Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Bikin Khawatir Saja


__ADS_3

Rhiana keluar dari rumahnya dengan motornya. Baru 1 km dari rumahnya, gadis itu memiringkan kepalanya melihat perkelahian beberapa meter di depannya. Motornya diparkir di samping jalan. Ada seseorang yang Rhiana kenal di sana. Orang itu terlihat kesulitan melawan 5 orang pria di sana.


Meski orang itu tidak suka padanya, tapi Rhiana masih punya hati nurani. Apalagi itu seorang gadis. Belum lagi, kekuatan gadis itu tidak sebanding dengan 5 orang itu. Jika satu atau dua orang mungkin masih bisa. Tapi ditambah 3 orang, kekuatan gadis itu bukan apa-apa.


"Tapi, apa yang dia lakukan di sini? Aku tidak pernah melihatnya di kompleks ini," Gumam Rhiana dalam hati setelah melepas helmnya. Bukannya gadis itu adalah anak orang kaya? Untuk apa dia ada di sini?


Kompleks tempat tinggal Rhiana ini adalah kompleks keluarga kantoran ataupun keluaga dengan usaha kecil-kecilan. Jadi, melihat kemunculan gadis berseram sama dengannya itu di sini membuatnya heran. Rhiana juga malas mencari tahu identitas gadis itu. Baginya itu tidak penting.


SET


HUP


BUGH


BRUKK


Rhiana dengan cepat menangkap tinju yang sedikit lagi akan mengenai wajah gadis berseragam sama dengannya itu. Tangan kanannya menangkap kepalan tangan besar itu, sedangkan tangan kiri Rhiana menarik gadis itu ke sisinya. Setelah itu, Rhiana menendang perut si peninju itu sehingga pria itu terjatuh mengenai aspal jalan.


"Diam di tempatmu!" Rhiana berbicara dengan datar pada gadis berambut sebahu itu kemudian menghampiri lima pria yang sudah memasang kuda-kuda ingin melawannya.


SET


Rhiana menunduk ingin menghindar dari balok yang dilayangkan ke arah kepalanya. Alhasil, rambut cepolnya terlepas dan terurai ke bawah. Meski memakai kaca mata bulat besar, tapi kecantikan Rhiana mampu membuat siapapun terpesona.


5 menit kemudian.


Lima pria berwajah sampah itu sudah terkapar mengenaskan di aspal jalan.


Posisi Rhiana yang berdiri membelakangi lima pria yang terkapar mengenaskan, ditambah rambut panjangnya tertiup angin membuatnya terlihat seperti seorang jenderal yang mengalahkan musuh di medan perang. Benar-benar terlihat keren! Gadis yang Rhiana tolong itu menatap Rhiana dengan wajah memerah. Dia terpesona melihat Rhiana.


Rhiana kemudian berjalan ke arah motor dan berniat pergi.


"Tunggu!"


"Ada apa?" Rhiana bertanya setelah memasang helm di kepalanya. Sebelum itu, rambutnya sudah kembali dicepol dengan ikat rambut cadangan dalam tasnya.


"Terima kasih."


Rhiana menaikkan sebelah alisnya melihat wajah gugup gadis di depannya ini. Ini pertama kalinya dia melihat ekspresi ini. Padahal saat di sekolah, gadis ini selalu menatapnya dengan tatapan tidak suka dan selalu berusaha menjahilinya. Untungnya ada Brilyan, Dalfa dan Dalfi, sehingga Rhiana selalu aman dari jebakan para betina di sekolah.


"Hm. Naik apa kamu ke sekolah?" Tanya Rhiana sambil memperhatikan gadis tomboy di depannya ini. Ada memar di lutut dan lengan gadis tomboy itu.


"Biasanya aku naik bus. Tunggu! Bisakah kamu merahasiakan ini?" Ucap gadis itu masih dalam keadaan gugup.


"Merahasiakan apa?" Rhiana bertanya karena tidak mengerti.


