Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Bab 79


__ADS_3

Ting!


Rhiana mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang dibacanya karena notifikasi pesan masuk di ponselnya.


📩 Marrie:


Kami berhasil mendapatkan penawar serum X. Dimana aku harus mengirimnya?


^^^📨 Rhiana:^^^


^^^Aku sendiri yang akan mengambilnya. Tunggu aku satu jam lagi. Bawa serta orang yang membantumu. Aku punya hadiah untuk kalian,^^^


📩 Marrie:


Bisakah kamu datang lebih cepat? Aku merasa sedang diawasi. Untung saja kami berhasil mencuri penawarnya. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan jika tahu satu penawar hilang dari laboratorium. Jadi, tolong ambil ini lebih cepat.


^^^📨 Rhiana:^^^


^^^Baiklah. Aku akan bersiap sekarang, tunggu aku di restoran S.^^^


📩 Marrie:


Oke.


Rhiana segera menyimpan ponselnya dan bersiap-siap untuk menyusup keluar dari asrama. Untungnya Marrie mengirim pesan malam hari, sehingga Rhiana aman untuk menyusup keluar.


Setelah insiden siswa yang mengamuk, semua siswa termasuk guru segera dialihkan ke asrama yang hanya berjarak beberapa meter dengan sekolah. Tepatnya di belakang sekolah. Sedangkan siswa yang mengamuk dan para siswa yang menjadi korban dibawa ke rumah sakit.


Ada 4 asrama dengan ratusan kamar perlantainya. Saat ini baru terpakai dua asrama. Satu untuk ditempati para siswa dan satu ditempati para siswi dengan lantai satu digunakan oleh para guru sedangkan lantai dua ke atas digunakan oleh para siswa.


Setiap siswa mendapat satu kamar yang didalamnya sudah dilengkapi fasilitas yang cukup mewah. Meski masih ada siswa yang tidak puas dengan interior kamar asrama yang tidak sesuai dengan kamar pribadinya di rumahnya sendiri.


Rhiana sendiri tidak peduli kamar asrama ini mewah atau biasa saja, asalkan dia bisa menyelesaikan misinya.


***


Rhiana membuka jendela kamarnya sekedar melihat situasi di luar. Hanya ada satu penjaga yang berjaga di setiap pintu keluar. Mulai dari pintu keluar asrama bagian depan, bagian belakang asrama, dan gerbang asrama. Ada juga lampu sorot besar yang menyoroti setiap kamar asrama hingga halaman asrama. Jadi, jika ada yang keluar setelah jam malam, sudah pasti ketahuan lampu sorot yang dijaga oleh dua orang penjaga di tower yang dibangun lebih tinggi dari semua bangunan sekolah dengan tujuan pengawasan.


Rhiana menutup jendela sebelum lampu sorot menyoroti lantai 10, lantai kamarnya. Rhiana kemudian membuka salinan cetak biru sekolah elit Swiss yang dapatkan dari Gledy. Rhiana tidak perlu tahu bagaimana cara Gledy mendapatkannya, sudah pasti mudah bagi robot pintar itu.


Rhiana ingin melihat rute pelariannya malam ini. Rhiana menatap salinan cetak biru berukuran 40 x 40 cm itu dengan saksama. Setiap bagiannya harus diingat dalam waktu singkat karena Rhiana tidak ingin membawa salinan cetak biru itu selama pelariannya. Itu merepotkan! Kebetulan jalan rahasia itu tidak terlalu sulit ditemukan karena desainnya sudah umum. Gledy juga sudah memberitahu cara membuka pintu, sehingga Rhiana tidak perlu membuang waktu.


Hanya butuh 10 menit, Rhiana menyimpan kembali salinan cetak biru itu setelah jalan keluarnya sudah diingat. Sekarang pukul 19. 20. Rhiana harus segera pergi dan kembali sebelum pukul 22.00, waktu jam malam. Karena jika lewat jam malam, jalan rahasia untuk pelariannya sudah tertutup dan tidak bisa dibuka dari luar.


