
Prittt
Wasit meniup peluit tanda pertandingan final basket putri akan dimulai. Kedua tim diminta berbaris saling berhadapan untuk memberi hormat sebelum memulai pertandingan.
Setelah itu, kedua tim mulai bersiap di posisi masing-masing. Wasit akan melambungkan bola ke atas kemudian satu pemain dari kedua tim harus melompat untuk mengambil bola itu. Di kedua tim, mereka memilih pemain paling tinggi untuk merebut bola yang jatuh.
Syuut!
Bola berhasil diraih oleh pemain tim Rusia bernomor punggung 9. Lompatan gadis itu lumayan tinggi. Wajar jika dia yang mendapatkan bola lebih dulu.
Pemain tim Rusia itu lalu mengoper bola pada Marie. Marie dengan senang hati menerima bola kemudian mendriblenya menuju ring tim Swiss.
[Kyak!!!]
[Ace tim Rusia benar-benar hebat!]
[Dia sudah melewati dua orang tim Swiss yang menjaganya,]
[Dia benar-benar keren!]
Sret!
Rhiana kini berada di depan Marie. Rhiana ingin tahu apa yang akan Marie lakukan untuk melewatinya. Rhiana sangat menunggu aksi gadis di depannya ini.
"Aku pastikan akan menang hari ini. Jangan mencoba menghalangiku!" Suara Marie penuh intimidasi. Rhiana hanya tersenyum tipis tidak merasa tersinggung.
Sret!
[Ace tim Rusia berhasil melewati penjagaan ace tim Swiss.]
[Sepertinya dia akan mencetak poin.]
[Benar! Ternyata ace Rusia itu sangat hebat!]
Marie yang berhasil melewati Rhiana tersenyum tipis. Marie bergumam dan terus mendrible bola hampir sampai di ring tim Swiss.
"Keahlianmu masih di bawahku."
Di saat Marie melompat dan akan memasukan bola ke dalam ring, sebuah tangan tiba-tiba menahan bola yang akan masuk itu. Bahkan mengambil bola itu dari tangan Marie.
"Bagaimana bisa?" Marie tercengang melihat keberadaan Rhiana di sampingnya.
"Aku sudah memastikan dia di belakangku sebelum aku melompat, kenapa dia sudah ada di sini?" Gumam Marie dalam hati.
Marie yang masih tercengang tidak menyadari Rhiana yang sudah mendrible bola menjauh darinya. Rhiana tidak melihat Marie dan terus maju hingga senyum terukir di bibirnya ketika Marie tiba-tiba menghadang di depannya. Sepertinya Marie ingin merebut bola darinya.
"Heh... kamu sangat cepat ternyata..." Rhiana berbicara sambil mendrible bola di tempat. Pandangannya diarahkan ke sekeliling untuk mencari rekan setimnya.
[Kedua ace kembali berhadapan, kira-kira tim mana yang akan mendapatkan poin pertama?]
[Tentu saja itu tim Swiss. Kamu tidak lihat kecepatannya dalam merebut kembali bola?]
[Belum tentu. Ace tim Rusia juga cepat.]
[Keduanya sama-sama hebat. Aku bingung ingin mendukung tim yang mana,]
[Tidak salah lagi, ace tim Swiss yang lebih hebat. Dia terlihat sangat santai.]
Percakapan penonton ternyata sampai di telinga Rhiana dan Marie. Rhiana hanya terkekeh sedangkan Marie mulai terlihat kesal.
"Akan kubungkam mulut mereka," Kesal Marie dalam hati.
Marie lalu bergerak maju ingin mengambil bola di tangan Rhiana. Sayangnya, Rhiana dengan santai mengelak ke sisi lain.
"Serangan cepat! Maju, Nare..." Rhiana sedikit berteriak setelah mengoper bola pada Nare, rekan setimnya.
Marie mengerutkan kening dan ingin menyusul Nare untuk mengambil bola. Sayangnya, Rhiana dengan cepat menjaganya.
"Bagaimana jika set pertama kita berikan untuk rekan setim? Jangan terlalu egois, Marie." Rhiana berbicara dengan santai. Tentu saja Rhiana ingin memancing kemarahan Marie.
__ADS_1
"Egois? Aku seorang ace dalam tim. Sudah menjadi tugasku untuk mencetak poin." Geram Marie dan ingin lepas dari penjagaan Rhiana.
"Aku tahu itu. Tapi, mari berikan mereka kesempatan di set pertama ini. Aku jamin, set kedua akan lebih heboh dari ini." Rhiana menyahut setelah kembali menjaga Marie.
Shut!
2 poin untuk tim Swiss.
Ternyata Nare berhasil mencetak poin.
