
Dua hari setelah insiden kebakaran di rumah sakit.
Mansion keluarga Veenick begitu sunyi. Padahal semua keluarga sedang berkumpul, tetapi hanya keheningan yang melanda. Semua orang sedang berduka karena kepergian salah satu anggota keluarga mereka. Ia pergi ke tempat yang sama sekali tidak bisa mereka jangkau.
Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tidak ada yang tahu. Mereka hanya saling memeluk dan menenangkan satu sama lain dalam diam. Para pria berusaha tenang demi menenangkan anak dan istri masing-masing.
Kamar Dalfi.
Kakak kedua Rhiana itu masih duduk di kursi roda. Ia sama sekali tidak bergeming dari balkon kamarnya. Pandangannya lurus ke taman bermain yang dibuat sang daddy untuk mereka sejak masih dalam kandungan. Dalfi sangat merasa bersalah. Jika saja dia tidak lengah dan cepat peka dengan situasi, adiknya pasti bisa selamat. Dalfi rasanya ingin mati saja. Sayangnya, ia masih memikirkan mommynya. Apa jadinya jika dia melakukan tindakan yang sia-sia yang pastinya akan berdampak pada keluarganya juga.
"Hei, Boy... sedang apa?" Suara Zant tidak membuat Dalfi berpaling. Ayah tiga anak itu hanya ingin melihat keadaan anak keduanya yang paling terpuruk. Zant mengerti kenapa anaknya yang biasanya tidak mudah berekspresi, kini sedang terpuruk.
"Bagaimana keadaan mommy?" Tanya Dalfi pelan. Pandangannya masih tertuju ke arah taman bermain.
"Mommy baru saja tidur. Kondisi mommymu sudah sedikit membaik. Sudah dua hari kamu belum makan. Setidaknya minum ini untuk menjaga tubuhmu," Ucap Zant setelah meletakkan gelas berisi jus kesukaan Dalfi.
Dalfi tetap tidak bergeming.
"Setidaknya minum juga ini sebutir saja. Jangan buat mommymu semakin khawatir," Ucap Zant lagi kemudian memberikan botol kecil berisi pil di dalamnya ke tangan Dalfi. Itu pil penambah nutrisi yang baik dikonsumsi sebagai pengganti makanan.
Dalfi menatap botol berisi pil di tangannya sebelum menghembuskan nafas pelan. Kakak Rhiana itu menatap daddynya dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.
"Kita semua merasa kehilangan, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak bisa mengembalikannya begitu saja. Itu sudah melewati batas kemampuan manusia," Ucap Zant lalu memeluk Dalfi yang sudah menangis.
"Maafkan aku, Dad. Ini salahku... Salahku yang membuat Rhia pergi meninggalkan kita. Aku benar-benar minta maaf..."
"Tidak, boy. Ini semua salah daddy karena tidak mencabut mereka sampai ke akarnya. Salah daddy, hingga mereka masih berkeliaran dan membuat ulah. Maafkan daddy," Zant ikut menyalakan diri sendiri.
Zant berpikir, organisasi bawah tanah sudah hancur saat itu, ternyata masih ada sisa-sisa dari mereka yang kemudian melebarkan kembali sayapnya dimana-mana. Tentu saja Zant merasa bersalah. Jika saja organisasi itu hancur sepenuhnya, anak bungsunya tidak mungkin menjadi korban. Zant merasa bersalah sekaligus marah. Zant mengepalkan tangannya dan berjanji dalam hati untuk membasmi mereka sampai tidak tersisa satupun.
"Mommy mencari daddy," Suara Dalfa yang muncul membuat pelukan ayah dan anak itu lepas.
"Mommymu sudah bangun? Padahal ini belum sampai setengah jam." Zant terkejut setelah melihat jam tangannya.
"Jaga adikmu. Daddy akan melihat mommy kalian sebentar." Ucap Zant pada Dalfa sebelum berjalan cepat pergi dari sana.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Dalfa setelah beberapa saat kepergian Zant.
Hening.
"Sudahlah. Percuma berbicara dengannya," Gumam Dalfa kesal. Padahal dia berencana mengajak ribut agar Dalfi sedikit membaik, tapi percuma. Si dingin ini tidak melihatnya sedikitpun. Padahal tadinya ia bisa melihat Dalfi menangis di pelukan sang daddy, tiba-tiba wajahnya sudah berubah datar lagi. Dalfa tidak tahu, sifat siapa yang diambil bocah satu ini.
"Aku punya misi rahasia. Kalau kamu mau, masih ada tempat untukmu ikut,"
__ADS_1
Hening.
"Ck... aku sudah tahu dimana laboratorium ibu Sienna." Kalimat Dalfa itu berhasil membuat Dalfi menatapnya.
"Sayang sekali, kamu tidak bisa ikut. Tidak mungkin kamu ikut dengan kursi roda itu." Lanjut Dalfa mengejek dan dihadiahi tatapan tajam oleh Dalfi.
"Makanya makan teratur dan minum obatmu agar kamu sembuh. Setelah itu kita bisa pergi bersama. Ini... makan sekarang. Aku akan melihat dengan mataku sendiri!" Ucap Dalfa sambil mendorong baki berisi makanan yang dibawanya tadi. Ada tiga piring berisi lauk di atas baki.
