Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Dibawa Pergi


__ADS_3

...Loha-Hallo!!!...


...Gimana kabar kalian?...


...Semoga selalu sehat.😁...


...Kalau ada yang sakit, aku berdoa semoga cepat sembuh....


...Aku cuma bilang, aku baru buat group chat....


...Kalo ada yang mau gabung, silahkan!...


...Saling mengobrol kita, di sana....


...Aku tunggu kedatangan kalian!...


...And......


...Mari lanjut kisah Rhiana!...


.......


.......


.......


"Semua penembak jitu sudah diamankan. Tempat mereka sudah diganti dengan orang-orang crue devil." Gledy melapor melalui chip baru yang dua hari lalu dipasang di belakang telinga Rhiana.


Chip Rhiana yang lama, sampai saat ini belum dikembalikan oleh Artya. Pria penggila kebersihan itu sangat pintar mengalihkan pembicaraan sehingga Rhiana tidak sempat meminta kembali chip miliknya.


"Terima kasih, Gledy." Rhiana berbicara sambil mengikat bahunya dengan perban yang dibawa bersamanya dalam tas.


Setelah bahunya sudah diperban, Rhiana membongkar senjata sniper miliknya untuk disimpan kembali pada tempatnya. Senjata sniper miliknya itu sebelum dipakai, harus dipasang komponennya lebih dulu.


Rhiana kemudian mengirim pesan pada orang kepercayaannya untuk mengambilnya nanti. Setelah itu, dia bergegas turun menuju tempat pesta. Masih dengan penyamaran gadis misterius, Rhiana memakai tudung untuk menutupi wajahnya.


Jika dia tidak memakai tudung, orang-orang akan dengan mudah mengenalinya sebagai gadis malaikat.


Sampai di kerumunan, Rhiana dengan santai menerobos untuk maju dan berdiri tepat di bawah panggung. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Freslly dengan berada di sini.


Bukankah pria itu hanya berstatus pekerja paru waktu di club 24 jam? Kenapa dia tiba-tiba bisa berada di sini dan mengisi pesta perpisahan? Bukankah ini aneh? Sudah pasti organisasi bawah tanah punya koneksi dalam pemerintah Rusia.


Terus memperhatikan Freslly, hingga Rhiana menaikkan sebelah alisnya melihat Freslly juga menatap ke arahnya dengan tangan seperti memberikan isyarat berupa kode padanya.


"Apa dia pikir aku termasuk rekannya?" Tanya Rhiana dalam hati.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Rhiana pada Gledy melalui chip di belakang telinganya. Sebelum itu, Rhiana sudah merekam gerakan tangan Freslly dan mengirimnya pada robot pintar ciptaan mommynya itu.


"Itu kode rahasia yang selalu digunakan tentara bayaran Rusia." Suara lembut Dalfi terdengar melalui chip.


Rhiana mengerutkan kening. Gadis itu menoleh ke sana kemari mencari keberadaan saudara kembarnya itu.


"Barisan depan paling ujung sebelah kiri." Dalfi mengatakan posisinya seakan tahu jika Rhiana sedang mencarinya.


"Dari mana kakak tahu kode rahasia itu?" Tanya Rhiana penasaran.


Setahunya, dia dan kedua saudara kembarnya selalu diajari bersama-sama. Jadi, jika ada yang tidak dia tahu dan diketahui oleh saudaranya, Rhiana tentu saja penasaran.


"Belum lama ini. Kakak tidak sengaja menyusup ke situs keamanan tentara Rusia dan menemukan beberapa kode rahasia yang selalu mereka gunakan untuk berkomunikasi. Iseng mempelajarinya, ternyata itu berguna."


"Aku mengerti. Terima kasih, Kak. Jadi, apa yang dia katakan?" Tanya Rhiana lalu mengalihkan pandangannya ke arah Freslly yang masih menyanyi sambil memainkan gitar.


Penonton juga antusias melihatnya bernyanyi. Wajar saja, karena suara Freslly cukup bagus, menurut Rhiana.


