Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Dijodohkan Netizen


__ADS_3

Rhiana menaikkan sebelah alisnya melihat pipi sebelah kanan Artya memerah dan sedikit bengkak. Apa yang sudah terjadi pada si penggila kebersihan ini?


Keduanya masih di jet pribadi. Rhiana bangun beberapa menit lalu karena panggilan alam. Setelah kembali dari toilet, dia tidak berniat tidur lagi. Rhiana mengambil tempat duduk berhadapan dengan Artya yang sibuk dengan laptopnya.


"Ada apa dengan pipimu, Kak?" Rhiana bertanya karena penasaran.


Bukankah tadi wajah pria itu baik-baik saja? Kenapa sudah berubah seperti itu? Jika dia jatuh, jatuh seperti apa yang meninggalkan bekas? Jika dilihat dengan baik, itu mirip dengan tamparan. Tapi, siapa yang berani memukul orang ini?


"Tidak sengaja terbentur." Jawaban Artya tentu saja tidak masuk akal bagi Rhiana.


Artya adalah maniak kebersihan. Setiap gerakannya sangat hati-hati karena takut terkontaminasi dengan kuman. Jadi, tidak mungkin pria itu ceroboh dan terbentur seperti itu. Sangat tidak masuk akal!


"Itu seperti bekas tamparan, Kak." Seru Rhiana dengan cepat. Matanya masih sangat baik untuk melihat itu.


BLUSH


Telinga Artya tiba-tiba memerah karena kepikiran dengan tingkahnya tadi. Rhiana yang melihat ekspresi tidak biasa Artya berkedip beberapa kali. Dia cukup terkejut melihatnya. Jadi, pria ini bisa malu juga? Cukup menarik!


"Hanya terbentur," Artya masih mempertahankan jawabannya.


"Oh. Lain kali hati-hati, Kak." Rhiana terpaksa percaya.


Sebelum Rhiana mengambil minuman di atas meja depannya, dia tiba-tiba menyadari ada cctv di pojok jet pribadi. Karena pria ini tidak berkata jujur, dia akan mencari tahu sendiri. Rhiana tersenyum tipis dan berpura-pura tidak tahu.


...


"Jadi..." Gumam Rhiana dan menahan senyumnya.


Ternyata wajah Artya seperti itu karena dia yang menamparnya. Rhiana tiba-tiba merasa senang. Sepertinya kekesalannya karena pria itu selama ini terbayarkan sekarang.


Tapi setelah dipikir-pikir, kenapa pria itu mendekat padanya yang sedang tidur? Apa yang ingin pria itu lakukan? Rhiana yakin tidak ada yang salah dengannya saat tidur.


Malas memikirkannya, Rhiana menyimpan kembali iPad dan berpindah ke ruang tamu dimana Artya sedang bekerja dengan laptopnya.


"Pipimu sudah diobati, Kak?" Tanya Rhiana setelah berdiri tepat di depan Artya.


"Belum." Artya menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. Pekerjaannya sangat banyak, sehingga dia tidak bisa lepas dari layar laptop.


Rhiana tersenyum tipis dan mengambil sesuatu dalam sakunya yang diminta dari pramugari tadi sebelum menemui Artya. Itu adalah salep untuk memar. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah menampar pria ini.


Meski dia tidak tahu apa motif Artya, tapi bengkak dan kemerahan di pipi Tuan muda Amstrong ini membuat hati nuraninya tidak tegah.


"Jangan bergerak, Kak. Aku akan mengoleskan salep." Rhiana menahan kepala Artya yang akan menoleh ke arahnya.


Artya sedikit menegang karena sentuhan Rhiana di pipinya. Padahal salep yang dioles di pipinya terasa dingin, tapi sentuhan Rhiana membuatnya tiba-tiba merasa panas. Tupai kecilnya ini selalu menguji kesabarannya. Untungnya dia punya pertahanan diri yang cukup kuat.


SRET!


BRUK!


