
Cafe & Resto di bandara Rusia ini cukup banyak pelanggan karena menyediakan bermacam makanan dan minuman dari berbagai negara. Pemiliknya cukup cerdas dengan menggabungkan cafe dan restaurant sekaligus. Dengan begini, penumpang dari negara lain bisa menikmati makanan dari negara asal masing-masing.
Rhiana berdiri berniat memesan minuman manis lainnya. Sepertinya Yeandre dan kedua sahabatnya masih lama. Rhiana tidak bisa duduk dan meminum kopi pahit itu. Dia harus memesan yang manis-manis.
Rhiana segera menuju kasir untuk memesan. Hanya beberapa menit, chocolate milk shake pesanannya sudah jadi. Rhiana tersenyum tipis dan kembali ke tempat duduknya setelah mengambil chocolate milk shake.
"Jangan lari-lari, Rei!"
"Huh?" Rhiana menoleh ke arah anak kecil yang dipanggil.
Anak kecil bernama Rei itu terlihat berlari masuk dari arah pintu ingin mencari tempat untuk duduk. Rhiana hanya menggeleng kepala melihat tingkah anak laki-laki itu.
Rhiana tiba-tiba mengerutkan kening dan dengan cepat berlari ke arah anak kecil itu. Sebelum itu, cup chocolate milk shake miliknya sudah dilemparkan tepat ke tangan pegawai kasir yang masih berdiri di tempatnya.
BRUK!
SRET!
"Syukurlah," Rhiana menghela nafas legah karena berhasil menyelamatkan anak laki-laki bernama Rei itu.
Jika saja dia tidak cepat, anak kecil itu pasti sudah menabrak meja pelanggan lain yang di atas mejanya tersedia makanan khas Korea dan Jepang yang sedang dipanggang juga direbus di atasnya.
Jika meja itu tinggi, anak itu hanya mengalami luka benturan dengan sisi meja. Tapi, meja khusus makanan khas Korea dan Jepang itu dibuat pendek agar pelanggan bisa langsung duduk melantai dan menikmati makanan mereka.
Jika Rhiana tidak menyelamatkan anak kecil itu, sudah pasti wajah anak itu akan mengenai alat panggang yang di atasnya sedang terpanggang daging, juga rebusan daging dan makanan lain dalam mangkuk yang sedang mendidih.
Bukan hanya anak kecil itu yang berhasil Rhiana selamatkan, tetapi 5 botol soju dan gelasnya yang ditempatkan di atas baki juga Rhiana selamatkan dari tangan pelayan yang bertabrakan dengan Rei tadi.
Semua orang kaget sekaligus kagum dengan kecepatan Rhiana. Padahal Rhiana tadinya masih di depan meja kasir, tapi dengan cepat berlari menghampiri bagian makanan khas Korea dan Jepang.
Pose Rhiana yang memeluk Rei di tangan kanan, sedangkan tangan kiri memegang baki berhasil diabadikan oleh para pengunjung di sana.
Tidak hanya itu. Penutup hoodie yang menutup kepala Rhiana juga terbuka sehingga wajah cantiknya terlihat jelas. Semua orang terpesona dengan Rhiana. Selain keren, ternyata dia sangat cantik.
"Sial... jadi pusat perhatian lagi," Gumam Rhiana dalam hati menyadari tatapan semua orang padanya.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Ibu anak kecil bernama Rei itu segera menghampiri Rhiana dan mengambil anak kecil itu ke dalam pelukannya.
"Terima kasih banyak sudah menolong anak saya, Nona." Ayah anak berusia 6 tahun itu berterima kasih dengan tulus pada Rhiana.
"Saya juga mengucapkan terima kasih, Nona." Pelayan wanita yang bertabrakan dengan Rei tadi juga berterima kasih pada Rhiana.
"Sama-sama. Aku hanya sedikit membantu. Ini bukan masalah besar." Rhiana menggosok tengkuknya merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian.
"Eh... wajahmu mirip seseorang. Benarkan, Sayang?" Ibu Rei bertanya pada suaminya.
"Kamu pasti Rhiana, 'kan?" Ayah Rei segera mengenali Rhiana.
Rhiana bingung karena keluarga kecil ini mengenalinya.
"Benar, Paman. Tapi, maaf. Aku tidak mengenal paman dan bibi."
"Jangan meminta maaf. Tidak apa-apa. Kami kenal dengan ibumu."
