
Rhiana mengerutkan kening setelah mendengar laporan Gledy melalui chip di belakang telinga kanannya. Rhiana kemudian menghela nafas dan beralih menatap Yeandre yang sedang dipukul dengan cambuk.
Rhiana belum tahu ini rencana pihak mana. Entah pihak organiasi bawah tanah atau pihak lain yang mungkin membenci Yeandre, untuk sementara Rhiana masih melihat situasi. Rhiana hanya berharap semoga Yeandre tidak salah mengambil keputusan nanti.
CTARR
CTARR
CTARR
"Apa yang kalian inginkan?" Yeandre bertanya dengan suara pelan. Sudah beberapa kali dia dicambuk di bagian punggung membuatnya kesakitan.
Yeandre dibiarkan tidur tengkurap dengan kedua tangan di borgol di atas kepala membuatnya mudah dicambuk di bagian punggungnya. Pria itu hanya meringis saat cambuk itu berhasil melukai punggungnya.
"Mudah saja. Kami akan memberimu pilihan."
"Pilihan?"
Rhiana berkedip beberapa kali dan mulai berpikir, apa yang akan orang-orang ini katakan. Yang jelas, pilihan yang akan mereka ajukan pasti merugikannya. Rhiana yakin firasatnya tidak pernah salah.
"Ya. Kami ingin kamu memilih salah satu diantara dua gadis ini. Gadis yang tidak kamu pilih akan mati di sini."
"Apa maksudmu?" Yeandre bertanya dengan geram. Kepalanya menoleh dan menatap marah pada pria yang berdiri di belakangnya.
CTARR
"Ugh..." Yeandre meringis karena dicambuk.
"Tentu saja yang kamu dengar tidak salah. Apa yang aku katakan sudah jelas. Gadis yang tidak kamu pilih akan dibunuh di sini."
Ternyata pilihan yang diajukan tidak berbeda jauh dengan apa yang Rhiana pikirkan. Dan Rhiana juga sudah tahu jelas seperti apa pilihan Yeandre nanti.
"Apa yang akan terjadi jika aku tidak memilih salah satu dari mereka berdua?" Tanya Yeandre.
"Maka kalian bertiga yang akan mati di sini!" Pria yang memegang cambuk di belakang Yeandre menjawab kemudian menyeringai sinis.
Rhiana hanya menghela nafas dan beralih menatap Annalisha yang masih pingsan sebelum menatap Yeandre. Sudah pasti kakak sahabatnya itu akan memilih gadis yang dia cintai.
__ADS_1
Rhiana Senora di mata Yeandre adalah gadis merepotkan baginya. Tidak pernah sedikit pun pria itu menatap lembut padanya. Hanya tatapan menjijikan yang selalu Rhiana dapat. Sepertinya Rhiana harus bersiap untuk kemungkinan kedepannya.
20 menit kemudian.
Annalisha sudah dibangunkan. Kini Rhiana dan Annalisha diposisikan berlutut dengan kedua tangan diikat di depan. Jarak kedua gadis itu hanya 2 meter. Ada dua pria di belakang mereka dengan cambuk di tangan masing-masing. Seorang pria lagi baru datang dan membantu dua pria lainnya.
Yeandre sendiri dibiarkan berlutut di depan Rhiana dan Annalisha dengan tangan juga terikat di depan. Pria itu akan diberi beberapa pertanyaan dan jika salah menjawab, sasaran cambuk akan mengenai punggung Rhiana dan Annalisha. Setiap pertanyaan yang diajukan hanya memiliki dua jawaban. Ya dan tidak.
Jika Yeandre menjawab tidak, Rhiana yang akan dicambuk. Jika jawabannya ya, Annalisha yang akan menerima satu cambukan. Begitu seterusnya. Tapi, melihat sifat Yeandre, kebanyakan pria itu menjawab ya meski jawaban pertanyaan itu tidak. Tentu saja dia tidak ingin gadis yang dia sukai terluka.
Selain itu, jawaban Yeandre tidak akan mengubah apapun. Sasaran cambuk tetap akan diterima Rhiana dan Annalisha.
CTARR
Sudah cambukan keenam Rhiana terima. Rhiana hanya mengerutkan kening berusaha menahan rasa sakit di punggungnya. Cambukan yang dia terima dan Annalisha terima sangat berbeda. Rhiana bisa membedakan rasa sakit dengan hanya mendengar suara pukulan dari kualitas bahan cambuk yang dipakai.
"Bagaimana, sudah membuat pilihan?" Seorang pria di sebelah Yeandre yang masih berlutut sambil menatap Rhiana dan Annalisha berbicara dengan nada remeh.
Yeandre menatap Rhiana yang mulai berakting memasang wajah lemah tidak berdaya. Padahal Rhiana tahu seperti apa respon Yeandre padanya nanti, tapi dia masih harus berpura-pura lemah untuk mengelabui pria itu.
"Andre... aku sakit. Tolong aku! Aku tidak suka di sini. Bawa aku pergi dari sini." Annalisha ikut membuka suara pada Yeandre. Suara Annalisha bahkan lebih lemah dari Rhiana padahal gadis itu hanya menerima dua cambukan.
