Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Desa M


__ADS_3

Jalan Utama, Swiss.


"Saat memata-matai wanita itu, apa kamu melihat ada yang aneh?" Tanya Dalfa membuka pembicaraan dalam mobil.


"Entahlah." Dalfi menjawab singkat.


"Hm... kamu tidak melihat ada orang yang disandera?" Tanya Dalfa setelah memutar setir mobil yang dikendarainya untuk berbelok arah.


"Tidak."


"Saat aku bersembunyi di ruangan Sienna, aku mendengar pembicaraan dua orang ilmuwan. Mereka bercerita tentang seorang gadis, yang katanya tubuhnya kebal terhadap serum X. Bahkan saat dosisnya sudah ditambahkan, tapi tubuh gadis itu tetap menolaknya. Kamu yakin tidak melihatnya?"


"Hm."


"Aneh... Jelas-jelas kata mereka gadis itu ada di laboratorium,"


"Gledy!" Panggil Dalfi.


"Aku di sini!" Jawab suara dari sistem hologram yang muncul dari kemudi mobil.


"Ke mana mereka pergi?"


"Rumah sakit sekolah elit Swiss."


"Kembali ke laboratorium. Cari jejak orang yang bukan bagian dari mereka,"


"Oke." Sistem hologram itu kemudian menghilang.


"Ini dugaanku saja, tapi jangan-jangan sandera itu... tapi itu pasti tidak mungkin. Pikiran bodoh..." Ucap Dalfa menggeleng merasa mustahil dengan pikirannya sendiri.


"Besok kita harus berangkat ke Jerman. Ada laboratorium milik Sienna yang baru diresmikan dua bulan lalu. Setelah itu Inggris, Prancis, Thailand, dan terakhir Rusia, pusat dari semuanya." Ucap Dalfi sambil menatap layar iPad di tangannya. Ada coretan garis besar rencana pemusnahan semua pendukung Sienna.


"Oke. Jangan lupa laporkan keadaanmu pada mommy."


"Hm."


Berbicara tentang sang mommy, hampir saja mereka tidak bisa menjalankan rencana ini. Tentu saja karena kedua orang tua mereka menentangnya. Zant dan Rihan, orang tua Dalfa dan Dalfi baru saja kehilangan satu anak. Mereka tidak bisa membiarkan anak mereka pergi menjalan misi yang berbahaya.


Dalfi mengerti apa yang dikhawatirkan kedua orang tuanya, tapi Dalfi lebih khawatir jika kedua orang tuanya yang meski masih sangat kuat, pergi untuk misi ini. Lebih baik dia dan Dalfa yang pergi. Dalfa dan Dalfi membujuk kedua orang tua mereka selama dua hari dan akhirnya membuahkan hasil.


Mereka diberi izin, juga perbekalan yang lengkap. Semua kebutuhan mereka terpenuhi tanpa terkecuali. Karena ini misi yang berbahaya, sehingga kedua orang tua mereka memberikan banyak perlengkapan untuk bertahan dan menyerang. Para anggota cruel devil juga dikerakan untuk membantu jika diperlukan. Mereka diizinkan pergi, asalkan setiap hari harus melaporkan situasi dan kondisi mereka. Setiap hal kecil sekalipun, mereka wajib melaporkannya.


...----------------...


Tiga Bulan kemudian.


Desa M. Desa terpencil di pinggiran negara bagian Afrika Timur.


BRAK


Pintu sebuah kamar didobrak oleh seorang pria dengan ekspresi marah.


"Sampai kapan kamu merawatnya, Louis? Kamu tahu bagaimana keadaan keluarga kita. Makan dan minum sehari-hari untuk tiga orang saja, kita serba kekurangan. Kamu seharusnya tahu keadaan desa ini. Sekarang kamu menambah orang lagi? Apa yang kamu pikirkan? Menjauh darinya... Ayah akan membawanya pergi."


"Jangan ayah! Kasihan dia..."


"Dia memang terlihat Kasihan, tapi kamu yang lebih Kasihan. Jatah minummu yang hanya segelas untuk sehari, kamu bagikan padanya. Apa yang kamu pikirkan? Tubuhnya terbungkus tulang, tapi tubuhmu lebih parah darinya. Kasihanilah dirimu lebih dulu, Louis!"


SREK


"Sudahlah, ayah. Aku bisa membagi jatahku dengan Louis. Dia seperti begini karena anak itu mirip dengan Louisa. Dia hanya terlalu merindukan Louisa. Biarkan saja, ayah. Aku akan bekerja di pabrik dan ladang untuk tambahan makanan kita,"


"Terserah kalian. Jika sampai kamu sakit, gadis itu ayah buang!"


"Terima kasih, Kak." Ucap Louis, anak laki-laki berusia 12 tahun itu setelah kepergian sang ayah.


"Dia memang terlihat seperti Louisa, tapi kamu harus memperhatikan kondisimu juga. Jangan sampai penyakitmu kambuh, Louis."


"Iya, Kak Steven."

