
Rhiana menguap karena malas. Dia tidak bisa bergerak sedikitpun. Berada di pangkuan pria satu ini membuatnya sangat tidak nyaman.
Beberapa saat lalu, Rhiana berhasil lepas dari Brilyan. Setelah itu, Rhiana menuju tempat parkir menunggu Artya. Entah apa yang pria itu inginkan, Rhiana terpaksa menunggu. Jika dia tidak menunggu, pria itu akan berbuat nekat padanya.
Hanya beberapa menit menunggu, Artya muncul bertepatan dengan sebuah limosi hitam muncul sehingga Artya dengan sigap menariknya masuk ke dalam mobil.
Sampai di dalam, Artya mengangkat Rhiana agar duduk di pangkuannya kemudian meminta sopir pergi dari sana. Rhiana yang memberontak ingin turun, justru dipukul bokongnya, sehingga dia tidak berani bergerak lagi. Rhiana diam tidak bergerak meski sebenarnya dia sangat tidak nyaman.
"Mengantuk?" Suara lembut Artya membuat Rhiana yang hampir masuk ke dunia mimpi kembali ditarik ke dunia nyata.
Rhiana tidak menjawab dan hanya mengangguk. Sepertinya berdekatan dengan pria ini membuatnya mudah mengantuk. Padahal beberapa saat lalu dia tidak nyaman, perlakuan Artya membuatnya merasa aman dan bahkan mengantuk.
"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika sampai," Artya mengusap pelan punggung Rhiana membujuk gadis itu tidur.
Jujur saja, posisi ini membuat Artya sangat senang. Tubuh mungil Rhiana sangat pas dalam pelukannya. Apalagi jika gadis ini menurut, betapa bahagianya Artya. Gadis ini berada di sisinya sudah membuatnya bahagia. Hanya saja, moodnya akan hancur jika memikirkan kedekatan gadis kecilnya dengan pria lain.
"Ke apartemen." Artya memberi perintah dengan pelan takut membangunkan Rhiana yang sudah mendengkur halus.
"Siap, Tuan!"
Mobil dengan kecepatan rata-rata menuju apartemen tempat Artya tinggal untuk sementara di Rusia.
***
Artya menopang kepalanya dengan satu tangan sambil berbaring di tempat tidur. Matanya tidak lepas dari pemandangan di depannya. Senyum sangat tipis terukir di bibirnya melihat Rhiana yang begitu lelap dalam tidurnya.
Gadis ini benar-benar tidak takut padanya. Dia bahkan melonggarkan kewaspadaannya dan tertidur nyenyak di tempat asing. Padahal sebelumnya dia mengatakan akan membangunkan Rhiana ketika mereka sampai, wajah terlelap Rhiana yang manis membuat Artya tidak tegah membangunkan gadis kecilnya.
"Hanya aku yang boleh melihatmu seperti ini," Gumam Artya sambil mengusap pelan pipi chuby Rhiana.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu membuat Artya menghentikan gerakan tangannya mengusap pipi Rhiana. Pria itu dengan hati-hati turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
"Ada yang ingin saya laporkan, Tuan." Felix membuka suara setelah Artya membuka pintu.
"Dia ruang tamu."
"Baik, Tuan."
...
"Alasan Nona Rhiana menyamar adalah untuk menjaga pria bernama Yeandre Lawrence. Pria itu adalah senjata hidup yang diincar organisasi bawah tanah." Felix menjelaskan dengan tenang.
"Senjata hidup? Organisasi bawah tanah?" Artya menatap Felix ingin tahu lebih jelas.
__ADS_1
"Benar, Tuan. Pria itu dijadikan kelinci percobaan sejak usia 5 tahun oleh ibunya sendiri. Tapi, sebelum virus yang ditanam dalam tubuhnya berhasil berproduksi, FBI sudah menangkap ibunya. Yeandre kemudian dirawat oleh ayah angkatnya, Dokter Lawrence.
