Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Merasa Dirugikan


__ADS_3

"Nona... anda cari mati? Bagaimana mungkin anda menawarkan makanan menjijikan seperti itu pada tuan?" Keluh Calypso dalam hati.


Calypso yang menjadi dokter pribadi Artya tentu saja tahu kondisinya. Dia juga tahu apa saja yang sangat dan tidak suka dimakan oleh majikannya ini. Pandangan kagum Calypso pada Rhiana tiba-tiba berubah menjadi kasihan.


...


"Apa ini... Darah?" Calypso kaget karena merasakan cairan merah keluar dari hidungnya.


Calypso menyadari, sepertinya dia tanpa sadar terpesona dengan senyum manis Rhiana. Bisa-bisanya cairan merah itu keluar tanpa dia sadari.


Saputangan segera Calypso keluarkan dalam saku jas dokternya untuk membersihkan cairan merah di hidungnya.


Beralih pada Artya yang menatap tangan Rhiana yang menawarkan cemilan keripik kentang padanya bergantian dengan menatap wajah Rhiana. Biasanya orang lain akan malu jika diperhatikan dengan intens olehnya. Tapi gadis kecil ini berbeda. Dia tetap tenang. Sungguh gadis yang unik.


"Kakak dokter, hidungmu berdarah. Apa kamu baik-baik saja?" Rhiana mengerutkan kening menyadari darah segar yang keluar dari hidung Calypso.


Rhiana berpikir, mungkin dokter pribadi Artya ini terlalu bekerja keras menjaganya sehingga dia mimisan. Rhiana merasa bersalah.


Artya sedikit mengernyit dan beralih menatap tajam Calypso. Sangat mengganggu, pikirnya.


"Saya baik-baik saja, Nona. Ini hanya mimisan biasa." Calypso tentu saja merinding karena tatapan tajam Artya padanya. Majikannya ini pasti salah paham padanya.


"Terima kasih sudah menjagaku, Kakak dokter." Rhiana tersenyum tulus pada Calypso.


"Kenapa mimisannya semakin parah?" Rhiana kaget, karena cairan merah kembali keluar di hidung Calypso.


"Eh?" Calypso segera menutup kembali hidungnya dengan sapu tangan.


"Keluar!" Suara Artya begitu mengintimidasi. Artya tidak senang, karena Rhiana justru perhatian pada dokter pribadinya. Dan itu dilakukan di depan matanya.


"Maaf, Tuan. Saya pamit." Calypso dengan cepat keluar dari sana. Dia masih sayang nyawanya.


Rhiana menatap Artya tidak mengerti. Kemudian melihat pintu keluar. Kenapa Calypso disuruh keluar? Padahal dokter muda itu tidak melakukan hal aneh.


Tuk!


"Berhenti melihat ke sana. Tidak ada yang menarik pada Calypso," Artya menyentil pelan dahi Rhiana. Bisa-bisanya gadis ini perhatian pada pria lain di depannya. Tentu saja, dia tidak senang. Mendengar laporan para pelayan yang melayani Rhiana, Artya semakin yakin untuk menjadikan gadis kecil ini miliknya.


Rhiana mendengus sambil mengusap dahinya yang disentil Artya. Itu sedikit sakit.


"Setidaknya kakak dokter itu sedikit menarik," Rhiana berbicara dengan jujur. Baginya, Calypso menarik dengan tingkah lucunya.


"Bukankah kamu ingin aku mencoba keripik kentang ini?" Artya tidak suka Rhiana memuji orang lain.


Artya menarik kepala Rhiana agar bertatapan dengannya. Rhiana hanya mengernyit tidak menolak perlakukan Artya. Dia juga penasaran apa yang akan dilakukan si penggila kebersihan ini.


Mata Rhiana menatap ke bawah melihat ibu jari Artya yang mengusap pelan bibirnya yang dipenuhi sedikit remahan keripik kentang. Tidak sampai di situ, Artya dengan santainya menjilat ibu jarinya yang mengusap bibir Rhiana tadi.


"Ma...af, Tuan." Suara Calypso di pintu masuk kamar mengalihkan perhatian Rhiana dan Artya.


