
"Tidak mungkin..."
"Ada apa, Sayang?" Tanya Zant menghampiri Rihan.
Zant bisa merasakan tubuh gemetar istrinya. Apa yang sudah terjadi? Zant memeluk istrinya sebentar untuk menenangkannya sebelum pria 40-an itu menatap kertas-kertas yang berserakan di atas meja.
"Ini..." Zant terkejut dengan apa yang dibacanya.
Hasil tes laboratorium yang tertulis di sana menunjukkan bahwa 97,02% itu adalah tubuh Rhiana. Bukan hanya satu kertas, tetapi ada banyak kertas hasil tes di sana. Selain tes darah, tes DNA, kulit, dan tes identitas lainnya, semuanya menunjukan bahwa jasad itu milik anak bungsunya. Melihat ratusan kertas di atas meja, jelas sekali jika istrinya sudah melakukan tes berulang kali dan hasilnya tetap sama. Tapi, bagaimana dengan tanda-tanda tatoo yang sama sekali tidak ada?
SYUK
"Sayang..." Teriak Zant terkejut karena Rihan yang jatuh pingsan di pelukannya.
Zant kemudian membawa Rihan dan membaringkannya di brankar. Zant lalu memeriksa kondisi Rihan. Untungnya istri tercintanya itu pingsan karena syok. Zant sedikit bernafas legah. Untuk sekarang dia harus menenangkan diri sebelum berbicara dengan kedua putranya.
"Tuan besar..." Panggil Dokter Galant mengalihkan perhatian Zant. Melihat kemunculan dokter pribadi keluarganya dengan tergesah-gesah, Zant yakin pasti terjadi sesuatu.
"Kenapa?"
"Jasad itu..." Hanya mendengar dua kata itu, Zant dengan cepat berdiri dan berlari keluar.
...----------------...
Deg
Rhiana menatap pria di depannya dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa pria ini ada di sini? Apa yang sudah terjadi selama dia tidak melihatnya? Bagaimana bisa pria ini berakhir bersama Sienna? Banyak pertanyaan terlintas di pikiran Rhiana.
CUP
Sienna dengan santainya berdiri dan memberi kecupan di bibir pria itu. Rhiana hanya menatapnya dengan terkejut. Tidak mungkin dia marah saat melihat sorot mata pria itu.
"Kenapa hidupmu begitu menyedihkan?" Ucap Rhiana setelah menenangkan dirinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Sienna tidak mengerti. Tapi gadis itu tahu, kalimat itu ditujukan padanya.
"Hidupmu ternyata penuh kepalsuan. Bisa-bisanya kamu menarik orang-orang dengan paksa ke sisimu. Sungguh menyedihkan,"
PLAK
"Tutup mulutmu!" Ucap Sienna marah setelah memberi tamparan kuat di pipi Rhiana. Sepertinya Sienna mulai mengerti apa yang Rhiana maksud.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kamu begitu marah? Jika dibandingkan denganku yang berada di sini, kamu jauh lebih menyedihkan." Provokasi Rhiana tanpa peduli dengan bibirnya yang mengeluarkan darah. Ternyata tamparan Sienna berhasil melukai bibirnya.
"Itu bukan urusanmu! Aku akan menunjukan padamu seperti apa kata menyedihkan itu. Mulai pertunjukan utamanya," Perintah Sienna.
Lodwik yang berada di sebelah Sienna segera menghampiri Rhiana. Pria itu kemudian melepas rantai yang memborgol tangan dan kaki Rhiana. Lodwik lalu menggendong Rhiana pergi. Sebelum itu, Lodwik sudah menyuntikkan entah cairan apa yang berwarna hijau pada leher Rhiana.
Rhiana yang tadinya ingin mengambil kesempatan untuk melawan, ternyata tidak berdaya. Tadinya dia berpikir, andai saja borgol yang mengekang kaki dan tangannya lepas, dia bisa bergerak bebas di sini dan mungkin melarikan diri.
Sayangnya, setelah borgol itu lepas dan tubuhnya beralih ke gendongan Lodwik, ternyata tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan. Sepertinya cairan yang disuntikkan tadi adalah cairan pelumpuh.
10 menit kemudian.
Rhiana sudah beralih diikat dengan posisi tergantung diantara dua tiang besi yang ada di laboratorium itu. Kedua tangannya diikat menjadi satu dan tergantung dengan kaki berjarak hanya beberapa sentimeter dengan lantai.