Pemimpin organisasi bawah tanah kemudian mengincarnya untuk mengaktifkan senjata hidup yang dikatakan sangat mematikan. Untuk organisasi itu sendiri, mereka cukup terkenal karena kejahatan mereka selama ini. Mereka juga yang membuat kekacauan di auditorium milik Pentagon." Felix kembali menjelaskan pada Artya.
"Aku ingin tahu lebih banyak tentang organisasi itu."
"Baik, Tuan. Akan saya siapkan."
"Satu lagi. Kenapa dia harus menjaga pria itu?"
"Saya belum menemukan informasi tentang itu, Tuan. Kami sedang mencoba mencari hubungan Nona Rhiana dengan pria itu."
"Kamu bisa pergi."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Felix, Artya mengetuk pelan jari telunjuknya di sofa yang ia duduki. Dia sedang mencoba berpikir, alasan apa yang membuat gadis kecilnya sangat menjaga pria bernama Yeandre itu. Jujur saja, Artya tidak suka dengan Yeandre. Perhatian Rhiana pada Yeandre membuatnya tidak suka.
"Apa sebaiknya bertanya pada om Zant?" Gumam Artya sebelum menyesap segelas wine yang tersedia di depannya.
***
Hari ini, bandara internasional Rusia penuh dengan peserta olimpiade dari negara lain yang akan pulang. Pesta perpisahan dua hari lalu berakhir dengan lancar.
Rhiana yang termasuk dalam penumpang pesawat tujuan Swiss juga sedang bersantai menunggu jam keberangkatan mereka.
Aku akan pulang ke Swiss dua hari lagi. Sampai saat itu, jangan berdekatan dengan pria lain.
"Ck... memangnya kamu siapa? Kekasih saja bukan. Bikin kesal saja," Gumam Rhiana dalam hati.
Rhiana mengambil permen lolipop dalam tasnya dan memasukan dalam mulut untuk menghilangkan moodnya yang buruk karena memikirkan Artya.
Asik mengunyah permen, perhatian Rhiana teralihkan dengan kemunculan Freslly di bandara. Pria itu terlihat mencari seseorang. Tentu saja, Yeandre pasti orang yang dia cari.
Berbicara tentang Yeandre, setelah diperiksa oleh tim ahli, ternyata memang benar perubahan sikap Yeandre karena virus dalam tubuhnya sengaja dipicu agar segera berproduksi.
Seingat Rhiana, menurut data yang diambil di kediaman Lawrence, jika Yeandre berubah menjadi senjata hidup, maka pria itu akan berubah menjadi orang lain. Lebih tepatnya dia tidak menjadi dirinya lagi. Mata pria itu akan kosong dan dikendalikan sesuka hati dari jarak jauh.
Untung saja para ahli segera mengantisipasi dengan menyuntikkan serum untuk menahan serangan virus itu.
Jadi, Yeandre sudah kembali seperti semula. Setidaknya pria yang Rhiana jaga itu untuk sementara masih aman.
Mungkin karena itu, sehingga Freslly datang untuk memeriksa keadaan Yeandre. Rhiana menoleh ke arah Yeandre yang sedang berbincang dengan dua sahabatnya. Rhiana harus menjaga kakak sahabatnya itu agar tidak jatuh ke tangan Freslly.
Tim pelindung pemimpin organisasi bawah tanah itu ternyata bergerak dengan lihai, sehingga Rhiana tidak bisa melepaskan pandangannya dari Yeandre. Padahal Freslly bergerak di depan matanya, tapi bisa-bisanya dia kehilangan jejak pria itu.
Kali ini Rhiana tidak ingin gagal seperti dua hari lalu. Rhiana segera mengirim pesan pada Gledy untuk memperketat penjagaan. Jika bisa, dia ingin mengepung bandara ini untuk keamanan Yeandre.
Rhiana mengerutkan kening dan segera berdiri dari tempat duduknya. Tentu saja dia tidak bisa membiarkan Yeandre lepas dari pandangannya. Entah kemana pria itu akan pergi. Dia harus mengawasinya.
__ADS_1
"Awasi dia untukku. Aku akan mengganti pakaianku. kak Dalfa dan kak Dalfi, bantu aku dengan pelatih jika aku dicari." Rhiana memberi instruksi pada Gledy dan kedua kakaknya.
