
BOMM
Ledakan dalam layar hologram di depannya membuat kaget. Rhiana tidak menyangka campuran formula Z dalam kombinasi beberapa formula lain yang dibuatnya meledak.
"Ada formula yang tidak cocok dikombinasikan dengan formula lain. Meski takarannya hanya sedikit. Jika tidak cocok, maka terjadi reaksi penolakan yang menyebabkan ledakan. Namun, jika setiap formula yang dikombinasikan cocok, meski hanya sedikit, serum yang dihasilkan juga luar biasa." Perkataan dosen wanita bernametag Telly itu membuat Rhiana mengangguk setuju. Sepertinya formula Z ini tidak bisa sembarangan dikombinasikan dengan formula lain.
"Masih ada waktu. Kamu bisa mencoba lagi,"
"Baik, Bu. Terima kasih," Rhiana menaikkan kaca matanya kemudian tersenyum tipis ingin membuat ulang eksperimennya.
30 menit kemudian.
"Silahkan kelompok satu maju dan mempresentasikan hasil eksperimennya!" Penguji pria yang tidak Rhiana ketahui namanya itu mempersilahkan para peserta uji coba. Dimulai dari kelompok pertama hingga seterusnya.
"Giliran kalian setelah semua peserta. Siapkan diri kalian,"
"Baik, Bu." Rhiana menghela nafas dan memperhatikan kelompok satu yang sedang menjelaskan alasan mereka membuat ekspresimen itu.
Rhiana cukup kagum karena sudah lima kelompok yang maju, eksperimen yang mereka buat lumayan bagus dan bermanfaat untuk manusia. Sejauh ini tidak ada serum yang berbahaya.
Melihat kemampuan para peserta uji coba, Rhiana akui, mereka benar-benar siswa dengan kemampuan unggul yang pantas dikirim ke sini. Entah kemampuan mereka sudah layak diterima untuk seleksi masuk universitas AX atau belum, Rhiana tidak tahu.
Sampai pada kelompok Yeandre, penguji pria yang baru Rhiana tahu bernama Mike itu memberikan pujian yang lebih bagus dari kelompok-kelompok sebelumnya. Menariknya lagi, dalam eksperimen kelompok Yeandre, ada campuran formula Z di sana. Ternyata mereka berhasil mengkombinasikan formula Z dengan formula lain.
Hanya saja Rhiana merasa ada sedikit kekurangan dalam serum itu. Jadi, Rhiana mengajukan diri untuk mengintrupsi hasil serum yang dibuat kelompok Yeandre.
"Rupanya kamu juga memperhatikan hasil ekperimen mereka. Saya sedikit kagum padamu karena berminat dengan sains padahal berada di jurusan teknologi. Ibu Telly sudah menjelaskan kemunculanmu di sini. Silahkan bicara!"
"Terima kasih, Pak." Rhiana kemudian maju dan berdiri di depan kelas tepatnya di depan layar hologram utama khusus dosen.
"Saya cukup tertarik dengan serum yang dihasilkan kelompok 12. Hanya saja, serum buatan mereka bagi saya sama sekali tidak boleh dibuat!" Perkataan Rhiana berhasil membuat seisi kelas berbisik tidak setuju. Padahal menurut penguji Mike, serum buatan kelompok 12 adalah yang terbaik untuk saat ini.
"Harap tenang! Lanjutkan penjelasanmu," Penguji Mike segera menenangkan kelas.
"Serum buatan kelompok 12 memang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan beberapa penyakit berbahaya seperti kanker stadium menengah. Akan tetapi, efek formula Z tidak sesederhana yang dipikirkan.
Setelah membaca data yang ada, ternyata beberapa fungsi formula Z belum ditambahkan dalam daftar. Saya sarankan untuk segera ditambahkan, karena jika tidak diketahui, penggunaan formula Z akan sangat berakibat fatal."
"Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan! Perkataanmu barusan sama saja dengan meremehkan pihak universitas. Padahal kamu jurusan teknologi tapi berbicara seakan-akan sangat paham tentang sains. Benar-benar konyol!" Yang berbicara adalah teman sekelompok Yeandre. Dia tidak terima hasil ekspreimen mereka ditolak. Apalagi dia sendiri yang menyarankan penggunaan formula Z. Baginya, sains lebih tinggi kegunaannya daripada teknologi. Jadi, dia tidak terima.