"Rahasiakan dari teman-teman di sekolah jika aku bukan anak orang kaya."


"Aku tidak punya waktu mengurus urusan orang lain. Kamu juga seharusnya tahu, jika aku tidak punya teman lain selain tiga orang itu." Rhiana menjawab dengan malas. Tangannya juga bergerak menyalakan mesin motor.

__ADS_1


Rhiana juga baru tahu, ternyata gadis dengan nama Alviona ini bukan anak orang kaya. Bisa-bisanya dia berbohong pada semua orang di sekolah jika dia anak orang kaya. Rhiana kini khawatir dengan keluarga gadis ini. Apa mereka baik-baik saja? Pengeluaran di sekolah elit Swiss tidaklah sedikit.


Semua yang bersekolah di sekolah elit Swiss, rata-rata anak orang kaya. Jika orang miskin atau orang biasa yang bersekolah di sana sudah pasti mereka murid beasiswa. Itupun hanya sedikit orang yang mendapat beasiswa di sana karena seleksi yang cukup ketat. Yang Rhiana tahu, gadis ini tidak termasuk murid beasiswa.


Alviona adalah gadis yang pernah berduel takewondo waktu itu dengan Rhiana untuk pengambilan poin. Mereka juga sekelas, tapi Alviona sudah pindah kelas karena nilainya turun 5 poin semester lalu.


"Aku pegang kata-katamu." Alviona bernafas legah.


"Naik!" Rhiana memberi perintah tanpa ingin dibantah. Alviona dengan patuh naik di atas motor. Rhiana kemudian menjalankan motor ke klinik terdekat untuk mengobati memar di tubuh Alviona sebelum mereka ke sekolah.


***


Rhiana menguap karena bosan. Tidak ada yang terjadi beberapa hari ini. Biasanya jika bukan Brilyan yang mengganggunya, pasti Artya yang mengganggunya. Tapi tidak ada yang terjadi. Brilyan sendiri diawasi oleh Dalfa dan Dalfi sehingga tidak mengganggunya.


Rhiana menatap ponselnya. Biasanya setiap hari Artya selalu menelponnya ataupun mengirim pesan padanya sekedar mengganggunya, tapi sudah hampir dua minggu ini, pria itu tidak menghubunginya sama sekali.


Rhiana yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada pria itu. Sejak mereka turun dari jet pribadi dua minggu lalu, Artya mendapat telepon. Wajah pria itu terlihat serius menerima telpon dan dengan cepat mengantar Rhiana pulang sebelum pergi.


Rhiana menopang kepalanya terus memikirkan apa pekerjaan Artya. Jika masalah perusahaan, Felix seharusnya yang menangani masalah itu. Tapi, ekspresi Felix terlihat biasa saja dan justru terlihat kebingungan melihat Artya menerima telepon. Itu berarti, Artya memiliki pekerjaan lain yang tidak diketahui Felix. Tapi apa? Sepertinya si penggila kebersihan itu bukan orang biasa.


"Si penggila kebersihan itu bikin khawatir saja," Rhiana mendengus dan berdiri dari tempat duduknya bersiap keluar. Entah kemana dia akan pergi, dia ingin keluar saja.


Mencari udara segar cukup bagus, pikirnya. Dari pada khawatir pada pria itu, lebih baik dia menenangkan diri. Bukannya dia seharusnya senang karena tidak ada yang mengganggu? Tapi entah kenapa, gangguan yang selalu datang setiap hari itu tidak membuatnya risih lagi.


Rhiana menghembuskan nafas pelan sebelum memasang helm dan menyalakan mesin motor kemudian pergi meninggalkan pekarangan rumah sederhananya.


...


"Apa aku harus mencari tahu keberadaan pria itu?" Gumam Rhiana dalam hati. Dia sedikit khawatir pada Artya. Ingat! Hanya sedikit.


