Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Bertemu Teman Mommy


__ADS_3

Hann di kamar hotel juga membaca berita kemunculan gadis malaikat. Pria itu senang karena gadis malaikat masih hidup. Di saat orang-orang penasaran seperti apa wajah asli si gadis malaikat, Hann yang tahu seperti apa wajah gadis malaikat merasa bangga pada dirinya sendiri. Dia merasa beruntung karena sudah tahu wajah asli gadis malaikat, bahkan tahu siapa nama gadis itu.


Teman-temannya yang datang bermain game bersama di kamarnya tercengang dengan senyum tidak biasa Hann. Padahal hampir dua minggu ini Hann terlihat tidak bersemangat. Tapi hari ini, ekspresi pria itu sudah kembali normal. Entah apa yang sudah terjadi pada pewaris keluarga Stefanno itu.


"Obatmu sudah ditebus, Hann?" Tanya salah satu teman Hann bernama Herry.


"Sepertinya begitu, dia sudah kembali normal." Sahut teman Hann yang lain bernama Joan.


"Apa ada berita baik, Hann?" Domid teman Hann juga penasaran.


"Hmm." Balas Hann singkat.


Hann sedang sibuk melihat bermacam foto gadis malaikat menggunakan masker yang dibagikan di media sosial. Komentar-komentar pujian juga Hann baca. Dia tidak bosan berselancar membaca semua tanggapan para netizen tentang gadis malaikat.


"Coba lihat!" Herry segera merebut ponsel Hann dengan cepat.


"Sialan... Kembalikan ponselku!" Hann kesal karena kesenangannya terganggu.


"Gadis malaikat?" Gumam Domid melihat layar ponsel Hann bersama Herry.


"Jangan bilang, kamu jatuh cinta pada gadis malaikat?" Tebak Joan dengan pandangan menyipit pada Hann.


Setahu mereka, Hann memang ceria dan selalu ramah pada siapa saja. Hann juga selalu menggoda teman-teman perempuan mereka di sekolah. Tapi hanya sebatas menggoda. Hann tidak pernah serius memperhatikan gadis-gadis itu.


Tapi kali ini, Hann memperhatikan seorang gadis dengan tidak biasa. Tentu saja hanya satu tebakan teman-temannya, Hann sedang jatuh cinta.


"Kamu boleh jatuh cinta, Hann. Aku sebagai sahabat senang kamu jatuh cinta dan tidak menjomblo lagi. Hanya saja..." Herry menggantung perkataannya membuat Hann dan kedua temannya menatapnya serius.


"Hanya saja?" Tanya Domid penasaran.


"Hanya saja, kita tidak tahu seperti apa wajah gadis malaikat. Jangankan wajah. Namanya saja sangat sulit. Belum lagi dimana dia berasal, kita sama sekali tidak tahu." Herry mengutarakan pendapatnya membuat Domid dan Joan mengangguk setuju. Mereka juga fanboy gadis malaikat.


"Jatuh cinta? Aku?" Hann bertanya karena dia sendiri tidak tahu seperti apa perasaannya. Ketiga temannya mengangguk membenarkan.


"Aku sebenarnya sudah bertemu dengan gadis malaikat itu." Hann ingin teman-temannya mendengar ceritanya.


"Hahaha..." Ketiga temannya justru tertawa karena tidak percaya. Mereka selalu bersama Hann. Jadi, bagaimana mungkin mereka tidak tahu?


"Aku serius!" Melihat wajah serius Hann, Herry, Domid dan Joan berhenti tertawa dan menatap serius pada Hann.


Hann mulai bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Rhiana. Hann juga menceritakan pertemuan keduanya dengan Rhiana di halte bus waktu itu. Hann tidak menceritakan tentang Rhiana yang mengikuti balapan. Dia tidak ingin teman-temannya tahu identitas gadis malaikat. Dia ingin menyimpan untuk dirinya sendiri.


"Jadi... kamu tahu seperti apa wajah gadis malaikat? Dia bersekolah di sekolah yang sama dengan kita? Serius?" Joan ingin memastikan pendengarannya. Jika itu benar, mereka sangat senang. Idola mereka satu sekolah bersama mereka.


"Ya. Tapi aku belum pernah bertemu dengannya di sekolah tanpa masker. Kita hanya bertemu di luar. Sepertinya dia tidak ingin bertemu denganku di sekolah." Keluh Hann dengan wajah murung.


"Kamu benar-benar beruntung! Kalau begitu, seperti apa wajahnya?" Tanya Domid penasaran.


