
Rhiana dan Gledy sampai di hotel tempat para peserta olimpiade tinggal. Gledy masuk ke dalam hotel dengan membawa Rhiana yang terlelap dalam gendongannya. Karena transformasi Gledy yang seratus persen mirip manusia, sehingga tidak ada yang tahu jika pria tampan itu adalah robot.
Kemunculan Gledy di lobby hotel mengundang tatapan memuja para pengunjung wanita di sana. Entah itu tua atau muda, mereka begitu terpesona dengan pria tampan satu ini. Meski mereka setiap hari disuguhkan dengan ketampanan peserta olimpiade, tapi ketampanan pria ini benar-benar menggucang hati mereka.
Wajah tampan Gledy tanpa ekspresi segera menuju resepsionis untuk memesan kamar. Dua resepsionis wanita itu membeku sepersekian menit karena ketampanan Gledy sebelum melakukan tugas masing-masing.
"Sudah sampai?" Suara serak Rhiana yang baru bangun karena terganggu dengan kebisingan di sekitar. Rhiana masih dalam gendongan Gledy ala koala. Rhiana yang masih mengantuk, enggan turun dari gendongan Gledy.
"Ya. Tidur lagi. Aku akan memesan kamar," Gledy sudah diberi perintah untuk memanggil Rhiana tanpa embel-embel nona. Rhiana juga memperlakukan Gledy seperti kakaknya, sehingga dia tidak canggung bersikap manja.
[Gadis itu sangat beruntung,]
[Kamu benar. Pria itu sangat perhatian padanya,]
[Aku benar-benar iri pada gadis itu. Dia begitu dimanja oleh kekasihnya.]
[Tapi, kenapa gadis itu hanya memakai piyama?]
[Benar juga. Apa keduanya kabur dari rumah?]
[Aku juga berpikir begitu. Sayangnya, wajah mereka sepertinya bukan orang sini.]
[Kyaa!! Betapa bahagianya gadis itu.]
Rhiana tidak peduli dengan bisikan orang-orang di sekitar. Dia hanya mengeratkan pelukannya di leher Gledy dan kembali tidur. Dia masih mengantuk.
Di pintu masuk hotel, Brilyan juga baru sampai dan melihat pemandangan di depan meja resepsionis. Yang menarik perhatian Brilyan adalah kemunculan Dalfa dan Dalfi yang terlihat tidak senang karena Rhiana di gendongan Gledy.
Setelah melihat dengan baik, Brilyan menyadari, ternyata Dalfa dan Dalfi memiliki wajah yang sama dengan nona muda Veenick itu. Brilyan yakin mereka kembar. Tapi, nama belakang Dalfa dan Dalfi Chixeon sedangkan gadis yang memiliki nama sama dengan gadis yang dia sukai memiliki nama belakang Veenick.
Merasa tidak ada hubungan dengannya, Brilyan bergegas pergi ke kamarnya.
***
Malam ini Rhiana ingin pergi ke rumah sakit. Dia ingin bertemu bocah laki-laki yang dia tolong waktu itu. Rhiana ingin bertemu dengan bocah laki-laki bernama Dion untuk menepati janjinya. Rhiana berencana pergi ke Swiss untuk menyusup ke rumah Yeandre. Tapi sebelum itu, dia harus mengambil ponselnya yang dititipkan pada Dion.
Sebenarnya bisa saja Rhiana kembali dari Swiss baru mengambil ponselnya, tapi karena dia khawatir dengan kondisi Dion, sehingga Rhiana harus menemui anak kecil itu. Menurut informasi Gledy, Dion sedang menjalani pengobatan psikologi pasca pengeboman waktu itu.
Dion terus menangis ingin bertemu dengan Rhiana. Anak kecil itu sangat terpukul karena melihat ledakan besar itu. Meski Marie sudah berusaha menutup matanya, tapi Dion entah bagaimana bisa melihat aksi Rhiana melalui celah jari Marie. Dia sangat ketakutan melihat ledakan besar itu.
Ibu Dion sangat sedih melihat kondisi anaknya. Pihak medis saat ini mengambil jalan psikoterapi untuk Dion. Pengobatan sudah berjalan hampir seminggu. Sayangnya, belum ada tanda-tanda perubahan pada Dion. Dokter yang menangani Dion tidak berdaya.
