Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Ditusuk


__ADS_3

"Rhiana?"


Panggilan itu mengalihkan perhatian Rhiana.


"Ada yang bisa saya bantu, Paman?" Rhiana bertanya dengan senyum tipis. Kenapa dia harus bertemu dengan teman mommynya?


"Kenapa tidak menghubungi saya? Padahal saya menunggu panggilan darimu,"


"Sepertinya paman salah orang. Saya bahkan tidak mengenal paman," Rhiana tidak ingin, David, pria yang sepertinya belum melupakan mommynya ini mengenalinya.


"Saya tahu kamu sedang menyamar, Rhia. Saya tidak hanya belajar tentang penyakit dalam, tetapi juga belajar untuk mengingat setiap detail tubuh manusia mulai dari wajah, postur tubuh, kebiasaannya, cara berjalannya, dan detail lainnya. Karena itu saya tidak lupa dengan detail wajah orang yang berharga bagi saya. Saya belajar banyak setelah kejadian di masa lalu. Saya tidak ingin salah mengenali orang lagi."


Rhiana tercengang dengan perkataan David. Jadi, teman mommynya ini mengenalnya meski sedang menyamar? Padahal mereka baru bertemu satu kali. Hebat juga paman satu ini.


"Tidak perlu khawatir, saya yakin kamu punya alasan tersendiri untuk menyamar. Saya tidak akan mengatakan pada siapapun, jadi tenang saja. Saya hanya tidak ingin mengabaikan orang-orang yang berharga bagi saya,"


"Terima kasih. Saya percaya paman. Jadi, apa yang bisa saya bantu?" Rhiana menghela nafas dan tidak mengelak lagi. Sepertinya penyamarannya sudah mulai terbongkar perlahan-lahan setelah ketahuan oleh Hann.


"Boleh saya menghabiskan waktu lebih lama bersamamu? Saya merasa jika tidak dilakukan sekarang, mungkin tidak ada kesempatan lain."


Rhiana menatap jam tangannya melihat apakah dia masih punya waktu untuk berbincang bersama David. Sekarang pukul 20.35. Masih ada cukup waktu.


"Baiklah. Terserah paman. Tapi kita tidak bisa lama-lama karena saya harus pulang sebelum jam 10 malam."


"Tidak apa-apa, saya sudah senang. Apa yang ingin kamu pesan?" David tersenyum tipis sebelum menarik kursi untuk duduk. Begitu juga dengan Rhiana.


"Makanan ringan sepertinya cukup, Paman."


"Oke." David kemudian memanggil pelayan untuk pesanan mereka.


"Bagaimana kabar Rihan?" David bertanya setelah mengeluarkan ponselnya dari saku blazer yang dipakainya.


"Kabar mommy baik. Mommy dan Daddy sedang traveling berdua keliling dunia,"


"Begitu. Sampaikan salam saya pada mereka,"


"Baik,"


"Berikan ponselmu. Kita harus bertukar nomor sekarang juga agar saya yang akan menghubungimu lebih dulu,"


Rhiana tidak bisa mengelak karena memang salahnya tidak menghubungi David padahal sudah menerima kartu nama teman mommynya itu. Rhiana hanya menggaruk pipinya canggung dan memberikan ponselnya pada David.


David, pria singel berusia hampir kepala empat itu dengan senang hati menyimpan nomornya pada ponsel Rhiana kemudian memanggil nomornya sendiri.


"Anu, permisi..." Seseorang menghampiri meja Rhiana dan David.


"Eng? Ada yang bisa kami bantu?" Rhiana menatap penuh tanda tanya pada gadis berambut dikepang dua di depannya.


"Bisa kita foto bersama? Aku dan teman-temanku fans berat kapten basket sekolah elit."


"Boleh. Bagaimana aku harus berpose?" Rhiana bertanya dengan polos.


***


Gigi Rhiana rasanya hampir kering. Tentu saja karena sudah 20 menit dia berfoto bersama beberapa gadis muda yang mungkin seusia ataupun lebih tua darinya.


