Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Keluarga Scoth


__ADS_3

PLAK


Suara tamparan terdengar dalam kamar. Rhiana cukup kaget dan tidak menyangka melihat pemandangan ini. Jadi ini cara kerja si tiran. Benar-benar tidak kenal ampun. Rhiana bisa pastikan pipi itu akan membengkak hingga beberapa hari. Tamparan dari Felix sama sekali tidak memikirkan siapa yang dia tampar. Mau pria atau wanita, hasil tamparan itu tetap sama.


"Apa yang-"


"Kesalahan anda karena sudah masuk sembarangan ke sini, Nona. Ini peringatan untuk anda." Felix segera memotong pembicaraan.


"Bagaimana bisa aku diperlakukan seperti ini, Kak? Padahal ibu sangat menyayangiku, hiks... Ibu tidak pernah sekalipun memukulku, hiks..." Sienna mulai meneteskan air mata.


"Ibu memang menyuruhku menjagamu, tapi jika kamu melewati batas, tidak ada ampun bagimu. Sudah ada aturan di sini. Jangan pernah mencoba untuk melanggarnya. Yang boleh melanggar aturan di disini hanya Tupai kecilku. Selain dia dan aku, tidak ada yang berhak."


Rhiana masih tercengang dengan sifat tirannya seorang Artya. Padahal ibu Artya sudah menulis pada surat agar menjaga Sienna seperti menjaga ibunya, tapi Artya sama sekali tidak melakukan itu. Entah kenapa pria itu bertindak seperti ini.


"Apa ada cemilan, Kak?" Rhiana terpaksa membuka suara. Dia cukup kasihan melihat pipi Sienna yang sudah membengkak. Jika tidak segera diobat, kasihan dengan status gurunya.


"Saya akan meminta pelayan menyiapkannya, Nona." Felix dengan cepat membuka suara sebelum diperintah. Hitung-hitung mengambil hati majikan masa depannya. Selain itu, dengan adanya nyonya rumah, Felix yakin dia tidak akan ditindas lagi jika dia berhasil dikasihani.


"Bawa dia bersamamu." Artya memberi perintah dengan dingin.


"Baik, Tuan. Ikuti saya, Nona."


Sienna dengan ekspresi marah yang ditahan, mengikuti Felix dengan tenang. Rhiana bisa melihat tangan terkepal Sienna dari belakakng.


GREP


"Tolong elus kepalaku, Tupai kecil."


"Jika dipeluk seperti ini, bagaimana aku bisa mengelusmu, Kak." Rhiana mengeluh karena pelukan Artya begitu erat. Tubuh mungilnya bahkan terbungkus tubuh besar Artya. Selain itu, pria ini baru saja marah-marah tadi. Kenapa suasana hatinya berubah begitu cepat?


"Sudah," Artya hanya membiarkan satu tangan Rhiana lolos untuk mengelus kepalanya, sedangkan tangan Rhiana yang lain dibiarkan memeluknya.


"Kakak terlalu kejam pada ibu Sienna. Dia seorang guru, bagaimana dia bisa pergi sekolah besok jika pipinya terluka?"


"Aku tidak peduli. Dia bisa mengambil cuti sakit."


"Jika suatu hari aku melakukan kesalahan, apa kakak akan menghukumku seperti itu juga?" Rhiana bertanya karena sedikit penasaran.


"Tidak. Kamu boleh melanggar aturan di rumah ini. Hanya kamu yang aku izinkan bertindak sesuka hati di sini. Jadi, tidak masalah jika kamu menghancurkan rumah ini sekalipun. Aku memberimu hak penuh!" Artya menjawab dengan tenang. Matanya terpejam karena menikmati elusan Rhiana di kepalanya.


"Wah... Aku merasa beruntung. Apa besok, aku bakar saja rumah ini? Sepertinya seru."


"Silahkan saja. Aku masih bisa membeli 100 rumah baru untukmu. Asal jangan pernah meninggalkanku. Itu saja yang aku inginkan darimu, Rhiana."


GLUP


Rhiana menelan ludahnya gugup. Kenapa pria ini seakan tahu dia sedang merencanakan pelarian?


"Padahal Ibu Sienna cantik, loh. Masa kakak tidak mau? Ibu Sienna cocok bersanding dengan kak Artya. Aku masih terlalu muda," Rhiana sedang membujuk Artya dengan dalih bercanda.


"Aku sudah memilihmu sejak awal. Keputusanku tidak bisa diubah, Rhiana. Kamu hanya milikku!" Rhiana hanya menghela nafas tidak ingin memulai perdebatan dengan Artya.


...****************...


"Tuan muda Brilyan ingin bertemu anda, Tuan. Beliau sudah menunggu di ruang tamu," Felix melapor pada Artya yang sedang menopang kepalanya menatap Rhiana yang asik mengemil sambil menonton TV. Jarak keduanya cukup jauh untuk mendengar pembicaraan masing-masing.


Rhiana yang memiliki pendengaran tajam, dapat mendengar perkataan Felix tetapi berpura-pura tidak tertarik dan sibuk mengambil keripik jagung dalam wadah besar di pelukannya dan mengunyahnya dengan tenang.