Mereka selalu berbohong pada Dion bahwa kakak baik yang menolongnya waktu itu ada di suatu tempat dan sedang sibuk, sehingga belum bisa bertemu dengannya. Sayangnya, anak kecil itu tidak percaya. Cara berpikirnya yang sudah dewasa itu tahu bahwa dia dibohongi. Dion merasa sedih.
Pernah sekali seorang perawat menyamar menjadi Rhiana, tapi Dion tetap mengenalnya. Anak laki-laki itu memiliki penglihatan yang sangat tajam. Jadi, pihak rumah sakit tidak bisa mengelabui Dion lagi.
...
Rhiana dengan taxi menuju rumah sakit tempat Dion dirawat. Dengan masker menutupi sebagian wajahnya, Rhiana dengan tenang masuk ke lobby. Tanpa menuju bagian administrasi, Rhiana menuju ruang rawat Dion di lantai dua.
Dari luar pintu Rhiana bisa mendengar tangisan Dion yang ingin sekali bertemu dengannya. Rhiana tersenyum tipis dan membuka pintu untuk masuk.
Ada seorang dokter dan dua perawat yang sedang berusaha membujuk Dion. Ibu Dion juga ada di sana. Dion sendiri masih meringkuk di atas brankar tidak ingin makan.
Rhiana dengan langkah pelan menghampiri salah satu perawat dan mengambil mangkuk berisi bubur ayam di tangannya. Sebelum perawat itu bereaksi, Rhiana sudah memberi isyarat untuk diam. Rhiana menghampiri Dion dan mengelus pelan pucuk kepala anak itu.
Dokter dan dua perawat tidak pernah berpikir bahwa orang asing ini benar-benar gadis malaikat yang mereka tahu. Mereka hanya berpikir, ini keluarga Dion yang ikut membujuk.
"Kamu lupa dengan apa yang kakak katakan?" Suara Rhiana yang lembut membuat Dion dengan cepat mengenalinya. Bocah laki-laki itu segera keluar dari selimut dan menatap Rhiana dengan mata bulatnya yang lucu.
"Anak laki-laki tidak boleh menangis." Dion merespon lalu tersenyum menatap Rhiana.
"Kakak baik..." Sambung Dion dan memeluk erat pinggang Rhiana. Dion kembali menangis. Tapi kali ini tangisan bahagia.
Ibu Dion, Dokter wanita dan dua perawat itu tercengang. Ini kakak baik yang asli? Apa itu benar? Apa dia benar-benar gadis malaikat? Ini nyata? Mereka kebingungan.
__ADS_1
Tapi setelah dipikir-pikir, memang belum ada berita resmi bahwa gadis malaikat itu meninggal. Jika dia benar-benar mati di reruntuhan itu, setidaknya tim forensik akan menemukan sedikit saja bagian tubuhnya. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda kematian di reruntuhan gedung olimpiade itu.
Jadi, gadis malaikat itu benar-benar masih hidup? Ini berita mengejutkan! Ternyata mereka bisa melihat langsung si gadis malaikat ini. Bolehkah mereka meminta tanda tangan? Tidak! Mari pikirkan tugas mereka lebih dulu.
"Kakak kembali untuk menepati janji. Dion masih ingat, 'kan?" Rhiana mengusap pelan kepala Dion dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang mangkuk.
"Masih, Kak."
"Bagus. Sebelum itu, Dion makan dulu. Mau kakak suap?" Dion dengan semangat mengangguk.
Rhiana tersenyum tipis dibalik maskernya sambil menyuapi Dion yang makan dengan lahap hingga mangkuk itu kosong. Semua orang tersenyum senang. Akhirnya Dion kembali ceria.
"Jadi, dimana ponsel kakak?" Tanya Rhiana yang kini duduk di samping brankar.
"Dion akan mengambilnya untuk kakak." Dion dengan semangat turun dari tempat tidur dan mengambil tas miliknya di atas meja.
Yang lain hanya menatap apa yang Dion lakukan.
"Terima kasih, Dion." Rhiana mengambil ponselnya lalu mengusap lembut kepala Dion.
