Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Nyamuk Pengganggu


__ADS_3

Gledy merangkul Rhiana sambil berjalan menuju tempat chek-in. Di sepanjang jalan, banyak orang berdiri melihat Rhiana sudah seperti artis saja. Untungnya para pengawal bayangan membuka jalan mulai dari Cafe & Resto sampe bagian antrean untuk chek-in, sehingga Rhiana bisa bernafas legah.


Rhiana ingin memakai masker, tapi dia sadar, jika dia memakai masker, orang-orang akan mengenalinya sebagai gadis malaikat. Rhiana hanya menarik jaket Gledy agar lebih menutupi wajahnya. Dia tidak ingin fotonya diambil lebih banyak lagi.


"Sampai saja di sini, Gledy!" Rhiana berhenti setelah sampai di tempat chek-in.


Gledy mengangguk dan melepas rangkulannya. Robot itu dengan cepat pergi dari sana. Di belakang antrian Rhiana, ada peserta olimpiade dari Swiss.


Mereka tidak hanya berdiri. Ada beberapa orang sibuk mengambil foto Rhiana meski hanya bagian belakang.


Rhiana sedikit bernafas legah karena tidak ada yang mengambil fotonya lagi. Karena satpam bandara sudah mengamankan orang-orang yang bukan penumpang. Hanya sedikit orang di bagian antrian yang mengambil foto Rhiana.


Rhiana mengambil ponselnya di saku celananya karena mendengar notifikasi yang cukup berisik. Entah apa yang sedang terjadi.


Rhiana membuka ponselnya. Ternyata itu notifikasi komentar orang-orang yang sengaja dibagikan Dalfa padanya. Berarti, menjadi Rhiana si gadis cupu adalah penyamaran yang paling membuatnya aman sekarang. Rhiana menggeleng dan menyimpan kembali ponselnya.


Bertepatan dengan itu, suara berisik kembali terdengar. Rhiana mengalihkan pandangannya. Puluhan pria dengan jas hitam bergerak membuat pagar seperti membuka jalan untuk seseorang.


"Orang kaya mana yang ingin pamer di sini?" Gumam Rhiana dalam hati. Dia sendiri tidak sadar, jika dia juga melakukan hal yang sama tadi untuk sampai di sini.


Si Jahil Dalfa🙉:


Tebak, siapa yang datang?


^^^Rhiana:^^^


^^^Siapapun itu, aku tidak peduli!^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Kamu yakin?


^^^Rhiana:^^^


^^^Ya.^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Coba lihat sendiri!


Rhiana mengerutkan kening dan menoleh ke belakang. Dia bisa melihat siluet pria tampan dengan pakaian kasual yang menarik perhatian.


"Apa yang dia lakukan di sini?" Gumam Rhiana dan berusaha bergerak ke sisi yang tidak terlihat. Dia ingin bersembunyi dari pria itu.


Si Jahil Dalfa🙉:


Bagaimana?


^^^Rhiana:^^^


^^^Bisa tidak, aku melarikan diri sekarang, Kak?^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Keluar sekarang atau nanti, kamu tetap akan bertemu dengannya.😁


^^^Rhiana:^^^


^^^Ck... baiklah.^^^


Rhiana menyimpan ponselnya dan menarik tudung jaket agar lebih menutupi wajahnya.


"Berhenti bersembunyi, Tupai kecil." Bisikan sensual di telinga Rhiana membuat gadis itu merinding.


"Tupai kecil, huh?" Kesal Rhiana dalam hati.


Rhiana menoleh dan menatap seringai licik pria tampan di sampingnya. Padahal pria ini masih berada jauh dengannya tadi, kenapa tiba-tiba dia sudah ada di sampingnya?


"Oh... ada kakak ipar? Bukannya kakak ipar akan pulang lusa? Kenapa ada di sini?" Tanya Rhiana berusaha ramah. Senyum terpaksa juga diberikan pada Artya.


"Ikut bersamaku!"


"Kemana? Sebentar lagi penerbanganku, Kak."

__ADS_1


"Ikut aku pulang!"


"Pulang kemana?"


"Swiss."


Sebelum Rhiana menjawab, Artya sudah mengangkat Rhiana ke dalam gendongannya seperti koala.


"Bergerak sedikit saja, aku cium sekarang!" Artya mengancam karena Rhiana ingin turun dari gendonganya. Rhiaha mendengus dan menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Artya.


Dua orang itu tidak sadar, bahwa foto dan video mereka sudah tersebar di media sosial dan menjadi bahan perbincangan publik. Banyak orang berpikir mereka pasangan. Apalagi wajah keduanya tampan dan cantik, sehingga mereka menjodohkan dua orang itu.


...


"Jet pribadi?" Tanya Rhiana setelah Artya menurunkannya di salah satu sofa. Rhiana tentu saja mengenali interior jet pribadi karena keluarganya juga punya jet pribadi.


"Hm. Dengan begini kita sampai lebih cepat."


"Dasar orang kaya!" Rhiana mencibir dan menatap keluar jendela.