"Sebentar! Saya tidak ingin membela siapapun. Hanya saja, saya tidak suka dengan orang yang bicara tidak sopan pada yang lebih tua. Setiap orang harus menerima saran dan kritik dari orang lain.
Jangan pernah marah apalagi membalas tanpa memahami maksud orang yang berbicara. Kamu saat ini baru dalam tahap uji coba dan bahkan bukan calon seleksi di sini. Hormatilah mahasiswa di sini." Perkataan penguji Telly membuat siswa pria yang tidak terima tadi menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangannya.
"Jika dia tahu aku menyamar dan masuk ke sini..." Ucap Rhiana dalam hati. Rhiana menelan ludahnya gugup takut ketahuan oleh penguji Telly.
"Sepertinya kamu tahu banyak tentang formula Z. Selagi ada kesempatan, tolong jelaskan apa saja yang kamu tahu tentang formula Z." Penguji Telly kini menatap Rhiana penuh penekanan. Bagi penguji Telly, sangat sulit mendapat informasi tentang formula Z. Dia kaget, ternyata Rhiana tahu tentang formula ini.
Sangat mencurigakan jika ada orang biasa yang tahu tentang formula Z. Jika ada orang yang tahu lebih banyak tentang formula Z, maka orang itu pasti merencanakan sesuatu. Wanita muda itu sangat waspada terhadap orang seperti itu.
Penguji Telly memerlukan hampir tiga tahun untuk mempelajari tentang sains karena dia peminat teknologi. Jadi, dia cukup tahu formula apa saja yang berbahaya dan tidak. Dan setahunya, data tentang formula Z sudah dimasukkan semua ke dalam program tanpa terkecuali. Tapi, kini ada yang mengatakan jika data formula Z masih kurang. Penguji Telly tentu saja harus mengorek informasi lebih jauh.
"Satu fungsi formula Z yang saya tahu dan tidak ditambahkan dalam data adalah formula Z bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya." Perkataan Rhiana yang tanpa dosa membuat seisi kelas semakin berisik. Mereka merasa formula Z ini sangat berbahaya. Tapi, kenapa ditambahkan dalam program?
"Sebenarnya formula Z tidak seberbahaya itu, jika tidak dicampurkan dengan formula q. Tapi, karena kelompok 12 menggunakan kedua formula itu secara bersamaan sehingga hasil akhirnya juga berbahaya. Ada beberapa formula yang dilarang keras untuk dicampurkan bersama formula Z. Saya tidak tahu apakah pihak universitas tahu ini atau tidak." Rhiana baru saja mendapat kesimpulan ini selama dia mencoba eksperimennya.
Penjelasan Rhiana membuat penguji Telly menatap penuh curiga padanya. Wanita muda itu berpikir Rhiana tahu banyak tentang formula Z. Tapi, bukankah dia dari jurusan teknologi yang hanya ingin melakukan uji coba? Kenapa dia terlihat sangat mengetahui tentang sains? Sangat mencurigakan!
"Setelah ini, kamu ikut ke ruangan saya! Kelompok yang lain silahkan lanjutkan," Penguji Telly harus berbicara secara pribadi dengan Rhiana agar dia bisa tenang.
"Ba...baik, Bu." Rhiana menjawab dengan ragu karena dia berencana untuk melarikan diri setelah urusan Yeandre selesai.
***
Rhiana menatap ponselnya dengan datar. Dia baru saja membaca pesan dari Marrie. Tentu saja itu pesan tentang keamanan Yeandre yang sedang diincar. Rhiana juga sudah kembali ke penampilan siswanya yang memakai seragam sekolah elit Swiss. Selain karena menghindari kecurigaan Brilyan, Rhiana juga harus melarikan diri sebelum diintrogasi oleh penguji Telly.
Ting!
Pesan kembali masuk di ponsel Rhiana. Itu adalah pesan media dari Marrie. Rhiana membaca keterangan di bawah foto itu sebelum membukanya. 'Dia yang ditugaskan untuk mendekati Yeandre.'
"Bukankah dia..."
"Dari mana saja? Aku mencarimu sedari tadi. Kamu tahu betapa khawatirnya aku?" Suara Brilyan membuat Rhiana menoleh ke samping menatap pria itu. Rhiana menyimpan ponselnya sebelum berbicara pada Brilyan.