"Sama-sama, Kak. Siapa nama kakak baik?" Dion sangat ingin tahu nama Rhiana.
Rhiana menoleh menatap wajah empat orang dewasa di belakangnya. Dari ekspresi mereka, jelas sekali mereka sangat penasaran siapa nama gadis malaikat ini. Rhiana tersenyum dan memberi isyarat pada Dion untuk lebih dekat padanya. Rhiana lalu berbisik pada Dion.
"Nama kakak, Rhiana. Cukup Dion saja yang tahu. Jangan beritahu siapapun. Ini rahasia kita," Dion mengangguk dan tersenyum. Tentu saja dia sangat senang.
Empat orang dewasa di belakang Rhiana hanya bisa menghela nafas kecewa.
"Dion punya satu permintaan, Kak." Dion terlihat gugup. Rhiana mengerutkan kening menatap Dion.
"Katakan saja, Dion. Jangan memasang wajah seperti itu." Meski wajah gugup Dion lucu, tapi Rhiana kasihan juga karena sepertinya permintaan Dion ini berat hingga dia memasang wajah itu.
"Boleh Dion melihat wajah kakak baik?" Meski Dion sudah kenal dengan mata biru itu, tapi dia juga ingin melihat semua bagian wajah kakak baiknya tanpa ditutupi.
"Itu bukan permintaan yang sulit, jadi jangan gugup. Ini juga rahasia kita." Rhiana tersenyum dan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah empat orang dewasa itu melihat wajahnya atau tidak.
"Kakak baik sangat cantik." Komentar Dion sangat senang melihat wajah cantik Rhiana.
Keempat orang dewasa di belakang semakin penasaran karena mendengar komentar Dion. Cantik? Secantik apa gadis malaikat ini? Mereka sangat ingin maju dan melihat wajah itu. Tapi mereka masih punya sopan santun.
Jelas itu cantik. Bagian belakang kepala saja menurut mereka sangat cantik. Dahi, alis hingga mata gadis malaikat ini sangat cantik. Melihat sebagian wajah itu saja mereka sadar gadis malaikat ini begitu cantik. Mereka kini iri pada Dion.
"Baiklah. Sudah waktunya kakak pergi. Ada yang harus kakak lakukan. Jangan menangis lagi, Dion. Kalau Dion menangis, kakak tidak akan bertemu Dion lagi." Rhiana berdiri bersiap pergi. Sebelum itu, masker hitam sudah kembali menutup sebagian wajahnya.
"Kakak baik mau pergi?" Wajah Dion menjadi sedih.
"Ya. Jika kakak ada waktu, kakak akan mencari Dion. Sebelum itu, Dion harus mendengar apa kata ibu dokter. Setelah Dion keluar dari rumah sakit, kakak akan mencari Dion."
"Kakak janji?" Dion mengulurkan jari kelingkingnya pada Rhiana.
"Janji," Rhiana tersenyum tipis setelah kelingkingnya dan Dion menyatu.
Setelah itu, Rhiana pergi dari sana. Rhiana hanya pamit pada empat orang dewasa yang pandangan mereka tidak lepas darinya. Rhiana bahkan tidak memberi mereka kesempatan untuk bicara padanya. Rhiana tidak ingin ditanyai macam-macam.
Mereka yang ditinggalkan hanya bisa memasang wajah kecewa karena tidak mendapat informasi apapun. Berterima kasih saja tidak sempat karena Rhiana sudah melesat pergi.
Mereka kini mengelilingi Dion dengan satu pertanyaan, siapa nama kakak baik itu. Sayangnya, Dion tidak memberitahu mereka. Dia sudah berjanji pada kakak baiknya untuk menjaga rahasia.
...
Rhiana yang keluar dari rumah sakit tidak sadar bahwa media sosial kini heboh karena dua orang perawat dan Dokter psikolog itu memposting kabar mengejutkan.
Tentu saja postingan ketiga tim medis itu adalah kemunculan gadis misterius di rumah sakit mereka. Setelah beberapa menit kemudian, mereka juga menyertakan rekaman cctv masuknya Rhiana di rumah sakit hingga ke kamar Dion.