"Apa dunia sedang tidak baik-baik saja? Tuan muda si penggila kebersihan ini mengusap remahan keripik kentang dan bahkan merasakannya dengan bibir? Apa mataku yang salah?" Calypso membatin. Dia tentu saja syok dengan apa yang dia lihat.


Tuannya yang penggila kebersihan akut ini, dengan mudahnya mengusap remahan keripik kentang di bibir orang lain. Cukup itu saja. Majikannya itu justru menjilat sisa remahan keripik kentang itu. Benar-benar kejutan bagi seorang Calypso.


"Kakak dokter sudah baik-baik saja?" Rhiana bertanya tanpa merasa canggung dengan situasinya sekarang. Biasanya orang lain akan malu ketika terciduk dengan posisi ini, Rhiana justru biasa saja. Entah terlalu polos atau apa, Rhiana tidak merasa aneh dengan perlakuan Artya padanya.


Berbeda dengan Rhiana, aura Artya sangat mengintimidasi Calypso. Beraninya dokter pribadinya itu mengganggunya.


"Saya baik-baik saja, Nona. Saya hanya melupakan ponsel saya," Calypso menjelaskan dengan kaku. Betapa bodohnya dia, karena masuk di saat yang tidak tepat. Tentu saja tuannya pasti marah. Dia seharusnya sadar saat diusir beberapa saat lalu. Bagaimana bisa dia lupa dengan tempramen majikanya ini?


Rhiana hanya mengangguk dan melihat Calypso mengambil ponselnya di atas nakaas kemudian bergegas keluar. Rhiana kemudian beralih menatap Artya yang mengeluarkan aura tidak senang. Rhiana tersenyum tipis karena merasa lucu. Posisi keduanya sudah tidak seperti tadi.


"Sebenarnya kakak ipar kenapa?" Rhiana bertanya karena masih tidak mengerti, meski dia suka melihat wajah tidak senang kakak Brilyan ini.

__ADS_1


"Sudahlah. Dasar tidak peka," Artya menjawab setelah menghembuskan nafas pelan. Ekspresinya sudah kembali normal.


"Tidak peka? Memangnya aku harus peka untuk apa?" Rhiana semakin tidak mengerti. Artya hanya menatap datar Rhiana.


Keduanya tidak berbicara lagi. Rhiana kembali menonton TV. Sedangkan Artya sibuk menatap setiap ekspresi yang Rhiana keluarkan. Artya tentu tidak bosan hanya duduk berlama-lama menatap wajah Rhiana. Padahal banyak dokumen yang harus dia periksa, tapi pria itu tidak peduli.


Felix yang menjadi asisten Artya terpaksa bekerja keras dengan mengutuk sepanjang hari. Tentu saja dia tidak berani mengutuk langsung di depan orangnya. Dia masih sayang nyawanya. Dia tidak ingin mati muda, karena dia mempunyai cita-cita membuat anak kembar sebanyak tim sepak bola.


Masalahnya, dia belum mendapat induk untuk menampung tim sepak bola impiannya. Belum lagi, bagaimana dia bisa mendapat calon, jika akhir-akhir ini dia selalu diberi banyak tugas oleh bosnya. Dia yang bekerja keras, bosnya hanya menatap laptop dan ponselnya sepanjang hari demi mengawasi seorang gadis. Betapa kesalnya Felix. Mau marah, tapi tidak berani.


...


"Benar juga, aku ingin bertanya padamu, Kakak ipar." Rhiana sudah berhenti menonton dan beralih menatap wajah tenang Artya.


"Panggil aku dengan benar," Artya menginstruksi dengan seringai tipis.


"Aku ingin bertanya, Kakakku yang tampan,"


"Apa itu, adikku?"


Rhiana mendengus pada Artya sebelum bertanya. "Siapa yang mengganti pakaianku?"


"Tentu saja para pelayan."


"Jika begitu, kakak pasti sudah tahu 'kan?" Rhiana kini menatap memicing pada Artya.


"Tahu apa?" Meski Artya sudah tahu maksud pertanyaan Rhiana, tapi dia berpura-pura tidak tahu.


