
Sepanjang pelelangan dimulai, Rhiana hanya menatap tidak tertarik pada barang-barang yang dilelang. Meski harganya cukup menguras kantong, tapi Rhiana sama sekali tidak peduli.
Rhiana melirik Artya yang sepertinya juga tidak tertarik dengan barang yang dilelang sebelumnya, termasuk barang sekarang yang masih diperebutkan.
Di tempat duduk para wakil ketua, hanya Rhiana, Artya dan seorang pria yang datang bersama pasangannya juga belum berminat pada barang yang dilelang.
Pelelangan terus berlanjut hingga sebuah barang berhasil membuat Rhiana mengubah ekspresi wajahnya. Itu sebuah berlian Pink star. Berlian itu adalah berlian paling langka. Harga awal lelang 400 miliar.
Bukan harganya yang membuat Rhiana tertarik. Yang membuatnya tertarik adalah karena berlian itu sama persis dengan berlian yang ada di ruang rahasia mommynya di New York.
Berlian milik mommynya adalah hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 2 tahun. Sang daddy mendapatkannya langsung dari penggali berlian itu sendiri. Tentu saja meski itu berlian langka, tapi karena Daddy Zant sudah menyelamatkan nyawa anak penggali berlian yang hampir mati, sehingga berlian itu diberikan sebagai ucapan terima kasih.
Berlian *p*ink star adalah berlian langka yang berhasil digali oleh seorang ahli asal Rusia. Setahu Rhiana, berlian ini hanya ada 3 di dunia. Rhiana masih mengingat jelas percakapan daddy dan mommynya tentang berlian ini saat usianya 10 tahun.
Rhiana tidak sengaja masuk ke ruang rahasia mommynya dan menemukan berlian itu ditempatkan secara khusus di dalam ruang rahasia milik mommynya. Karena penasaran, dia lalu bertanya pada sang mommy tentang berlian itu. Sang mommy lalu mengatakan bahwa itu berlian langka yang hanya ada tiga di dunia.
Berlian pertama sudah menjadi milik Ratu Inggris, berlian kedua milik seorang pengusaha paling berpengaruh di Rusia, dan terakhir milik mommynya sendiri.
Berlian pink star itu tidak lagi terdengar kemunculannya setelah penggali berlian itu meninggal dunia. Keluarganya juga tidak tahu dimana tempat berlian itu ditemukan. Jadi, jika kemunculan berlian pink star didengar, maka banyak konglomerat berebut ingin memilikinya.
Sampai sekarang, Rhiana jelas tahu berlian yang berada di tangan mommynya tentu aman. Yang menjadi pertanyaannya, berlian yang dilelang ini milik Ratu Inggris atau milik orang terkaya di Rusia.
Tapi, setelah dipikir-pikir, mommynya pernah mengatakan, berlian ini tidak diberikan pada siapapun. Kedua berlian milik Ratu Inggris dan orang terkaya di Rusia sudah menjadikan berlian pink star sebagai warisan turun termurun dan dijaga sangat ketat.
Jadi, ketika melihat kemunculan berlian ini di sini, Rhiana tentu terusik. Siapa yang mencuri berlian ini dan melelangnya di sini? Belum lagi, jika berlian milik Ratu Inggris dan orang terkaya Rusia itu hilang, sudah pasti beritanya akan tersebar ke seluruh dunia.
"Konspirasi apa ini?" Gumam Rhiana dalam hati sambil menatap kotak kaca berisi berlian Pink di dalamnya.
Artya yang duduk di sebelah Rhiana menoleh dan menyadari perubahan ekspresi itu. Sedari tadi, Rhiana tidak tertarik dengan barang yang dilelang. Kini, wajahnya terlihat berubah karena berlian langka itu.
"Kamu tertarik dengan berlian itu?" Tanya Artya dengan pandangan lembut pada Rhiana.
"Sedikit. Boleh aku tahu, siapa pemilik berlian itu, Kakak ipar?" Rhiana mencondongkan sedikit tubuhnya mendekati Artya agar berbisik pada pria itu.
"Panggil aku dengan benar, maka aku akan menjawab pertanyaanmu." Artya tentu saja harus mendapatkan keuntungan.
"Bukankah panggilan itu sudah benar?" Rhiana menjawab dengan polos. Sebenarnya dia berpura-pura polos. Rhiana jelas tahu, maksud Artya.
"Sepertinya kamu tidak ingin tahu siapa pemilik berlian itu," Artya menyeringai menatap Rhiana.
Rhiana menatap Artya dengan bibir berkedut. Pria ini ternyata ingin mendominasinya. Tidak ingin terlihat kesal, Rhiana mengubah ekspresi wajahnya menjadi gadis polos penurut.
"Baiklah. Kak Artya yang tampan, tolong katakan padaku, siapa pemilik berlian yang dilelang itu?" Artya tentu saja senang mendengarnya.
"Gadis baik! Itu terlihat seperti berlian pink star, 'kan?" Rhiana mengangguk setuju sambil menatap serius pada Artya.