Jika Rhiana memaksa membuka pintu rahasia itu, maka alarm pasti akan berbunyi dan mengundang perhatian pihak sekolah. Dan itu akan membuatnya kesusahan jika jalan rahasia itu dijaga ke depannya.


Rhiana memasukan dompetnya yang berukuran kecil, cukup untuk memasukan beberapa kartu debitnya dan beberapa lembar uang kertas ke dalam saku celananya. Tidak lupa juga dengan ponselnya, Rhiana kemudian bergegas keluar. Dia tidak perlu membawa apa-apa selain dompet dan ponsel karena akan dicurigai. Rhiana kemudian keluar kamar sambil memainkan ponselnya.


***


"Rhiana... kebetulan sekali, aku ingin ke kamarmu. Kamu mau ke mana?" Alviona yang baru keluar dari lift, menyambut Rhiana yang ingin masuk lift.


"Ke kantin. Aku ingin membeli cemilan untuk begadang," Rhiana membuat alasan tiba-tiba karena tidak menyangka akan bertemu Alviona.


"Begitu, ya. Aku juga dari kantin. Aku lupa membeli kebutuhanku. Ayo kau temani, kita pergi bersama, setelah itu ke kamarmu." Alviona tersenyum senang setelah menunjukkan paperbag di tangannya.


"Ini kunci kamarku, kamu bisa pergi lebih dulu. Sepertinya aku akan lama, karena harus bertemu kepala sekolah." Rhiana kembali berdalih dengan menggaruk pelan pipi kanannya sambil memasang ekspresi canggung.


"Padahal aku tidak apa-apa pergi bersamamu dan menunggu," Alviona tidak masalah dengan mengikuti Rhiana kemanapun.


"Aku hanya ingin sendiri." Rhiana berbicara dengan nada dingin agar Alviona menyerah. Padahal Rhiana ingin sedikit berbaik hati pada gadis satu ini karena sudah membeli banyak cemilan untuknya, tetapi jika dia masih bersikeras, Rhiana harus membuatnya menyerah.


"Ah, maafkan aku. Aku akan menunggumu kalau begitu. Jangan lama, ya." Alviona terkejut dan baru sadar seperti apa sifat Rhiana. Dia harusnya bersyukur karena Rhiana sudah berbaik hati padanya dengan berbicara lembut, jadi dia tidak boleh melewati batas.


"Hm." Rhiana kemudian masuk ke dalam lift. Begitu juga dengan Alviona yang menuju kamarnya.

__ADS_1


Rhiana menguap pelan sebelum menekan tombol bertuliskan angka 5. Lift bergerak turun. Rhiana kemudian bersandar pada dinding lift menunggu pergerakan lift berhenti. Sebelum lift terbuka, Rhiana menekan dua angka sekaligus, yaitu 1 dan 3. Lift kembali bergerak. Rhiana bisa merasakan lift ini bergerak bukan ke atas atau ke bawah, tetapi ke samping. Hanya sepersekian detik, lift berhenti. Pintu lift juga terbuka.


Rhiana menatap sekeliling, ternyata hanya lorong putih yang memanjang ke depan. Tidak ada apa-apa di sekitar. Berdasarkan cetak biru, ada pintu beberapa meter di depan sana.


Rhiana membuka pintu berwarna coklat itu dan masuk. Yang dilihatnya adalah ruangan kantor yang tidak terlalu besar ataupun kecil. Itu sudah cukup sebagai ruang rahasia yang memiliki fasilitas yang hampir lengkap.


Rhiana menuju lemari kayu di pojok ruangan dekat meja kerja di sana. Rhiana membuka salah satu pintu lemari dan memindahkan piala kecil bertuliskan juara 1 sekolah bergengsi. Untungnya Gledy sudah masuk ruangan ini lebih dulu sehingga Rhiana dengan mudah menemukan jalan keluarnya.