Rhiana menghentikan motornya dan mengambil ponsel dalam saku celananya. Dia mengirim pesan pada seseorang. Sambil menunggu balasan, Rhiana turun dari motor dan menuju supermarket tepat di samping jalan tol.


Rhiana berencana membeli minum sekaligus menyegarkan matanya di sana. Siapa tahu ada hal menarik di dalam sana.


Sebelum masuk, Rhiana menatap penampilannya terlebih dahulu. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Untungnya dia sedang dalam mode penyamaran sehingga dia aman sekarang. Rhiana tersenyum tipis dan masuk ke dalam supermarket.


"Permisi, Nona. Anda kapten basket putri sekolah elit Swiss, 'kan?" Baru saja memasuki pintu utama, Rhiana sudah di sapa lebih dulu oleh petugas yang berjaga.


"Sepertinya anda salah orang, Paman." Rhiana mengelak dan tersenyum tipis. Dia pikir penyamarannya sekarang aman, kenapa tetap menarik perhatian orang?


Rhiana belum tahu bahwa identitasnya sebagai kapten basket putri sekolah elit Swiss sudah dikenal cukup banyak orang di Swiss yang menggemari olahraga.


Mereka tentu saja mengagumi Rhiana si gadis cupu karena berhasil memperlihatkan aksi menariknya selama olimpiade. Bukan hanya basket, tapi juga takewondo. Tentu saja orang-orang penggemar basket dan takewondo semua mengidolakannya.


"Wajah anda sangat mirip dengannya, Nona." Petugas itu masih keukeh dengan pendapatnya. Belum lagi, ponsel di tangannya yang menampilkan foto Rhiana yang sangat jelas memperlihatkan wajahnya di sekolah. Petugas itu yakin, dia tidak salah mengenali orang.


"Banyak orang berpikir wajah saya mirip dengannya, Paman. Tapi kami bukan orang yang sama, Paman. Permisi," Rhiana menjelaskan dengan berbohong sebelum masuk ke dalam.


"Kapten? Kebetulan sekali kita bertemu. Ayo masuk bersama!" Rhiana menepuk dahinya karena mendengar teriakan heboh salah satu teman basketnya. Ketahuan sudah kebohongannya.

__ADS_1


"Jadi... Nona ini benar-benar kapten basket sekolah elit Swiss?" Petugas tadi segera mengkonfirmasi.


"Benar, Paman! Dia kapten basket kami. Bukankah dia sangat hebat? Paman pasti sudah menonton aksinya, 'kan?" Teman satu club basket dengan Rhiana bernama Nike itu memuji dengan semangat.


"Benar sekali, Nona. Saya dan anak saya penggemar berat Nona Rhiana. Sudah lama sejak olimpiade itu, kami ingin bertemu dan meminta foto dan tanda tangan nona.


Sayangnya, ketika kami menunggu di bandara, ternyata kami tidak bertemu dengan Nona Rhiana sama sekali. Anak saya yang berumur 5 tahun sedih dan bahkan sakit hampir satu minggu. Untungnya obat dari pihak rumah sakit sangat manjur, sehingga anak saya cepat sembuh.


Setelah sembuh, dokter berpesan agar segera memenuhi keinginan anak saya, agar tidak meninggalkan tekanan batin padanya. Jadi, saya mohon, Nona. Bisakah anda membantu saya? Fotolah bersama saya juga berilah tanda tangan di buku ini untuk anak saya." Petugas berumur 40an itu berbicara dengan wajah sedih. Dia sangat berharap pada Rhiana.


"Kasihan sekali. Ayo, Rhi... bantu bapak ini." Nike menarik Rhiana untuk mendekat pada si petugas itu.


Rhiana memasang senyum paksa dan mengangguk mengiyakan untuk foto bersama juga memberikan tanda tangannya.


Setelah mengambil beberapa foto dan memberikan tanda tangannya, Rhiana menghela nafas legah dan berniat masuk ke dalam. Baru saja Rhiana akan berbalik masuk, dia menghentikan niatnya karena menyadari ada beberapa anak muda berdiri beberapa meter dengan mereka.


