Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Insiden II


__ADS_3

Rhiana menatap menyipit pada Leon yang terlihat tidak memiliki jiwa. Mata Leon terlihat kosong. Pria ini sepertinya dikendalikan? Rhiana menghembuskan nafas pelan setelah duduk di salah satu kursi. Pusing juga harus memikirkan keadaan pria asing ini.


Leon saat ini sedang diborgol oleh pihak keamanan yang baru tiba beberapa menit lalu. Leon hanya terduduk dengan pandangan kosong di lantai club tenis.


Rhiana tidak membutuhkan waktu lama untuk menangkap Leon yang sedang menghajar beberapa penjaga di club tenis. Rhiana tidak perlu susah payah, karena dia hanya perlu menyerang bagian vital Leon dari belakang hingga pria itu tidak bisa bergerak yang memudahkan pihak keamanan menangkapnya.


"Terima kasih banyak, Nona Rhiana. Saya berhutang banyak pada anda. Apa sebaiknya anda saya pekerjakan di tim keamanan perusahaan?" CEO Gibran berbicara dengan ramah setelah duduk di sebelah Rhiana.


"Hahaha... saya hanya bercanda. Tidak mungkin saya mempekerjakan anak di bawah umur." CEO Gibran kembali melanjutkan karena tatapan tajam Rhiana padanya.


"Sudah waktunya saya pulang, Pak. Saya akan membawa anak sekolah itu bersama saya." Maksud Rhiana adalah Triztan. Pria itu tidak mau pergi ke rumah sakit, jadi Rhiana hanya akan menemaninya jalan-jalan sebentar sebelum mengantarnya pulang.


"Tapi, bagaimana dengan saksi dan-"


"Oh, iya. Saya harap apa yang terjadi hari ini tidak sampai terekspos keluar. Saya tidak ingin menjadi pusat perhatian. Saya harap anda mengerti, Pak." Dengan mengatakan itu, CEO Gibran hanya mengangguk mengerti.


Padahal kebanyakan orang suka menjadi pusat perhatian, apalagi saat melakukan aksi yang begitu keren seperti tadi. Nyatanya, gadis kecil ini sungguh berbeda dengan orang lain.


"Baiklah. Jangan lupa datang lagi minggu depan dan bermain bersama anak-anakku, ya idola? Selengkapnya akan disampaikan oleh gurumu. Yang jelas, kamu tidak bisa menolak karena kontrak sudah ditanda tangani." Perkataan CEO Gibran dihadiahi cibiran dari Rhiana yang kemudian berlalu pergi dari sana.


Rhiana tidak bisa membantah jika sudah ada kontrak. Sepertinya tidak buruk juga dia bermain sebentar di Star's Sport.


Rhiana menguap sebentar sebelum masuk lift menuju lantai 1. Apa yang terjadi di sini akan diurus oleh CEO Gibran, jadi dia bisa tenang. Sekarang dia hanya perlu menemani Triztan yang mungkin masih syok, sekaligus bertanya ada urusan apa dia ke sini.


***


Rhiana menatap ponselnya. Tumben sekali tidak ada notifikasi mengganggu yang selalu muncul. Padahal dia sudah membuka akses ponselnya untuk nomor lain. Tapi, sudah hampir seminggu ini tidak ada yang mengganggunya.


"Apa yang sebenarnya dipikirkan si penggila kebersihan itu?" Gumam Rhiana dan menatap keluar kelas.


Rhiana heran karena Artya sama sekali tidak mengirimnya pesan apapun. Padahal pria itu biasanya akan membombardir ponselnya dengan panggilan tak terjawab maupun pesan beruntun saat akses untuknya dibuka.


"Sudahlah. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Seharusnya aku senang tidak ada pengganggu,"


[Mohon perhatian untuk semua siswa! Mulai hari ini sampai bulan depan, keamanan akan diperketat. Semua orang akan tinggal di asrama yang sudah disiapkan sekolah tanpa terkecuali.


