
Dor
Rhiana yang tadinya fokus menjinakkan bom, dikagetkan dengan satu tembakan di bahu kanan kapten polisi yang berada di sebelahnya. Rhiana mengerutkan kening. Jantungnya berdebar kencang. Ingatannya tiba-tiba kembali ke masa dimana Lycoris mati karena peluru dari seorang penembak jitu.
Kejadian waktu itu masih meninggalkan trauma padanya. Meski begitu, Rhiana berusaha untuk tidak goyah. Dia berusaha melawan trauma itu sendiri. Ini juga tidak Rhiana katakan pada orang lain termasuk keluarganya.
Sepertinya tangan kanan organisasi bawah tanah ingin bermain dengannya. Jika dia ingin Rhiana mati, sudah pasti peluru itu diarahkan padanya. Kenyataannya, peluru itu justru bersarang di bahu kanan kapten polisi yang berada di sebelahnya.
"Lindungi mereka!" Kapten polisi itu memberi perintah sambil menutup bahunya yang terus mengeluarkan darah.
10 anggota polisi dengan sigab mengambil posisi mengelilingi Rhiana dan Dion.
Rhiana tidak punya waktu untuk memikirkan perlindungan dirinya, karena waktu pada bom terus bergerak mundur. Rhiana hanya memberi perintah melalui chip di belakang telinganya.
"Periksa atap di seberang gedung olimpiade!"
"Obati luka anda, Kapten." Rhiana kembali berbicara tanpa menoleh menatap kapten polisi yang ikut melidunginya dan Dion.
"Saya tidak apa-apa. Fokus saja pada bom itu! 4 menit lagi tim penjinak bom kami akan tiba."
Rhiana tidak menggubris perkataan sang kapten, dan terus menggerakkan tangannya. Menunggu tim penjinak bom? sama saja membiarkan mereka mati sia-sia. Rhiana terus memilih kabel pada bom itu, hingga Rhiana tiba-tiba membeku di tempatnya.
"Bawa semua orang menjauh dari sini, Kapten!"
Rhiana memberi instruksi setelah membaca ID yang tertera di bagian samping bom. Awalnya Rhiana ragu, ini bom dengan radius ledakan yang sangat besar melihat dari komponennya. Akan tetapi, ketika menemukan ID yang tersembunyi itu, Rhiana akhirnya percaya ini benar-benar bom dengan ledakan yang sangat besar.
"Jangan bilang..." Kapten polisi dengan cepat tahu maksud Rhiana. Dia lalu memberi perintah untuk mengevakuasi orang menjauh dari sana.
Padahal sudah sejauh ini, tapi tim bantuan sama sekali belum tiba. Entah itu dari pihak keamanan Rusia maupun tim medis, sama sekali tidak ada satupun yang datang. Saat ini mereka hanya mengandalkan tim medis olimpiade untuk sementara mengobati cedera ringan para korban ledakan bunuh diri tadi.
...
Rhiana kini membawa Dion dalam gendongannya ingin masuk ke dalam gedung, untuk mengantisipasi agar ledakan tidak terlalu berdampak nanti pada orang-orang di luar. Terlalu banyak komponen yang sulit dan memakan banyak waktu, sehingga Rhiana mengambil jalan lain selain menjinakkan bom.
"Ada apa, Kak?"
"Kakak bisa meminta tolong padamu?" Rhiana bertanya sambil berjalan cepat dengan Dion dalam gendongannya.
Orang-orang yang menonton, sedang dibawa menjauh beberapa kilometer dari area gedung. Ibu Dion sendiri meski khawatir, berusaha tenang karena dia percaya pada Rhiana dan ikut menjauh dari sana.
__ADS_1
"Tutup mata dan telingamu." Rhiana berbicara setelah melihat Dion mengangguk.
"Anak pintar,"
"Apa yang kamu rencanakan?" Suara Marie yang kini menyusul di belakang Rhiana dan Dion.
"Bantu aku membawanya nanti," Rhiana tidak menjawab Marie dan justru menurunkan Dion di depan pintu masuk gedung olimpiade.
"Kamu..." Marie sepertinya menebak apa yang Rhiana rencanakan.
"Jaga dia untukku. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir," Rhiana berbicara pada kedua kakaknya lewat chip di belakang telinganya ketika dia melihat Dalfi ingin menuju ke arahnya dari kejauhan.
"Bisakah aku ikut dengan kakak?" Dion berbicara pada Rhiana yang kembali sibuk dengan bom di tubuhnya. Kali ini Rhiana hanya ingin melepas bom yang diikat di tubuh Dion.
"Kamu harus ikut bersama kakak Marie. Kakak akan membuat Dion melihat kembang api dari kejauhan. Nanti kakak akan menyusul kalian. Dion percayakan sama kakak?"
"Kak..." Dion dengan patuh mengangguk tapi matanya berkaca-kaca. Sepertinya bocah itu tahu apa yang akan terjadi.
"Bawa ini bersamamu. Kakak akan mencarimu untuk mengambilnya," Rhiana tersenyum tipis dibalik maskernya setelah memberikan ponsel miliknya pada Dion. Itu alasan agar Dion tidak khawatir padanya.
"Dion akan menunggu kakak mengambilnya,"
BOMM!!!
Setelah Marie hampir sampai di kerumunan orang-orang, ledakan besar membuat semua orang menunduk karena tanah yang mereka pijaki ikut bergetar, padahal mereka sudah sangat jauh dari gedung olimpiade itu.