"Maaf, boleh kami tahu siapa kakak tampan ini?" Salah satu gadis berambut hitam sebatas bahu menatap Rhiana menunggu jawaban.


"Apa dia pacarmu?" Gadis lain dengan rambut dikuncir satu, ikut bertanya.


"Apa saya terlihat semuda itu?" David yang sedari tadi menatap sesi foto para anak muda itu membuka suara dengan senyum tipis.


"Iya. Kakak terlihat seperti seorang mahasiswa,"


"Aku setuju. Kakak juga terlihat serasi bersama Rhiana,"


"Apa-apaan? Serasi? Wah... Aku tidak tahu harus berkomentar apa," Ucap Rhiana dalam hati.


"Terima kasih untuk pujiannya, tapi saya ini paman Rhiana. Usia saya 38 tahun,"


"Apa? Tapi wajah kakak tidak terlihat berusia 38 tahun."

__ADS_1


"Hahaha... sepertinya ini kelebihan yang diberikan Tuhan untuk saya,"


"Boleh kami berfoto bersama kakak tampan?" Salah satu gadis berambut pendek di bawah telinga yang juga memakai kaca mata, memberi usulan.


"Aku setuju. Kami ingin berfoto bersama kakak dan Rhiana. Apakah boleh?"


"Bagaimana menurutmu, Rhia?" David menatap Rhiana meminta persetujuan.


"Aku tidak masalah,"


"Terima kasih," Gadis dengan rambut dikuncir tersenyum senang dan memberi isyarat pada temannya yang berambut dikepang.


"Kakak tampan, tolong duduk dekat dengan Rhiana. Tunggu sebentar," Gadis dengan rambut dikepang itu memegang tangan David dan menuntunnya berdiri. Sedangkan gadis dengan rambut sebatas bahu menggeser kursi David tepat ke samping Rhiana.


"Silahkan duduk, Kak." Gadis berambut kepang kemudian mempersilahkan David duduk di kursi samping Rhiana.


"Foto berdua dulu. Tolong senyumnya... Chiiisss..."


"Kakak tampan, tangannya tolong di bahu Rhiana." David dengan patuh meletakkan tangannya di bahu Rhiana.


"Memangnya harus foto seperti ini?" Rhiana merasa para gadis ini hanya ingin bersenang-senang.


"Harus! Kapan lagi kami bisa melihat pemandangan seindah ini?"


"Benar sekali. Tolong senyum terbaiknya,"


"Paman baik-baik saja? Paman pasti merasa tidak nyaman," Rhiana berbisik pada David.


"Saya tidak apa-apa. Saya cukup senang," Tentu saja David senang tetapi tidak terlalu menunjukannya.


"Apa sudah selesai? Aku harus pulang." Rhiana dengan sopan berdiri bersiap pulang.


"Tunggu sebentar! Kita belum foto bersama, Rhiana." Rhiana tidak bisa menolak saat kedua tangannya ditahan oleh gadis dengan rambut dikuncir dan gadis berkaca mata. Rhiana menatap mereka dengan memelas ingin pulang, tapi justru didudukkan kembali.


Rhiana tidak banyak berkomentar dan hanya memasang senyum bisnisnya sambil berpose di depan kamera bersama gadis-gadis yang katanya fansnya ini.


Drtttt...


^^^"Ada apa?" Rhiana menjawab dengan ketus.^^^


Sebenarnya Rhiana memutuskan menjawab telepon dari Hann sekedar mencari alasan untuk kabur dari para gadis muda itu.


"Jangan ketus begitu, calon pacar."


^^^"Calon pacar kepalamu, ada urusan apa?"^^^


"Setahuku, kita dilarang keluar dari asrama. Tapi, apa yang sedang kamu lakukan di luar? Bagaimana caramu kabur?"


