
Rhiana menatap berbinar pada tubuh bagian atas Brilyan yang tidak mengenakan apa-apa. Jangan salah! Bukan perut berotot milik Brilyan yang menggiurkan untuk disentuh yang dilihat, tetapi tato di punggung pria itu yang ingin Rhiana lihat setelah sekian lama.
"Berbaringlah, aku akan mengobati punggungmu."
Rhiana hanya bisa mengobati Brilyan di UKS karena pendarahan pria itu tidak berhenti karena luka yang cukup dalam dan panjang akibat sebuah pisau cutter. Perawat yang bertugas di UKS sudah lebih dulu pergi mengobati siswa yang terluka di kelas. Jadi, Rhiana yang harus mengobati Brilyan.
"Jangan menyentuhnya seperti itu, Rhia." Suara Brilyan terdengar pelan.
"Padahal aku tidak menyentuh lukanya. Aku hanya menyentuh tatonya. Lebay sekali," Gumam Rhiana dalam hati.
Rhiana tidak tahu bahwa usapannya pada tengkuk Brilyan membuat pria itu tidak tenang, meski punggungnya sedang terluka.
"Maaf. Aku akan mengobati lukamu. Tahan sebentar,"
Rhiana dengan telaten mengobati punggung Brilyan. Luka itu sepanjang 20 cm dan cukup dalam. Sambil mengobati Brilyan, Rhiana punya kesempatan melihat jelas tato di punggung pria itu. Itu tato naga merah bersayap dengan kepala di bagian bahu kiri dan ekor di bagian pinggang Brilyan.
Itu naga merah yang terlihat membuka mulut ingin mengeluarkan sesuatu dari sana. Itu cantik di mata Rhiana. Naga merah itu memiliki tiga tangan. Dua tangan di sebelah kanan, sedangkan satu tangan di sebelah kiri. Tangan kanan bagian atas tepat di tengkuk Brilyan yang selama ini Rhiana lihat. Dan luka sayatan itu tepat memotong di bagian tengah antara dua tangan di sebelah kanan naga itu.
"Dari mana kamu belajar ilmu kedokteran?" Brilyan bertanya karena penasaran. Bagaimana mungkin gadis polos dengan ekonomi pas-pasan mengenali obat-obatan dan menggunakannya dengan santai seakan-akan dia mempelajarinya secara khusus.
Rhiana yang sedang menjahit luka di punggung Brilyan berhenti sebentar untuk memikirkan alasan yang mudah diterima. Karena khawatir dengan pria ini, dia mengobatinya tanpa memikirkan penyamarannya. Tidak ingin ketahuan, Rhiana berusaha tenang.
"Cita-citaku menjadi seorang dokter bedah seperti pamanku. Tapi karena keadaan ekonomi keluarga, aku menerima beasiswa untuk masuk ke sini. Paman juga yang memberikan kesempatan padaku untuk belajar sedikit cara mengobati luka. Lagipula ini hanya pengobatan dasar, hehehe..."
"Benarkah?" Suara Brilyan terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Rhiana yakin, pria ini pasti merasa kasihan padanya. Rhiana jadi merasa bersalah karena sudah berbohong. Lagipula, dia memang belajar pengobatan dasar dari paman Galant yang merupakan dokter pribadi keluarga Lesfingtone.
"Selesai. Ini hanya untuk sementara. Setelah diizinkan keluar, kamu harus ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut. Obat penghilang rasa sakit tidak ada di sini,"
"Bukan aku, tapi kita, Rhia. Kamu harus menemaniku ke rumah sakit. Pokoknya harus! Aku terluka karena melindungimu."
"Jadi kamu sedang perhitungan denganku? Wah... tiba-tiba aku menyesal sudah mengobatinya," Tentu saja itu hanya Rhiana katakan dalam hati.
"Jadi ini salahku. Aku minta maaf, aku-"
"Ma... maksudku bukan begitu, Rhia. Aku hanya ingin kamu menemaniku ke rumah sakit." Brilyan tiba-tiba merasa bersalah karena ekspresi dan suara Rhiana sangat membuatnya tidak nyaman. Tentu saja, karena dia sendiri tidak suka melihat wajah sedih Rhiana.
"Mau makan sesuatu? Aku ak-"
BRAK
Pintu UKS dibuka dengan keras membuat Rhiana berdecak dan menatap ke arah si pelaku.
"Jadi kamu di sini. Ikut aku sebentar. Ada yang ingin aku katakan,"
"Stefanno bajingan, apa yang kamu lakukan di sini?" Suara Brilyan terdengar kesal. Kemunculan Hann sangat mengganggu waktunya bersama Rhiana.
"Aku harus bicara dengan Rhiana sebentar. Nikmati waktumu." Hann dengan santai menarik tangan kiri Rhiana ingin pergi dari sana.