"15 menit lagi, jalankan rencana A. Target sudah terkunci. Begitu katanya,"


"Jadi, begitu. Di mana kak Dalfa?"

__ADS_1


"Menyapa teman barunya."


"Aku mengerti. Bantu aku, Kak."


"Kakak tahu, Baby."


Rhiana kemudian berbalik mencari Yeandre.


...


"Kamu yakin sudah mengamankan setiap tempat penembak jitu organisasi itu berada?" Tanya Rhiana pada Gledy.


Rhiana saat ini sedang duduk di salah satu stan makanan yang tersedia di sana. Sesekali dia akan mencicipi cemilan dan minuman di depannya sambil terus memperhatikan gerak-gerik Yeandre.


"Sudah. Jika masih ada, jarak mereka mungkin beberapa kilometer dari alun-alun kota."


"Aku mengerti. Ayo bergegas! Siap-siap untuk rencana mereka 10 menit lagi,"


Rhiana terus memperhatikan Yeandre, hingga dia teralihkan karena keributan penonton. Mereka terlihat heboh karena kedatangan sebuah Bugatti biru di tengah-tengah alun-alun.


Rhiana menopang kepalanya di atas meja ikut penasaran siapa yang tiba-tiba menarik perhatian semua orang.


Sebelum bugatti itu terbuka, beberapa orang tiba-tiba muncul entah dari mana dan membuka jalan.


"Wah... dia benar-benar cari perhatian!" Komentar Rhiana setelah melihat kemunculan seorang pria dalam bugatti biru itu.


Pria yang keluar dari bugatti itu adalah seorang Amartya Axelle Armstrong. Pria yang selalu Rhiana panggil si penggila kebersihan.


"Dia juga tamu khusus? Tapi... apa pekerjaannya sampai harus menjadi tamu khusus? Bukannya hanya perusahaan IT? Apa sangat terkenal?"


Rhiana tentu saja belum tahu apa pekerjaan Artya. Yang Rhiana tahu sekarang, pria itu adalah pemilik perusahaan IT yang tidak terlalu terkenal di Rusia.


"Siapa dia sebenarnya? Dia benar-benar misterius. Apa mungkin dia menyembunyikan identitasnya? Bisa jadi. Dia seorang ahli di bidang IT. Tidak heran." Rhiana terus berbicara sendiri.


...


Rhiana masih memperhatikan gerak-gerik semua orang yang berada dekat dengan Yeandre. Dia harus memperhatikan keadaan sekitar pria itu.


Suara jam tangan Rhiana mengingatkannya tentang waktu yang diatur tadi. Ternyata sudah 10 menit. Sepertinya akan terjadi sesuatu.


"Sebelum saya meninggalkan panggung, saya ingin mengatakan sesuatu. Pemerintah Rusia sudah menyiapkan hadiah untuk tiga orang beruntung yang dipilih secara acak.


Silahkan periksa pakaian kalian! Jika kalian menemukan secarik kertas yang bertuliskan 'selamat', itu berarti kalian adalah orang yang beruntung itu." Suara Freslly terdengar.


Rhiana mengerutkan kening. Dia juga menatap para penonton yang meraba pakaian masing-masing. Mereka juga penasaran dengan apa yang Freslly katakan.


"Jika ada yang mendapat kertas itu, silahkan maju ke depan!" Freslly kembali menginstruksi.


"Sejak kapan? Aku selalu mengawasinya. Bagaimana bisa ada yang berhasil memasukan kertas itu di sakunya?" Rhiana kebingungan.


Pandangannya tidak pernah lepas dari Yeandre. Tapi kenapa pria itu mendapat kertas selamat di saku bajunya? Ini benar-benar aneh. Rhiana merasa, dia melewatkan sesuatu. Tapi apa? Dia yakin, tidak ada satu orangpun yang terlihat mendekati Yeandre. Pria itu juga tidak berinteraksi dengan orang lain selain dua sahabatnya, Annalisha dan Sony.


Tiga orang yang menemukan kertas kecil yang bertuliskan selamat di saku baju ataupun celana mereka, naik ke atas panggung sesuatu instruksi Freslly tadi. Salah satu orang dari tiga orang itu adalah Yeandre.