^^^"Huh? Dari mana kamu tahu aku di lu ... ar."^^^


Rhiana berhenti sebentar dan menatap para pengunjung restoran. Kebanyakan dari mereka sedang melihat ke arahnya sambil mengarahkan kamera padanya.


Pantas saja dia ketahuan. Keberadaannya di sini sudah pasti diposting. Padahal ketenarannya tidak sebesarnya ini. Dia hanya disambut heboh saat kepulangannya dari Rusia setelah itu tidak ada lagi kehebohan. Tapi, setelah menandatangani kontrak dengan Star's Sport, namanya menjadi terkenal lagi karena iklan digital yang terpampang besar di jalan utama yang baru dilihatnya tadi. Sepertinya hari-hari tenangnya sudah tidak ada lagi.


"Tenang saja, aku bisa mengatasi masalah ini. Percaya padaku. Tapi, ayo kencan denganku."


^^^"Aku bisa mengatasi masalahku sendiri,"^^^


"Bukannya kamu sedang menyamar? Kamu tidak masalah jika Brilyan tahu?"


^^^"Ck... Urus Brilyan dan pihak sekolah untukku."^^^


"Siap 86. Aku akan menagih janji kencan kita nanti, Bye-bye, calon pacar."


KLIK


Panggilan juga berakhir.


Rhiana hanya menatap ponselnya dengan datar sebelum memasukannya dalam saku hoodie.


"Aku harus pulang," Rhiana segera berpamitan dengan tidak enak.

__ADS_1


"Sudah mau pulang? Padahal kami belum-"


"Begitu, ya. Sampai ketemu lagi, Rhiana. Terima kasih untuk hari ini. Hati-hati di jalan. Kakak tampan juga. Semoga kita bertemu lagi," Gadis dengan rambut dikepang dua menyahut dengan ramah. Dia mengerti setelah melihat ekspresi Rhiana yang mulai terlihat tidak nyaman.


"Iya. Sampai ketemu lagi," Rhiana mengusap tengkuknya dan tersenyum sebelum pergi dari sana. David juga ikut dari belakang setelah memberikan senyum tipis untuk para gadis muda itu.


***


Rhiana menatap datar Alviona yang ternyata masih ada dalam kamarnya. Rupanya gadis ini masih setia menunggunya. Padahal sebentar lagi jam malam. Seharusnya Alviona sudah kembali ke kamarnya.


Untungnya Rhiana dengan cepat sampai di asrama dan tidak kesusahan melewati jalur rahasia, sehingga tiba sebelum jam malam.


"Kamu kembali. Apa kepala sekolah menyusahkanmu?" Alviona menyambut Rhiana dengan senyum cerianya. Gadis itu sedang memakan cemilan dalam toples sambil menonton TV di ruang tamu.


"Kenapa belum kembali?" Rhiana bertanya seadanya sebelum masuk ke kamarnya untuk menyimpan map yang diberikan Marrie.


"Hehehe... boleh aku menginap di sini? Aku tidak masalah tidur di sofa. Aku hanya belum terbiasa tidur di tempat baru sendiri," Alibi Alviona dengan canggung. Rhiana yang baru keluar dari kamarnya dan menuju lemari pendingin tidak menjawab.


"Boleh, ya? Aku traktir besok di kantin." Alviona membujuk dengan wajah memelasnya. Melihat suasana hati Rhiana tidak buruk, Alviona ingin mencoba peruntungannya.


"Hm." Rhiana hanya berdehem sebelum meminum susu kotak yang diambilnya. Rhiana tidak masalah karena malam ini tidak ada rencana untuk keluar jadi dia sedikit berbaik hati pada Alviona.


"Dari mana kamu mendapatkan permen ini?" Rhiana bertanya setelah melihat setoples kecil permen di atas meja. Rhiana sudah beralih duduk di sofa singel di samping sofa yang diduduki Alviona.


"Oh. Aku membelinya di kantin asrama. Permen ini sedang tren sekarang. Katanya sangat enak dan bikin candu. Harganya juga sangat murah. Aku ingin mencobanya bersamamu," Alviona berbicara dengan semangat.


