Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Menjinakkan Bom


__ADS_3

Rhiana yang masih dalam perjalanan menuju aula utama, terpaksa berhenti di tengah jalan karena melihat orang-orang berlarian ingin keluar dari sana. Jelas sekali mereka ketakutan karena adanya bom bunuh diri tadi.


Rhiana mengeluarkan ponsel di saku celana cargo yang dia pakai dan menelpon Dalfi.


"Dimana, Kak?"


"Membantu para penonton keluar dari sini. Kamu dimana?"


"Sedikit lagi aku sampai. Bagaimana dengan dia?"


"Dalfa sudah membawanya pergi,"


"Bagaimana dengan kedua temannya?" Rhiana kembali bertanya.


"Entahlah." Jawaban yang begitu singkat.


"Baiklah. Terima kasih, Kak." Rhiana lalu menutup panggilan.


***


Di aula tempat olimpiade basket diselenggarakan, keributan terdengar. Teriakan ketakutan membuat gedung olimpiade itu benar-benar kacau. Semua orang di dalam sana berlarian ke sana kemari ingin mencari jalan keluar.


Sebelumnya, mereka masih asik menonton pertandingan basket putra antara tim Swiss melawan New York. Masih di set pertama, semua orang di sana dikagetkan dengan ledakan dari tubuh seorang pria yang baru saja masuk ke dalam aula itu.


Melihat ledakan itu, satu pemikiran mereka, ini pasti ulah kelompok t*****s. Mereka tentu tidak akan pernah tahu, adanya keterlibatan organisasi bawah tanah dalam hal ini.


Karena ledakan itu, semua orang ketakutan dan mulai berlarian keluar dari sana. Mereka tidak ingin mati karena ledakan itu.


...


Rhiana yang baru sampai di dalam aula utama mengerutkan kening melihat kekacauan di sana. Pandangannya diarahkan ke segala arah mencari apakah ada orang yang mencurigakan atau tidak. Akan tetapi, tidak ada hal aneh.


Padahal menurut informasi dari Marie, organisasi bawah tanah ingin membuat gedung olimpiade ini rata dengan tanah. Tapi... pemandangan sekarang terlihat biasa saja.


"Sepertinya rencana mereka diubah oleh tangan kanan itu. Entah apa yang orang itu rencanakan," Ucap Rhiana lalu membenarkan masker hitam yang menutupi pangkal hidung hingga dagunya.


Ponsel Rhiana kembali bergetar. Dengan tenang Rhiana menjawab panggilan itu.


"Rencananya benar-benar berubah total! Pemimpin sepertinya menyadari adanya mata-mata dalam organisasi. Apa yang akan kamu lakukan?" Perkataan Marie ternyata seperti dugaan Rhiana.


"Bisakah kamu membantuku menjaga pria itu? Aku ingin mencari tangan kanan yang kamu maksud itu," Pria yang Rhiana maksud adalah Yeandre.


"Aku bisa membantu menjaganya untuk sementara. Tapi, tangan kanan pemimpin organisasi bawah tanah bukan orang biasa. Aku sendiri juga tidak tahu seperti apa rupa orang itu. Sebaiknya kamu berhati-hati."


"Hm. Aku tutup teleponnya,"


"Bukan orang biasa... Marie juga tidak tahu seperti apa wajahnya. Ini sulit," Rhiana kembali berbicara pada dirinya sendiri.


Tentu saja, seorang tangan kanan sebuah organisasi yang terkenal karena kekejamannya bukanlah orang biasa. Rhiana jelas tahu itu.


***


Rhiana sedang membantu orang-orang keluar dari dalam gedung. Pihak keamanan Rusia juga datang, sehingga keadaan di sana masih bisa dikendalikan. Akan tetapi, sudah hampir satu jam mereka mengevakuasi orang-orang, Rhiana sama sekali tidak melihat adanya orang yang mencurigakan di sana. Bukankah ini aneh?


Untuk sementara, Rhiana fokus mengevakuasi para penonton. Untungnya Yeandre juga sudah dibawa keluar dari gedung. Kini hanya tersisa sedikit orang yang masih ada dalam gedung.


BOMM!


Ledakan kembali terjadi. Kali ini bukan bom bunuh diri. Itu bom yang dipasang di dalam gedung ini. Rhiana menduga, itu baru saja dipasang selama mereka mengevakuasi orang-orang.

__ADS_1


Riana dengan cepat membantu mereka yang tersisa di dalam gedung tanpa memikirkan kakinya yang semakin sakit.


...


Sampai di luar gedung, Rhiana menghela nafas legah karena semua orang sudah keluar dari gedung. Itu berarti mereka aman sekarang. Setidaknya, jika ada ledakan dalam gedung, mereka baik-baik saja.


Bertepatan dengan apa yang Rhiana pikirkan, dua ledakan kembali terjadi.


BOMM!


BOMM!


Orang-orang di luar gedung bersyukur karena mereka sudah keluar dari sana. Jika tidak, mereka akan hancur bersama reruntuhan. Bangunan yang tadinya besar dan berdiri kokoh, kini sebagiannya sudah hancur karena ledakan.