"Ayolah, jangan berlagak bodoh, Kak." Rhiana mencibir kesal. Artya justru tersenyum tipis.


"Hmm." Artya hanya berdehem mengiyakan.


"Kalau begitu, katakan padaku siapa yang melukisnya. Please, Kak." Rhiana menatap memelas pada Artya.


Rhiana tidak tahu saja, waktu itu Artya juga tidak berpikir untuk mencari tahu tentang tato itu. Artya lebih khawatir pada tubuhnya dari pada mencari tahu si pemilik tato yang dia cari selama ini.


Sekarang Rhiana punya kesempatan bertanya untuk memastikan kebenarannya. Jawaban Artya membuat Rhiana tidak berdaya dan harus membujuk pria itu untuk memberitahu siapa pelukis tato di punggungnya.


Padahal tujuan Rhiana tidak mengekspose identitasnya karena dia ingin bernegosiasi dengan Artya. Pada akhirnya, Artya tahu dengan sendiri identitasnya. Rhiana merasa dirugikan.


Tapi, setelah Rhiana mengingat percakapan mereka dulu di New York, Rhiana menyadari jika nama yang Artya sebut sebagai orang yang membuat tato itu sama dengan nama asisten Artya, sekaligus identitas pelukis A3.


Rhiana kini menatap memelas pada Artya menunggu jawaban pria itu. Sedangkan yang ditatap justru sedang berpikir, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Dia harus mendapat keuntungan.


"Aku ini seorang pengusaha. Jadi, jawabanku tidak gratis, adikku." Artya menyeringai pada Rhiana.


"Pengusaha? Aku tidak pernah tahu kak Artya seorang pengusaha. Memangnya kakak pengusaha apa?" Rhiana bertanya dengan ekspresi bingung yang terlihat menggemaskan di mata Artya.


Berhenti terpesona pada gadis kecil ini. Artya harus memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Rhiana. Dia tidak bisa memberitahu apa pekerjaannya pada Rhiana. Status pekerjaannya masih rahasia. Belum waktunya gadis ini tahu apa pekerjaannya.


"Pengusaha IT." Artya teringat perusahaan kecil yang cukup terkenal di Rusia sehingga dia secara acak menjawab Rhiana. Mungkin setelah ini, dia harus menyuruh Felix membeli perusahaan itu untuk kedok sementara.


"Pengusaha IT? Wah... itu keren! Dimana tempatnya, Kak? Boleh aku berkunjung ke sana?" Rhiana memiliki hobby yang sama dengan mommynya, yaitu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan IT. Mendengar jawaban Artya, Rhiana sangat senang dan ingin sekali berkunjung ke sana. Dia ingin belajar banyak hal tentang IT.


"Jika kamu cerdas, kamu bisa cari tahu sendiri." Padahal itu hanya alibi Artya karena dia sendiri tidak tahu alamat jelas perusahaan IT itu.


"Setelah kamu sembuh, aku akan membawamu ke sana." Artya menambahkan setelah melihat wajah tidak puas Rhiana.


"Janji? Aku akan terus menagihnya, Kak." Artya hanya mengangguk.


"Masih mau tahu orang itu?"


"Tentu saja."

__ADS_1


"Kalau begitu, keuntungan apa yang akan aku dapat?"


"Apa yang kakak mau?"


"Datang padaku di saat aku memanggilmu. Setuju?"


Sebelum menjawab, Rhiana sedikit berpikir. Lagipula pria ini terlihat tidak berbahaya.


"Oke."


"Gadis baik," Tentu saja Artya sangat senang. Dengan begini, dia bebas memanggil gadis ini kapanpun dia mau.


"Jadi... siapa orang itu?" Rhiana memasang wajah ingin tahu.


Tuk!


"Wajah ini hanya boleh kamu tunjukan padaku!" Ekspresi Rhiana saat ini sangat tidak ingin Artya tunjukan pada orang lain.


"Bekas sebelumnya belum hilang, Kak." Rhiana kesal, karena sentilan Artya yang sebelumnya masih memerah, kini bertambah merah karena sentilan kedua.


Bugh!


Sret!