Sesekali Rhiana menyesap susu kotak yang tersedia dalam berbagai rasa yang disiapkan Artya agar dia tidak bosan. Karena kehidupan sehari-harinya dalam kurungan Artya hanya makan dan tidur, Rhiana merasa berat badannya sepertinya bertambah setiap hari.


"Untuk apa dia mencariku?" Artya bertanya dengan malas.


"Sepertinya Tuan muda Brilyan mengetahui keberadaan Nona Rhiana, Tuan."

__ADS_1


"Suruh dia pulang!"


"Baik, Tuan."


"Ada apa, Kak?" Tanya Rhiana setelah menghampiri Artya berpura-pura penasaran. Felix sudah keluar beberapa menit lalu.


"Kekasih palsumu mencarimu. Dia ada di ruang tamu. Mau bertemu dengannya?" Artya sengaja bertanya. Jika Rhiana ingin bertemu, Artya tentu saja akan melarang dengan tegas.


"Apa dia mencariku? Haruskah aku bertemu dengannya? Sudah lama aku tidak melihatnya. Sepertinya aku sedikit merindukannya,"


Melihat mood Artya yang tiba-tiba berubah buruk karena laporan Felix, Rhiana dengan senang hati ingin memperkeruh suasana hati pria itu. Sudah beberapa hari dia menahan diri memulai perdebatan dengan Artya. Sekarang waktu yang tepat mengusik pria ini.


"Ho... Kamu ingin bertemu dengannya? Kamu yakin?" Artya menautkan kedua tangannya di depannya menatap Rhiana dengan seringai khasnya.


"Hehe... Iya, Kak. Apa tidak boleh?" Rhiana tiba-tiba merasa ragu dengan keputusannya mengganggu Artya.


Artya tersenyum tipis menatap Rhiana sebentar sebelum mengambil ponselnya. Artya menekan ponselnya sebelum terdengar deringan memanggil seseorang. Ponselnya kembali diletakkan di atas meja. Entah siapa yang ditelepon pria itu. Deringan panggilan masuk cukup keras.


"Halo, Tuan. Apa ada misi?"


^^^"Aku tidak ingin nama Brilyan Scoth terdengar lagi."^^^


"Saya mengerti, Tuan. Akan saya selesaikan tanpa meninggalkan jejak satupun. Saya akan melapor keberhasilan misi dua hari lagi,"


^^^"Aku ingin mendengarnya besok. Lakukan itu besok!"^^^


"Baik, Tuan. Sesuai keinginan anda,"


Panggilan berakhir.


Rhiana berkedip cukup tercengang. Dari pembicaraan Artya, jelas sekali pria itu sedang memberikan misi untuk membunuh Brilyan. Bukankah pria ini terlalu kejam? Dia ingin membunuh adik tirinya? Ternyata julukan tiran bukan sembarang julukan. Benar-benar tidak kenal ampun.


"Tunggu sebentar, Kak. Sepertinya aku salah dengar," Rhiana ingin memastikan apa yang dia pikirkan salah.


"Memangnya apa yang kamu dengar?" Artya bertanya dengan santai.


"Tidak ingin mendengar namanya kamu mengartikannya seperti itu? Kamu sangat menggemaskan, Tupai kecil." Artya tertawa kecil karena merasa Rhiana sangat menggemaskan.


"Jadi..."


"Aku ingin nama Brilyan tidak terdengar lagi bukan hanya di Swiss, Tupai kecil. Kamu mengerti maksudku, 'kan?"


"Baiklah. Aku baru ingat ada game yang belum aku mainkan. Selamat bekerja, Kak." Rhiana melenggang pergi ke kamar. Dia menyerah berdebat dengan Artya. Tentu saja dia tidak akan menang. Pria itu selalu bisa melawannya.


"Aku bisa lebih kejam jika itu berhubungan denganmu, Rhiana." Gumam Artya dan kembali membaca dokumen di depannya.


***


"Ada undangan dari rumah utama, Tuan." Felix meletakkan undangan di depan Artya yang sibuk membaca dokumen.


"Apa isinya?" Artya bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen.


"Akan ada peringatan kematian Nyonya besar. Tuan besar meminta semua keluarga wajib hadir, begitu juga dengan kerabat. Tamu dari keluarga investor juga diundang."


"Peringatan kematian nenek dari ayah? Jika aku tidak pergi, apa yang akan terjadi?"


"Anda harus hadir, Tuan. Sepertinya Tuan besar ingin membuat pengumuman penting. Saya rasa ini berkaitan dengan pewaris keluarga Scoth selanjutnya, Tuan."


"Sebenarnya aku tidak tertarik dengan posisi pewaris. Hanya saja, Tupai kecilku sudah terlibat dalam keluarga Scoth. Persiapkan semuanya. Aku akan datang bersama Tupai kecil,"


"Saya mengerti, Tuan. Akan saya siapkan."


"Pastikan agar Brilyan tidak mendekati Tupai kecil. Kamu bisa pergi."