DRKKK


Suara lemari berpindah ke samping menyisahkan lubang seperti pintu di sana. Rhiana menoleh sebentar ke belakang sebelum masuk. Pintu otomatis tertutup setelah masuk. Hanya kegelapan yang dilihatnya. Rhiana lalu menyalakan flash ponselnya sebagai cahaya untuknya.


Rhiana dengan hati-hati berjalan, karena seingatnya ada tangga yang mengarah ke bawah. Hanya beberapa langkah, Rhiana menginjak salah satu keramik besar yang kemudian bergerak ke samping disusul beberapa keramik lainnya yang menyisahkan lubang segiempat yang juga terlihat gelap.


Rhiana mengarahkan flash ponselnya dan melihat tangga di sana. Rhiana dengan tenang menuruni tangga ke bawah. Ternyata setelah menginjak tangga pertama, lampu dalam ruangan itu menyala otomatis satu persatu. Rhiana mematikan flash ponselnya dan menyimpannya dalam saku hoodie di depannya.


Rhiana menatap jam tangannya. Sudah pukul 19.35. Dia tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Rhiana kemudian merabah dinding sebelah kanannya setelah beberapa meter dari tangga. Berdasarkan cetak biru, ada pintu di bagian dinding.


DRRKKK


Suara tembok terdorong ke belakang. Ternyata butuh cukup tenaga agar tembok ini bisa bergerak. Rhiana cukup kagum dengan orang yang memikirkan ide ini.


KLIK


Setelah tembok berhenti bergerak, Rhiana bisa melihat pintu lain yang muncul. Dengan tenang Rhiana membukanya dan masuk. Untung saja, Rhiana sudah punya sidik jari kepala sekolah, sehingga akses masuk segera diberikan.


Yang pertama Rhiana lihat adalah lorong putih yang di depannya ada jalan buntu. Tapi berdasarkan cetak biru, ada pintu di samping jalan buntu yang mengarah ke bawah tanah. Rhiana tidak perlu waktu lama untuk menemukan pintu itu. Rhiana tersenyum tipis setelah berhasil keluar. Ternyata jalan rahasia ini mengarah ke halaman samping dekat pagar sekolah.


Rhiana menutup kembali pintu berbentuk bulat di bawah tanah itu. Ternyata itu besi bulat yang di atasnya tumbuh tanaman hias buatan yang hampir mirip tanaman asli. Siapapun tidak akan tahu jika tanaman hias setinggi 50 cm itu adalah jalan rahasia yang mengarah langsung ke asrama.


Rhiana dengan cepat melompati pagar dan masuk ke dalam taxi yang sudah terparkir menunggunya. Jika membawa mobil atau motor, itu akan mencolok. Taxi lebih aman untuk saat ini.


***


Taxi yang Rhiana kemudi, melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Rhiana yang mengemudi dengan tenang menoleh ke papan iklan digital yang terpampang besar di pusat lampu merah jalan tol. Rhiana berkedip beberapa kali, tercengang melihat iklan yang sedang diputar di papan iklan. Itu iklan yang disponsori oleh perusahaan Star Sport.


Tin


Tin


Tin.


Rhiana kaget karena suara klakson mobil di belakangnya. Dengan cepat Rhiana menginjak pedal gas dan melaju pergi ke tempat tujuannya. Hanya butuh beberapa menit, taxi yang dikemudikannya berhenti tepat di depan restoran S.


Rhiana dengan tenang masuk ke dalam restoran sambil menenteng dua paperbag yang sebelumnya sudah ada dalam mobil. Menoleh ke sana kemari, Rhiana tersenyum tipis setelah menemukan tempat duduk Marrie. Tepat saat ia bertatapan dengan Marrie, gadis itu juga memberi kode untuk datang pada mereka.


"Maaf aku sedikit terlambat," Rhiana membuka suara setelah sampai dan menarik kursi di depan Marrie kemudian duduk di sana.