__ADS_1


"Ini untukmu. Hari ini kakak dapat jatah lebih. Makanlah!"


"Tidak. Aku tidak lapar. Kak Steven saja yang makan. Kakak sudah bekerja keras, jadi kakak yang harus makan lebih banyak," Louis menolak dengan tegas.


Kruyukkkk


"Tidak lapar apanya, itu perutmu keroncongan. Makan bersama kakak kalau begitu."


SRET


Steven dengan pelan membagi dua ubi panggang yang masih terasa sedikit hangat itu dengan Louis. Kakak beradik itu kemudian menikmati sepotong ubi panggang untuk makan siang itu dengan rasa syukur.


"Dia sedikit lebih tinggi. Apa dia lebih tua dariku?" Tanya Louis sambil menatap pada wajah pucat dan kurus gadis yang sedang tidur di ranjang itu.


"Entahlah. Mungkin usianya lebih mudah darimu? Wajahnya masih sangat muda, meski dia terlihat kurus dan pucat."


"Begitu, ya. Sudah tiga bulan dia seperti ini, kapan dia bangun, kak?" Ucap Louis merenung.


"Bagaimana dengan eksperimenmu? Kamu butuh bantuan kakak?" Tanya Steven.


"Masih dalam tahap penyulingan, Kak. Tersisa satu daun lagi, maka obatnya berhasil dibuat. Tapi daun itu sulit didapat. Aku sudah coba mencari di hutan sekitar sini, tapi tidak ada, Kak. Aku tidak bisa masuk lebih jauh, karena para penjaga sudah memaksaku keluar. Percuma kalau tidak ada daun itu, kak. Kalau saja obat itu berhasil dibuat, aku yakin dia pasti segera sembuh."


"Besok kakak bantu cari. Ayo kita pergi sedikit lebih jauh dari desa. Kita bisa masuk hutan sedikit lagi. Pasti daun itu ketemu,"


"Iya, Kak. Terima kasih. Tapi, bagaimana dengan para penjaga?"


"Kamu tenang saja, kakak punya rencana."


"Baiklah. Aku percaya pada kakak,"


Steven tersenyum melihat adiknya yang lebih muda 8 tahun dengannya ini. Steven masih mengingat jelas seperti apa kondisi Louis saat saudara kembarnya, Louisa meninggal. Louis yang tidak pernah sekalipun berjauhan dengan Louisa sejak mereka tumbuh besar bersama, tentu saja sangat terpuruk.


Setelah kematian Louisa karena penyakit dan juga karena kelaparan, membuat Louis mulai berkutat dengan pengobatan tradisional yang dipelajarinya dari buku yang tidak sengaja didapatnya dari mantan kepala desa. Tujuan Louis belajar pengobatan tradisional agar tidak melihat orang yang dikenalnya mati di depan matanya lagi.


Suatu hari, tepatnya tiga bulan lalu, Louis yang kembali dari hutan saat mencari daun obat, pulang larut malam dengan membawa gadis kurus yang basah kuyup di punggungnya. Awalnya Steven marah, karena mengingat mereka kesusahan untuk makan dan minum. Tapi, saat melihat cahaya dimata adiknya yang sudah dua tahun ini redup, Steven tidak bisa marah lagi. Steven berjanji dalam hatinya akan menjaga cahaya itu agar tidak padam lagi.


"Tangannya baru saja bergerak, kak. Aku melihatnya, kak." Suara Louis terdengar sangat bersemangat. Steven tersenyum dan mengusap kepala Louis.


"Itu berarti obat yang kamu berikan padanya selama ini bekerja dengan baik,"


"Andai saja daun obat itu ada, aku yakin dia akan segera sembuh," Keluh Louis.


"Besok, kita ke hutan. Ayo cari daun itu sama-sama." Louis hanya membalas dengan anggukan.


Dua hari kemudian.


Hutan Desa M.


"Selamat siang, Pak penjaga. Nama saya Steven. Hari ini saya yang bertugas mengantar makan siang," Steven dengan ramah menyapa dan memberi bekal makan siang pada dua penjaga yang berjaga di pintu masuk hutan.


"Selamat siang. Terima kasih sudah mengantar makan siang kami, nak Steven." Salah satu penjaga menyahut dengan ramah. Penjaga yang satunya lagi hanya mengangguk dan tersenyum.


"Sama-sama, pak. Saya pamit kalau begitu, Permisi, pak."


"Iya. Hati-hati di jalan,"


"Hati-hati, nak Steven."


Steven yang meninggalkan gerbang masuk hutan, menyeringai. Pria berusia 20 tahun itu lalu bergegas ke arah Louis yang sedang menunggunya.


"Jadi, kapan kita bisa pergi ke hutan, kak?" Tanya Louis sambil menatap kakinya yang bergerak maju mundur.


"Kita tunggu beberapa menit lagi. Obatnya pasti akan bereaksi,"


"Jangan bilang, kakak menaruh obat pencahar pada makanan mereka?" Louis terkejut dengan kelakuan kakaknya.


