
BUGH!
Artya meninju tembok kamar mandi salah satu kamar VIP di Flower's Hospital. Artya terus mengumpat karena tidak bisa menahan diri. Pria itu kemudian melirik ke bawah. Dia sedang mandi air dingin.
Artya kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat mengeluarkan peluru di bahu Rhiana. Melihat dan menyentuh punggung itu, tiba-tiba keinginan biologisnya muncul seketika.
Bagaimana bisa keinginannya muncul saat dia hanya menyentuh punggung itu? Sial! Artya tidak tahu sampai kapan dia bisa menahan dirinya seperti ini. Tato indah di punggung Tupai kecilnya itu membuatnya frustasi. Sudah satu jam dia mandi air dingin, dan ini belum berakhir.
Tidak biasanya dia seperti ini. Sejak dulu hingga usianya 20 tahun, ini pertama kalinya dia memiliki keinginan ini. Sejak kehadiran istri kedua ayahnya, ibu Brilyan, Artya sudah menanam prinsip dalam hatinya agar tidak memiliki hubungan dengan gadis manapun selain ibunya.
Padahal setelah kematian ibunya, Artya semakin memperkuat prinsip hidupnya untuk tidak mengenal mahkluk berjenis kelamin perempuan. Tapi kenyataannya, kehadiran Rhiana mengubah prinsip hidupnya. Kehadiran Rhiana membuatnya bisa membuat banyak ekspresi dan mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan.
Padahal debaran jantungnya yang tidak normal membuatnya mendatangkan dokter ahli untuk memeriksa tubuhnya. Tapi semua dokter itu hampir dibunuh karena mengatakan hal yang sama. Untung saja, Felix sebagai orang kepercayaan, dan orang yang perkataannya masih sedikit didengar oleh Artya mau memberi pengertian, sehingga nyawa para dokter itu selamat.
Untuk memperkuat hipotesis para dokter itu, Arya menyuruh Felix memasok buku-buku yang berkaitan dengan kondisi tubuhnya sehingga dia akhirnya tahu apa yang terjadi padanya.
"Tupai kecil, mari menunggu sedikit lagi." Gumam Artya dalam hati.
Yang bisa Artya lakukan untuk sekarang adalah menunggu hingga waktu yang tepat. Tidak mudah menaklukkan Tupai kecilnya. Apalagi keluarganya. Artya akan membuat Rhiana menjadi miliknya seutuhnya suatu saat nanti. Dia berharap itu tidak memakan banyak waktu. Sebab, kesabarannya tidak sebanyak itu. Entah sampai kapan dia bisa menahan dirinya.
...
"Apa yang kamu rasakan, Baby?" Dalfa bertanya dengan lembut.
Rhiana sudah sadar beberapa menit lalu. Dan orang pertama yang dia lihat adalah Dalfa. Rhiana bersyukur karena bukan Artya yang dia lihat. Entah kemana pria itu pergi, Rhiana tidak peduli. Dia bisa berterima kasih pada pria itu nanti.
"Biasa saja, Kak. Bagaimana dengan Yeandre?"
"Kamu tidak menanyakan orang yang mengobatimu? Betapa menyedihkannya pria itu."
"Apa kakak yang memberitahunya?" Rhiana menatap memicing pada kakak kembarnya. Jika benar Dalfa yang memberitahu Artya, maka dia akan memberi perhitungan dengan kakaknya itu.
"Tentu saja tidak. Kakak juga kesal karena dia tiba-tiba muncul dan membuat kehebohan. Kamu tahu, Baby. Dia hampir saja menutup rumah sakit ini. Untungnya pemilik rumah sakit segera memohon ampun. Jika tidak, kamu pasti tahu apa yang akan terjadi." Dalfa bercerita dengan heboh.
"Ck... dia selalu saja bertindak sesukanya," Rhiana mendengus dan ingin meraih gelas berisi air di atas nakas.