"Maafkan aku. Aku bertemu sepupu jauhku yang kebetulan kuliah di sini. Dia membawaku dan mengajak makan bersama."
"Ya, sudah. Yang penting kamu baik-baik saja. Ayo kita pulang,"
"Aku sudah janji untuk menunggu Alviona. Kita tunggu sebentar lagi, ya." Padahal Rhiana sebenarnya tidak menunggu Alviona. Rhiana hanya sedang mencari kesempatan untuk kabur lagi dari Brilyan untuk mencari Yeandre.
"Baiklah. Sambil menunggunya, ayo ke kantin." Brilyan harus menahan dirinya agar tidak membuat Rhiana membencinya.
__ADS_1
Selama perjalanan ke kantin, Rhiana sedang berpikir apa dia harus memukul titik vital Brilyan agar pria satu ini pingsan sebentar? Rhiana tidak ingin membuang waktunya seperti ini.
***
"Kenapa selalu ada pembully dimana-mana?" Ucap Rhiana dalam hati tidak senang melihat pemandangan di depannya.
Rhiana sedang tidak mood mengurus para serangga karena dia harus pergi ke tempat Yeandre. Padahal 5 menit lalu dia berhasil kabur dari Brilyan, kini terhambat lagi karena tidak suka melihat orang lain ditindas.
Faktor utama Rhiana sangat tidak suka dengan para pembully adalah karena masa lalu mommynya yang pernah menjadi korban bullyan. Rhiana sangat membenci orang-orang yang suka sekali menindas orang yang lebih lemah dari mereka.
"Panggil aku jika keadaannya benar-benar darurat! Ada yang harus aku lakukan lebih dulu." Ucap Rhiana setelah menekan chip di belakang telinganya.
Rhiana mengepalkan tangannya merasa kesal karena seorang pria terlihat senang menendang bola ke arah gawang. Pria itu menendang bola bukan ke arah gawang tetapi ke arah penjaga gawang. Dia tidak mengincar bagian yang kosong dari gawang agar bola bisa masuk dan mencetak gol, tetapi justru mengincar wajah penjaga gawang berulang kali hingga wajah pemuda malang yang menjaga gawang itu sudah penuh darah. Pemuda itu bahkan tidak diperbolehkan bergerak menghindari bola yang menuju ke arahnya.
"Hei idiot! Sekali saja kamu bergerak, adik perempuanmu akan habis di tanganku dan teman-temanku! Hahahaha...."
"Bajingan ini..." Rhiana semakin kesal. Sebelum masuk ke dalam lapangan, Rhiana melihat ke sekitarnya mencari sesuatu.
Tersenyum tipis, Rhiana mengambil batu yang tidak jauh darinya dan mengarahkan batu itu ke kepala pria yang bersiap menendang bola lagi.
BUK
"Bajingan mana yang berani mengganggu kesenanganku?" Teriak pria yang bersiap menendang bola lagi. Ini tendangannya yang kelima.
"Hanya seorang gadis SMA, bos!" Pria lain menyahut di belakang. Mereka menatap penuh ejekan pada Rhiana.
"Hei, bocah... beraninya kamu mengganggu? Sepertinya kamu ingin menggantikan posisi si bodoh itu. Seret dia dan gantikan dengan si bodoh itu!"
"Siap, Bos!"
***
5 menit kemudian.
"Bagaimana bisa wanita yang terlihat lemah ini begitu kuat?" Si ketua pembully menatap Rhiana dengan tidak percaya.
"Bagaimana rasanya berada di posisi korban?" Tanya Rhiana dengan santai. Tiga orang yang membully tadi sudah dijatuhkan dengan cepat. Rhiana justru sedang menyudutkan mereka dengan menekan kepala si ketua dengan kakinya.
"Benar juga, akan menyenangkan jika dia merasakan hal yang sama." Gumam Rhiana mengangguk kemudian menatap si korban bully sebelum beralih menatap dua pria yang sedang berlutut ketakutan.
"Kalian berdua, bawa dia menggantikan posisinya." Perintah Rhiana setelah melepas kakinya dari kepala si ketua.
"Nah, kalian tetap di sana! Satu di tengah, dua di sisi kanan dan kiri. Pemandangan yang indah," Rhiana tersenyum tipis setelah menaikkan sedikit kaca matanya.