Netizen langsung percaya setelah memastikan memang benar itu postur tubuh si gadis malaikat mereka. Mereka tentu tidak salah mengenali orang.
__ADS_1
Komentar yang paling banyak, adalah saat rekaman cctv memperlihatkan Rhiana yang membuka maskernya dan menunjukan wajahnya pada Dion dengan membelakangi kamera.
Para netizen bahkan mengutuk rumah sakit yang memasang cctv di tempat yang salah. Padahal mereka sangat ingin tahu seperti wajah gadis malaikat itu.
Beberapa orang kini bergegas datang ke rumah sakit yang cukup terkenal di Rusia itu hanya untuk mencari jejak si gadis malaikat. Sayangnya mereka tidak menemukan apapun.
Sedangkan gadis malaikat yang diincar semua orang saat ini sedang mencari minuman di lemari pendingin di salah satu minimarket tidak jauh dari rumah sakit.
...
Rhiana membaca merek susu yang dipajang dalam lemari pendingin. Dia ingin mencoba rasa baru. Kebetulan ada beberapa rasa baru, sehingga Rhiana mengambil masing-masing satu untuk dicoba.
Setelah mengambil 4 jenis minuman susu kotak, Rhiana beralih ke deretan permen. Dia mencari lolipop. Rhiana adalah penikmat susu kotak dan lolipop coklat.
Mendapati kesukaannya lengkap, Rhiana bergegas ke tempat kasir. Kebetulan yang berjaga seorang pria muda.
Rhiana dengan santai meletakkan barang belanjanya juga disertai black card. Rhiana belum sadar apapun. Dia kini mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Si Dingin, tapi posesif😑:
Dimana, Baby?
^^^Rhiana:^^^
^^^Di minimarket, Kak. Ada apa?^^^
Si Dingin, tapi posesif😑:
Tidak ada. Kakak hanya khawatir kamu tidak ada di kamar.
Si Jahil Dalfa 🙉:
Sampai kapan kamu bersembunyi dari Brilyan?Kasihan dia. Dia terlihat menyedihkan karena terus mencarimu.
Si Dingin, tapi posesif😑:
Biarkan saja dia.
^^^Rhiana:^^^
^^^Setelah aku kembali dari Swiss, Kak. Aku tidak ingin dia mengganggu rencanaku.^^^
Si Jahil Dalfa 🙉:
Baiklah.
Si Dingin, tapi posesif😑:
Hm.
Rhiana yang asik membalas pesan dari kedua kakaknya, tidak sadar bahwa si kasir sudah memotretnya dan barang belanjanya kemudian mempostingnya di akun sosial medianya. Tentu saja postingan kasir muda itu dibanjiri komentar penasaran. Mereka bahkan bertanya alamat minimarket tempatnya bekerja.
"Sudah?" Tanya Rhiana setelah menyimpan kembali ponselnya.
"Sudah, Kak. Ini kartunya." Kasir muda itu dengan malu memberikan kantung plastik dan black card milik Rhiana.
"Terima kasih," Rhiana kemudian pergi dari sana.
Setelah kepergian Rhiana, kasir pria berusia 20an itu kembali membalas komentar para netizen. Dia dengan senang hati memberitahu alamat minimarket ini. Selain mendapat banyak pengikut, dua barang yang dibeli si gadis malaikat berhasil diborong habis. Betapa senangnya kasir itu.
Ada juga netizen yang membayar untuk membeli rekaman cctv yang memperlihatkan Rhiana membayar. Kasir itu dalam sehari memperoleh banyak keuntungan.
Karena rekaman cctv itu dibeli oleh seorang netizen yang memiliki pekerjaan sebagai wartawan, dia dengan cepat merilis berita kemunculan gadis malaikat.
Mata para netizen juga bisa melihat dengan jelas black card yang dipakai untuk membayar. Betapa kayanya gadis malaikat itu. Semua orang mulai mengikuti jalan di sekitar untuk mencari jejak Rhiana si gadis malaikat.
__ADS_1
Banyak orang bermunculan di depan rumah sakit, kini berpindah ke minimarket yang tidak jauh dari sana hanya untuk mencari dimana gadis malaikat itu.