Pihak sekolah sudah menghubungi keluarga masing-masing untuk menyiapkan perlengkapan kalian yang masih berada di rumah. Itu akan tiba nanti sore, jadi semua orang akan tinggal di asrama mulai malam ini.


Semua ini dilakukan untuk mengantisipasi korban dalam sekolah, dan penyusup yang masuk ke lingkungan sekolah! Untuk lebih jelasnya akan disampaikan oleh keluarga masing-masing. Sekian!]


Pengumuman itu membuat semua siswa heboh. Ada yang marah, senang, bahkan bingung. Mereka marah karena kebebasan mereka untuk bermain diluar dibatasi, senang karena ingin merasakan bagaimana tinggal di asrama, dan bingung dengan keputusan sekolah yang tiba-tiba.


"Ada insiden sejak kamu pergi kemarin," Brilyan membuka suara tanpa diminta.


"Insiden apa?"


"Kelas musik dan komputer hampir semua siswanya terluka akibat perbuatan teman sekelas mereka yang tiba-tiba mengamuk. Ada sekitar 5 siswa di kelas musik, sedangkan 3 siswa di kelas komputer yang menderita luka parah dan dilarikan ke rumah sakit. Setengah kelas mengalami luka ringan jadi hanya diobati di UKS. Sisanya hanya syok."


"Huh? Bukankah ini sedikit mirip dengan Leon dari club tenis?" Ucap Rhiana dalam hati.


Rhiana kemudian mengirim pesan meminta dikirimkan kejadian lengkap saat dia tidak ada di sekolah.


"Bagaimana keadaan siswa yang menyerang itu?"


"Aku tidak tahu. Mau aku cari tahu?"


Rhiana menggeleng kepalanya, "Tidak usah repot-repot."


Lagipula dia bisa tahu nanti dari orang kepercayaannya. Jadi, tidak perlu sampai membuat pria satu ini terus menempel padanya.


"Tunggu sebentar, aku akan mendapatkannya untukmu." Brilyan kemudian berdiri dan keluar kelas. Pria itu akan melakukan apa saja demi orang yang dia sukai. Hanya mencari tahu keadaan dua orang? itu hal yang mudah.


Rhiana menatap datar kepergian Brilyan sebentar sebelum memulai obrolan grup dengan kedua saudara kembarnya.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Apa yang terjadi selama aku tidak ada?^^^


πŸ“© Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Kalau tidak salah, namanya Cello dan Limbord. Mereka tiba-tiba menyerang teman sekelasnya.


πŸ“© Si Dingin tapi PosesifπŸ˜’:


Ciri-ciri fisik mereka mirip dengan orang yang mengkonsumsi serum X.


πŸ“© Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Send photo. Itu foto salah satu siswa yang berhasil kakak dapatkan.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Aku kepikiran sesuatu, Kak.^^^


πŸ“©Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Ada apa?


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Beberapa hari lalu aku melihat ibu Sienna berbicara dengan siswa itu.^^^


πŸ“© Si Dingin tapi Posesif πŸ˜’:


Begitu, ya.


πŸ“© Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Mau kakak ikut bantu?


^^^πŸ“¨ Rhiana membalas Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:^^^


^^^Tidak apa-apa, Kak. Aku sedang menunggu kabar dari kak Abrazav.^^^


πŸ“© Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Ya, sudah.


Rhiana tidak membalas lagi karena pesan masuk dari orang yang disuruhnya baru saja masuk.


πŸ“© Abrazav:


Mengirim file.


Mengirim video.


Mengirim video.


Mengirim video.


Mengirim video.


πŸ“© Abrazav:


Semua informasinya sudah saya lampiran dalam file di atas, disertai rekaman cctv, Nona.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Kerja bagus, terima kasih, Kak.^^^


πŸ“© Abrazav:


Sama-sama, Nona.


Rhiana menarik senyum tipis membaca isi file berupa dokumen yang cukup panjang itu. Tanpa melihat video, Rhiana sudah menebak apa isinya. Untuk sekarang itu akan disimpan sebagai bukti.

