
Dor
Dor
Dor
Aksi baku tembak sedang berlangsung di ruang auditorium tempat pelelangan milik Pentagon. Seperti yang Rhiana perkirakan, ternyata terjadi sesuatu.
Padahal aturan pelelangan yang dibuat Pentagon, semua jenis senjata dan benda elektronik tidak diperbolehkan untuk dibawa masuk kedalam pelelangan. Nyatanya, ada pihak tertentu yang berhasil membuat keributan di sini.
Rhiana menyelinap untuk mengambil pistol milik seorang mayat yang tidak jauh darinya. Melihat R10 yang digunakan, Rhiana menggeleng dan menarik keluar sarung tangan bagian kiri mayat itu. Ada tato bintang di pergelangan tangannya.
"Organsiasi bawah tanah, heh..." Rhiana bergumam dan menyeringai.
Rhiana kini menyelinap sambil menembak musuh. Lebih tepatnya, menembak siapa saja yang berani mengarahkan peluru padanya. Rhiana tidak peduli dengan gaun mahal yang dia kenakan. Gaun itu sudah dia robek hingga sebatas lutut.
Rhiana juga tidak peduli dengan Artya. Sejak keributan terjadi, Rhiana sudah menjauhkan diri dari Artya. Rhiana tidak sadar, bahwa hilangnya dia dari sisi Artya, membuat pria itu mengarahkan para bawahannya untuk mencarinya ke sana kemari di tengah aksi baku tembak berlangsung.
Artya bahkan mengeluarkan perintah untuk membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Dia tidak peduli itu anggota pentagon atau wakil ketua sekalipun. Siapa yang menghalangi, bunuh di tempat!
Untuk pertama kalinya Rhiana merasakan bagaimana menggunakan R10 hasil rancangan mommynya. Ternyata sangat keren. Apalagi jika itu R11, Rhiana tidak sabar menggunakan senjata mematikan itu.
Mommynya tidak lagi membuat R10 setelah file rancangannya dicuri. Mommynya membiarkan R10 dibuat oleh organsiasi bawah tanah. Selain itu, Meski Rhiana tahu, R11 dibuat 5 buah untuk uji coba, tetapi Rhiana tidak diijinkan menggunakannya.
Jadi, Rhiana terpaksa menguras tabungannya untuk membeli R11 dari pelelangan. Kata mommynya, R11 belum boleh digunakan oleh ketiga anaknya. Katanya mereka belum cukup umur. Ada-ada saja alasan mommynya, pikir Rhiana.
Sambil menembak, Rhiana terus maju untuk mencari keberadaan wakil ketua berinisial TM itu. Selain itu, Rhiana ingin melihat apa barang lelang masih aman atau sudah dicuri. Rhiana tidak ingin R11 jatuh ke tangan orang lain. Apalagi itu organsiasi bawah tanah.
Jika R11 sampai jatuh ke tangan mereka, senjata mematikan itu akan dibuat replikanya kemudian diperdagangkan untuk keuntungan mereka. Rhiana tidak tahu saja, bahwa karena pengalaman hilangnya file rancangan R10, sehingga rancangan R11 memiliki komponen yang lebih sulit lagi untuk dibuat meski itu hanya replika sekalipun.
Mommynya, Rihan tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Meski filenya tidak hilang, tetapi mommy Rihan tidak ingin pihak lain membuat replika dengan R11 yang sudah jadi.
...
"Sedikit saja dia terluka, tidak ada ampun bagi kalian!" Aura di sekitar Artya begitu mencekam. Ketenangannya kali ini terusik karena gadis kecil itu tiba-tiba hilang dari pandangannya.
Untuk pertama kalinya Artya merasa tidak tenang seperti ini. Entahlah, keberadaan Rhiana membuatnya tidak ingin melepasnya. Sudah saatnya dia membuat gadis kecil itu menjadi miliknya.
Melihat semua bawahannya sudah berpencar mencari Rhiana di tengah aksi baku tembak berlangsung, Artya ikut berdiri melepas jas formal yang dia pakai dan tersisa kemeja putih yang kemudian digulung sebatas siku.
Artya lalu melapisi kemeja putihnya dengan rompi anti peluru yang di kiri dan kanan rompi itu terselip pistol di sana. Artya akan mencari Rhiana juga. Dia tidak bisa duduk saja di sini. Karena Rhiana, Artya yang penggila kebersihan dan biasanya hanya memberi perintah, kini turun langsung.
...
__ADS_1
Rhiana terus menembak sambil mencari dimana wakil ketua TM itu berada. Hingga waktu berlalu, Rhiana kehabisan peluru. Dia berdecak karena masih banyak musuh sedangkan amunisinya sudah habis.
Rhiana terus menghindari peluru sambil melihat sekeliling, siapa tahu ada senjata yang bisa dipakai untuk pertahanan. Rhiana tersenyum tipis ketika menemukan sebuah samurai yang tadi dilelang. Samurai itu ternyata ada di tangan seorang anggota Pentagon yang terbaring dengan genangan darah di sekitarnya. Sepertinya orang itu sudah mati.