Rhiana sendiri sudah mendekat ke arah panggung. Rhiana juga mempersiapkan diri untuk sesuatu yang mungkin terjadi.


"Sudah ada tiga orang yang beruntung di sini. Mari kita menghitung mundur dari hitungan tiga. Dan mari saksikan bersama, hadiah apa yang akan diberikan pemerintah Rusia pada mereka. Hitungan mundur mulai!" Freslly kembali berbicara.


[TIGA...]


Para penonton mulai menghitung mundur.


Rhiana menoleh menatap Dalfi yang tidak jauh darinya. Kakak keduanya itu juga terlihat waspada dengan keadaan sekitar.


[DUA...]


Freslly terlihat memberi kode pada seseorang di belakang panggung. Rhiana tidak tahu siapa orang di belakang panggung itu.

__ADS_1


[SATU...]


Lampu di alun-alun tiba-tiba mati. Disusul teriakan heboh orang-orang. Mereka sudah tidak sabar menunggu kejutan apa yang akan terjadi.


Duar


Duar


Bom


Bom


[Kyakk!]


Suara kembang api terlihat indah di langit malam yang penuh bintang. Semua orang bersorak heboh. Rhiana tidak peduli dengan kembang api yang diluncurkan sangat banyak di langit alun-alun kota Samara. Rhiana yakin, ini hanya rencana pengalihan.


Dan ternyata benar. Dari cahaya letusan kembang api, Rhiana bisa melihat ke arah panggung. Tempat dimana Yeandre berdiri, kosong. Freslly juga tidak terlihat.


"Sial... bodohnya aku terlambat bereaksi!" Rhiana mengutuk dalam hati dan menerobos kerumunan menuju belakang panggung. Dia harus mendapatkan kembali Yeandre.


Kembang api masih berkoar di langit membuat semua orang terpesona. Mereka sibuk memandangi indahnya letusan kembang api. Ada yang sibuk mengambil foto maupun video. Rhiana sendiri bergerak dengan hati-hati diantara kerumunan.


...


Sampai di belakang panggung, Rhiana menghela nafas berusaha tenang. Tidak ada jejak Yeandre yang tertinggal. Dia pasti sudah dibawa pergi.


"Kerahkan semua orang untuk mencari. Aku tidak ingin satu jejakpun tertinggal!" Rhiana berbicara dengan datar melalui telepon.


Rhiana menyimpan ponselnya dan ingin memberi instruksi pada Gledy melalui chip.


"Ada gerak-gerik mencurigakan di belakang gedung alun-alun." Sebelum Rhiana berbicara, Gledy sudah memberitahu lebih dulu.


"Aku mengerti. Periksa keadaan sekitar!"


Rhiana dengan cepat menuju belakang gedung yang Gledy maksud. Dan benar saja. Dua orang terlihat membawa seseorang masuk ke dalam mobil.


Rhiana dengan tenang bersembunyi dibalik pilar gedung dan mulai mengeluarkan pistol di dalam tasnya.


Dor


Dor


Dor


Tiga tembakan beruntun Rhiana keluarkan ke arah ban mobil itu. Rhiana menghela nafas karena tembakannya tepat sasaran. Rhiana kembali mempersiapkan diri untuk aksi tembak menembak dengan tiga orang yang keluar dari mobil.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Tembakan bergantian antara Rhiana dengan tiga orang yang jaraknya beberapa meter dengannya. Setelah Rhiana berhasil menjatuhkan tiga orang itu, Rhiana tiba-tiba menyadari sesuatu.


Diantara tiga orang itu, dia tidak melihat Freslly. Bukankah ini aneh? Rhiana merasakan firasat buruk. Dan benar saja, yang pingsan dalam mobil ternyata bukan Yeandre. Ini hanya jebakan. Rhiana lagi-lagi menghembuskan nafas pelan berusaha tidak marah.


...


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Beri dukungan jika kalian suka cerita Rhiana.

__ADS_1


Jika tidak suka...


Tetap harus harus dukung.😁


__ADS_2