Rhiana masih merasa ada yang aneh. Dia mencari dimana tepatnya saudara kembarnya dan Yeandre berada. Rhiana merasa, hal lain pasti akan terjadi lagi. Sedari tadi, hanya ada ledakan. Tidak ada pergerakan mencurigakan dari pihak musuh. Rhiana tidak tahu, apa yang mereka rencanakan.


Menemukan apa yang dicari, Rhiana dengan tenang mendekati Dalfa dan Yeandre. Rhiana akan mengawasi mereka dari dekat. Dia tidak bisa menghampiri mereka, karena sedang dalam penyamaran.


"Akhhh...." Teriakan keras seorang wanita mengalihkan perhatian semua orang.


"Anakku... hiks... ada bom di tubuhnya. Siapapun tolong anakku!" Suara seorang ibu muda kembali terdengar histeris. Ibu itu tiba-tiba terkejut karena mendapati ada bom terpasang di tubuh anaknya.


"Bukankah itu terlalu kejam? Bagaimana bisa mereka menggunakan anak itu!" Tukas Rhiana dalam hati.


Rhiana tidak pernah menduga organisasi bawah tanah bisa sekejam ini. Ternyata cara bertindak tangan kanan pemimpin organisasi bawah tanah benar-benar kejam. Anak kecil pun tidak luput darinya.


Teriakan ibu muda itu membuat semua orang dengan ketakutan menghindar dari anak laki-laki itu. Tentu saja mereka tidak ingin mati sia-sia karena bom di tubuh anak laki-laki itu.


Kapten polisi yang memimpin insiden kali ini dengan cepat menghampiri anak kecil itu. Ada ibu anak itu di sampingnya. Kapten itu dengan cepat berbicara melalui alat komunikasi di tangannya untuk meminta bantuan tim penjinak bom agar segera ke sini.


"Tapi, Komandan... 5 menit lagi waktu yang tersisa," Sang kapten melapor setelah melihat waktu yang tersisa di bom yang terpasang di tubuh anak laki-laki itu. Kapten itu tentu saja resah karena menurut pemimpin mereka, tim penjinak bom akan tiba lebih dari 5 menit, mengingat jarak dan persiapan para ahli bom.


"Tidak! Anakku... tolong anak saya, Pak. Tolong biarkan saya bersama anak saya. Lepaskan saya!" Ibu anak itu kembali histeris ketika dua polisi menariknya agar menjauh dari anaknya sendiri.


"Mami... hiks..."


"Maaf, Bu. Demi keamanan, anda harus ikut bersama kami." Polisi di sebelah kanan ibu muda itu menjelaskan.


"Biarkan saya mati bersama anak saya. Dion... jangan menangis, Sayang. Ibu akan bersamamu." Ibu anak itu menggeleng dan masih berusaha keras ingin lepas dari tangan kedua polisi yang menahannya.


Rhiana yang sedari tadi menyaksikan pergerakan para polisi itu mengerutkan kening. Rhiana lalu berjalan mendekat.


"Kapan penjinak bomnya datang, Pak?" Rhiana bertanya pada salah satu polisi yang berjaga.


"Lebih dari 5 menit. Tapi waktu yang tersisa kurang dari 5 menit." Biasanya sebagai polisi, mereka akan mengatakan sesuatu yang tidak membuat warga sipil khawatir. Akan tetapi, polisi satu ini dengan polos menjawab jujur. Sepertinya dia masih baru, atau mungkin karena orang yang bertanya adalah seorang Rhiana.


Rhiana lagi-lagi mengerutkan kening mendengar situasi yang ada. Belum lagi, semua orang sudah dibawa lebih jauh lagi dari anak kecil itu. Pihak keamanan tidak ingin banyak korban jiwa.


Rhiana menghembuskan nafas pelan. Sebelum melangkah maju, Rhiana menatap ke arah Dalfa yang juga menatapnya. Melihat anggukan tanda kakaknya itu mengerti dengan tatapannya, Rhiana dengan tenang menerobos polisi di depannya.


"Apa yang ingin anda lakukan, Nona? Bergabunglah bersama mereka. Di sini berbahaya!"


"Lalu, kalian akan membiarkan anak itu mati begitu saja?" Rhiana menjawab sambil terus melangkah menuju anak laki-laki itu.


"Tapi, Nona... apa yang bisa anda lakukan? Tidak mungkin anda akan menjinakkan bom, 'bukan?" Rhiana tidak menggubris polisi yang masih terus mengoceh itu. Rhiana mempercepat langkahnya membuat polisi muda itu segera menahan lengannya.


"Nona...jangan memaksa saya menggunakan kekerasan. Jangan menambah beban kami!" Polisi itu berbicara dengan nada marah.


"Apa aku terlihat seperti lelucon, sehingga kamu menganggapku beban?" Nada suara Rhiana penuh intimidasi. Rhiana berbicara tanpa memikirkan usianya yang masih di bawah umur.