"Tidak bisa. Rhiana sedang bersamaku, sebaiknya jangan mengganggu." Brilyan ikut menahan tangan Rhiana yang satunya. Brilyan juga sudah bangun dan duduk.
PLAK
"Ughh..."
Hann dengan tidak berperasaan menampar punggung Brilyan membuat pria itu mengeluh kesakitan, meski pukulan itu hanya mengenai area lukanya yang dibalut perban. Karena kesakitan, Brilyan juga melepas tangan Rhiana.
"Sudah kubilang, nikmati waktumu. Aku harus berbicara serius dengan Rhiana. " Hann berbicara dengan nada mengejek sebelum pergi bersama Rhiana.
Rhiana hanya menghela nafas dan ikut bersama Hann. Dia juga penasaran apa yang ingin dikatakan pria ini.
__ADS_1
***
SRET
KLIK
"Apa maksumu melakukan ini? Lepaskan aku!" Rhiana kaget sekaligus kesal karena Hann memborgol kedua tangannya di belakang punggungnya kemudian mendorongnya ke tembok.
"Aku harus mengantisipasi serangan darimu," Hann menjawab dengan santai. Pria itu sedang menyudutkan Rhiana dengan kedua tangan berada tepat di masing-masing bahu Rhiana.
"Serangan? Apa maksudmu?" Rhiana bertanya dengan kesal. Imagenya sebagai gadis polos penakut menghilang seketika.
"Sebentar, jangan bergerak!" Hann tertawa pelan sebelum melepas kaca mata Rhiana.
"Apa yang kamu lakukan?" Rhiana bertanya dengan jantung sedikit berdebar kencang. Instingnya mengatakan bahwa pria ini tahu sesuatu.
"Kaca mata sudah, selanjutnya..."
"Apa yang-" Rhiana kaget karena Hann tiba-tiba memakaikan masker padanya.
"Kenapa aku tidak pernah menyadarinya? Pantas saja aku kesusahan mencarimu," Suara Hann sangat lembut. Matanya fokus menatap mata biru Rhiana yang sebiru langit itu. Sangat indah!
"Kamu... apa maksudmu melakukan ini?" Rhiana berpura-pura tidak tahu.
"Senang bertemu denganmu, gadis malaikat." Hann tidak peduli dengan perkataan Rhiana. Pria itu justru menyapa dengan lembut.
"Gadis malaikat? Jangan gila! Aku hanya-"
"Aku sudah tahu, Rhiana. Sepertinya aku orang pertama dari sekian banyak orang yang penasaran tentangmu. Benarkan?" Hann memasang senyum bangga pada Rhiana. Tentu saja Hann sudah tahu wajah asli gadis malaikat sejak dulu. Hanya saja Hann sedang ingin pamer pada Rhiana seberapa hebatnya dia karena dengan mudah menemukan identitas Rhiana.
Hann berani bertindak hari ini karena semua data yang tentang Rhiana sudah dia peroleh. Setiap jejak Rhiana saat menjalankan misi berhasil ia dapatkan. Hann senang karena dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Ternyata penampilan Rhiana di sekolah berbeda, pantas dia sama sekali tidak menemukannya.
"Begitu, ya. Karena kamu tidak tahu, biar aku beritahu." Hann menarik seringai tipis, sebelum mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Rhiana.
"Apa salahnya aku keluar dari gedung itu?" Rhiana semakin merasa gugup. Video yang terlihat di ponsel Hann adalah rekaman cctv saat dia keluar dari gedung milik pelukis A3.
"Aku belum selesai. Masih ada kelanjutannya," Hann kemudian menggeser ponsel ke video selanjutnya.
"Ini-" Rhiana terdiam. Isi video di ponsel Hann berisi rekaman dirinya yang berlari sambil melepas penyamarannya karena ingin mengejar pencuri yang mencuri ponselnya.
"Bagaimana?" Hann bertanya dengan senyum tipis.
"Itu memang aku. Itu tidak membuktikan bahwa aku adalah gadis malaikat," Rhiana sedikit tenang karena rekaman itu tidak sepenuhnya membuktikan bahwa dia gadis malaikat.
"Hm... kalau begitu, bagaimana dengan ini?" Hann tetap tenang dan menggeser video selanjutnya.
"Masih mau mengelak?"
Video yang Hann tunjukkan berikutnya adalah rekaman saat di bandara Rusia. Tepatnya saat Rhiana masuk ke toilet dan keluar setelah melepas penyamarannya. Rhiana tidak bisa mengelak, karena hanya dia satu-satunya yang masuk ke toilet saat itu.
"Aku juga tahu bahwa gadis malaikat selama ini selalu melindungi Kak Yeandre. Jadi, jangan berdalih lagi, Rhiana. Aku masih punya banyak rekaman cctv," Hann berbicara lebih dulu sebelum Rhiana kembali mengelak.