"Mari kita lihat, seberapa hebat samurai ini seperti yang dikatakan host itu." Gumam Rhiana yang kini sedang menatap samurai yang masih dalam sarungnya.
Sret!
Trang!
Rhiana tersenyum tipis, karena peluru yang tadinya akan mengenai wajahnya, dengan refleks cepat dapat ditahan dengan samurai yang sudah dia lepas dari sarungnya.
"Lumayan untuk samurai yang katanya peninggalan leluhur ratusan tahun lalu,"
Rhiana menurunkan pandangannya dan menarik nafas pelan, kemudian menghembuskannya. Tatapan matanya berubah serius. Dia benar-benar harus fokus untuk pertahanan diri. Karena tidak memiliki pistol, sehingga samurai ini akan menjadi senjata pertahanan dirinya.
Sepertinya organisasi bawah tanah menyerang semua orang yang ada di sini, tanpa terkecuali. Entah apa tujuan mereka. Kebanyakan keamanan Pentagon sudah dikalahkan. Wajar saja, karena semua anggota organisasi bawah tanah sudah sangat ahli.
Rhiana terus menghindari peluru yang mengarah padanya dengan melompat ke sana kemari, juga menggunakan samurai menahan peluru hingga peluru terpental dan jatuh. Rhiana benar-benar fokus mempertahankan dirinya. Hingga Rhiana berkedip, kemudian meringis, karena satu peluru tidak bisa ditahan oleh samurai itu berhasil melukai perutnya.
Rhiana tersadar. Bagaimana dia bisa lupa dengan kecepatan peluru yang dikeluarkan oleh R10? Peluru dari senjata rancangan mommynya itu benar-benar cepat. Jika peluru dari senjata biasa, masih bisa Rhiana lihat. Sayangnya, ini R10. Senjata yang tergolong mematikan.
Rhiana kini terduduk dan memegangi perutnya yang berdarah. Lukanya ternyata sangat dalam. Rhiana tidak yakin, organ dalamnya baik-baik saja. Rasanya sangat menyakitkan. Rhiana juga tidak bisa berdiri, dia hanya bisa bersembunyi karena samurai di tangannya sudah patah. Sehebat itu kegunaan R10.
"Racun? Bagaimana ini... aku tidak boleh kehilangan kesadaran," Rhiana tidak pernah menduga, ternyata peluru dari R10 ternyata beracun. Pandangannya mulai melemah.
Di saat Rhiana akan mengaktifkan chip di telinganya untuk meminta bantuan pada Gledy, sebuah rangkulan beserta suara tembakan membuatnya mengalihkan perhatiannya pada orang yang merangkulnya.
"Tidak apa-apa, aku di sini. Kamu sudah aman," Suara lembut itu berhasil menenangkan Rhiana.
Untuk pertama kalinya Rhiana terpesona karena pemandangan ini. Seorang pria tampan sedang memeluknya sambil menembak dengan serius apa saja di depannya.
"Terima kasih, Kak." Ini juga pertama kalinya pria itu mendengar suara lembut dan senyum yang begitu tulus padanya. Waktu seakan berhenti. Jantungnya berdebar sangat kencang hanya karena senyum tulus itu.
Pria itu dengan tenang melepas topeng yang menutupi wajah Rhiana. Dia benar-benar terpesona karena gadis di pelukannya ini.
"Bersihkan!" Hanya satu kata, pria itu lalu membawa Rhiana dalam gendongannya dan pergi dari sana.
***
Artya pov
Namaku Artya, usiaku 20 tahun. Aku sangat suka kebersihan. Aku juga tidak suka dengan kebisingan. Tidak suka orang lain menempel padaku. Jangankan menempel, berdiri 5 meter di hadapanku saja, aku sudah jijik. Hanya asistenku yang boleh berada didekatku.
__ADS_1
Aku tidak tahu, sejak kapan aku dijuluki penggila kebersihan. Kata ibu, sejak aku berusia 5 bulan aku sudah mulai menolak orang lain yang ingin menyentuhku. Aku hanya ingin disentuh oleh ibuku. Padahal riwayat keluargaku, semuanya normal. Entah kenapa aku berbeda.
Semua berjalan seperti biasa, hingga seorang gadis kecil berhasil menarik perhatianku. Namanya Rhiana. Katanya, dia kekasih adikku Brilyan.
Sebenarnya tidak ada yang spesial dari gadis kecil itu. Hanya saja, aku tidak pernah bertemu dengan gadis seperti itu. Biasanya gadis yang aku temui, semuanya selalu ingin dilihat baik oleh orang lain. Mereka bahkan berusaha menjilat dan bahkan ingin berada di sisiku.
Berbeda dengan gadis kecil itu, dia justru terlihat biasa saja, dan justru menyembunyikan sifat aslinya. Ternyata dia bisa merubah ekspresi wajahnya dengan cepat dan sangat licik. Benar-benar rubah kecil yang menggemaskan.