"Iya. Kakak memakai sedikit dari bahan-bahan milikmu. Untungnya resep obatnya ada di buku itu, jadi kakak mencoba membuatnya. Ternyata berhasil."


"Kak Steven ini ada-ada saja. Terserah kakak. Lain kali jangan begitu lagi, kalau ketahuan bagaimana?"

__ADS_1


"Hahaha... Tidak apa-apa. Ayo pergi. Sepertinya mereka sudah pergi karena sakit perut. Ayo lari, sebelum dilihat orang lain." Steven kemudian menarik tangan Louis dan berlari masuk hutan.


Satu jam kemudian.


Tempat tinggal Steven dan Louis.


"Terima kasih, Kak. Akhirnya daun obatnya ketemu. Karena bantuan kakak, kita tidak sengaja menemukan rambutan dan beberapa buah liar di hutan. Ini setidaknya cukup untuk beberapa hari. Karena obat pencahar itu, kita bisa kembali tanpa ketahuan. Terima kasih, Kak. Aku harus segera membuat obatnya." Louis sangat bersemangat.


"Ya sudah, kakak juga harus siap-siap ke ladang."


Louis dengan sedikit bersenandung, memasuki kamar. Betapa terkejutnya Louis melihat kamar itu kosong. Bukannya gadis asing itu tidur di ranjang? Kemana dia pergi? Jangan bilang...


"KAK STEVEN... KAKAK..." Teriak Louis dan berlari ke kamar Steven dengan panik.


"Ada apa?" Steven ikut panik melihat Louis yang sudah menangis.


"Dia tidak ada di kamar, kak. Apa ayah sudah membawanya pergi? Bagaimana ini, kak? hiks... kenapa ayah sejahat itu?" Louis sudah menangis layaknya menangisi seseorang yang disayanginya yang menghilang.


"Tenang dulu. Kakak akan bertanya pada ayah,"


"Hiks... iya, kak."


KRIETT


Suara pintu mengalihkan perhatian Steven dan Louis. Mereka berpikir sang ayah sudah kembali setelah membuang gadis asing itu.


"Louis, lihat siapa yang datang." Ucap Steven.


"Eh... ternyata ayah tidak membuangnya?" Ucap Louis terkejut. Gadis asing itu hanya memiringkan kepalanya tidak mengerti apa yang dikatakan Louis.


"Dia baru saja bangun, sebaiknya kamu lihat kondisinya, Louis."


"Ah... benar juga. Ayo ke kamar," Louis dengan hati-hati menarik lengan gadis asing itu ke kamarnya.


***


"Tubuhmu masih sangat lemah, jangan pergi begitu saja, bagaimana kalau kamu tersesat? Kamu tidak dilihat orang, kan?"


"Tenang dulu, Louis. Biar kakak yang bertanya padanya."


"Namaku, Steven. Ini adikku, Louis. Kamu sekarang di rumah kami di Desa M. Louis menemukanmu yang terbawa air laut sampai ke hutan desa ini. Boleh aku tahu, siapa namamu? Apa yang terjadi padamu?"


"Aku tidak tahu,"


"Sepertinya dia hilang ingatan, kak." Bisik Louis pada Steven.


"Iya. Jadi apa yang mau kamu lakukan padanya?" Steven ikut berbisik.


"Karena kamu tidak ingat apa-apa, bagaimana kalau untuk sementara kamu tinggal di sini? Tenang saja, kami bukan orang jahat. Aku janji akan membantumu sampai ingatanmu kembali. Sampai saat itu, jangan pergi, ya." Gadis itu hanya mengangguk polos.


"Bagaimana kalau kami memberimu nama? Harus ada nama agar mudah memanggilmu. Bagaimana?" Tanya Louis. Gadis itu mengangguk lagi.


"Mulai sekarang namamu, Louisa. Aku 12 tahun. Aku tidak tahu berapa umurmu, jadi aku anggap kamu lebih mudah dariku. Panggil aku Louis. Apa yang kamu butuhkan, katakan saja padaku dan kak Steven.


Steven terkejut karena Louis memakai nama saudara kembarnya pada gadis asing itu. Jika Louis memakai nama itu, apa itu berarti Louis sudah menyayangi gadis itu? Steven tidak berkomentar, dan hanya tersenyum menatap Louis terlihat senang.


"Louisa... nama yang cantik. Terima kasih," Ucap gadis dengan nama baru Louisa itu dan tersenyum manis.


Deg


Dua orang yang melihat senyum manis itu terpesona. Selama tinggal di desa, ini senyum termanis yang pernah mereka lihat. Tentu saja itu senyum termanis setelah ibu dan Louisa yang sudah meninggal.


"Ekhem... jadi Louisa, mau makan bersama? Aku punya banyak buah di sini. Semoga kamu suka," Ucap Louis setelah menenangkan diri.


"Ya. Terima kasih sudah menolongku. Aku juga akan membantu kebutuhan di sini,"


"Boleh saja, asalkan tubuhmu benar-benar sudah pulih." Balas Steven.


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2