Rhiana dengan cepat mengambil satu permen dan melihatnya dengan saksama takut apa yang dipikirnya salah.


"Jangan pernah mencobanya," Ucap Rhiana setelah memastikan bahwa permen itu merupakan permen yang dibicarakan Marrie tadi. Rhiana kemudian membawa toples itu dan menyimpannya dalam bak sampah.


"Kenapa membuangnya?" Alviona terkejut karena Rhiana membuang permen yang dibelinya dengan susah payah karena antrean yang panjang. Ekspresi Alviona tentu saja murung.


"Tidak bagus untuk tubuh. Aku akan membeli yang lain untukmu. Pokoknya jangan pernah mencobanya!" Rhiana berbicara dengan tegas.


"Tapi kenapa?" Alviona masih tidak mengerti.


"Jika sudah waktunya, kamu akan tahu. Untuk sekarang, jangan pernah mencobanya. Jika kamu ingin mencobanya, jangan pernah lagi menunjukkan lagi wajahmu di depanku!" Ancaman sepertinya akan mempan menurut Rhiana.


"Ba... ik." Alviona menjawab dengan lesuh. Hubungannya dengan Rhiana tentu saja tidak boleh berakhir hanya karena permen. Baginya Rhiana lebih berharga.


***


Pagi hari, kantin sekolah elit Swiss penuh dengan para siswa yang ingin sarapan pagi. Sepertinya efek tinggal di asrama membuat banyak siswa mau tidak mau harus makan di kantin karena hanya ini tempat mereka bisa makan enak.


Rhiana tidak menyangka banyak siswa yang rela bangun pagi untuk mengantri makan di kantin sebelum waktu kelas berlangsung. Peraturan sekolah bahkan lebih ketat setelah insiden siswa yang mengamuk membuat para anak kaya yang biasanya hidup mewah dan dimanja, kini ketar-ketir takut poin mereka dikurangi.


Rhiana mengabaikan keramaian dan ikut mengantri karena 45 menit lagi sudah waktunya masuk kelas. Tersisa 3 orang lagi sebelum gilirannya. Rhiana menghela nafas dan memandang sekitar kantin. Tidak ada keanehan jadi dia bisa bersantai.


PRANG


KYAKK...


Teriakan beberapa siswi karena insiden di depan mereka.


Rhiana sendiri mengerutkan kening dan menatap pada seorang gadis yang berdiri di depannya. Gadis itu tadinya ingin menusuk perut Rhiana tetapi Rhiana dengan cepat melepas baki di tangannya dan menahan pisau yang hampir menyentuh perutnya.


Rhiana tidak peduli dengan tangannya yang berdarah karena menggenggam pisau dengan kuat. Apalagi gadis yang ingin menusuknya itu mengerahkan sekuat tenaga untuk menusuk Rhiana.


SRET


BRUK


Rhiana dengan cepat melumpuhkan gadis itu setelah mengamankan pisau. Rhiana tidak peduli dengan kehebohan sekitar karena ada yang histeris maupun menjadikan hal ini sebagai tontonan menarik.


TSKK...


"Bagaimana bisa... Dari mana dia muncul? Kenapa aku tidak tahu?" Ucap Rhiana dalam hati kaget.


Rhiana tentu saja kaget karena tiba-tiba area pinggang kanannya terluka akibat seorang siswa. Itu dilakukan sangat cepat saat dia baru saja melumpuhkan gadis yang ingin menusuknya dari depan. Pisau yang berhasil mengenai pinggangnya masih tertancap sempurna di sana.


Rhiana berbalik ingin mengejar pria yang berhasil menusuk pinggangnya, tetapi pria itu sudah tidak ada. Cepat sekali orang itu menghilang.

__ADS_1


"Rhia... kamu baik-baik saja? Aku berhasil menangkapnya."


__ADS_2