"Tentu saja dia sangat cantik." Hann menjawab dengan bangga.


"Sialan kamu, Hann! Pantas saja kamu jatuh cinta padanya," Herry mencibir menatap Hann yang memasang wajah bangga.


"Bagaimana dengan identitasnya? Apa kamu tahu?" Tanya Joan.


"Identitasnya tidak biasa. Keluargaku bahkan tidak sebanding dengan keluarganya." Hann sudah membaca banyak berita tentang betapa hebatnya keluarga Veenick. Apalagi keluarga Lesfingtone.


Jika Hann tahu Neo Chixeon adalah ayah baptis Rhiaha, entah Hann masih bernafas atau tidak. Tentu saja dia masih harus bernafas untuk melihat senyum Rhiana padanya.


"Sehebat itu? Kalau begitu, apa nama keluarganya?" Joan semakin penasaran.


"Rahasia! Karena dia tidak ingin orang lain tahu identitasnya, maka aku harus membantu menjaga rahasianya." Hann tersenyum manis membuat ketiga temannya ingin sekali membuangnya dari lantai 6 ke bawah. Benar-benar membuat orang kesal.


"Katamu dia satu sekolah dengan kita. Dia ada di Rusia saat ini. Itu berarti, dia datang bersama kita untuk olimpiade. Apa dia menyamar dan bergabung dalam peserta olimpiade?" Herry tidak tahan mengatakan isi kepalanya.


"Bisa jadi. Kalau tidak salah, kamu belum pernah bertemu dengannya di sekolah tanpa masker, 'kan?" Tanya Joan. Hann mengangguk mengiyakan.


"Itu berarti dia menyamar ketika di sekolah. Dia sangat hebat. Sudah pasti kita tidak akan tahu seperti apa penyamarannya. Bagaimana menurut kalian?" Joan menambahkan.


"Pantas saja aku sudah mencari di seluruh sekolah tapi tidak menemukannya. Dalam data base sekolah, tidak ada namanya." Hann membenarkan perkataan Joan dan Herry.


***


Pesawat yang Rhiana tumpangi baru saja tiba di bandara Swiss. Penerbangannya memakan beberapa jam perjalanan. Rhiana menguap setelah turun dari pesawat. Dia cukup lelah duduk lama di pesawat.


Hanya dengan ransel kecil di punggungnya Rhiana dengan langkah santai keluar bandara. Dia lalu menunggu taxi untuk mengantarnya pulang.


Puk

__ADS_1


Rhiana mengerutkan kening dan berbalik menatap orang yang menepuk pelan bahunya.


"Ada yang bisa saya bantu, Paman?" Tanya Rhiana tidak mengenali pria di depannya ini. Usianya mungkin satu atau dua tahun lebih tua dari mommynya.


"Siapa namamu?" Tanya pria itu.


"Namaku Rhiana. Apa paman mengenalku?" Rhiana bertanya dengan lembut.


Rhiana mengutuk kebodohannya karena lupa memakai masker. Dia terlalu senang turun dari pesawat dan ingin cepat pulang mencicipi masakan buatan Bibi Ratih, sehingga lupa memakai masker.


"Maaf... Sepertinya saya salah orang. Wajahmu mirip dengan seseorang yang saya kenal,"


"Siapa nama paman?"


"Nama saya David Alexander."


Mendengar nama ini, Rhiana tentu tahu. Dia sudah mendengar cerita masa lalu mommynya dari tante Alen kesayangannya. Ternyata paman di depannya ini adalah mantan tunangan dari gadis yang membuat mommynya harus koma di rumah sakit.


Karena kedekatan paman di depannya dengan mommy semasa sekolah dulu, tunangan paman ini membully mommynya hingga harus koma selama 6 bulan di rumah sakit.


"Paman David, ya. Berarti paman teman mommy. Saya anak bungsu mommy Rihan." Rhiana tersenyum manis pada David.


Deg


Sudah lama David tidak merasakan debaran aneh ini sejak 17 tahun lalu. Tangan kanannya menyentuh dadanya. Ini debaran yang sama saat dia melihat Rihan dulu. Bagaimana bisa dia merasakannya lagi? Apa karena senyum Rihan dan anaknya sama? David menatap Rhiana dengan pandangan tidak biasa.


"Berapa umurmu?" David penasaran berapa usia Rhiana.


David tahu, Rihan yang dia cintai itu sudah memiliki tiga anak. Tapi dia tidak tahu berapa usia mereka. David tidak lagi berkomunikasi dengan Rihan sejak suami Rihan membawanya pergi ke New York.