"Tidak apa-apa. Perkenalkan, dia Jobby. Dia yang membantuku selama ini." Marrie sedikit tersenyum dan memperkenalkan pria yang duduk di sampingnya.


"Hallo, aku Rhiana. Aku masih 15 tahun, jadi tidak perlu bicara formal. Panggil aku senyaman kak Jobby." Rhiana mengulurkan tangannya dengan senyum secerah mataharinya.


"Baiklah, Rhiana. Sekedar info, aku juga pecinta basket. Aku fans beratmu," Jobby dengan senang hati menyambut tangan Rhiana.


"Jadi, begitu. Terima kasih, kak. Padahal kemampuanku biasa saja." Rhiana berusaha tenang padahal dia sedang merasa malu. Tentu saja efek iklan tadi kembali terlintas di kepalanya.


"Jangan begitu. Kamu benar-benar hebat. Dan aku akui itu. Padahal awalnya aku meremehkanmu karena tidak goyah berhadapan dengan Marrie yang menurutku hebat dalam basket, ternyata kamu lebih hebat darinya. Marrie sendiri mengakui kekalahannya jadi tidak perlu khawatir dia merasa tersinggung,"


"Kenapa dia harus tersinggung? Kemampuannya saja yang belum seberapa," Rhiana hanya ingin melihat reaksi Marrie. Apa gadis itu merasa bersalah atau tidak karena sudah berbuat curang saat pertandingan olimpiade di Rusia.


"Sialan kamu, Job. Sebaiknya kamu diam!" Marrie memasang wajah kesal pada Jobby.


"Hahaha... Aku mengerti,"


"Aku minta maaf untuk waktu itu," Marrie berbicara dengan canggung pada Rhiana.

__ADS_1


"Minta maaf untuk apa? Kesalahan apa yang kamu buat?" Rhiana sebenarnya tahu maksud Marrie tapi dia berpura-pura tidak tahu. Senang melihat ekspresi Marrie saat ini.


"Maaf karena sudah melukaimu saat pertandingan basket. Aku benar-benar minta maaf." Marrie semakin malu melihat wajah Rhiana sekarang.


"Hohoho... jadi kamu bisa malu juga ternyata. Ini pertama kalinya aku melihat dirimu seperti ini," Jobby yang sudah mengenal Marrie cukup lama terkejut dengan ekspresi gadis yang biasanya hanya memasang wajah siap tempur setiap hari.


"Sudah, jangan menyudutkannya lagi. Aku terima permintaan maafmu. Tapi, bagaimana kalian bisa tahu penyamaranku?" Rhiana cukup terkejut karena penyamarannya ketahuan.


"Rahasia bisnis." Marrie segera menyahut sebelum Jobby menjawab dengan jujur.


"Baiklah. Tinggalkan bagian itu, dimana penawarnya?" Rhiana tidak terlalu penasaran bagaimana penyamarannya ketahuan. Untuk saat ini dia harus mengambil penawar itu dan pergi dari ini sebelum jam malam asrama.


"Ini penawarnya. Aku juga punya informasi untukmu," Marrie meletakkan sebotol kecil cairan berwarna kuning keemasan di atas meja beserta sebuah map coklat.


Rhiana mengambil penawar dan menyimpannya dalam saku hoodienya kemudian membuka map coklat itu.


"Permen?" Gumam Rhiana setelah melihat isi map. Rhiana kemudian mengambil kertas yang juga ada dalam map.


"Ini..." Rhiana menatap Marrie meminta penjelasan setelah membaca isi kertas di tangannya.


"Seperti yang tertulis di sana, permen itu adalah produksi terbaru dari campuran serum X. Organisasi ingin memproduksinya secara masal setelah melakukan beberapa percobaan. Meski takarannya hanya beberapa persen yang terkandung dalam permen, tapi serum X yang tercampur dalam permen itu hampir sama dengan narkoba yang membuat konsumen kecanduan setelah percobaan pertama. Aku tidak tahu alasan mereka memproduksinya dalam jumlah banyak." Marrie menjelaskan sedikit yang dia tahu.