"Sial... kenapa dia sangat kuat? Tidak bisa! Aku tidak boleh kalah lagi." Marie menggeram dalam hati. Dia tidak bisa lepas dari Rhiana. Dia dijaga begitu ketat.
Seperti yang Rhiana katakan, set pertama harus diberikan untuk rekan setim mencetak poin. Jadi, selama 10 menit di set pertama ini, Rhiana terus menjaga Marie agar tidak merebut bola dari pemain tim Swiss maupun menerima operan dari tim Rusia sendiri.
Marie benar-benar kesal. Dia sama sekali tidak bisa lepas dari penjagaan Rhiana. Sekarang Swiss sudah unggul 5 poin.
"Tenanglah, Kawan. 2 menit lagi set pertama ini akan berakhir," Rhiana memberitahu setelah dia kembali menjaga Marrie.
"Kamu..." Marie kesal setengah mati.
Treeeettt
Suara tanda set pertama telah selesai. Poin kedua tim 22-25 poin. Swiss lebih unggul.
...
"Bagaimana mungkin aku tidak bisa mengalahkannya?" Geram Marie dalam hati. Dia sedang duduk di bangku cadangan. Kedua tim diberi waktu istirahat beberapa menit sebelum set kedua dimulai.
Marie bahkan mengabaikan pelatih mereka yang sedang memberikan arahan. Pandangannya fokus menatap Rhiana yang tersenyum lembut selama berbicara dengan rekan setimnya.
"Ck... sepertinya aku harus menggunakan cara itu," Gumam Marie dan berdiri bersiap masuk ke lapangan karena set kedua akan dimulai.
...
Marie kali ini menjadi point guard. Tugas utama seorang point guard adalah mengatur serangan timnya dengan mengontrol bola dan memberikan umpan kepada pemain lain pada saat yang tepat untuk mencetak poin.
Rhiana juga memposisikan diri di depan Marie. Tentu saja dia harus merebut bola dari Marie.
Posisi kembali ke awal.
Rhiana masih menjaga Marie. Rhiana mengerutkan kening karena Marie terlihat ingin melakukan sesuatu.
Sret!
Sret!
"Jangan bilang..." Rhiana menyadari maksud Marie setelah menghindar dari beberapa gerakan gadis itu yang menurut Rhiana terlihat mencurigakan.
Rhiana tentu saja curiga, karena gerakan Marie yang ingin maju, justru terburu-buru dan terlihat mengincar kakinya. Untung saja Rhiana cepat menghindar.
Gerakan Marie yang kedua, ketika berbalik ingin mengoper bola pada rekan setimnya, Marie berbalik dengan sangat cepat, dan sikunya hampir saja mengenai dada Rhiana jika dia tidak cepat menghindar.
Rhiana menghembuskan nafas pelan berusaha untuk tidak memikirkan kemungkinan itu.
...
"Hehh... dia sangat ingin menang, ya." Rhiana bergumam karena Marie sedari tadi terus mencetak poin berturut-turut.
Skor sekarang, 50-40 poin. Tim Rusia unggul 10 poin. Pendukung tim Rusia berteriak heboh. Nama Marie yang paling mendominasi di tim Rusia. Jelas saja, karena aksinya yang membuat kagum para penonton. Marie memasang senyum bangga pada Rhiana.
"Poin kita semakin tertinggal jauh. Apa yang harus kita lakukan, Kapten?" Nare bertanya pada Rhiana setelah pelatih tim Swiss meminta time out.
"Tidak ada. Lakukan saja seperti biasa. Kalian bebas bergerak sesuka kalian. Bukan begitu, Pelatih?" Rhiana menoleh menatap pelatih yang terlihat khawatir.
Melihat wajah tenang Rhiana, pelatih Swiss itu tidak lagi khawatir dan justru menyerahkan komando pada Rhiana sebagai kapten tim basket.
"Lakukan seperti biasa?" Tanya pemain bernomor punggung 5. Rhiana hanya membalas dengan mengangguk.
"Tapi, ace tim Rusia itu sangat hebat. Kita tidak bisa menjaganya. Dia terlalu hebat, Kapten." Pemain lain menyahut. Dia yang paling sering dicuri bolanya oleh Marie. Tentu saja dia merasa bersalah.
__ADS_1
"Berusaha lagi. Aku yakin, kalian pasti bisa. Percayalah pada kemampuan kalian. Jangan terlalu memandang tinggi lawan," Rhiana menjawab dengan santai setelah mengambil permen karet dalam tas kemudian mengunyahnya.
Sedangkan di sisi tim Rusia, Marie terus saja menatap wajah tenang Rhiana. Marie kesal melihat wajah tenang itu. Tim Swiss saat ini sedang terdesak, tapi Rhiana terlihat tenang-tenang saja. Padahal Marie ingin melihat sedikit saja wajah kesalnya, tapi sama sekali tidak sesuai ekspektasinya.