Sepertinya ini bukan hanya lab untuk uji coba bahan, tetapi merangkap tempat penyiksaan juga. Tiba-tiba saja sebuah kotak dibuka, isinya penuh dengan alat penyiksaan. Rhiana sudah bisa menduga, untuk siapa alat-alat itu akan digunakan.
Rhiana memejamkan matanya mempersiapkan diri. Sudah lama dia tidak merasakan sakitnya disiksa. Selama ini rasa sakit yang dirasakan berasal dari luka pelatihan yang menyakitkan dan luka karena misi. Jika dibandingkan dengan sakit karena disetrum waktu itu, alat-alat penyiksaan ini pasti lebih menyakitkan.
"Bukankah benda-benda ini cantik? Menurutmu, mana yang harus aku gunakan terlebih dahulu?" Tanya Sienna dengan santai. Sienna sedang menatap kotak berisi alat-alat penyiksaan itu.
__ADS_1
Rhiana yang diikat dengan tangan di atas, mengepalkan tangannya kesal. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan dengan benar. Kakinya yang tidak menginjak tanah kini sedang ditatap intens oleh Sienna sebelum beralih ke alat-alat penyiksaan.
Melihat arah pandang Sienna, Rhiana mengikutinya. Ternyata Sienna sedang menatap kain sepanjang 30 cm yang terbentang yang terdapat sekitar 20 jarum di sana. Rhiana memejamkan matanya sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Sienna padanya.
"Hm... sepertinya jarum-jarum ini akan terlihat cantik jika dipasangkan di kakimu," Ucap Sienna dan tersenyum menatap Rhiana.
"Mari kita coba!" Sienna kemudian mengambil satu jarum berukuran sekitar 20 cm. Sienna kemudian duduk dan mulai menyentuh kaki kanan Rhiana yang tidak menginjak lantai itu.
TSKK
"Ughh..." Ringis Rhiana saat Sienna berhasil menusuk jarum itu di ujung kuku kakinya hingga hanya tersisa sedikit jarum yang terlihat. Rhiana hanya bisa menggertakkan giginya menahan sakit.
"Ringisanmu terdengar indah di telinga, gadis tengil." Ucap Sienna dan berdiri. Rhiana bernafas dengan tergesah-gesah. Sakit karena jarum menusuk diantara kuku dan daging jari kakinya benar-benar sakit. Ini bahkan baru jarum pertama. Entah dia bisa bertahan atau tidak.
"Sepertinya akan menyenangkan jika dia yang melakukannya," Ucap Sienna sebelum memberi kode pada Brilyan untuk menggantikan tempatnya.
30 menit kemudian.
Wajah Rhiana sudah pucat pasih. Bayangkan saja, betapa tersiksanya gadis itu. Padahal baru beberapa jam dia menjalani operasi besar karena kondisinya, kini dia disiksa seperti ini. Rhiana mulai merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Apalagi tempat operasinya yang terus mengeluarkan darah.
Rhiana bisa merasakan ginjal pemberian Brilyan itu seakan ingin lepas dari tubuhnya. Belum lagi sepuluh jari kakinya yang terus berdenyut sakit dan mengeluarkan darah akibat jarum yang tertancap di sana. Itu semakin sakit karena yang melakukannya adalah Brilyan.
Rhiana rasanya ingin pingsan, tetapi Sienna tidak membiarkannya. Saat Rhiana terlihat akan pingsan, seorang penjaga di sana akan menyiramnya dengan air dingin. Penyiksaan yang dialaminya saat ini sudah seperti penyiksaan pada seorang mata-mata negara musuh.
"Ini pertama kalinya saya melihat tubuh seperti ini." Ucap seorang wanita paru baya yang membaca hasil pemeriksaan Rhiana. Sepertinya wanita itu adalah seorang dokter.
"Ada apa dengan tubuhnya?" Tanya Sienna yang saat ini sedang duduk sambil menikmati wine dengan santai.
"Ini sudah beberapa jam dia mengeluarkan darah, tetapi kondisinya tidak separah tubuh orang biasa. Saya sangat ingin membedah tubuhnya dan melihat isi di dalamnya."
"Hm... kalau begitu, dia pasti cocok menjadi kelinci percobaan."
"Saya juga sepemikiran, Nona. Jadi... haruskah saya mencobanya sekarang?" Ucap dokter wanita itu dengan berbinar.