"Hahaha... kakak beradik itu sepertinya bersaing untuk mendapatkanmu, Baby. Kira-kira siapa yang akan kamu pilih?" Dalfa berbicara sambil tertawa. Tangannya juga membantu Rhiana mengambil gelas di atas nakas untuk kesayangannya itu.
"Jangan bahas mereka, Kak. Aku ingin tahu keadaan Yeandre."
__ADS_1
"Ya, sudah. Kamu menanyakan pria itu? Dia sudah seperti orang gila di luar."
"Maksud kak Dalfa?"
"Dia sepertinya khawatir padamu. Dia ada di luar. Sudah beberapa kali dia menanyakan keadaanmu,"
"Biarkan saja dia, Kak."
"Tentu saja. Karena dia, kamu begini. Jadi kakak akan membiarkan dia menunggu seperti itu. Jika dia pingsan juga tidak masalah. Masih banyak kamar kosong di rumah sakit ini." Rhiana menggeleng sebelum menarik senyum tipis. Kakaknya yang satu ini selalu bisa menghiburnya.
Beberapa menit kemudian.
"Coba tebak, siapa yang membuat keributan, Baby?" Dalfa tersenyum tipis pada Rhiana.
Keduanya memang mendengar keributan di luar ruang rawat Rhiana.
"Entahlah. Aku berharap hanya satu orang, Kak." Rhiana sendiri sudah tahu siapa biang keributan itu.
...
"Jadi... seseorang tolong jelaskan padaku, ada apa dengan keramaian ini." Rhiana berbicara dengan nada kesal. Tentu saja dia kesal karena kamarnya dipenuhi dengan arang-orang yang tidak ingin dia lihat.
Rhiana menghembuskan nafas pelan mendengar penuturan Yeandre. Sudah menjadi tugasnya untuk menjaga pria itu jadi tidak masalah. Tapi, ada baiknya juga dia menggunakan kesempatan ini untuk menjadi dekat dengan kakak sahabatnya ini agar misinya berjalan lancar.
"Aku khawatir karena kamu tidak menjawab panggilanku," Brilyan juga mengutarakan isi hatinya. Dia tidak mungkin ketinggalan.
Brilyan juga baru tahu keadaan Rhiana dari salah satu bawahan Felix yang mengawasinya. Bawahan asisten kakaknya itu tidak sengaja berbicara dengan rekannya dan memberitahu keadaan Rhiana, sehingga Brilyan mengancam mereka untuk memberitahu rumah sakit mana yang merawat Rhiana.
Rhiana hanya mendelik melihat Brilyan dan menoleh menatap Dalfa yang terlihat menahan tawa. Kakak kembarnya itu pasti senang melihatnya tidak nyaman dengan kehadiran tiga pria ini di kamar rawatnya.
"Kamu tidak penasaran kenapa aku di sini, Tupai kecil?" Artya yang tidak dipedulikan oleh Rhiana merasa tidak senang.
Bisa-bisanya Tupai kecilnya ini mengabaikannya, padahal dia sudah bersusah paya mengobatinya. Tentu saja dia bersusah paya menahan diri selama mengeluarkan peluru di bahu kanan Rhiana.
Rhiana menatap tajam Artya. Rhiana sengaja mengabaikan pria itu mengingat sifat si tiran ini tidak peduli dengan situasi dan kondisi. Jika dia memberi kesempatan pada Artya, pria itu akan berbicara seenaknya. Dan akan membuatnya kerepotan mengurus Brilyan dan Yeandre.
"Bagaimana keadaan kak Anna?" Rhiana penasaran dengan respons Yeandre tentang gadis yang pria itu cintai. Padahal Rhiana jelas tahu apa yang sudah terjadi pada Annalisha setelah dibawa pergi oleh Gledy.
"Anna... dia dibawa ke kantor polisi dengan tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan. Aku minta maaf mewakilinya. Tolong maafkan dia, Rhi. Aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Annalisha yang aku kenal selama tiga tahun bukan orang seperti itu. Tapi... aku tidak memiliki bukti kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini. Tolong maafkan dia, Rhi."