"Tunggu saja. Akan kubuat wajah itu menjadi kesal." Gumam Marie dan mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Ada apa denganmu, Marie? Tim kita masih unggul. Kenapa kamu terlihat kesal?" Tanya pelatih tim Rusia.
"Tidak ada apa-apa, Pelatih."
"Ya, sudah. Tenangkan dirimu agar tidak mengganggu pertandingan."
"Siap, Pelatih."
Treettt
Suara tanda time out berakhir. Kedua tim kembali ke lapangan.
...
Kali ini tim Swiss yang mendapat bola. Rhiana saat ini berperan sebagai point guard. Senyum tipis terukir di bibirnya ketika melihat Marie di depannya.
"Sebelumnya, aku merasa permainanmu akan membuatku terkesan. Kenyataannya, permainanmu hanya biasa saja. Aku sedikit kecewa," Rhiana memprovokasi sambil mendrible bola di tempat.
"Biasa saja? Jangan memprovokasiku!" Marie membalas dengan kesal.
"Kenyataannya memang seperti itu, 'kan? Atau... ingin kutunjukan seperti apa permainan yang membuat orang terkesan?" Rhiana tersenyum mengancam dan mulai bergerak melewati Marie dengan cepat. Marie bahkan belum sempat bereaksi karena masih tercengang dengan kecepatan Rhiana.
Sret!
Rhiana berputar lalu melepaskan bola di tangannya melewati bagian kaki salah satu pemain Rusia kemudian kembali menangkap dan mendrible bola dengan cepat melewati pemain itu. Gerakan Rhiana sama sekali tidak bisa diikuti.
Setelah melewati Marie dan pemain Rusia bernomor punggung 7, pemain Rusia lain kembali menjaganya. Rhiana bahkan tidak sempat melihat jelas seperti apa wajah pemain Rusia itu, karena dia sudah melewatinya.
Ketika sampai di bawah ring, sudah ada Marie dan satu rekan setimnya yang menjaga Rhiana. Mereka tentu saja ingin menggagalkan Rhiana yang ingin memasukan bola ke dalam ring.
"Ingin melihat sesuatu yang menarik?" Tanya Rhiana pada Marie. Gadis yang ditanya itu hanya mengerutkan kening tidak mengerti. Rhiana hanya tersenyum tipis.
"Biar kutunjukan!" Setelah mengatakan itu, Rhiana mulai melompat diikuti oleh Marie dan satu pemain Rusia bernomor punggung 10.
[Ace tim Swiss benar-benar hebat!]
[Gerakannya hampir tidak bisa aku baca,]
[Kamu benar. Dia berhasil melewati tiga orang. Entah sekarang apa yang akan dia lakukan untuk melewati dua orang itu.]
Rhiana tidak merasa terdesak karena dihadang oleh dua orang. Bola masih ada di tangannya yang siap dimasukan dalam ring. Sedikit lagi Rhiana akan melepas bola, tangan Marie dan rekan setimnya sudah hampir menyentuh bola di tangan Rhiana.
Rhiana tiba-tiba tersenyum dan kembali menahan bola dengan kedua tangannya dan dengan cepat merubah arah lompatannya yang masih di udara menjadi beralih ke belakang ring, kemudian melempar bola dari sana.
Sret!
Syut!
Treeet.
Poin untuk tim Swiss.
[Hebat!]
[Gila... dia benar-benar keren!]
[Bagaimana bisa bola dimasukan lewat belakang ring? Benar-benar hebat!]
[Gerakannya sangat cepat. Dia berhasil melewati mereka semua dan memasukan bola bahkan lewat belakang ring. Bukankah itu luar biasa?]
Semua penonton masih tercengang karena apa yang Rhiana lakukan. Selama olimpiade, tidak ada satupun pemain yang melakukan apa yang Rhiana lakukan. Mereka benar-benar tercengang.
Marie sendiri terdiam di tempatnya. Seperti yang Rhiana katakan, aksinya ini membuat semua orang tercengang, termasuk dirinya. Berapa lama dia harus belajar agar bisa melakukan shooting seperti itu?
__ADS_1
Di kursi penonton, Brilyan menatap Rhiana dengan syok. Dia sama sekali tidak bisa melakukan gerakan seperti itu. Benar-benar gaya bebas yang sangat keren.
Dalfa dan Dalfi juga tercengang. Selama bermain basket dengan Rhiana sejak mereka kecil hingga sekarang, mereka sama sekali tidak pernah melihatnya melakukan gerakan seperti itu. Entah dari mana adik kesayangan mereka ini belajar gerakan itu.