Artya menarik Rhiana hingga terjatuh di pangkuannya. Pertahanan dirinya hanya tersisa sedikit. Tupai kecilnya ini sepertinya ingin memperovokasinya dengan mengusap berulang-ulang pipinya. Gerakan sensual Rhiana membuatnya Artya hampir kehilangan kesabarannya.


"Kamu tahu dimana kesalahanmu?" Tanya Artya pada Rhiana yang memasang wajah tidak berdosa.


"Tidak tahu." Rhiana menggeleng. Padahal dalam hati tertawa senang.


Tentu saja dia sengaja melakukan itu. Melihat telinga Artya yang memerah selama dia mengoles salep, Rhiana semakin ingin memprovokasi pria ini.


"Apa kamu sedekat ini juga dengan pria lain?" Tanya Artya sambil mengusap pelan pipi Rhiana. Wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti.


"Hm." Rhiana memasang pose berpikir sebelum berdehem dan mengangguk.


"Apa saja yang kalian lakukan?"


"Saat bersama Brilyan, dia memegang tanganku, memelukku, menciumku, men-"


"Bagian mana yang dia cium?" Artya segera menyahut dengan tidak senang.


"Pucuk kepalaku." Rhiana menjawab dengan jujur. Artya menarik Rhiana semakin mempersempit jarak mereka.


"Apalagi yang dia lakukan?"


"Hanya itu."


"Baguslah. Bagaimana dengan pria itu?"


"Siapa? Dalfa, Dalfi, atau Gledy?"

__ADS_1


"Aku tidak masalah kamu dekat dengan si kembar. Yang aku ingin tahu seperti apa kedekatanmu dengan Gledy. Apa saja yang sudah kalian lakukan?"


"Bersama Gledy, ada banyak hal yang sudah kami lakukan bersama."


"Banyak hal? Aku ingin tahu semuanya," Aura di ruang tamu jet pribadi tiba-tiba berubah sangat dingin.


Felix yang sedari tadi di ruangan lain dan ingin masuk untuk melapor, tidak berani masuk karena merasa merinding. Padahal satu kakinya baru menginjak pintu masuk ke ruang tamu jet pribadi, tapi tubuhnya sudah merinding.


Asisten Artya itu hanya bisa kembali dan menunggu suasana hati Tuannya kembali normal.


"Nona... hanya anda yang berani membuat suasana hati Tuan berubah-ubah. Saya kagum pada anda." Gumam Felix dalam hati. Sepertinya dia sudah menemukan orang yang bisa membantunya melawan majikan tirannya itu. Felix bersenandung senang.


"Kenapa kak Artya ingin tahu?" Tanya Rhiana penasaran. Rhiana bahkan tidak sadar dengan aura tidak senang pria di depannya ini.


"Katakan saja!"


"Sejak aku kecil, Gledy sudah dekat denganku. Dia selalu menjagaku. Tentu saja banyak hal sudah kami lakukan bersama. Berpegangan tangan, bermain bersama, tidur bersama, makan bersama. Pokoknya banyak hal." Rhiana menjawab sesuai kenyataan.


Gledy memang sedekat itu dengannya. Sejak kecil, mommynya menempatkan Gledy untuk menjaganya dan kedua saudaranya. Tapi karena Dalfa dan Dalfi tidak ingin dijaga, mereka menyuruh Gledy untuk lebih memperhatikan adik kesayangan mereka.


Bagi mereka, Rhiana lebih membutuhkan Gledy dari pada mereka yang seorang laki-laki. Padahal saat itu usia keduanya masih 2 tahun.


"Jangan meremasku seperti itu, Kak." Rhiana mengerutkan kening merasa remasan Artya di pinggangnya cukup kuat membuatnya tidak nyaman.


Artya menghembuskan nafas pelan menangkan dirinya sebelum menarik Rhiana ke dalam pelukannya. Artya tidak senang mendengar Tupai kecilnya sedekat itu dengan mahkluk berjenis kelamin sama dengannya.