__ADS_1


TING


πŸ“© Si Dingin tapi Posesif πŸ˜’:


Sepertinya dugaanmu benar, Baby.


πŸ“© Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Kakak ikut penasaran apa yang sedang kamu lihat. Ayo lihat bersama!


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Tepat seperti yang aku pikirkan, kak. Untuk sekarang aku akan menyimpannya dulu. Ini akan berguna di waktu yang tepat, Kak.^^^


πŸ“© Si Dingin tapi Posesif πŸ˜’:


Oke.


πŸ“© Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Setidaknya biarkan kakak melihatnya juga!


Rhiana menggeleng kepalanya sebelum membalas pesan Dalfa.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Mengirim file^^^


^^^Mengirim video^^^


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Satu video sudah cukup, kan?^^^


Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ:


Sebentar, aku sedang membuatnya untuk ditonton bersama. Terima undangannnya,


...Si Jahil Dalfa πŸ™ˆ mengundang anda untuk menonton bersama....


...Terima/tolak?...


Rhiana hanya tersenyum dan menekan terima. Sebelum itu, Rhiana sudah memasang earphone agar video yang ditontonnya tidak terdengar oleh orang lain.


Untungnya kelas hari ini kosong sehingga semua siswa bebas melakukan apa saja.


***


[Mohon perhatian untuk semua siswa! Masuk ke kelas masing-masing dan kunci pintunya. Tidak ada yang boleh keluar sebelum saya memberi izin!]


Suara kepala sekolah kembali menggema di pengeras suara sekolah.


[Apa yang terjadi?]


[Kenapa kita disuruh masuk ke kelas?]


[Padahal aku mau ke kantin,]


[Kamu dari luar, apa kamu tahu apa yang terjadi?]


[Aku! Aku tahu apa yang terjadi!]


[Kejadian yang menimpah kelas musik dan komputer, hari ini terjadi lagi di kelas teater.]


[Maksudmu ada siswa yang mengamuk lagi?]


[Benar. Kali ini korban juga lumayan parah dari kelas sebelumnya.]


[Apa karena insiden ini kita diharuskan tinggal di asrama?]


[Sepertinya begitu,]


Rhiana hanya menatap keluar jendela tanpa mempedulikan percakapan teman sekelasnya. Mendengar tempat kejadian di kelas teater, Rhiana sudah bisa menebak siswa mana yang kali ini mengamuk. Tentu saja karena data siswa itu sudah termasuk dalam file yang dikirim padanya.


Rhiana masih belum tahu apa tujuan ibu Sienna melakukan hal ini. Jika benar para siswa yang mengamuk itu karena mengkonsumsi serum X, maka identitas ibu Sienna harus dipertanyakan.


Rhiana tidak bisa bergerak sekarang karena mereka dilarang keluar sekolah. Sedangkan para siswa yang menjadi korban sedang dirawat di rumah sakit. Padahal jika bisa, Rhiana ingin sekali mengambil sampel darah korban untuk diuji oleh dokter ahli milik mommynya.


Sayangnya, ibu Sienna yang sedang bertugas menjaga para korban. Dan dokter yang ditugaskan juga orang yang dipilih ibu Sienna sendiri. Bukankah ini semakin mencurigakan? Rhiana bahkan tidak bisa menyuruh Gledy karena robot pintar itu sedang ada misi penting dari mommynya.


***


"Aku sudah menyuruh Paman Yan agar menjemput Bibi Ratih," Brilyan membuka pembicaraan karena sejak tadi Rhiana sibuk dengan ponselnya dan juga pemandangan diluar jendela. Padahal dia sangat ingin dilihat juga oleh Rhiana.


"Eh... terima kasih banyak, padahal aku sudah memesan taxi untuk ibu." Rhiana sedikit kaget karena sedang mendengar laporan melalui chip di belakang telinganya.


"Tidak apa-apa. Bibi pasti kerepotan jika harus naik taxi. Tidak usah khawatir, Paman Yan akan mengurus semuanya." Brilyan tersenyum tipis menatap Rhiana yang memasang wajah tidak enak padanya. Wajah itu terlihat menggemaskan di matanya.