__ADS_1


Glek!


Polisi muda itu menelan ludahnya takut. Aura gadis di depannya ini sangat mengintimidasinya. Aura gadis ini membuatnya tidak bisa berkutik. Gadis di depannya ini lebih menakutkan dari pada instrukturnya semasa latihan menjadi seorang polisi dulu. Benar-benar menakutkan!


Tanpa melakukan banyak gerakan, polisi itu melepas cengkramannya pada lengan Rhiana.


Orang-orang menatap Rhiana dengan bermacam ekspresi. Apa yang akan dilakukan gadis bermasker itu? Mereka tentu saja penasaran. Mereka juga tidak tahu pembicaraan apa yang terjalin antara Rhiana dan polisi muda itu.


Mereka hanya menatap dari jauh langkah Rhiana yang semakin mendekat ke arah bocah laki-laki itu dan sang kapten polisi yang sedang menenangkannya.


***


"Apa yang ingin anda lakukan, Nona?" Tanya kapten polisi itu tidak senang.


Rhiana tidak menjawab dan segera menatap datar waktu yang terus bergerak mundur. Pandangan Rhiana melembut ke arah anak laki-laki yang sedang menangis itu.


"Hei, adik kecil... sebagai laki-laki, menangis itu sangat memalukan," Rhiana mulai berbicara dengan suara lembut pada anak kecil di depannya yang seketika diam tetapi masih sesegukan. Tangan kecilnya kini mengucek matanya guna menghentikan air matanya.


"Aku menangis karena melihat mami menangis, Kak." Rhiana cukup kaget, ternyata bocah ini menangis bukan karena takut, tapi karena melihat ibunya menangis.


"Jangan menangis lagi. Lihat gadis kecil di sana... dia sedari tadi menatapmu. Kamu tidak malu?" Sambil berbicara, tangan Rhiana bergerak lembut menyentuh bom yang masih melekat di perut anak kecil itu.


Kapten polisi yang sedari tadi berjongkok di depan anak kecil itu hanya menatap Rhiana dengan pandangan tidak biasa. Dia tentu kagum dengan kalimat Rhiana yang mampu membuat anak kecil di depannya ini seketika diam.


"Kenapa dia menatapku, Kak?" Tanya anak laki-laki itu dengan pelan.


"Karena kamu tampan," Rhiana menjawab dengan tangan bergerak mengambil gunting kecil di saku celananya.


"Benarkah?"


Rhiana tersenyum tipis dibalik maskernya. Tangan mungilnya terus bergerak dengan hati-hati mencari komponen yang setidaknya bisa menghentikan waktu bom untuk meledak.


"Iya. Tapi... siapa namamu, adik kecil?" Rhiana bertanya sebelum mengalihkan pandangannya melihat angka berwarna merah yang terus berganti itu. Tersisa 3 menit lagi.


"Namaku Dion, Kak. Apa yang sedang kakak lakukan? Kenapa angka merah itu terus berganti, Kak?"


"Nama yang bagus! Angka merah ini terus berganti, menunjukan sebentar lagi akan ada letusan kembang api di sini." Rhiana menjawab sambil tangannya bergerak memotong salah satu kabel dari bermacam kabel di bom itu.


"Tapi... Kata paman yang memasang ini padaku bukan seperti itu, Kak."


"Paman? Apa yang dia katakan? Kamu tahu seperti apa wajahnya?" Tanya Kapten polisi yang sedari tadi diam. Jiwa introgasinya kumat seketika.


"Kata paman itu..."


"Nona, seseorang sedang menargetkan anda sekarang." Terdengar suara melalui chip di belakang telinga Rhiana.


Rhiana hanya samar-samar mendengar apa yang dikatakan Dion, karena pandangannya beralih mencari keberadaan Yeandre. Ternyata kakak Lycoris itu juga sedang menatapnya intens. Sepertinya pria itu mengenalinya sebagai gadis misterius yang menolongnya di sekolah waktu itu.


Melihat Yeandre masih aman, Rhiana kembali fokus pada bom di depannya. Waktu terus bergerak mundur menunjukan 02.05. Rhiana mengerutkan kening karena komponen bom ini sangat berbeda dengan 10 bom yang dia jinakkan sebelumnya. Ini cukup sulit.


"Kak..."


"Kenapa?"


"Dion percaya kakak. Jadi, biarkan saja ini terus bergerak mundur. Dion ingin melihat kembang api," Suara Dion terdengar lucu.


Rhiana menghentikan tangannya sebentar. Dia tidak menyangka, bocah kecil ini begitu dewasa. Padahal orang lain khawatir, tetapi dia berusaha tenang.


Ibu Dion yang berdiri cukup jauh, masih menangis. Tapi hanya tangisan dalam diam. Ibu berusia 30-an itu sudah mendengar alasan Dion menangis, sehingga dia tidak lagi menangis histeris. Dia bersyukur ada orang baik yang mau menolong anaknya.

__ADS_1


__ADS_2