__ADS_1
"Ly... Kakakmu ini sepertinya sangat mencintai kak Anna. Dia bahkan tidak memperhitungkan apa yang sudah dilakukan gadis yang dia cintai." Gumam Rhiana dalam hati.
Rhiana menghela nafas sebelum menghembuskannya pelan kemudian berbicara pada Yeandre.
"Jika Kak Andre memiliki bukti itu, tolong bagikan juga padaku. Sampai bukti itu ada, Kak Anna akan tetap ditahan di kantor polisi."
Rhiana sengaja mengatakan ini karena dia tahu alasan sebenarnya Annalisha seperti itu. Untuk mendapatkan bukti yang lebih kuat, yang akan membantu misinya, Annalisha sedang diperiksa khusus oleh Gledy, alih-alih ditahan di kantor polisi.
"Baik. Sek-"
PRANG!
Suara berisik mengganggu pendengaran, terdengar di ruangan rawat Rhiana. Suara itu mengalihkan perhatian semua orang pada satu objek yang tidak terlalu jauh dengan tempat tidur Rhiana.
"Terlalu banyak debu di sini. Cari ruangan lain, Felix. Aku tidak suka tempat ini!"
Rhiana menatap kesal pada objek itu. Pecahan gelas itu pasti perbuatannya. Pria itu pasti sengaja menarik perhatian karena diabaikan.
"Bukankah kamu terlalu kejam pada orang yang sudah mengobatimu?" Dalfa berbisik pada Rhiana. Kakak kembar Rhiana itu hanya ingin melunak sedikit pada Artya karena sudah mengobati kesayangannya.
"Bukan urusanku." Rhiana membalas dengan cuek.
"Jika kakak tidak suka di sini, sebaiknya pergi. Jangan mengganggu kami." Brilyan berbicara dengan datar pada Artya. Tentu saja dia tidak suka melihat wajah kakak beda ibu dengannya itu.
"Kakak senior juga. Jika sudah meminta maaf, sebaiknya pergi dari sini."
Orang pertama yang Brilyan tidak suka adalah Yeandre. Yang dia tahu, kakak seniornya itu adalah orang yang Rhiana suka. Setelah itu, Artya. Disusul dengan Dalfa dan Dalfi. Brilyan tidak suka melihat para pria itu berada dekat dengan Rhiana.
"Kalian bertiga, jika urusan di sini sudah selesai, sebaiknya pergi dari sini." Dalfa juga menyuarakan pendapatnya.
Kemunculan tiga orang ini jika membuat adiknya tidak nyaman, Dalfa tentu saja akan mengusir mereka. Dalfa tidak sadar bahwa orang-orang ini tidak tahu hubungannya dan Rhiana adalah kakak beradik.
"Kamu bukan siapa-siapa Rhiana. Sebaiknya kamu juga pergi." Brilyan segera menyahut dengan tidak senang.
Brilyan lebih kesal lagi karena Dalfa adalah orang pertama yang tahu Rhiana terluka. Setelah itu, Artya yang mengobati Rhiana. Selanjutnya Yeandre. Sedangkan dia sendiri orang terakhir yang tahu. Dia bahkan tidak melakukan apa-apa untuk kesembuhan Rhiana. Betapa kesalnya dia.
Brilyan merasa, Rhiana sama sekali tidak menganggapnya ada. Brilyan kecewa karena Rhiana tidak mengandalkannya di saat gadis itu terluka. Brilyan merasa hubungan mereka sekarang masih sangat jauh. Entah kapan Rhiana akan mengandalkannya dan bergantung padanya.
"Sebaiknya kalian semua keluar! Biarkan aku istirahat. Terlalu berisik!" Rhiana membuka suara dengan kesal. Lebih baik dia mengusir para pria ini keluar. Dari pada dia menyisakan satu, yang lain pasti tidak akan mengalah. Dia terlalu malas berceramah hari ini.
__ADS_1