"Te... terima kasih. Nanti aku traktir makan," Rhiana dengan enggan mengatakan itu. Padahal dia sibuk dengan urusannya, tapi dia harus membalas budi pada si pria satu ini.


"Bagaimana kalau makan masakan buatanmu bersamaku?" Sudah lama Brilyan ingin makan masakan Rhiana setelah makan mie berkuah waktu itu. Meski hanya mie sederhana tapi terasa lezat baginya.


"Banyak maunya, anak ini." Dengus Rhiana dalam hati.


"Baiklah. Aku akan memasak setelah kita masuk asrama,"


"Aku menantikannya," Ucap Brilyan sangat senang.


Rhiana hanya membalas dengan senyum tipis sebelum mengalihkan pandangannya pada ponsel karena balasan pesan yang ditunggunya sudah tiba.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Send photo^^^


^^^Kamu kenal orang ini?^^^


πŸ“© Marrie:


Siapa dia?


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Aku sedang bertanya!^^^


πŸ“© Marrie:


😁 Maaf... Aku tidak mengenalnya.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Kamu bisa bercanda juga rupanya. Aku pikir kamu hanya seorang robot.^^^


πŸ“© Marrie:


Huh? Jangan membuatku kesal.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Hei... begini-begini, aku ini majikanmu. Hargailah aku sedikit,^^^


πŸ“© Marrie:


Iya, bos. Tapi aku memang tidak kenal dengan wanita di foto itu.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^

__ADS_1


^^^Ya, sudah. Tidak ada berita terbaru?^^^


πŸ“© Marrie:


Tidak ada. Kami belum berhasil mendapat penawaran serum X, bos. Maafkan kami.


^^^πŸ“¨ Rhiana:^^^


^^^Tidak apa. Akan kuhubungi lagi jika ada perlu.^^^


πŸ“© Marrie:


Siap, Bos.


Rhiana kembali membuka dokumen kiriman Abrazav padanya membaca lagi nama-nama siswa yang bertemu dengan ibu Sienna.


"Pertama kelas musik, kedua kelas komputer, ketiga kelas teater, dan terakhir... dimana kelas ini?" Ucap Rhiana dalam hati sedang berpikir dimana letak kelas siswa terakhir dalam data yang sedang dibacanya ini.


PUK


Rhiana menepuk jidatnya baru tersadar.


"Bagaimana bisa aku lupa dengan kelas sendiri?" Gumam Rhiana sebelum berdiri dan menatap seisi kelasnya satu persatu.


Bingo!


Rhiana menarik senyum tipis setelah menemukan apa yang dia cari. Itu seorang siswa yang terdiam di pojok kelas sambil menatap buku di mejanya.


Rhiana berpindah dari tempat duduknya ingin menghampiri siswa itu. Jika bisa, Rhiana ingin menghentikan aksi mengamuk siswa itu lebih awal.


SRET


BRAK


SET


[Argggghhh...]


[Kyakkk]


[Grend? Kenapa menusuk mata Rorri?]


[Kyakk... Grend mengamuk! Seseorang tolong tahan dia.]


[Tapi... dia membawa pisau. Kita bisa terluka,]


[Jika dia tidak bisa ditahan, kita semua bisa terluka!]


SRET


GREP


"Jangan ke mana-mana. Tetap bersamaku, aku akan melindungimu." Rhiana yang ditarik ke pelukan Brilyan cukup kaget. Lucu juga sisi pria ini. Tapi Rhiana harus menolong Grend.


"Tunggu... kenapa aku tidak bisa hanya menonton saja? Kenapa aku harus bertindak juga? Kenapa aku harus repot-repot membantu orang lain yang tidak aku kenal? Kenapa aku harus mengorbankan nyawa sendiri untuk orang asing?" Entah kenapa Rhiana tiba-tiba memikirkan ini.