Membaca komentar pujian orang-orang pada Tupai kecilnya saja, dia sudah tidak senang. Apalagi jika ada yang sedekat itu dengan Tupai kecilnya, suasana hatinya berubah menjadi buruk memikirkannya. Gadis ini sudah dia klaim menjadi miliknya. Jadi, jika ada yang berani dekat dengan miliknya selain keluarga, dia tidak suka.


Jika saja Rhiana tahu isi hati Artya, gadis itu sudah pasti memukul kepala pria itu agar sadar akan statusnya. Mereka bahkan tidak punya hubungan sedekat itu sampai harus cemburu satu sama lain. Rhiana sendiri juga tidak sadar akan sikap posesif Artya padanya yang menunjukan bahwa dia milik pria itu.


Rhiana sendiri punya tiga pria yang sangat posesif padanya sejak kecil, sehingga sikap Artya sekarang baginya itu hal biasa.


"Boleh aku melarangmu dekat dengan pria lain selain keluargamu?" Gumam Artya di atas kepala Rhiana.


"Tidak boleh. Kenapa juga aku harus mendengar perkataanmu, Kak?" Tanya Rhiana berusaha melepaskan diri dari pelukan Artya. Sayangnya, Artya tidak membiarkan Rhiana lepas dari pelukannya.


Rhiana tipe orang yang tidak suka dilarang ini dan itu. Apalagi yang melarang bukan keluarganya, tentu saja dia tidak akan menurut begitu saja.


"Tupai kecil..." Panggil Artya pelan.


"Namaku Rhiana jika kakak lupa,"


"Kenapa aku merinding dipanggil seperti itu? Panggil saja namaku, Kak."


"Tidak."


"Sudahlah. Aku malas berdebat. Turunkan aku, Kak."


"Tidak, sebelum kamu berjanji satu hal padaku!"


"Kemana perginya si tiran penggila kebersihan itu?" Rhiana mencibir tidak habis pikir.


"Sudah kubuang setelah bertemu denganmu, Tupai kecil."  Artya menjawab dengan berbisik.


"Ck... sudahlah. Biarkan aku turun, Kak. Aku ingin ke toilet."


"Tidak. Berjanji padaku dulu,"


"Tidak akan."


"Janji padaku atau aku cium?" Rhiana mendengus mendengar Artya mengeluarkan kalimat ancaman khasnya.


"Hm."


"Apa maksud deheman itu?" Artya sudah menarik seringai tipis khasnya di atas kepala Rhiana.


"Aku berjanji. Turunkan aku!" Rhiana menjawab dengan kesal. Memang, dia tidak bisa menang melawan pria ini dalam hal berdebat.


Padahal tadi Rhiana berpikir dia akan menang jika tidak menuruti perkataan si Tiran penggila kebersihan ini, siapa sangka ancaman khasnya tidak bisa Rhiana abaikan begitu saja.


"Terima kasih." Artya melepas pelukannya dan menarik senyum tipis yang begitu menawan pada Rhiana. Yang ditatap, menatap datar Artya dan bergegas turun.


***


2 hari kemudian.


°Send Foto°

__ADS_1


[Guys... Kita punya couple baru! Bukankah mereka terlihat serasi?]


[Kyaa!!! Kapalku! Aku setuju mereka menjadi sepasang kekasih.]


[Sepertinya mereka memang sepasang kekasih. Lihat saja perlakuan romantis pria itu. Aku iri melihat mereka. Aku juga berharap menemukan pria yang seperti itu.]


[Tapi... siapa pria itu? Kenapa aku tidak mengenalnya?]


[Aku juga tidak kenal pria itu. Tapi dia terlihat sangat kaya. Dia bahkan menjemput Nona muda Veenick dengan jet pribadi.]


[Aku kenal pria itu!]


[Katakan padaku, siapa pria itu?]


[Dia Tuan muda Amstrong. Ayahnya pengusaha kaya di Swiss.]


[Aku bukan warga Swiss, tapi aku tahu semua pengusaha kaya di negara itu. Aku tidak pernah mendengar nama keluarga Amstrong di sana.]


[Dia tidak menggunakan nama keluarga ayahnya, tapi nama keluarga ibunya.]