Mereka berdiri sambil memegang ponsel dan kertas di tangan masing-masing. Rhiana tiba-tiba memiliki firasat buruk. Dan benar saja, Rhiana dikerumuni 6 pemuda yang mungkin seusia dengannya atau lebih. Mereka mendesak Rhiana untuk foto bersama juga memberikan tanda tangan.


Rhiana yang ingin kabur, justru ditahan oleh Nike. Teman seclub basket dengannya itu sangat bersemangat mengatur pemuda-pemuda itu untuk berbaris dan maju satu persatu di depan Rhiana.


Rhiana sedikit berpikir, kemudian tersenyum dan mengambil ponselnya dalam saku celana. Rhiana memasang pose menerima panggilan dan sedikit menjaga jarak dengan para pemuda itu.


Melihat sekitar, Rhiana dengan cepat lari sebelum mereka menyadarinya. Alhasil, terjadi aksi kejar-kejar di dalam supermarket itu.


Untungnya Rhiana sangat cepat, sehingga mudah lepas dari kejaran para pemuda itu dan juga Nike. Rhiana menghela nafas legah dan dengan tenang mencari jalan menuju toko baju. Dia ingin membeli baju, juga beberapa perlengkapan untuk melarikan diri.


Setelah mendapat semua yang diinginkan, Rhiana dengan tenang keluar dari supermarket. Dia harus segera menuju tempat yang dikatakan dalam pesan yang dikirim beberapa saat lalu padanya. Itu adalah pesan keberadaan Artya.


Padahal Rhiana tidak ingin sampai sejauh ini, tapi, tidak diganggu oleh si penggila kebersihan itu membuatnya khawatir pada pria itu.


Rhiana berjalan pelan ke arah motornya. Itu masih beberapa meter lagi di depan. Sampai di motornya, Rhiana segera naik dan pergi dari sana.


...


Rhiana mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata. Tatapannya lurus ke depan. Dia bergitu tenang mengendarai motor, hingga sebuah mobil di sisi kanan melewatinya begitu cepat. Rhiana juga dengan cepat menoleh untuk memastikan apa dia tidak salah lihat. Ternyata benar. Itu mobil Artya.


Rhiana tidak mungkin salah. Meski dia hanya melihat mobil itu sekali di garasi rumah Artya, tapi ingatannya masih sangat bagus untuk mengenali mobil semahal dan secanggih itu. Laju mobil itu tidak biasa. Itu kecepatan yang melanggar aturan lalu lintas.


Rhiana menebak, pasti ada yang terjadi. Rhiana segera memutarbalikkan motornya untuk mengejar mobil Artya.


Karena kecepatan motor metic miliknya tidak sebanding dengan kecepatan mobil canggih milik Artya, Rhiana hanya bisa mengikuti dari jarak jauh. Untungnya matanya masih bagus untuk melihat dari jarak sejauh itu.


5 menit kemudian.


Rhiana memarkir motornya cukup jauh dengan mobil Artya. Rhiana tanpa melepas helm, terus menatap ke arah mobil Artya. Hingga pintu mobil bagian sopir terbuka. Seseorang pria keluar dari sana. Pria itu kemudian membuka pintu belakang mobil .


Rhiana menatap bangunan bertingkat yang di depannya terparkir mobil Artya. Setahunya ini bangunan khusus Badan Intelijen Internasional yang disamarkan sebagai motel.


Rhiana menyipit matanya terus menatap siapa saja yang keluar dari mobil itu. Rhiana dengan cepat turun dari motornya karena merasa mengenal seseorang yang dibopong oleh dua orang.

__ADS_1


"Semoga aku salah orang," Gumam Rhiana dan melepas helm kemudian turun dari motor.


"Bantu aku, Gledy!" Rhiana berbicara setelah menekan chip di belakang telinganya.


__ADS_2