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya pamit,"


...****************...


"Tidak bisakah aku tidak pergi? Padahal aku tidak ada hubungan keluarga," Rhiana mengeluh. Wajahnya sedang dirias sedikit atas permintaan Artya. Pria itu ingin Rhiana tampil sedikit berbeda saat bersama Brilyan.


"Keluar!" Artya memberi perintah dengan datar.


Felix yang membantu memakaikan jas pada Artya segera membungkuk dan keluar bersama gadis yang merias wajah Rhiana. Artya dengan tenang menghampiri Rhiana yang duduk di depan meja rias.


CUP


Artya mengecup bibir Rhiana yang sudah dilengkapi lipstik setelah cerry di sana.


"Aku akan mengambil alih keluarga Scoth. Dan kamu akan menjadi Nyonya Amstrong, juga Nyonya Scoth. Jadi, masih berani bilang bukan keluarga?"


"Padahal aku sedang malas menonton drama hari ini," Komentar Rhiana dengan cemberut.


"Drama?" Artya bertanya karena tidak mengerti.


"Ya. Sepertinya kakak lupa dengan pertemuan pertama kita. Waktu itu aku menjadi kekasih Brilyan. Kali ini aku muncul bersama kakak Brilyan. Bukankah itu akan membuatku dihina? Sebenarnya aku tidak peduli dengan perkataan orang, hanya saja aku sedang malas untuk menanggapi omelan keluarga Scoth."


"Jika ada drama, bukankah itu menarik? Kalau kamu tidak suka, aku bisa membunuh mereka untukmu. Tidak ada yang bisa menentangku!"


"Ya... ya... si tiran penggila kebersihan memang beda,"


Artya hanya tersenyum tipis dan mengecup dahi Rhiana. Tujuan lain Artya menghadiri peringatan kematian nenek dari pihak ayah adalah untuk menunjukan pada Brilyan, bahwa Rhiana sudah menjadi miliknya.


"Sudah, jangan cemberut lagi. Aku tidak bisa menahan godaan bibirmu, Tupai kecil." Perkataan Artya seketika membuat Rhiana memasang wajah datar.


"Benar juga. Apa sebaiknya aku pergi dengan penampilan asli? Tapi, justru penampilan tanpa penyamaran lebih mengundang perhatian. Sebaiknya tidak. hmm..." Ucap Rhiana pelan. Dia sedang menimbang apakah harus muncul sebagai Rhiana Veenick atau Rhiana Senora.


"Menjadi Rhiana Veenick atau Rhiana Senora, aku tidak peduli. Asalkan pergi bersamaku. Tapi, jika memilih, sebaiknya datang bersamaku sebagai Rhiana Senora."


Artya lebih memilih Tupai kecilnya datang sebagai Rhiana Senora untuk saat ini. Jika Rhiana muncul sebagai Nona muda Veenick, sudah pasti banyak pengganggu akan mendekatinya. Jadi, lebih baik Rhiana muncul dengan identitas palsu. Selain menghindari para lebah, identitas sebagai Rhiana Senora juga bagus untuk menunjukan pada Brilyan tentang kedekatan mereka.


...****************...


Untuk kedua kalinya Rhiana datang ke rumah utama keluarga Scoth. Jika waktu itu dia datang bersama Brilyan dan dihadiahi sindiran karena penampilannya yang culun, maka kali ini kemunculannya yang kedua mendapat sindiran yang lebih pedas dari sebelumnya. Tentu saja karena kemunculannya bersama kakak Brilyan, Artya.


Meski penampilan Rhiana tidak menonjol karena dia dalam penyamaran, tapi sindiran dan hinaan dari para tamu dan kerabat semakin memanas. Rhiana yang mendengar jelas semua cacian itu berpura-pura memasang wajah gugup dan tetap menggandeng lengan Artya masuk ke dalam gedung.


Penampilan Rhiana kali ini berbeda dan sedikit lebih cantik daripada penampilan sebelumnya ketika datang bersama Brilyan. Meski masih dalam penyamaran, tetapi Rhiana sudah cukup cantik untuk membuat Brilyan yang duduk di meja khusus keluarga utama terkesima.


Hanya saja, suasana hati Brilyan seketika berubah suram karena kehadiran Rhiana bersama Artya. Brilyan sangat marah pada Artya karena mengusirnya ketika datang mencari Rhiana beberapa hari lalu. Ternyata dugaannya tentang penculikan Rhiana yang didalangi oleh Artya benar. Betapa marahnya Brilyan.


"Kenapa kekasihmu datang bersama Artya?" Kakek Brilyan bertanya dengan pelan.


...****************...


"Ada yang bisa saya bantu, Prof?"


^^^"Bawa 'serum itu' padaku. Jangan sampai kamu diikuti."^^^


"Saya mengerti, Prof."


^^^"Secepatnya."^^^


"Baik. Tapi, Prof. Boleh saya tahu untuk siapa serum ini dipakai?"


^^^"Bukan urusanmu!"^^^


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Like dan komen jika kalian suka.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya!


__ADS_2