"Baik."
Sienna kini menatap Rhiana yang tidak berdaya. Sienna lalu menghampiri Rhiana. Gadis itu kemudian mengambil gunting dan memotong baju pasien yang Rhiana kenakan. Tersisa tank top di atas pusat dan celana pasien yang melekat di tubuh Rhiana.
SRET
SRAK
Sienna menggunting kemudian merobek tank top bagian belakang Rhiana setelah mendapati tato di punggung Rhiana.
"Hm? Sepertinya aku pernah melihat ini di suatu tempat," Ucap Sienna menatap tato Rhiana. Sienna terus berpikir, hingga sebuah ingatan terlintas di pikirannya.
"Kenapa ibu menyimpan gambar ini?"
"Cantik, kan?"
"Iya. Siapa yang membuatnya?"
"Axell yang membuatnya. Katanya dia sangat menyukai gambar ini,"
"Tapi... kenapa bunganya harus menyatuh dengan pedangnya?"
"Pedang naga ini adalah benda pusaka keluarga Scoth. Sedangkan bunga ranuculus ini memiliki sejarah tersendiri dengan pedangnya,"
"Hm... kalau begitu, kenapa kak Axell menyukai gambar ini? Apa ada alasan khusus?"
"Ibu juga tidak tahu. Tapi katanya, dia akan menggambar ini untuk menandai miliknya. Dia memberikan gambar ini pada ibu karena ibu miliknya. Hahahah... lucu, kan?"
__ADS_1
Ingatan masa lalu itu membuat Sienna mengepalkan tangannya. Entah Artya yang menggambarnya atau tidak, Sienna kesal jika itu benar. Sienna kini beralih menatap alat-alat penyiksaan yang menunggunya. Sienna kemudian menyeringai dan mengambil sebuah cambuk.
CTARR
CTARR
CTARR
CTARR
CTARR
Sienna dengan membabibuta mencambuk punggung Rhiana dengan kuat. Tujuannya ingin menghapus tato yang menyebalkan di matanya. Rhiana sendiri hanya meringis tidak mampu lagi mengeluarkan suara. Rhiana terlalu lemah untuk mengeluarkan suaranya lagi.
"Kau tidak pantas memilikinya!"
CTARR
"Jangan pernah bermimpi menjadi miliknya!"
CTARR
"Axell milikku!"
CTARR
"Aku akan membuatmu memohon ampun!"
SRET
"Biar saja saya yang melakukannya, Nona. Tenangkan diri anda sebentar. Bawakan air untuk nona." Lodwik menahan tangan Sienna yang mengamuk. Melihat kemarahan dan ketidaksabaran Sienna, Lodwik segera menghentikannya. Tangan halus milik nonanya ini sudah terluka karena memegang cambuk terlalu kuat.
Sienna menghembuskan nafas pelan sebelum melepas cambuk hingga terjatuh ke lantai. Sienna dengan patuh mengikuti Lodwik untuk duduk. Lodwik, orang kepercayaannya itu juga mengobati tangannya yang sedikit terluka.
Hanya beberapa menit, tangan kanan Sienna sudah berbalut perban. Lodwik kemudian mengambil tempat Sienna sebelumnya. Lodwik dengan kuat mencambuk punggung Rhiana tanpa belas kasihan sedikitpun.
CTARR
CTARR
CTARR
CTARR
"Ugh..." Rhiana terus meringis dengan lemah.
CTARR
CTARR
"Apa yang terjadi padamu?" Suara Sienna terkejut melihat pria di sampingnya yang sedari tadi berdiri, tiba-tiba membungkuk memegang sandaran kursi sambil menyentuh dadanya.
Lodwik juga berhenti mencambuk Rhiana dan menghampiri Sienna.
Rhiana dengan lemah ingin melihat apa yang sudah terjadi. Melihat Sienna yang khawatir pada pria yang sudah dibuat bertekuk lutut padanya, Rhiana menghembuskan nafas pelan. Rhiana hanya bisa berdoa dalam hati semoga pria itu baik-baik saja. Sepertinya efek samping serum X mulai bereaksi.
"Sepertinya tubuhnya mulai menolak serum X, Nona." Ucap si dokter wanita itu setelah melakukan pemeriksaan.
"Tambahkan dosisnya." Ucap Sienna sambil memijit pelipisnya pusing.
"Baik, Nona."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...