Setelah itu, Rhiana dengan cepat menuju toilet untuk melepas penyamarannya. Tidak mungkin dia beraksi dengan penampilan culunnya.
...
"Di mana dia?" Tanya Rhiana pada Gledy.
"Dia sedang membeli minum untuknya dan Annalisha di kantin bandara."
"Oke. Aku akan segera ke sana." Rhiana membenarkan tudung di kepalanya dan berlari kecil ke arah kantin bandara.
Brukk
"Maaf, kamu baik-baik saja?" Seorang pria meminta maaf karena bertabrakan dengan Rhiana.
"Dari mana orang ini muncul?" Tanya Rhiana dalam hati cukup kaget. Setahunya tidak ada orang di depannya tadi. Bagaimana bisa keduanya bertabrakan?
"Eh... dia..." Rhiana juga baru sadar, ternyata orang ini adalah Freslly.
"Ya. Aku baik-baik saja," Rhiana menerima uluran tangan dari Freslly. Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat.
"Dia..." Suara Freslly tertahan dalam hatinya. Pria itu bisa melihat jelas wajah Rhiana yang tidak tertutup masker.
Akhirnya dia bisa melihat gadis ini lagi. Sejak melihat Rhiana beberapa waktu lalu di club 24 jam, Freslly tidak berhenti memikirkan Rhiana. Gadis itu berhasil menarik perhatiannya.
"Maaf, bisa tolong lepaskan tangan saya?" Rhiana mengerutkan kening karena tangannya justru digenggam sangat erat oleh Freslly.
"Maaf. Boleh aku tahu namamu?" Freslly segera bertanya tanpa malu. Sebelum itu, Freslly sudah melepas tangan Rhiana dengan cepat. Dia tidak peduli lagi. Ini kesempatan bagus untuk menanyakan nama gadis ini. Kapan lagi mereka bisa bertemu seperti ini.
"Untuk apa dia ingin tahu namaku? Jangan bilang..." Gumam Rhiana dalam hati. Rhiana tiba-tiba teringat sesuatu. Bukankah organisasi bawah tanah sudah tahu wajah aslinya? Apa pria ini mengenalnya sebagai buronan organisasi bawah tanah?
Rhiana tidak tahu saja, bahwa organisasi bawah tanah berpikir bahwa dia sudah mati di tangan Marie waktu itu. Sepertinya Rhiana melupakan hal ini.
"Maaf...Aku sedang terburu-buru. Permisi," Rhiana segera pergi ke arah kantin bandara.
Rhiana bahkan tidak melihat wajah linglung Freslly karena mengabaikan wajah tampan pria itu. Padahal mereka sedekat ini, tapi gadis itu sama sekali tidak tertarik padanya. Freslly semakin ingin menaklukkan gadis itu. Sebelum itu, dia harus melakukan tugas utamanya lebih dulu.
...
Slurp
Rhiana menyesap minuman sejenis kopi yang dia pesan tadi. Ternyata tidak enak. Dia hanya memesan minuman yang sama tanpa melihat apa jenis minuman itu. Rupanya tidak ada manis-manisnya. Dia bukan penikmat yang pahit-pahit. Dia penikmat yang manis-manis.
Sudahlah. Tinggalkan jenis minuman yang dia minum. Mari berpindah ke fokus utamanya. Rhiana melirik ke arah meja tempat Yeandre, Sony dan Annalisha duduk. Ketiga sahabat itu sedang asik dengan minuman masing-masing. Lagipula masih satu jam lagi sebelum keberangkatan, jadi mereka bisa bersantai di bandara.
Rhiana tiba-tiba merasa punggungnya merinding. Sepertinya dia sedang diperhatikan. Dan benar saja. Melalui pantulan kaca di belakang kasir, Rhiana bisa melihat tatapan Freslly begitu lekat padanya. Apa yang pria itu inginkan?
Rhiana menggembuskan nafas pelan dan berusaha menjaga pandangannya agar tidak terlihat memperhatikan ke arah tempat duduk Yeandre. Bisa ketahuan dia.
__ADS_1