Tidak ada untung baginya menolong orang yang tidak dia kenal. Percuma dia menjadi pahlawan kesiangan yang pada akhirnya hanya meninggalkan luka pada tubuhnya sendiri.


"Tapi, kenapa mommy selalu berkorban untuk orang lain? Mereka bahkan orang asing. Kenapa mommy seperti itu?" Rhiana menghela nafas tidak mendapat jawaban yang dia inginkan. Tangannya yang tadinya berada di dada Brilyan kini beralih ke bawah. Rhiana ingin melihat keributan yang semakin menjadi-jadi.


"Iyan, aku..."


"Tidak apa-apa, jangan takut. Aku akan menjagamu. Percaya padaku, hum?"


"Hei, bung. Maksudku bukan begitu. Pelukanmu juga tolong dikondisikan, aku bisa mati terjepit." Kesal Rhiana dalam hati.


[KYAKKKK...]


[Dia menuju ke...]


SRET


"Ugh..."


Rhiana mendengar rintihan setelah Brilyan berputar membelakangi keributan. Jangan bilang...


"Lepaskan aku!" Rhiana kesal karena Brilyan masih memeluknya dengan erat, padahal Rhiana yakin Grend sedang mencabik-cabik punggung Brilyan.


"Tidak."


Anehnya lagi, kenapa Brilyan tidak melawan dan hanya membiarkan punggungnya disayat oleh Grend? Kedua saudaranya juga kenapa tidak membantu Brilyan? Kenapa mereka membiarkan Grend menyerang ke arahnya?


[Kenapa di kelas kita ada dua orang?]


[Untung ada Dalfa dan Dalfi yang membantu,]


[Tapi, kasihan Brilyan.]


"Huh? Dua orang? Tiba-tiba? Kenapa aku tidak tahu?"


Rhiana semakin kesal. Apa yang sebenarnya direncanakan ibu Sienna? Wanita itu bahkan membuat dua orang di kelasnya mengamuk.


SRET


Rhiana meremas kuat dada Brilyan sebelum berputar kemudian menendang Grend yang masih dengan senangnya menyayat punggung Brilyan.


BUGH


BRUK


Sekali tendangan, Grend terjatuh. Begitu juga dengan pelukan Brilyan yang terlepas.


SET


"Jangan, Rhia. Jangan lagi. Biar aku saja," Brilyan menahan tangan Rhiana. Padahal seragam putihnya sudah berubah warna menjadi merah.


"Tidak lama. Jangan lupa jika aku juara 1 takewondo," Rhiana harus berbicara seperti itu agar Brilyan membiarkannya pergi.


"Aku tidak ingin kamu terluka, Rhia."


"Tidak apa-apa," Rhiana tersenyum tipis pada Brilyan sebelum melepas pelan tangan Brilyan yang memegang pergelangan tangannya.


BUGH


BUGH


BUGH


BUGH


Empat kali pukulan di wajah Grend dari Rhiana yang kesal membuat wajah pria itu bengkak juga mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.


"Tidak baik memanfaatkan anak sekolah untuk rencana busukmu, sialan." Bisik Rhiana pada Grend. Jika memang serum X yang bekerja, maka suara Rhiana pasti tersampaikan pada si pelaku.


BUGH


Sekali pukulan lagi dan Grend pun pingsan. Rhiana yang masih duduk di atas perut Grend segera berpindah ke arah Brilyan.


"Buka pintunya. Brilyan harus dibawa ke rumah sakit." Rhiana yang sedang kesal tidak lagi mempedulikan sapaan dan hanya berbicara dengan menatap cctv. Entah apa yang dilakukan kepala sekolah hingga belum ada bantuan yang muncul di kelasnya.


Rhiana segera memapah Brilyan keluar setelah pintu terbuka. Rhiana bahkan tidak peduli dengan Dalfi yang menahan Dodiz yang memberontak, sedangkan Dalfa yang membantu siswa yang terluka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Like jika kalian suka chapter ini.


Sampai jumpa lagi.


__ADS_2