"Itu hanya berlian yang mirip. Jika kamu melihatnya dengan teliti, kamu akan menemukan perbedaan keduanya. Karena sedikit mirip dengan berlian pink star, makanya berlian itu tergolong langka dan harganya juga tidak berbeda jauh dengan yang aslinya," Artya menjelaskan sambil menatap berlian yang dilelang itu.
Rhiana mengangguk dan mempertajam penglihatannya untuk menemukan perbedaan di sana. Sayangnya, dia tidak menemukan perbedaan itu karena jaraknya dengan berlian itu jauh.
"Untuk pemiliknya, itu rahasia. Hanya ketua yang tahu pemilik barang yang dilelang. Para wakil ketua tidak diberitahu. Mungkin hanya satu wakil ketua yang sudah dipercaya yang tahu asal usul semua barang yang dilelang."
"Jika itu berlian yang mirip, kenapa mereka memakai nama berlian pink star?" Rhiana bertanya karena penasaran. Dia yakin, ada alasannya.
__ADS_1
"Coba tebak!" Artya menyeringai dan menoleh menatap bibir merona milik Rhiana.
Bibir gadis kecil ini sedari tadi menjadi pusat perhatiannya. Artya sangat senang melihat bibir itu. Setiap kata yang Rhiana keluarkan, Artya dengan senang hati menatap intens bibir merah alami itu yang terus bergerak. Terlintas dipikirannya, seperti apa tekstur bibir itu ketika bersentuhan dengan...
Artya menggeleng karena merasa pikirannya sudah berlari terlalu jauh. Dia sangat yakin, Rhiana akan bertindak jika dia berani menyentuh bibir itu. Tapi, setelah dipikir-pikir, bagus juga mengusik gadis ini. Artya penasaran seperti apa reaksinya.
Rhiana yang tidak tahu apa yang Artya pikirkan tentangnya, mengerutkan kening ingin menebak alasan berlian itu dilelang dengan menggunakan nama berlian pink star.
"Eum... Pentagon ingin menarik seseorang keluar? Hehehe... aku tidak yakin dengan jawabanku," Rhiana menggaruk pelan pipinya karena malu.
"Itu salah satunya,"
"Salah satunya? Aku penasaran, siapa ketua Pentagon." Gumam Rhiana dalam hati.
Baru saja Rhiana akan bertanya lagi, suara pria yang sedari tadi hanya diam di deretan kursi wakil ketua mengangkat tangannya untuk memberi penawaran. Sepertinya berlian itu berhasil menarik perhatiannya. Rhiana menyipit matanya ketika membaca inisial nama di dada kiri pria itu. Inisial TM tertulis di sana.
Rhiana juga baru menyadari, ternyata banyak sekali orang yang menawar untuk berlian ini.
"450 miliar."
"500 miliar."
"700 miliar." Wakil ketua dengan inisial TM itu mulai menawar.
"750 miliar." Seorang pria paru baya di deretan kursi anggota memberi penawaran. Rhiana menebak usianya dari suaranya.
"800 miliar." Seorang wakil ketua dengan gaun merah menambahkan harga.
"1 triliun." Rhiana mengerutkan kening. Apa berlian ini sangat berharga sehingga mereka rela kehabisan uang hanya untuk mendapatkannya.
"2 triliun." Rhiana kaget, ternyata yang menawar adalah Artya. Rhiana menatap aneh pada Artya.
"2,5 triliun." Pria berinisial TM masih ingin mendapatkan berlian itu.
"3 triliun." Rhiana menggeleng. Sepertinya kakak Brilyan ini sangat kaya. Dia bahkan menawarkan dengan tidak ragu-ragu.
"4 triliun." Wakil ketua berinisial TM sama sekali tidak ingin mengalah.
Di auditorium itu, hanya Artya dan pria berinisial TM itu yang berebut untuk mendapatkan berlian yang mirip berlian pink star itu. Rhiana hanya menopang kepalanya menikmati perebutan itu.
"5 triliun."
"6 triliun."
Semua orang di sana hanya bisa tercengang karena dua orang kaya itu masih saja menawar. Isi kantong mereka sama sekali tidak cukup untuk ikut dalam perebutan keduanya.
"7 triliun."
"8 triliun."
"Aku penasaran, apa yang pria ini inginkan jika mendapatkan berlian itu," Pria yang Rhiana maksud adalah Artya.
" 8 triliun satu kali... 8 triliun dua kali... 8 triliun tiga kali. Berlian pink star ini berhasil didapatkan oleh wakil ketua kita. Tuan AX. Selamat Tuan,"
__ADS_1
"Aku penasaran, untuk apa kak Artya membeli berlian itu." Tanya Rhiana penasaran.
"Untukmu."
"Huh? Sepertinya telingaku bermasalah," Rhiana terkekeh diakhir kalimatnya.
"Telingamu tidak salah."
"Hehhh... kenapa kak Artya memberikannya padaku?"