"Sudah tahu aku kaya. Mau menyerahkan diri padaku?" Artya menyeringai menatap Rhiana yang duduk di depannya.


"Tentu saja tidak!" Rhiana menjawab dengan cepat.


"Bukannya kakak akan pulang lusa?" Tanya Rhiana heran.


"Karena beberapa alasan, aku ingin pulang cepat." Artya menjawab dengan tenang.


Alasan sebenarnya Artya bisa sampai di sini, tentu saja karena Rhiana. Padahal pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk, tiba-tiba Felix datang dan memberitahu tentang Rhiana yang menjadi perbincangan publik.


Artya awalnya hanya membiarkan saja. Akan tetapi, komentar orang-orang di media sosial, membuatnya tidak senang. Belum lagi, banyak foto Tupai kecilnya sudah tersebar ke sana kemari. Tentu saja dia semakin tidak senang karena akan banyak orang yang mengetahui kecantikan Tupai kecilnya.


Artya juga memutuskan untuk mengganti panggilan gadis kecil menjadi Tupai kecil. Baginya, Tupai kecil sangat cocok untuk Rhiana. Pipi cubby Rhiana sangat mirip dengan Tupai. Sangat menggemaskan!


...


Ting


Ting


Ting


Ting


Sedikit melirik ponsel di atas meja, Artya segera mengambil ponsel itu setelah membaca nama si pengirim pesan.


Brilyan:


Kamu di mana, Rhi?


Brilyan:


Sebentar lagi kita berangkat.


Brilyan:


Rhiana!!!


Brilyan:


Kamu pergi lagi?


Brilyan:


Aku sudah bertanya pada pelatih. Katanya kamu ada urusan?


Brilyan:


Boleh aku tahu kemana kamu pergi? Ada urusan apa? Katakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.


Brilyan:


Rhiana...

__ADS_1


Artya menaikkan sebelah alisnya membaca banyak pesan dari Brilyan. Ternyata adiknya ini sangat khawatir pada Tupai kecilnya. Artya menoleh pada Rhiana yang masih terlelap. Tiba-tiba pria itu menyeringai.


^^^Rhiana:^^^


^^^Aku ada urusan dengan kak Artya.^^^


^^^Rhiana:^^^


^^^Aku sudah meminta izin pada pelatih sampai tiga hari ke depan.^^^


^^^Rhiana:^^^


^^^Jangan mencariku!^^^


Brilyan:


Apa yang kamu lakukan bersama pria itu?


Brilyan:


Apa dia mengancammu untuk ikut bersamanya?


Brilyan:


Katakan padaku, Rhiana.


Brilyan:


Tapi, Rhi. Pria itu baru saja membawa pergi seorang gadis. Ada urusan apa kamu dengannya?


Brilyan:


Dia menyuruhmu menjadi budaknya?


Brilyan:


Apa kamu menyukainya?


Brilyan:


Jawab aku, Rhi.


Artya menggeleng kepala membaca pesan dari Brilyan. Sebelum Artya membalas pesan Brilyan, ponsel Rhiana bergetar tanda panggilan masuk. Yang menelpon adalah Brilyan.


Artya sedikit berpikir, apa dia harus menjawab panggilan ini atau tidak. Jika dia menjawab, adik beda ibu dengannya itu akan marah padanya. Bagus juga, pikirnya. Tapi, apa yang akan terjadi jika dia tidak menjawab panggilan ini? Dia juga penasaran apa respon Tupai kecilnya.


SRET!


PUK!


Rhiana yang tidur sambil duduk di sampingnya tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahunya.


Melihat wajah Tupai kecilnya, Artya tanpa memikirkan apapun segera meletakkan ponsel Rhiana ke tempat semula dan menikmati wajah menggemaskan Rhiana.


Tidak ada yang lebih membuatnya senang selain menatap wajah Tupai kecilnya. Apalagi melihat bibir merah alami itu yang sedikit terbuka. Artya tiba-tiba teringat insiden bibir keduanya yang menempel sepersekian detik waktu itu. Apa dia bisa merasakan bibir itu sekarang?


Artya sedikit menunduk mempersempit jaraknya dengan Rhiana. Entah bisikan jahat dari mana, Artya tiba-tiba ingin merasakan bibir merona di depannya ini.


Plak!


"Nyamuk sialan! Jangan mengganggu tidurku."


"Apa yang ingin aku lakukan? Sangat memalukan!" Gumam Artya dalam hati setelah tersadar karena tamparan dari Rhiana yang cukup kuat di pipinya.


Artya menatap wajah tenang Rhiana sambil mengusap pelan pipinya yang sakit.


"Kamu benar-benar sesuatu, Tupai kecil." Gumam Artya dan menarik senyum tipis.


...


Untuk sekarang aku up sedikit dulu, ya.


Aku lagi sibuk banget sama perkuliahanku. Aku lagi penulisan skripsi, jadi belum ada waktu buat up.

__ADS_1


Maafkan aku, ya.


__ADS_2