie menyeringai secara diam-diam ketika memikirkan sesuatu di kepalanya.
Rhiana yang tidak tahu apa yang Marie pikirkan tentangnya, masih tersenyum dan merapikan sabuk hitam yang dia kenakan. Rhiana juga penasaran apa yang akan Marie lakukan. Mumpung penyamarannya tidak diketahui, Rhiana akan mengikuti permainan Marie.
Kedua perwakilan diberi sedikit arahan oleh wasit. Setelah itu, keduanya saling memberi hormat dan mempersiapkan diri untuk memulai duel.
...
Rhiana tersenyum tipis, sedangkan Marie meringis memegangi perutnya akibat tendangan dari Rhiana. Tendangan itu benar-benar kuat membuatnya kesakitan. Dia juga sabuk hitam, tapi masih tingkat II. Gadis di depannya ini sangat kuat. Sangat mirip dengan gadis kuat yang dia kenal. Tentu saja, karena mereka orang yang sama.
Sudah 10 menit, tapi hanya Marie yang menerima kerugian. Lawannya ini sangat kuat. Sayangnya, Marie tidak ingin menyerah sebelum berusaha keras. Dia tidak ingin kalah dua kali. Dia juga tidak ingin kalah dari dua orang. Cukup dikalahkan oleh Rhiana. Tidak untuk gadis ini. Marie harus berusaha hingga menang. Dia harus menang. Harus! Marie tidak tahu saja, lawannya hanya satu orang.
Bugh!
Bruk!
Pada Akhirnya Marie menerima tendangan yang lebih kuat dari tendangan sebelumnya dan berakhir jatuh kesakitan. Marie tidak punya tenaga untuk bangun lagi. Lututnya terasa lemas. Gadis di depannya ini bukan hanya menggunakan takewondo biasa, dia juga menambahkan pukulan di titik lainnya yang bukan titik vital, tetapi berhasil membuatnya tidak bisa berdiri karena kedua lututnya lemas.
"Pemenang takewondo putri tahun 202x adalah perwakilan dari sekolah elit Swiss!" Wasit berteriak sambil mengangkat tangan Rhiana ke atas sebagai pemenang. Penonton bersorak heboh karena kemenangan tim Swiss.
"Setengah jam lagi lututmu akan baik-baik saja," Rhiana menghampiri Marie untuk berjabat tangan. Marie saat ini dipapah oleh pelatihnya.
"Perbaiki lagi gerakan kakimu, dan perkuat tumpuan serta tendanganmu. Dengan begitu, kamu bisa memberikanku satu tendangan berarti di masa depan."
Rhiana bukannya sombong karena tidak menerima satupun pukulan dari Marie. Hanya saja, sangat disayangkan jika gerakan Marie tidak segera diperbaiki. Rhiana akhirnya tidak tahan untuk memberi saran.
"Sangat sombong!" Pelatih Marie mencibir dengan marah. Beraninya gadis bau susu ini mengomentari murid yang dia latih. Dia jelas tahu seberapa keras dia melatih Marie. Meski pada akhirnya Marie kalah, dia tidak merasa menyesal.
Berbeda dengan Marie, gadis itu diam-diam menerima saran dari Rhiana. Dia juga merasa apa yang Rhiana katakan benar. Pantas saja dia sangat cepat jatuh karena tumpuannya tidak terlalu kokoh. Dia juga sama sekali tidak bisa menjatuhkan Rhiana. Tendangannya akan segera ditahan dan dengan cepat dibalas telak.
"Kita akan bertemu lagi di final basket. Aku pastikan akan keluar sebagai pemenang!" Marie berbicara dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Sejak awal takewondo dimulai, Marie sudah memainkan beberapa trik. Sayangnya, dia tidak berhasil. Semua triknya dengan mudah dipatahkan oleh lawannya. Dia benar-benar kalah telak.
Marie berjanji dalam hati, dia harus menang dalam pertandingan basket nanti. Apapun caranya, dia harus menang. Dia tidak peduli dengan resiko. Ini demi citranya juga sebagai salah satu murid andalan sekolah sains Rusia.