"Kamu baik-baik saja, Kak?" Rhiana bertanya dengan tangan mengulurkan sapu tangan ke arah pria yang kesakitan di depannya.
"Ugh... ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih. Tapi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Sesuatu yang menyenangkan. Kakak bisa mencobanya juga," Rhiana tersenyum senang membuat pria yang berdiri di depannya harus memalingkan wajahnya ke arah lain karena entah kenapa tiba-tiba malu sendiri.
Rhiana kemudian mengambil bola dan meletakkannya tepat di titik putih khusus tendangan penalti. Rhiana tentu saja akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan para pembully itu.
"Sedikit saja kalian bergerak, wajah kalian akan mencium bola ini!" Rhiana memberi peringatan sambil menatap santai tiga pria muda yang terlihat ketakutan di sisi gawang.
"Tapi aku belum pernah bermain sepak bola sebelumnya. Kira-kira tendanganku masuk tidak, ya." Rhiana memasang pose berpikir membuat tiga orang yang menjaga gawang semakin ketakutan.
"Cukup ditendang 'kan?" Ucap Rhiana lagi dan menyeringai ke arah gawang.
SREK
BUGH
BRUK
"Aree... padahal aku mengincar bagian yang kosong," Ucap Rhiana tanpa dosa setelah tendangannya mengenai wajah si ketua yang menjaga gawang bagian tengah.
"Bawa bolanya kemari! Kali ini aku harus mengincar bagian yang kosong," Perkataan Rhiana dengan patuh dilakukan oleh pria yang menjaga sisi kanan gawang.
"Nah, bersiap!" Rhiana kembali menaikkan kaca matanya bersiap menendang lagi.
SREK
BUGH
BRUK
Tendangan Rhiana yang kedua ini mengenai wajah pria yang berada di sisi kiri gawang. Tendangan kuat itu berhasil membuat pria itu jatuh dengan hidung yang terus mengeluarkan darah. Padahal Rhiana biasanya tidak sekejam ini, tapi mungkin karena faktor tamu bulanannnya, sehingga Rhiana sangat senang bermain-main.
"Kakak harus mencobanya juga. Ini seru, loh..." Rhiana sudah menempatkan bola di titik putih.
"Ayo coba, Kak. Masa kakak tidak mau balas dendam? Balas dendam itu sangat menyenangkan! Lagipula yang kakak lakukan hanya mengembalikan apa yang mereka berikan," Rhiana terus membujuk ketika melihat keraguan di wajah pria di depannya.
__ADS_1
Rhiana tersenyum tipis sebelum menarik pria berkaca mata itu agar berdiri di posisi untuk menendang.
"Sebentar, Kak." Rhiana merogoh isi tasnya mengambil sesuatu. Ternyata kaca mata. Kasihan juga melihat pria itu memakai kaca mata yang sudah pecah.
"Gantikan dengan milik kakak untuk sementara. Aku tidak tahu tipe apa yang kakak pakai, tapi milikku bisa diatur sesuai kebutuhan. Kakak hanya perlu menekan bagian ini," Rhiana menjelaskan dengan lembut. Salah satu kaca mata cadangan yang selalu setia dalam tasnya itu sudah beralih ke tangan pria di depannya.
"Ini... terima kasih banyak. Be... berapa harganya? Apa bisa dicicil? Ah... tidak. Sepertinya ini terlalu mahal untukku,"
"Pakai saja, Kak. Aku masih punya banyak. Sudahlah, mari ke poin utama."
"Te... terima kasih banyak. boleh tahu, siapa namamu? Namaku-"
"Kak Yano..." Suara panggilan disusul kemunculan seseorang yang Rhiana kenal ke arah mereka.
"Ada apa ini, Kak? Kenapa kakak terluka? Eh... Rhiana? Sedang apa kamu di sini?"
"Aku hanya membasmi serangga," Rhiana menjawab dengan santai.
"Serangga? Maksudmu?"
"Mereka sedang membully kakak. Dan Rhiana yang menolong kakak,"
Setelah Rhiana melihat lagi, dia akhirnya sadar. Ternyata pria ini adalah kakak Alviona. Wajah mereka sama.