"Beberapa bulan lagi aku 16 tahun, Paman." Rhiana menjawab dengan wajah tidak mengerti. Kenapa teman mommynya ini menanyakan umurnya?


"Masih sangat muda," Komentar David dalam hati.


"Mau makan bersama saya? Kamu pasti belum makan malam," David memberi penawaran dengan senyum lembut.


"Mungkin lain kali, Paman. Aku sudah ditunggu di rumah," Rhiana menolak dengan senyum manisnya.


Rhiana tidak sadar, senyumnya sangat mematikan bagi David. Pria berusia 30an itu ingin sekali mencubit pipi gadis kecil di depannya ini. Terlalu menggemaskan!


"Baik, Paman." Rhiana dengan senang hati menerima kartu nama itu.


"Bukankah Rihan ada di New York? Kenapa kamu ada di sini?" David bertanya setelah menyadari dimana mereka sekarang.


"Aku sekolah di sini, Paman."


"Jadi, begitu. Saya sedang ada urusan di sini. Hubungi saya jika kamu ada waktu,"


"Siap, Paman. Kalau begitu sampai nanti, Paman." Rhiana berbalik ingin masuk ke dalam taxi yang kebetulan baru sampai di depannya.


"Rhi..." Nada suara David terdengar canggung.


"Ada apa, Paman?" Rhiana kembali menoleh menatap David. Apa dia melupakan sesuatu?


"Boleh saya memeluk kamu? Sebentar saja," Meski canggung untuk memintanya, tapi David sangat ingin memeluk Rhiana. Entahlah. Dia hanya benar-benar ingin.


"Boleh, Paman." Rhiana menjawab setelah terdiam beberapa saat. Lagipula teman mommynya ini bukan orang jahat.


GREP


Rhiana sedikit kaget karena pelukan teman mommynya ini sangat erat. Pelukan ini seperti pelukan orang yang sudah lama tidak bertemu. Pelukan yang benar-benar penuh kerinduan. Apa paman ini sangat merindukan mommynya? Sedalam itukah cinta paman ini pada mommynya?


Rhiana tidak membalas pelukan David. Dia hanya diam dalam dekapan yang menurutnya cukup nyaman. Sedikit mirip dengan pelukan ayah baptisnya.


Cukup lama juga David memeluk Rhiana. Mungkin sekitar 20 menit. Rhiana juga tidak menolak. Lagipula tidak ada niat jahat, jadi dia membiarkannya saja.


"Terima kasih, Rhi. Jangan lupa hubungi saya." David tersenyum manis menatap Rhiana setelah melepas pelukannya.


"Iya, Paman."


Rhiana segera masuk ke dalam taxi dan pergi dari sana.


Melihat kepergian Rhiana, David menatap kedua tangannya yang memeluk Rhiana. Senyum tipis terukir di bibirnya. Dia berharap, semoga mereka bertemu lagi.


"Aku lupa meminta nomernya. Semoga dia tidak lupa menghubungiku,"


...

__ADS_1


"Wangi Paman David masih tertinggal," Gumam Rhiana setelah mencium bau tubuhnya sendiri.


Setelah beberapa saat, Rhiana mengerutkan kening mengingat sesuatu. Dia mengambil iPad dalam ranselnya dan mengoperasikannya.


5 menit kemudian, layar iPad menampilkan beberapa data.


"Huh? Paman David sampai sekarang belum menikah? Apa karena dia masih belum bisa melupakan mommy? Tapi itu tidak mungkin," Rhiana menggeleng tidak percaya dengan pemikirannya sendiri.


"Tapi... jika benar karena mommy, itu berarti mommy hebat. Ayah Neo dan Paman David sama sekali tidak bisa melupakan mommy. Mereka bahkan tidak menikah sampai sekarang."


"Berarti, pelukan tadi... Apa mungkin karena Paman David merindukan mommy? Kasihan sekali," Rhiana turut bersedih untuk David.


Setelah membaca sedikit tentang David, Rhiana segera mematikan iPad dan menyimpannya kembali.


Bertepatan dengan itu, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.


^^^"Maaf... nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi!" ^^^


Rhiana meniru suara operator setelah menjawab panggilan itu.


"Kamu dimana, gadis kecil?" Suara di seberang sana berbicara setelah terkekeh karena mendengar suara Rhiana.


