Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Ayo! Belajar Bersama Rhiana


__ADS_3

"Waktu menjawabmu juga satu menit, Rhiana. Silahkan maju ke depan!"


Sebelum maju ke depan, Rhiana menatap kedua kakaknya dan berbicara tanpa suara. Gerakan bibirnya dengan mudah diketahui kedua kakaknya itu. Keduanya mengangguk mengerti.


"Kamu baik-baik saja? Maaf, aku tidak bisa membantumu." Brilyan menatap Rhiana dengan wajah penuh penyesalan.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah khawatir," Rhiana tersenyum tipis sambil menepuk pelan bahu Brilyan. Rhiana sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Saya tidak suka basa-basi. Maju sekarang, Rhiana!" Sienna kembali berbicara dengan suara tegasnya.


"Panggilan apa yang bagus untuk wanita ini, ya. Bikin kesal saja," Rhiana mendumel dalam hati.


Rhiana dengan tenang maju ke depan. Tentu saja dia diharuskan menulis dan menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diberikan Sienna.


"Jangan membuang waktu. Silahkan tulis dan jelaskan jawabanmu!"


"Baik, Bu."


Rhiana kembali menatap kedua kakaknya dan mengangguk pelan. Pandangannya diarahkan ke jam digital yang terpasang rapi di dinding kelas. Waktu menunjukan pukul 10 pagi lewat 21 menit, 30 detik. Angka detik terus bergerak cepat. Rhiana tersenyum tipis dan kembali menatap ke arah teman-temannya.


Seisi kelas kini memperhatikan Rhiana. Tentu saja mereka sedang menantikan apa yang akan dijawab Rhiana. Meski mereka tahu Rhiana begitu pintar, tapi jika diberi waktu singkat untuk menulis dan menjelaskan, tentu akan repot.


"Baik, saya akan mulai menjelaskan sebisanya. Yang pertama, saya akan membuat gambar sketsanya seperti ini."


Rhiana mulai menggambar di papan tulis.



"Teman-teman bisa lihat pada sketsa, titik A dan titik B sudah kita ketahui sebagai perahu A dan perahu B. Sedangkan titik C merupakan puncak menara, dan titik D merupakan dasar menara. Begitu juga dengan masing-masing jaraknya yang sudah diketahui dalam soal.


Pertama, saya mencari panjang garis AD atau jarak perahu A ke dasar menara. Saya menggunakan teorema pythagoras pada segitiga siku-siku ACD. Sehingga diperoleh;



Dengan cara yang sama, saya juga mencari jarak perahu B ke dasar menara. Dengan tetap memakai teorema pythaforas pada segitiga siku-siku BCD diperoleh,"



Selama Rhiana menulis dan menjelaskan, teman-teman sekelasnya sangat memperhatikannya. Dalam hati mereka kagum dengan penjelasan Rhiana yang mudah dimengerti. Sedangkan Sienna, si putri mahkota Tahiland itu sesekali menatap jam dinding juga jam di pergelangan tangannya untuk memastikan waktu.


"Tidak mungkin jam ini rusak," Gumam Sienna dalam hati.


Sienna merasa penjelasan Rhiana sudah melebih waktu yang ditentukan. Sayangnya, bukti perubahan angka detik pada jam di dinding dan jam mahal di pergelangan tangannya berada pada angka yang sama.


Rhiana yang menyadari ketidaknyamanan Sienna menyeringai diam-diam. Bagaimana bisa dia membiarkan wanita itu terus menyudutkannya? Waktu dua minggu cukup untuk wanita itu berulah. Jadi, ini waktunya bagi Rhiana untuk membalik keadaan. Jika ada Gledy, kenapa tidak dimanfaatkan?


Sebelum Rhiana maju ke depan, dia sudah memberi isyarat pada kedua kakaknya untuk menyuruh Gledy membantunya. Bagi robot pintar itu, memanipulasi waktu sangat mudah. Apalagi jika jam dinding dan jam tangan teman sekelas Rhiana sudah semakin canggih, sehingga pekerjaan Gledy juga semakin mudah.


Rhiana membiarkan Sienna begitu saja dan melanjutkan penjelasannya.


"Selanjutnya, yang terakhir, saya mengurangi hasil kedua jarak perahu, atau mengurangi jarak titik A dan B sehingga diperoleh;


AB \= BD - AD


      \= 90m - 50m


      \= 40 m.

__ADS_1


Jadi, jarak perahu A dan perahu B adalah 40 meter."


Prok


Prok


Prok


Brilyan adalah orang pertama yang bertepuk tangan untuk Rhiana, diikuti oleh kedua kakak Rhiana dan teman sekelasnya.


"Waktunya belum habis'kan, Bu?" Rhiana menatap Sienna dengan polos.


Bukan hanya Sienna saja yang merasa aneh. Semua di dalam kelas juga merasa aneh. Tentu saja, bagi mereka, waktu penjelasan Rhiana terasa lebih lama menurut mereka. Tapi, waktu pada jam di dinding dan jam di tangan mereka masih menunjukan 58 detik.


Jadi, mereka tidak berpikir jika ada yang salah dengan waktu. Mereka justru semakin kagum pada Rhiana karena bisa menyelesaikan jawabannya dalam waktu yang begitu singkat.


"Ya. Tapi jangan senang dulu. Saya masih ingin mengajukan beberapa pertanyaan untukmu."


"Tidak mau mengalah, ternyata." Gumam Rhiana dalam hati.


"Silahkan, Bu."