"Terima kasih, Rhi. Aku berutang lagi padamu," Alviona merasa tidak enak.
"Tidak masalah. Aku bisa menagihnya nanti. Karena kamu sudah di sini, kamu bisa mengurus tiga orang inikan?"
"Baiklah. Tapi, kamu mau pergi ke mana? Kita sudah janji mau pulang bersama," Alviona merasa sedih melihat Rhiana yang ingin pergi.
"Aku ada urusan, jangan ikuti aku!" Rhiana menjawab dengan datar. Dia tidak perlu menahan diri jika di hadapan Alviona. Selain teman sekelasnya yang sudah tahu sifat aslinya, Alviona juga termasuk di dalamnya.
***
"Gadis bernama Vanya itu tidak ada di kelas, Bu. Saya juga sudah mengecek ke jurusan teknologi namun tidak ada yang mengenal mahasiswi bernama Vanya. Ciri-cirinya sudah saya sebutkan juga tetapi tidak ada yang mengenalnya," Pria muda berstatus asisten dosen itu sedang melapor pada penguji Telly.
"Hm. Kamu bisa kembali,"
"Baik, Bu. Saya permisi."
Setelah kepergian asistennya, penguji Telly mengambil notbook miliknya yang tersimpan dalam laci meja kerjanya. Penguji Telly mulai menggerakkan jarinya di atas keyboard membuka semua akses cctv universitas AX. Namun, apa yang dicarinya tidak ada.
"Benar-benar mencurigakan," Gumamnya sebelum mengambil ponselnya dan memanggil seseorang.
"Ada apa, Sayang?"
^^^"Hari ini ada seorang gadis memperkenalkan dirinya sebagai Vanya dari jurusan teknologi. Dia ingin tahu tentang sains jadi menonton di luar kelas. Entah kenapa, aku tiba-tiba menyuruhnya masuk dan ikut uji coba." Penguji Telly mulai bercerita dengan santai.^^^
"Lalu? Letakkan saja di situ. Jangan menggangguku!"
^^^"Kakak sedang sibuk, ya?"^^^
"Tidak apa-apa. Sekretarisku hanya membawa berkas untuk diperiksa. Tidak ada yang penting. Lanjutkan saja ceritamu, Sayang."
^^^"Baiklah. Aku lanjut kalau begitu. Gadis itu ternyata tahu banyak tentang formula Z. Padahal dia masih muda, tetapi tahu lebih banyak dariku."^^^
"Hahaha... Itu tandanya kamu harus belajar lagi, Sayang."
^^^"Jangan tertawa, Ishh... aku sedang serius, Kak."^^^
"Iya, iya. Jadi, sudah bicara dengannya?"
^^^"Dia menghilang tanpa jejak, Kak. Bukankah ini aneh? Apa dia anggota organiasi bawah tanah?"^^^
"Suamimu ini akan membantu. Tetapi... malam ini begadang, boleh?"
^^^"Tidak bisa. Aku sedang banyak kerjaan, Kak."^^^
"Satu jam saja kalau begitu,"
^^^"Aku tidak percaya!"^^^
"Kasihanilah suamimu ini, hm?"
^^^"Tidak!"^^^
Penguji Telly segera mematikan sambungan telepon. Wajahnya sudah memerah, jantungnya bahkan berdebar kencang. Dia sedang malu. Padahal usia pernikahan mereka sudah berlangsung selama 5 tahun, yang terbilang sudah lama, tetapi gejala ini masih sama seperti mereka masih berstatus tunangan dulu.
Tellyana Marcus Johnson adalah nama lengkap penguji Telly. Salah satu wanita muda yang mendapat gelar PhD (Doctor of Philosophy) di usia 25 tahun. Penguji Telly juga adalah pemilik universitas AX yang tidak diketahui banyak orang karena sengaja dirahasiakan. Universitas AX adalah hadiah dari kakak iparnya karena menyelesaikan gelar PhDnya.
Pria yang berbicara dengan Telly ditelepon adalah suaminya, Kharalex Sach Warrython/Lesfingtone. Anak angkat keluarga Lesfingtone dan saudara angkat dari Rihhane Senora Lesfingtone, yaitu ibu Rhiana. Jadi, penguji Telly adalah Bibi Rhiana. Telly dan Rhiana sama sekali belum tahu hubungan keduanya.
__ADS_1