[Oh. Jadi, begitu. Pantas saja,]


[Kalau begitu, katakan nama keluarga ayahnya.]


[Scoth. Seharusnya kalian tahu sekaya apa keluarga itu di Swiss.]


[Jadi itu? Memang benar, keluarga Scoth memiliki banyak usaha dimana-mana. Mereka memang sangat kaya.]


[Tapi, bukankah masih ada keluarga Sefanno? Setahuku kekayaan keluarga Stefanno lebih banyak dari pada keluarga Scoth.]


[Aku tidak peduli keluarga mana yang lebih kaya. Aku hanya ingin tahu seperti apa watak Tuan Muda Amstrong itu. Apa dia cocok bersanding dengan dewiku atau tidak.]


[Aku setuju! Meski dia kaya, tapi jika sifanya buruk, percuma saja.]


...


"Siapa pria ini?" Hann bergumam tidak senang melihat foto Artya yang menggendong Rhiana keluar bandara hingga naik jet pribadi. Hann juga membaca komentar setuju para netizen dengan hubungan Rhiana dan Artya membuatnya semakin tidak senang.


Hann terus membaca komentar orang-orang yang berdebat tenang identitas Artya. Hann tersenyum tipis membaca komentar terakhir. Pria itu sedikit berpikir kemudian mengetik sesuatu ingin berkomentar juga.


[Aku setuju denganmu, Kawan! Jika dia hanya pamer kekayaan dan suka main wanita, percuma saja. Bukankah pewaris keluarga Stefanno juga tampan? Aku rasa Nona muda Veenick cocok dengannya.]


[Jangan asal bicara, kamu! Dewiku dan Tuan muda Amstrong sangat cocok.]


[Permisi! Sebelumnya perkenalkan, saya mantan pekerja di kediaman Scoth. Saya tahu seperti apa sifat Tuan muda Amstrong. Kami para pekerja memanggilnya si Tiran.


Tuan muda Amstrong sama sekali tidak dekat dengan gadis menapun. Tuan muda, penggila kebersihan sehingga tidak suka didekati oleh siapapun. Jadi, ketika melihat Tuan muda sedekat itu dengan seorang gadis, aku cukup terkejut. Sepertinya gadis itu sudah menempati bagian tersendiri dalam hati Tuan muda.]


[Wah... membaca komentarmu sepanjang ini, aku cukup terkejut. Tapi terima kasih karena sudah berkomentar. Dengan begini, kami tidak ragu lagi dengan Tuan Muda Amstrong].


[Aku setuju! Mari kawal mereka hingga ke pelaminan.]


[Ayo kawal!]


Hann yang membaca komentar netizen yang semakin mendukung pasangan Rhiana dan Artya membuang ponselnya dengan sembarangan di sofa. Padahal dia sengaja menulis komentar menjodohkan Rhiana dengannya, tapi tidak ada yang setuju. Dia kesal.


***


Di belahan negara lain, seorang gadis sedang memegang ponselnya. Jari lentiknya menggeser beberapa foto kedekatan Rhiana dan Artya. Gadis itu juga tidak lupa membaca komentar di sana.


Gadis itu menyimpan ponselnya dan mengambil wine di atas meja sampingnya dan meminumnya. Dia melirik pelayan wanita yang setia berdiri di sampingnya.


"Ambilkan kotak itu padaku!" Perintahnya dengan arogan pada pelayannya.


"Baik, Nona muda. Tunggu sebentar," Pelayan itu segera pergi dan mengambil kotak yang dimaksud nonanya.


Hanya beberapa menit, pelayan itu kembali dan meletakkan kotak kayu itu tepat di depan gadis itu.


"Ini, Nona Muda."


Gadis itu mengangguk dan membuka kotak itu. Dia mengambil secarik kertas di dalam kotak itu. Gadis itu menarik seringai licik saat membaca tulisan di atas kertas itu.


"Sepertinya sudah waktunya," Gumamnya dan menyimpan kembali kertas itu pada tempatnya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


Sampai ketemu di chapter selanjutnya!


__ADS_2