^^^"Mohon periksa kembali nomor tujuan anda!" Rhiana masih saja meniru suara operator.^^^


"Jawab aku sekarang, atau aku sendiri yang akan menjemputmu dan menciummu di tempat!" Ancaman itu berhasil membuat Rhiana mengurungkan niatnya menggoda Artya lagi.


^^^"Aku di Swiss, Kakak ipar. Aku ada urusan. Jangan mencariku!"^^^


"Berhenti nemanggilku kakak ipar. Sepertinya kamu tidak takut dengan ancamanku, gadis kecil." Nada suara Artya penuh intimidasi.


Rhiana mendengus sebelum menjawab. "Iya, aku akan berhenti. Tapi janji jangan mengikutiku ke sini. Apalagi mengirim penguntit. Jangan coba-coba!"


"Hahaha... asalkan kamu mengabariku semua aktivitasmu setiap dua jam sekali." Lagi-lagi nada suara intimidasi itu terdengar.


^^^"Kak..."^^^


"Aku tidak terima penolakan!"


Sebelum Rhiana mengeluh, Artya sudah menambahkan kalimat keramat itu. Rhiana hanya bisa menghela nafas berusaha sabar. Dia hanya mengeluh dalam hati kenapa harus bertemu orang seperti Artya.


Tut.


Rhiana sudah menutup panggilan sebelum Artya kembali mengancam. Ponselnya bahkan dimatikan. Biarkan saja. Lagipula dia tidak menunggu panggilan penting.


***


Pukul 3 dini hari, Rhiana sudah siap dengan fashion siap tempurnya. Dia akan menyusup ke rumah Yeandre.


Setelah sampai di rumah sederhana yang ditinggalinya bersama Bibi Ratih, Rhiana langsung disuguhkan makan malam lezat setelah itu istirahat sebentar kemudian bangun jam 2 pagi dan bersiap untuk keluar.


Tanpa berpamitan pada Bibi Ratih yang tertidur, Rhiana sudah melesat pergi ke tempat tujuannya.


...


Rhiana sedang menatap interior ruang kerja ayah angkat Yeandre. Ada banyak berkas yang tersimpan dalam lemari kaca dua sisi itu. Setelah melewati para penjaga, Rhiana akhirnya sampai dengan aman di ruangan ini. Kebetulan ayah angkat Yeandre sedang bekerja, jadi Rhiana bebas membuat rusuh di sini.


Rhiana mengangguk membaca deretan buku-buku medis yang dipajang dalam lemari kaca bagian kiri. Buku-buku ini mirip dengan buku-buku di perpustakaan besar di mansionnya. Semua buku medis itu milik daddy dan mommynya.


Rhiana beralih membaca deretan berkas di lemari kaca bagian kanan. Kebanyakan file-file kesehatan pasien, juga laporan-laporan pemasukan maupun pengeluaran rumah sakit Swiss yang saat ini dipimpin oleh ayah angkat Yeandre.


"Berkas seperti itu tidak mungkin disimpan di sini," Gumam Rhiana dan berbalik mencari di laci meja kerja.


Tidak ada berkas atau file yang berhubungan dengan Yeandre. Rhiana tidak menyerah dan terus mencari.


Hampir 30 menit mencari, Rhiana akhirnya menemukan satu kunci yang tersimpan di bawah laci meja kerja. Dia yakin, kunci ini terhubung ke suatu tempat tersembunyi.


Rhiana kembali merabah-rabah dinding, lemari, meja, maupun apa saja yang mungkin bisa menjadi tempat tersembunyi.


"Dimana lubang kunci yang cocok?" Monolog Rhiana dalam hati masih terus mencari.


Hingga senyum tipis terukir di bibirnya ketika menemukan brangkas tersembunyi di belakang meja kecil di sudut ruangan. Rhiana dengan tenang memasukan kunci untuk membuka brangkas.


Untungnya brangkas itu tidak menggunakan pola pin yang menguncinya, sehingga Rhiana hanya perlu menggunakan kunci di tangannya. Sangat mudah!


Diambilnya map merah dalam brangkas itu. Map itu cukup tebal. Sebelum membacanya, Rhiana membawa semua berkas dalam map itu untuk disalin agar dibawa pulang. Dia tidak punya waktu membacanya di sini. 30 menit lagi ayah Yeandre akan pulang.


Karena tersedia mesin fotocopy di sana, jadi Rhiana manfaatkan untuk menyalin berkas-berkas itu. Itu semua tentang Yeandre dan beberapa penelitian lain.

__ADS_1


__ADS_2