"Paman dan bibi kenalan mommy?"
__ADS_1
"Nama ibumu Rihan, 'kan?"
"Benar, Paman."
"Wajah kalian sangat mirip. Perkenalkan, saya Albert. Ini istri saya, Dian. Kami sahabat Rihan semasa kuliah dulu di Indonesia." Albert tersenyum lembut pada Rhiana. Tangannya terulur meminta bersalaman. Rhiana dengan cepat menyambut tangan itu.
Mendengar dua nama itu, Rhiana mengangguk karena sudah mendengar nama itu dari cerita tante Alen. Jadi ini wajah mereka. Akhirnya dia bisa mengenali sahabat mommynya.
"Saya sudah pernah mendengar cerita paman dan bibi dari tante Alen. Jadi ini anak paman dan bibi? Tampannya," Rhiana menunduk dan mengelus pelan pucuk kepala Rei. Jangan lupakan senyum manisnya diberikan pada bocah kecil itu.
"Siapa namamu, tampan?" Tanya Rhiana basa-basi.
"Namaku Rehhand Aldian Santrin, Kak. Rehhand itu nama orang yang dikagumi Ayah dan ibu. Sedangkan Aldian singkatan dari nama ayah dan ibu." Bocah laki-laki itu menjelaskan arti namanya dengan serius membuat Rhiana menarik senyum tipis.
Rhiana menoleh menatap kedua sahabat mommynya itu. Dia bisa menebak siapa orang yang dikagumi orang tua anak ini. Tentu saja itu nama samaran yang dipakai mommynya dulu waktu menyamar menjadi laki-laki.
"Apa yang kamu pikirkan itu benar. Meski itu hanya nama samaran Rihan, tapi bagi kami, sosok dengan nama itu sangat berarti bagi kami. Jika Rei terlahir sebagai perempuan, kami mungkin akan memberi nama Rihan padanya." Albert segera menjelaskan tanpa diminta.
"Jadilah anak hebat seperti namamu, Rei. Kakak menunggumu tumbuh dewasa." Rhiana kembali menepuk pelan pucuk kepala Rei kemudian tersenyum manis.
Senyuman Rhiana membuat para pelanggan terpesona. Interaksi Rhiana sedari tadi direkam dan sudah diposting ke media sosial, menuai banyak komentar.
[Guys, dewi kita kembali beraksi! Bukankah dia sangat keren?]
[Sial... dewiku selalu keren!]
[Di mana tempat itu?]
[Cafe & Resto bandara internasional Rusia.]
[Sayang sekali, aku sedang di New York.]
[Kamu benar-benar beruntung, Kawan!]
[Hahaha... tenang. Aku akan memposting foto dewi kita sebanyak mungkin.]
[Kamu terlambat, Kawan! Tempatnya sudah penuh. Aku sendiri sedang mengantri di luar karena tidak bisa masuk.]
[Apa? Bagaimana bisa? Ah... aku sangat tidak beruntung.]
[Aku sendiri cukup beruntung karena bisa mengambil gambar dewiku lewat kaca diluar Cafe & Resto.]
[Setidaknya kamu beruntung, Bro.]
[Tidakkah kalian merasa wajah dewi kita terlihat mirip seseorang?]
[Siapa yang kamu maksud?]
[Maksudku bagian dahi, alis dan matanya. Bukankah itu mirip seseorang?]
[Kamu benar, Hyung. Dia sangat mirip dengan...]
[GADIS MALAIKAT!]
[Benar! Bagian yang disebutkan itu sama dengan gadis malaikat.]
__ADS_1
[Jangan-jangan dia gadis malaikat?]
[Aku juga berpikir seperti itu.]
[Aku setuju! Bukankah keluarga Veenick sangat kaya? Terakhir kali gadis malaikat membayar di minimarket menggunakan black card. Sudah jelas dia sangat kaya.]
[Benar sekali.]
[Sayangnya, tidak ada bukti yang membenarkan dewi kita adalah gadis malaikat.]
Seperti yang dikatakan, tempat dimana Rhiana berada saat ini penuh dengan orang-orang yang mengantri untuk melihatnya. Cafe & Resto itu bahkan ditutup sehingga tidak ada yang bisa masuk. Hanya pelanggan yang masih di dalam yang menyaksikan dengan leluasa seperti apa wajah cantik Rhiana.
Yang ada di luar Cafe & Resto itu hanya bisa melihat melalui dinding kaca. Setidaknya mereka senang masih bisa melihat wajah seorang Rhiana dari luar.