"Jika aku jadi kamu, aku akan memilih gadis paling lemah di sini. Melihat keadaan mereka berdua, aku pasti akan memilih gadis berseragam ini." Pria di belakang Annalisha menyahut penuh ejekan.
"Aku lebih memilih gadis ini. Dia yang paling menderita." Pria di belakang Rhiana ikut menyuarakan pendapatnya.
Rhiana hanya bisa mengumpat dua pria itu dalam hati. Mereka berkomentar seakan apa yang terjadi ini bukan ulah mereka. Benar-benar membuat orang kesal saja.
BUGH
"Silahkan buat pilihanmu! Waktu kita tidak banyak." Pria di belakang Yeandre berbicara setelah menendang dengan kuat tubuh Yeandre.
"Tolong pilih aku, Kak." Rhiana memelas pada Yeandre. Tentu saja Rhiana melakukan ini agar pria itu tidak boleh memilih Annalisha. Tapi percuma. Kakak sahabatnya itu tidak akan mendengarkannya.
"Andre... bawa saja Rhiana pergi. Biarkan aku di sini. Aku tidak apa-apa ditinggalkan di sini. Rhiana begitu menyukiamu. Kalian bisa bersama jika keluar dari sini,"
Rhiana mengerutkan kening merasa aneh dengan apa yang Annalisha katakan. Bukankah tadi kakak kelasnya ini meminta untuk dibawa pergi, kenapa sekarang berubah pikiran? Sudah pasti dia merencanakan sesuatu.
__ADS_1
"Anna..." Suara Yeandre tertahan. Dia tidak suka melihat gadis yang dia cintai terluka. Tapi sisi kemanusiaannya tidak bisa membiarkan Rhiana mati.
Meski dia membenci Rhiana, dia tidak sejahat itu sampai harus membuat gadis kecil itu mati. Tapi... dia hanya bisa memilih salah satu diantara dua gadis ini. Yeandre frustasi.
CTARR
CTARR
Masing-masing satu cambukan di punggung Rhiana dan Annalisha membuat Yeandre sadar dari lamunannya. Dia tidak bisa berpikir terlalu banyak. Semakin dia menundah pilihannya, semakin kesakitan dua gadis itu.
"Jangan memilihnya. Pilih saja aku, Kak." Rhiana berusaha mengubah pikiran Yeandre.
Meski Rhiana bisa saja menolong mereka bertiga saat ini juga, tapi Rhiana punya rencana lain. Dia ingin Yeandre melihat apa yang akan terjadi nanti dengan matanya sendiri.
"Ya. Pilih saja Rhiana, Andre." Annalisha tersenyum tipis menatap Yeandre.
Rhiana berusaha setenang mungkin melihat apa yang akan Annalisha lakukan.
"Aku... aku memilih..."
"Annalisha." Suara Yeandre sangat pelan. Rhiana menghembuskan nafas pelan mendengar keputusan Yeandre. Pilihan Yeandre membuatnya harus bekerja dua kali lipat hari ini.
"Hahaha... pilihan yang bagus. Sekarang kamu bisa pergi bersama gadis yang kamu pilih."
Ikatan Yeandre dan Annalisha kemudian dilepas. Keduanya lalu dibiarkan pergi. Rhiana hanya menatap polos kepergian dua orang itu. Ekspresi Yeandre terlihat menyesal tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Pria itu hanya merangkul Annalisha dan pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka, ekspresi Rhiana seketika berubah. Pandangan Rhiana begitu tajam pada dua pria yang masih berada di sana bersamanya.
"Jadi... apa yang ingin kalian lakukan padaku?" Rhiana bertanya dengan dingin.
"Tentu saja membunuhmu. Kami tidak menyangka ternyata kamu masih hidup. Pintar juga kamu memanipulasi kematianmu."
Dari perkataan pria di depannya ini membuat Rhiana bisa menebak dari kelompok mana orang-orang ini. Itu berarti, Annalisha bekerja pada kelompok itu? Selama ini Annalisha berada sangat dekat dengan Yeandre dan dia tidak tahu? Pantas saja lokasi Yeandre selalu saja ketahuan meski dia sudah menjaga pria itu dengan ketat.
Padahal melihat gelagat Annalisha yang menerima telepon tadi pagi, Rhiana sudah menebak pasti ada yang direncanakan kakak kelasnya itu. Karena curiga, Rhiana mengirim pesan pada seseorang untuk mencari tahu apa yang Annalisha rencanakan.
Alhasil, setelah pulang sekolah Rhiana dikagetkan dengan laporan bahwa Yeandre pergi dengan tergesa-gesa. Mendengar laporan itu, Rhiana yakin pasti ada hubungannya dengan Annalisha. Ternyata dugaannya benar. Annalisha sengaja diculik untuk memancing Yeandre keluar. Tapi, selama ini kenapa baru hari ini Annalisha menggunakan cara ini? Kenapa tidak digunakan sejak awal?
__ADS_1