"Yang pertama, Kenap-"


Ding


Dong


Ding


Dong


Lagipula, sudah menjadi peraturan sekolah, agar setiap guru yang mengajar harus masuk dan keluar kelas sesuai jadwal. Dan peraturan itu sudah menjadi peraturan wajib turun temurun sejak sekolah ini dibangun dan tidak boleh dilanggar sama sekali, tidak peduli siapapun orang itu.


"Baik. Kelas hari ini berakhir sampai di sini. Sampai ketemu minggu depan. Selamat pagi!"


"SELAMAT PAGI, BU. SEMOGA HARI IBU MENYENANGKAN!" Teriak seisi kelas.


Sebelum Sienna benar-benar keluar, wanita itu menatap Rhiana sebentar. Rhiana yang ditatap hanya tersenyum polos sama sekali tidak takut dengan tatapan penuh intimidasi dari si putri mahkota itu.


***


"Kenapa?" Tanya Rhiana pada Brilyan karena merasa pria itu bertindak tidak biasa.


Padahal jika sedang makan seperti ini, Brilyan selalu mengambil lauk untuk diberikan padanya, atau pria itu akan mengeluarkan aura tidak senang karena melihat Dalfa dan Dalfi. Tapi, Brilyan sedari tadi terlihat merenung sambil menatap piring makan siangnya yang belum disentuh sama sekali.


"Tidak apa-apa," Brilyan menjawab setelah tersadar karena sentuhan Rhiana di bahunya.


"Habiskan makananmu. Kita ada kelas sebentar lagi,"


"Ya."


Tanpa Rhiana, Dalfa dan Dalfi ketahui, Brilyan adalah satu-satunya orang di dalam kelas yang menyadari bahwa ada yang salah dengan jam dinding di kelas dan jam di tangan mereka.


Brilyan sudah merasa ada yang salah dengan jam di dinding, sehingga pria itu mengambil jam yang sudah cukup tua pemberian ibunya. Itu sebenarnya kalung dengan jam sebagai liontinnya. Dan jam itu masih menggunakan jarum untuk menunjukan waktu.


Daripada dia protes jika ada yang salah dengan jam di dinding kelas, itu tentu saja akan berdampak pada Rhiana sehingga Brilyan memilih diam dan memperhatikan penjelasan Rhiana hingga selesai.

__ADS_1


Tapi, orang hebat mana yang bisa memanipulasi waktu semua orang di dalam kelas? Brilyan tidak tahu apa pikirannya sekarang masih ada pada tempatnya atau tidak.


***


SRET!


"Huh? Ap-" Suara Rhiana tertahan setelah melihat pelaku yang menarik tangannya.


"Bagaimana kabarmu, Tupai kecil? Sudah cukup bersenang-senangnya?"


Rhiana menegang sepersekian detik sebelum menatap wajah datar Artya. Ingin melarikan diri tapi tidak sempat. Cengkraman Artya di pergelangan tangannya begitu erat dan tidak bisa dilepas. Sepertinya pria itu sudah memperkirakan semuanya.


"Siapa yang bersenang-senang? Aku sedang dalam masa penyembuhan." Rhiana mengelak berusaha tenang.


"Begitu, ya. Ikut aku! Aku ingin mendengar cerita masa penyembuhanmu."


"Tapi aku- kyaaa... Turunkan aku, Kak."


"Tidak."


Rhiana hanya bisa memukul punggung Artya karena pria itu membawanya di punggungnya layaknya karung beras.


BRUK!


SRET!


Rhiana diturunkan dalam mobil. Artya kemudian menyusul setelahnya. Pria itu lalu memposisikan Rhiana di atas pangkuannya.


GREP!


CUP


Artya dengan tenang memeluk erat Rhiana dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain menahan tengkuk Rhiana untuk dicium. Artya bahkan m*****t bibir Rhiana seperti tidak ada hari esok.


"Orang ini... Dia sudah gila? Aku masih di bawah umur, hei..." Kesal Rhiana dalam hati. Dia sama sekali tidak bisa melawan tenaga Artya yang besar.


"Itu hukuman karena lari dariku." Ucap Artya setelah melepas penyatuan bibir mereka. Itupun karena Rhiana mencubitnya cukup kuat.


"Aku masih 15 tahun. Masih di bawah umur. Jangan semena-mena, Kak. Aku bisa menuntutmu karena melanggar aturan."


"Heh... Kamu yakin? Di sini, aku adalah aturan itu sendiri." Artya membalas dengan tenang.


"Apa maksudmu, Kak?"


"Entahlah. Lagipula, bukankah syarat seorang menjadi asisten pelukis A3 minimal 17 tahun? Aku pikir umurmu sudah hampir legal,"


Sial, bagaimana bisa pria ini masih ingat kejadian yang sudah berlalu? Rhiana waktu itu memang sengaja berbohong tentang umurnya agar bisa mendaftar untuk mengikuti lomba melukis yang diadakan oleh pelukis A3. Ternyata pria ini juga tahu.


"Karena kak Artya sudah tahu siapa aku, bukankah sudah waktunya aku tahu siapa sebenarnya pelukis A3?"


"Huh? Sampai sekarang kamu belum tahu? Itu tidak mungkin. Orang secerdasmu, tidak mungkin melewatkan setiap petunjuk." Artya sengaja mempermainkan Rhiana.


"Ck... Kalau begitu, dimana sapu tangan milikku? Kembalikan! Itu pemberian orang yang paling berharga untukku."


"Siapa? Siapa namanya? Katakan siapa dia!" Perkataan Artya seketika membuat aura dalam mobil berubah suram.


"Tentu saja orang yang paling berharga untukku,"

__ADS_1


"Memangnya kamu sendiri yang bisa mempermainkan orang? Aku juga bisa." Gumam Rhiana dalam hati. Betapa senangnya dia melihat wajah Artya sekarang.


__ADS_2