"Sial..." Rhiana meremas kertas di tangannya dengan kesal. Mau sampai kapan organisasi bawah tanah semakin berulah?


"Terima kasih. Aku punya hadiah untuk kalian," Rhiana menenangkan diri sebelum memberikan paperbag pada Marrie dan Jobby.


"Boleh aku buka?" Jobby tersenyum senang setelah mengambil kotak dalam paperbag.


"Silahkan."


"Wah... keren! Ini jam tangan keluaran terbaru bulan lalu. Bagaimana kamu mendapatkannya?" Jobby terkagum menatap jam tangan edisi terbatas pemberian Rhiana. Pria muda itu segera memakainya.


"Dari mana dia mendapatkannya? Kamu lupa siapa orang ini?" Marrie menatap datar kebodohan Jobby. Padahal keduanya sudah mencari tahu identitas Rhiana meski tidak semuanya. Setidaknya mereka tahu seperti apa keluarga Rhiana.


"Benar juga. Bodohnya aku. Bisa-bisanya aku lupa siapa keluarganya," Jobby menepuk dahinya tersadar.


"Kalian akan tahu kegunaannya setelah melihatnya dengan baik," Rhiana menopang kepalanya melihat reaksi Marrie dan Jobby.


Jam tangan pemberiannya sudah dimodifikasi dengan beberapa kegunaan. Itu hampir mirip dengan jam tangan yang dipakai mommynya dulu, hanya saja kegunaannya tidak secanggih milik mommynya.


"Wah... Aku penasaran siapa yang membuatnya. Pertama kalinya aku melihat benda secanggih ini. Padahal aku bekerja dengan organisasi bawah tanah yang memproduksi peralatan super canggih, tapi teknologi ini lebih baik berkali-kali lipat dari buatan mereka. Terima kasih, Rhiana. Aku tidak menyangka diberikan benda seberharga ini," Jobby sudah menangis terharu.


"Ah... aku tidak boleh memakainya. Bisa-bisa ini akan rusak." Jobby dengan cepat melepas jam tangan itu dan ingin menyimpannya lagi.


"Itu tidak akan rusak dengan mudah, jadi jangan khawatir. Kakak bisa mengaktifkan kepemilikan jam tangan itu dengan menyetelnya di opsi yang tersedia."


"Be... benarkah?" Jobby memasangkan kembali jam canggih itu di tangannya.


"Jadi hanya perlu memasukan sidik jari untuk akses kepemilikan, ini benar-benar hadiah yang berharga. Aku merasa tidak pantas menerimanya setelah semua yang aku lakukan padamu," Marrie semakin merasa tidak enak pada Rhiana.


"Tidak masalah. Itu tidak sebanding dengan nyawa kalian. Terima itu dan kalian harus pergi dari sini, karena orang yang mengikuti kalian hampir tiba,"


"Jadi kamu berhasil menemukannya?" Jobby menatap penuh hormat pada Rhiana.


"Begitu... Kami akan pergi sekarang. Aku akan mengirim pesan padamu jika ada informasi lagi."


"Ya. Hati-hati di jalan,"


"Sampai ketemu lagi, Rhiana. Terima kasih untuk hadiahnya. Kapan-kapan, ayo bermain basket bersama!"


Rhiana hanya mengangguk dan tersenyum melihat kepergian Marrie dan Jobby.


Setelah kepergian dua orang itu, Rhiana tiba-tiba mengerutkan kening. Pandangannya dialihkan ke tempat duduk pengunjung lain. Apa perasaannya saja? Kenapa dia merasa seperti diperhatikan?


"Sudahlah. Sebaiknya aku juga pergi dari sini,"

__ADS_1


"Rhiana?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2