Aku juga sebenarnya tidak suka dengan orang yang licik. Tapi, entah kenapa, gadis kecil itu tidak membuatku jijik, dia justru menarik bagiku. Aku pun tanpa sadar membantunya menyingkirkan ibu dan anak yang suka menjilat pada keluarga Scoth.
Bukan hanya itu. Gadis kecil itu ternyata memiliki sapu tangan bersulamkan tato yang aku cari selama ini. Bukankah ini sangat menarik?
Semakin berurusan dengannya, semakin banyak kejutan yang aku temukan tentangnya. Ternyata gadis kecil itu adalah anak bungsu keluarga Veenick. Aku tidak tahu alasan dia menyamarkan identitasnya dari cantik menjadi jelek. Tapi itu benar-benar membuatku semakin penasaran dengannya. Sepertinya adik satu ayah beda ibu denganku itu belum tahu siapa sebenarnya kekasihnya.
Rhiana, gadis kecil itu ternyata sangat cerewet jika ingin tahu sesuatu. Biasanya aku tidak suka dekat dengan orang lain, apalagi jika mereka sangat berisik. Tapi berbeda dengan gadis kecil itu. Keberadaannya didekatku tidak membuatku jijik.
Mendengarnya berbicara di sampingku sama sekali tidak menggangguku. Justru aku menyukai itu. Aku sangat suka melihatnya berbicara. Apalagi ketika melihat bibir merah alami miliknya. Sudahlah. Jangan bahas bibirnya, aku tidak ingin kehilangan pikiranku.
Seperti yang kalian tahu, Felix sedang berperan menjadi pelukis A3. Tentu saja, karena aku ingin sekali tahu tujuan gadis kecil itu mengikuti lomba melukis yang aku buat. Dia bahkan berbohong tentang usianya karena ingin menjadi asisten pelukis A3. Aku hanya ingin mengikuti permainannya.
Malam ini, aku sengaja menyuruh Felix membuat gadis kecil itu pergi bersamaku ke pelelangan. Dan itu berhasil. Sangat susah membuat gadis kecil itu berlama-lama didekatku. Belum lagi, dia sangat suka membuatku kesal dengan memanggilku kakak ipar. Baiklah. Dia memang adik iparku. Tapi apa aku setuju? Tentu saja tidak.
Meski dia kekasih adikku, aku tidak peduli. Bahkan jika mereka menikah, aku tetap akan membawanya ke sisiku. Apapun akan aku lakukan agar dia menjadi milikku. Keinginanku adalah mutlak!
Pelelangan malam ini membuatku lebih dekat dengan gadis kecilku. Aku akan memanggilnya gadis kecilku mulai sekarang. Tidak ada yang boleh membantahku.
Gadis kecilku banyak bertanya dan dengan senang hati aku menjawabnya. Padahal aku bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Tapi, karena dia, aku menjadi seperti ini.
Aku tidak menyangka, ternyata dia terusik dengan berlian yang mirip berlian pink star. Dengan senang hati, aku akan mendapatkan itu untuknya. Meski dia menolak, tapi aku tidak ingin dia menolak.
Bukan hanya berlian pink star, ternyata dia lebih tertarik dengan sebuah pistol dengan tipe R11. Aku tidak tahu siapa yang merancang senjata itu, tapi aku salut dengan orang itu karena berhasil membuat senjata mematikan seperti itu.
Gadis kecilku bahkan melupakan penyamarannya yang seorang gadis miskin hanya karena ingin membeli R11 untuk dirinya sendiri. Padahal aku sudah memberi penawaran untuk membelinya, tapi dia ingin membelinya sendiri. Bukankah itu lucu?
Di saat pelelangan hampir selesai, terjadi keributan. Karena keributan yang disebabkan oleh organsiasi bawah tanah, atau apalah itu, aku kehilangan gadis kecilku. Beraninya mereka membuat keributan dan membuatku kehilangan pandangan darinya? cari mati!
Setelah ibuku meninggal, tidak ada satupun orang yang berhasil mengusik ketenanganku. Tapi gadis kecil itu ternyata membuatku tidak bisa tenang. Bahkan bawahan terhebatku sudah kuperintahkan, tapi aku masih tidak tenang.
Alhasil, kekhawatiranku benar-benar terjadi. Gadis keciku ternyata mendapat luka tembak di bagian perutnya. Awalnya aku berpikir dia hanya takut dan bersembunyi. Siapa sangka, ternyata karena kesakitan, akibat racun dan dia berusaha menutup luka tembak yang terus mengeluarkan darah itu.
Ini kedua kalinya aku setakut ini. Pertama karena ibuku yang masuk rumah sakit akibat kecelakan, kedua karena melihat darah di perutnya. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu keluar gedung ini hidup-hidup.
Selain takut, aku dibuat terpesona oleh senyum tulus gadis kecilku. Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya yang begitu lembut, dan senyumnya yang begitu tulus. Sial... jantungku berdebar sangat kencang karena itu. sepertinya, aku...
__ADS_1