Rhiana yang masih bercerita dengan Rei tiba-tiba berhenti karena menyadari keributan di sekitarnya.
Rhiana berkedip beberapa kali melihat keluar melalui dinding kaca. Banyak kamera diarahkan padanya. Rhiana tiba-tiba merasa pusing. Flash kamera membuat Rhiana menghela nafas berusaha agar tidak lari sekarang.
SRET!
"Eh?" Rhiana menoleh ke samping hanya untuk melihat sebentar. Seseorang ternyata menutupi kepalanya dengan jaket besar miliknya.
"Pakai itu untuk sementara. Aku sedang meminta bantuan untuk membawamu keluar dari sini,"
"Ada apa dengan pria ini? Apa yang dia rencanakan?" Gumam Rhiana dalam hati.
Perhatian Freslly padanya membuatnya memikirkan hal buruk. Apa pria ini ingin membuatnya suka padanya kemudian merencanakan hal buruk padanya? Rhiana menggeleng ingin melepas jaket yang menutup kepalanya.
Lagipula, dia masih punya tudung hoodie yang bisa menutupi wajahnya. Kenapa orang organisasi bawah tanah ini membantunya? Bukankah ini aneh?
Rhiana ingin melepas jaket Freslly, tapi pria itu menahan tangannya untuk tidak menolaknya.
Rhiana tidak pernah menyangkah, dia semakin dikenal banyak orang. Bahkan di Rusia pun, banyak sekali orang ingin melihatnya. Dia merasa, hari-hari kedepannya tidak akan tenang lagi.
Padahal dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, tapi bagaimaan mungkin dia mengabaikan hal-hal di sekitarnya yang mengancam nyawa seseorang? Dia tentu saja harus turun tangan untuk membantu. Selagi dia bisa, dia akan membantu.
"Kamu tidak suka menjadi pusat perhatiannya, ya. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman," Albert tentu saja merasa bersalah. Karena ulah anak mereka, gadis muda anak sahabatnya ini merasa tidak nyaman.
"Iya, Paman. Aku hanya tidak suka diperhatikan seperti ini. Paman juga tidak perlu merasa bersalah. Aku tidak pernah menyalahkan siapapun. Tenang saja, Paman. Aku masih bisa mengatasi ini." Rhiana tersenyum tipis dan menatap ke arah pintu. Dia sedang menunggu bantuan. Rhiana berharap bantuannya segera tiba.
...
"Siapa orang-orang ini?" Tanya Freslly dalam hati. Melihat orang-orang dengan pakaian serba hitam yang hanya terlihat mata mereka, membuatnya penasaran. Penampilan orang-orang ini tidak biasa. Gadis ini pasti bukan orang biasa. Pengawalnya bahkan berpenampilan tidak biasa. Freslly semakin ingin mencari tahu siapa sebenarnya gadis ini.
"Terima kasih kamu tiba tepat waktu, Gledy." Rhiana senang melihat kemunculan Gledy bersama para pengawal bayangan yang membuka jalan untuk keluar.
"Ayo pergi!" Gledy dengan santai mengambil jaket yang menutup kepala Rhiana dan memberikannya pada pemiliknya. Gledy kemudian mengganti dengan jaket miliknya.
"Aku pamit, Paman, Bibi. Dah Rei..." Rhiana sedikit membungkuk pada dua sahabat mommynya itu. Rhiana juga mengusap pelan pucuk kepala Rei.
Setelah itu, Gledy segera menggandeng tangan Rhiana untuk keluar dari sana.
Freslly yang diperlakukan seperti itu oleh Gledy terdiam di tempatnya. Tangannya meremas erat jaket miliknya. Tiba-tiba dia merasa marah karena diabaikan.
Rhiana bahkan tidak mengatakan apa-apa padanya. Dia hanya dilihat sepersekian detik. Hanya itu saja. Betapa dia merasa dadanya memanas. Dia ingin membunuh orang sekarang.
__ADS_1
Ketika amarahnya hampir mencapai puncaknya, pandangannya tiba-tiba teralihkan ke arah Yeandre dan dua sahabatnya yang baru saja keluar Cafe & Resto.
Freslly tersadar. Alasan dia ada di sini karena ingin melihat Yeandre. Amarahnya hilang begitu saja. Dia dengan cepat menyusul Yeandre dan kedua sahabatnya.