Semua orang yang menyaksikan bagaimana perjuangan seorang gadis misterius dari awal hingga berlari masuk dengan bom di tangannya ke dalam gedung olimpiade, tertegun. Bagaimana bisa ada orang sebaik itu? Bagaimana bisa ada orang yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi banyak orang? Dia rela mati seorang diri demi mereka semua.
Semua saksi di sana ikut bersedih, dan bahkan berdoa untuk gadis misterius itu. Mereka yakin, gadis itu tidak mungkin selamat, mengingat ledakan besar yang membuat gedung olimpiade itu rata dengan tanah. Jelas sekali, tidak akan ada orang yang selamat dari ledakan sebesar itu.
...
Dalfa dan Dalfi syok melihat ledakan itu. Melihat gedung olimpiade yang rata dengan tanah, jantung keduanya berdebar. Bagaimana keadaan adik kesayangan mereka?
Dalfi dengan cepat menekan chip di belakang telinganya mencoba menghubungi sang adik. Akan tetapi, koneksi keduanya tidak tersambung. Jelas sekali chip itu pasti rusak. Kalau begitu, bagaimana dengan Rhiana?
Dalfa yang tahu koneksi mereka dengan Rhiana tidak lagi terhubung, menjadi lemas. Saudara kembar Rhiana itu tiba-tiba jatuh berlutut. Adik kesayangannya... apa yang akan dia katakan pada kedua orang tuanya? Kedatangan mereka ke sini untuk menjaga Rhiana. Tapi kini... bukankah ini sama saja dengan membiarkannya berjuang sendiri?
"Mari percaya padanya. Aku yakin, dia tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada rencana. Adik kita bukan orang biasa," Dalfi menepuk pelan bahu Dalfa berniat menghiburnya, meski dirinya sendiri juga khawatir setengah mati.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kak Anya?" Axtton tiba-tiba muncul di samping Dalfi.
Tentu saja dia khawatir dengan kakak kesayangannya itu. Dia juga menyaksikan dari jauh tindakan kakak kesayangannya dengan kagum. Hingga melihat bagaimana Rhiana membawa bom dan berlari masuk ke dalam gedung, kemudian meledakkan diri. Axtton ingin sekali berteriak di sana. Akan tetapi, dia berusaha menahan diri agar identitas Rhiana tidak ketahuan.
***
Tiga menit berlalu.
Tim penjinak bom beserta bala bantuan dari pihak keamanan Rusia baru saja tiba.
"Segera periksa reruntuhan gedung. Jangan lewatkan lubang kecil sekalipun!" Seorang pria paru baya dengan pakaian lengkap khas polisi memberi perintah.
Para bantuan yang baru tiba segera menuju gedung olimpiade untuk mencari jejak Rhiana di bawah reruntuhan itu. Sedangkan tim medis mulai merawat para korban.
"Maaf, Komandan. Kenapa penjinak bom tidak bisa datang dengan helikopter? Jika mereka tiba lebih cepat, pasti tidak akan ada korban jiwa." Kapten polisi segera menghadap dan mengeluh. Bahunya sudah diperban.
Jujur saja, Kapten polisi itu geram dengan tindakan lamban pihak kepolisian Rusia. Ada satu helikopter yang tersedia untuk keadaan darurat. Bagaimana bisa itu tidak digunakan di saat seperti ini? Tentu saja dia marah.
"Itu sedang digunakan oleh Jendral ke pertemuan penting." Dengan santainya sang komandan menjawab.
Hanya pergi ke pertemuan harus menggunakan helikopter? Mereka yang membutuhkan penjinak bom di saat kritis justru disuruh menunggu. Benar-benar jawaban yang membuat orang emosi.
Kapten polisi itu tidak berbicara lagi. Jabatannya tidak sebesar itu untuk memberikan protes. Dia hanya bisa berbalik dengan sopan dan berusaha bertanya di sekeliling, apa ada yang mengenal gadis misterius itu. Sayangnya, tidak ada yang mengenal siapa gadis yang sudah menolong Mereka semua.
...
Di saat semua orang khawatir dan sedang menunggu hasil pencarian pihak kepolisian, seorang pria terlihat bergerak di antara kerumunan mencari seseorang. Dia sudah mencari sedari ledakan bom bunuh diri terjadi hingga keluar gedung, tetapi orang yang dia cari tidak ditemukan dimana-mana.
Pria itu frustasi dan masih terus mencari dengan wajah khawatir. Beberapa kali dia harus menghela nafas berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia mengeluarkan ponsel di saku celananya dan membuat panggilan. Sayangnya, hanya suara operator yang terdengar.
"Kemana kamu pergi?" Pria itu bergumam setelah mengusap kasar wajahnya.
"Bri... pelatih memanggilmu." Seorang menghampiri pria itu yang tidak lain adalah Brilyan.
***
Uhuk... uhuk...
Terdengar batuk kecil seseorang setelah memuntahkan air. Dia mengerutkan kening kemudian memposisikan dirinya untuk duduk. Pandangannya beralih ke arah kakinya. Itu sudah membiru dan bengkak. Benar-benar sakit.
__ADS_1
Dia berusaha berdiri dengan menahan sakit pada kakinya. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu, dia kembali menghela nafas. Langkah kakinya dipaksakan untuk pergi dari sana.