"Tidak usah menatapku seperti itu. Aku bisa jamin, tidak akan membocorkan identitasmu pada orang lain. Justru aku senang karena hanya aku satu-satunya yang tahu identitas aslimu." Hann berbicara dengan lembut berusaha meyakinkan Rhiana. Hann juga mulai mempersempit jaraknya dengan Rhiana.
Tatapan tajam Rhiana dan kerutan di dahinya sedikit mengendur karena dia sedikit percaya pada Hann. Setidaknya tatapan mata pria itu tidak berbohong.
"Tapi, kamu harus meluangkan waktumu untukku juga." Hann menyeringai ingin mengambil sedikit keuntungan.
"Aku tidak ada maksud lain, hanya ingin makan sesekali denganmu. Bagaimana?" Hann menambahkan karena Rhiana terlihat tidak senang. Rhiana menghembuskan nafas sebelum mengangguk pelan.
__ADS_1
"Baiklah. Sebagai tanda perkenalan, beri aku ciuman." Perkataan Hann membuat Rhiana melotot pada pria itu.
SET
"Jangan khawatir, aku masih tahu batasku." Hann tersenyum tipis setelah menahan kaki Rhiana yang ingin menendang asetnya. Tentu saja Hann sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan Rhiana, mengingat betapa hebatnya gadis itu. Hann sudah memperkirakan resiko membuka penyamaran gadis malaikat, sehingga pria itu sudah mengantisipasi kemungkinan serangan balik dari gadis malaikat.
CUP
Rhiana mengerutkan kening karena Hann menciumnya. Rhiana legah karena ciuman mereka dibatasi oleh masker yang dipakainya. Ternyata pria ini masih punya akal sehat.
"Tenang saja, lain kali tidak ada penghalang." Setelah mengatakan itu, Hann menarik Rhiana dengan lembut mengubah posisi Rhiana membelakanginya. Hann kemudian membuka borgol di tangan Rhiana.
SRET
BUGH
"Ugh... Kejam sekali." Hann meringis karena tinju telak dari Rhiana mengenai pipinya.
"Kamu bisa melepasnya sendiri, kan? Aku belum mau mati karena kita belum kencan. Aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi, calon pacar." Hann kemudian berlari pergi dengan sekuat tenaga takut dikejar. Setidaknya dia sudah meletakkan kunci untuk membuka borgol yang satunya.
"Ck... salahku karena ceroboh," Gumam Rhiana kemudian menghembuskan nafas pelan berusaha menenangkan diri karena masih kesal. Rhiana lalu membuka sendiri borgol di tangan kirinya.
"Rhia... kamu baik-baik saja? Apa yang dia lakukan padamu? Maaf karena aku terlambat," Brilyan muncul tiba-tiba dari balik tembok dan menghampiri Rhiana dengan susah payah. Sepertinya rasa sakit di punggung pria itu mulai terasa. Wajar saja, karena obat di UKS tidak selengkap rumah sakit.
Rhiana yang membelakangi Brilyan dengan cepat berbalik sambil menyembunyikan masker dan borgol di belakangnya. Tentu saja untuk menghindari pertanyaan Brilyan. Rhiana cukup terkejut melihat kemunculan Brilyan. Padahal jarak UKS ke sini cukup jauh, tetapi pria satu ini dengan susah payah mencarinya dalam kondisi tubuh yang sakit.
"Kenapa ke sini? Kamu harus istirahat, ayo ke UKS." Perhatian tiba-tiba dari Rhiana karena takut ketahuan, justru disambut Brilyan dengan senyum senang. Brilyan senang karena Rhiana khawatir padanya.
"Bantu aku, ugh..." Brilyan meringis sakit dan memasang pose minta dirangkul.
Rhiana dengan cepat merespons Brilyan sambil berhati-hati memasukan borgol dan masker ke dalam saku roknya.
...****************...
Rumah sakit Q.
Ibu Sienna duduk di salah satu sofa dalam ruang VIP sambil menatap layar iPad. Wanita itu fokus menggeser ke atas dan membaca entah apa itu. Hingga sebuah email masuk di iPad menarik untuk dibuka.
Seringai tipis tiba-tiba muncul di bibirnya yang berwarna coklat itu. Ibu Sienna kemudian meletakkan iPad dan menggantinya dengan ponsel. Menekan layar ponsel sebentar, ibu Sienna kemudian menempelkannya pada telinga.
"Hallo,"
^^^"Sedang apa, Kak?"^^^
"Membaca dokumen,"
^^^"Sebentar lagi aku pulang. Ayo makan bersama,"^^^
"Ya."
^^^"Aku juga ingin tidur bersama malam ini."^^^
"Hm."
Ibu sienna kemudian memutuskan panggilan lebih dulu. Wanita itu lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya yang terpaut. Dia kembali menyeringai.
"Semua persiapan sudah selesai. Waktunya menikmati pertunjukan,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1