"Tanganmu begitu kecil, tapi pukulanmu bisa membuat rahangku patah." Artya mengatakan itu setelah menangkap tangan Rhiana yang ingin meninju wajahnya. Dia cukup merasakan kekuatan dalam tinjuan itu. Untung saja rekfleksnya cepat untuk menangkap tangan mungil itu.


"Aku sudah setuju dengan persyaratanmu. Jadi, katakan siapa pelukis itu. Jangan mengalihkan pembicaraan lagi," Artya tersenyum sangat tipis karena tidak menyangka, Rhiana bisa menebak rencananya.


"Itu Felix." Artya menjawab dengan tenang.


"Aku tidak percaya." Rhiana menggeleng karena saat Artya menyebut nama Felix, netranya justru menatap ke arah lain. Itu salah satu ciri-ciri orang yang berbohong. Meski Artya menjawab dengan tenang, tapi Rhiana tahu pria itu berbohong padanya.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu harus mencari tahu sendiri jawabannya."


"Ini tidak adil untukku. Padahal aku sudah setuju dengan persyaratannya, tapi kenapa kak Artya tidak ingin menjawab jujur?"


"Oke, oke... Aku akan jawab jujur. Tapi, persyaratannya harus ditambahkan. Bagaimana?" Artya masih ingin mengambil keuntungan dari Rhiana.


"Apa lagi ini... harus jujur, ya. Jika masih berbohong, jangan harap bicara lagi denganku. Jadi, apa syaratnya?" Rhiana harus menambah ancaman agar dia bisa mendapat jawaban yang dia inginkan. Artya tersenyum tipis lalu mengangguk.


"Biarkan aku menggigitmu sebentar."


"Persyaratan macam apa itu? Kak Artya bukan vampir 'kan?" Rhiana menyipitkan matanya dan mundur perlahan membuat jarak dengan Artya.


"Hahaha... ada-ada saja pikiranmu, gadis kecil. Aku bukan vampir. Hanya saja, kamu terlalu menggemaskan." Artya merasa sangat senang sekarang.


"Dia sebenarnya penggila kebersihan atau bukan? Tingkah benar-benar aneh. Atau, jangan bilang..." Rhiana kembali mendekatkan dirinya pada Artya. Matanya kemudian menelisik wajah Artya dengan teliti.


"Sebelum kak Artya menggigitku, aku ingin bertanya, apa kita pernah bertemu dan berbicara waktu di New York?" Rhiana ingin tahu, apa Artya yang ramah padanya di New York waktu itu sama dengan Artya yang sekarang atau tidak. Dia harus memastikan apa benar pria ini memiliki dua kepribadian.


"Jadi kamu setuju dengan persyaratannya? Baguslah. Pertanyaanmu, apa kita pernah bertemu di New York atau tidak, memang pernah. Kita bertemu di dalam lift. Tapi, untuk berbicara tidak pernah." Jawaban Artya menjelaskan bahwa dia memiliki dua kepribadian. Rhiana mengangguk dan tersenyum tipis.


"Karena aku sudah mendengar apa yang ingin aku tahu, maka sekarang kak Artya sudah bisa menggigitku. Setelah itu, jawab pertanyaanku. Satu lagi... Jangan gigit pipiku." Rhiana memberikan peringatan lebih dulu.


Senyum Artya melebar dan mengangguk sebelum mendekat lebih intens pada Rhiana.


Cras!


"Apa-apaan..." Rhiana tidak terima karena Artya justru menggigit pipinya. Padahal dia sudah memberi peringatan.


"Kakakmu ini ada urusan sebentar. Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti. Bye-bye adikku sayang." Artya dengan senyum kemenangan segera keluar dengan cepat dari sana setelah berpura-pura mendapat panggilan telepon.


"Hei... bagaimana bisa? Sial... dia benar-benar mengambil keuntungan dariku." Rhiana kesal setengah mati.

__ADS_1


Untuk melampiaskan kekesalannya, Rhiana membuang semua bantal ke arah pintu. Tempat tidur juga diacak-acak. Sisa keripik kentang dibuang sembarangan ke lantai.


__ADS_2