Sebenarnya Dalfa hanya berbohong tentang laboratorium Sienna. Dia hanya mendengar sekilas pembicaraan dua anggota cruel devil, tapi tidak tahu dimana letak laboratorium itu. Agar adiknya segera sembuh dan tidak terlalu terpuruk, Dalfa harus berbohong demi kebaikannya juga.
"Masih ada beberapa hari sampai kakimu kembali normal. Setidaknya makanlah sedikit. Jangan membuat kami khawatir,"
"Bagaimana denganmu?"
"Aku? Aku tidak lapar!" Dengan polosnya Dalfa menjawab.
"Duduk dan makan bersamaku. Jangan membantah!" Dalfi menekan perkataannya membuat Dalfa menarik senyum tipis dan mengangguk sebelum mengambil tempat duduk di depan Dalfi. Keduanya kemudian menikmati makan bersama meski tadinya diperuntukkan untuk satu orang.
***
Laboratorium pribadi milik Sienna.
"Saya sudah menyuntikkan serum X padanya, Nona. Kita hanya perlu menunggu proses penyatuannya."
5 menit kemudian.
Tit
Tit
Tit
"In... ini tidak mungkin..." Ucap ilmuwan gila bernama Stepny itu terkejut.
"Kenapa?" Tanya Sienna.
"Tubuhnya menolak serum X, Nona."
"Tambahkan dosisnya!"
"Baik, Nona." Ilmuwan Stepny kemudian menyuntikkan dosis serum X tiga kali lipat dari sebelumnya ke tubuh Rhiana.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Tit
Tit
Tit
"Tubuh anak ini benar-benar spesial, Nona. Padahal dosisnya sudah ditambahkan, tetapi tubuhnya dengan cepat menolaknya. Ini kejadian langkah!" Ucap Ilmuwan Stepny dengan mata berbinar.
"Periksa darahnya. Laporkan hasilnya padaku secepatnya." Perintah Sienna cukup tercengang dengan kekebalan tubuh Rhiana. Jika tubuhnya sespesial itu, maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
"Siap, Nona." Ilmuwan Stepny kemudian mengambil sedikit darah Rhiana untuk diperiksa.
"Kamu harusnya berguna jika tubuhmu spesial. Jangan membuatku kecewa." Ucap Sienna sambil menatap wajah pucat Rhiana yang terbaring di brankar.
20 menit kemudian.
"Hasilnya sangat menakjubkan, Nona." Ucap ilmuwan Stepny kemudian memberikan kertas di tangannya pada Sienna.
"Hanya darahnya. Tubuhnya sama sekali tidak berguna untukku. Baiknya aku apakan tubuh tidak berguna ini?" Ucap Sienna setelah membaca isi kertas di tangannya.
"Sayangnya, hanya darahnya yang kita butuhkan. Andai saja tubuhnya tidak menolak, sudah pasti dia akan sangat berguna." Ucap Ilmuwan Stepny berusaha berpikir apa yang harus dilakukan dengan tubuh Rhiana.
"Untuk sekarang, dia berguna sebagai bank darah. Sampai saat itu tiba, jaga tubuhnya. Aku punya sesuatu yang harus dilakukan dengan darahnya." Sienna menyeringai karena terlintas sebuah ide di kepalanya.
"Dimengerti, Nona."
...----------------...
Tiga hari kemudian. Laboratorium pribadi milik Sienna.
"Ambil darahnya sekantong lagi." Pintah Sienna sambil menatap serius serum baru yang sedang dibuatnya. Sienna sedang berpikir, apa yang akan terjadi jika ditambahkan dengan darah Rhiana yang spesial.
"No... nona... tubuh anak itu mengalami krisis. Ja... jadi saya tidak bisa mengambil darahnya lagi. Jika dipaksa, dia bisa mati." Ucap seorang profesor wanita paru baya yang beberapa hari ini bertugas menjaga Rhiana.
"Sampai kapan dia bisa pulih?" Tanya Sienna kesal. Padahal ia butuh darah Rhiana sekarang. Padahal tinggal sedikit lagi eksperimen barunya berhasil.
"Saya tidak tahu, Nona. Jika boleh jujur, kondisinya sangat parah. Kita hanya akan membuang waktu dan upaya yang digunakan untuk menjaga tubuhnya tetap bertahan. Jadi saya sarankan... alat bantu kehidupannya lebih baik dilepaskan saja." Profesor wanita bernametag Prof. Jean itu menjelaskan dengan gugup.
"Ck... Ambil saja darahnya. Aku butuh darahnya sekarang. Ambil sebanyak mungkin. Aku tidak peduli dia hidup atau mati. Bawa darahnya padaku! Sisanya kamu urus saja," Ucap Sienna kesal. Jika gadis menyebalkan itu mati begitu mudah, apa boleh buat? Setidaknya, sebelum ia benar-benar mati, darahnya harus diambil sebanyak mungkin.
"Baik, Nona. Akan saya bawakan darahnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1