"Hanya ingin,"
"Hanya ingin? Menghabiskan uang sebanyak itu untukku?" Bisik Rhiana dalam hati. Rhiana menatap memicing pada Artya.
"Apa orang kaya memang seperti itu? Suka menghabiskan uang sembarangan,"
"Salah satu tujuan serikat ini dibentuk untuk menghabiskan uang." Rhiana hanya mengangguk dan kembali menatap barang lelang selanjutnya.
Rhiana sebenarnya masih ingin bertanya banyak hal pada Artya, tapi dia mengurungkan niatnya karena tidak ingin Artya mengambil keuntungan darinya.
...
Barang lelang selanjutnya adalah sebuah senjata. Itu adalah pistol R11 yang sangat mematikan. Rhiana tahu siapa yang membuat pistol ini. Tentu saja itu dirancang oleh mommynya. Terakhir yang dia dengar, pistol R10 beredar keluar 1 tahun lalu. Daya serangnya sangat mematikan. Apalagi R11. Sudah pasti lebih berbahaya dari R10.
Rancangan R10 pernah dicuri 2 tahun lalu oleh organisasi bawah tanah dan dibuat untuk dijual. Rhiana masih ingat misinya saat itu untuk merebut kembali rancangan mommynya itu. Sayangnya, mata-mata yang disusupkan dalam mansion keluarga Veenick berhasil mengelabui Rhiana dan Dalfa. Alhasil, mereka hanya membawa pulang file palsu.
Mommynya tidak lagi membiarkan Rhiana kembali untuk merebut file aslinya. Mommy Rihan tidak ingin hal buruk terjadi pada anak-anaknya. Jadi, masalah itu dibiarkan saja.
Akhirnya, 1 tahun kemudian, organisasi bawah tanah berhasil membuat R10 untuk dijual demi keuntungan mereka.
Kini, R11 sudah dikeluarkan untuk dilelang. Rhiana sedang berpikir, kenapa R11 bisa berada di sini. Dia jelas tahu, R11 sama sekali belum beredar. Hanya isu pembuatannya saja yang diketahui publik. Pembuatannya masih dalam uji coba. Dan setahunya, hanya dibuat 5 atas perintah mommynya.
Ingin bertanya sekarang pada mommynya karena penasaran, tapi Rhiana tidak memegang ponselnya. Ponsel setiap orang disimpan di loker depan pintu auditorium. Jadi, Rhiana harus menunggu hingga pelelangan selesai.
Sesi penawaran pun berlangsung. Ternyata lebih banyak lagi yang menawar untuk R11 ini. Siapa yang tidak menginginkannya? Senjata mematikan ini sangat ampuh untuk serangan jarak jauh maupun dekat. Tipe R11 juga lebih ringan dari pada R10. Semua orang berebut untuk memilikinya. Harga awal 800 miliar. Benar-benar mahal. Ini juga barang terakhir yang dilelang hari ini.
"1 triliun." Wakil ketua dengan inisial TM menaikkan harganya membuat keributan terjadi. Rhiana melirik pria itu. Menurut tebakannya, TM mungkin berusia 20-an. Rhiana tersenyum tipis dan mengambil papan nomor miliknya. Dia ingin menawar juga. Sepertinya seru, pikirnya. Artya sendiri sudah menyeringai melihat apa yang dilakukan Rhiana.
"2 triliun." Rhiana mengangkat papan miliknya dan menawar. Semua orang menoleh menatapnya. Rhiana sendiri tidak peduli.
"3 triluan." Seorang di kursi anggota menawar.
"5 triliun." Rhiana menoleh menatap TM yang juga menatapnya. Pandangan keduanya terpaku. Rhiana hanya tersenyum dan kembali mengangkat papan untuk menawar.
"8 triliun." Rhiana tidak ingin berlama-lama.
"10 triliun." TM tersenyum pada Rhiana karena berhasil menaikkan harga.
"Jika kamu kekurangan uang, aku bisa membantu." Artya mengangkat suara karena berpikir Rhiana tidak memiliki cukup uang untuk menawar lagi.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku masih bisa menawar lagi." Rhiana yang ingin sekali mendapat R11, menjadi lupa dengan identitas palsunya yang seorang gadis miskin.
Penawaran terus berlanjut antara Rhiana dan Wakil ketua berinisial TM itu. Akhirnya, penawaran berhasil didapatkan oleh Rhiana dengan harga 15 triliun. Tabungan Rhiana hampir habis hanya untuk mendapatkan senjata ini. Tapi, sudahlah. Dia senang untuk ini.
__ADS_1
Rhiana melirik wakil ketua itu karena ingin tahu seperti apa reaksinya. Dan yang Rhiana dapatkan adalah tangan terkepal pria berinisial TM itu. Sepertinya dia sangat ingin mendapatkan R11.
Rhiana terus memperhatikan wakil ketua itu hingga keningnya berkerut ketika pria itu membisikkan sesuatu pada gadis bergaun hitam yang duduk di sampingnya. Entah apa yang dia bisikan, Rhiana merasa sesuatu akan terjadi.