
"Dia sekarang sudah menjadi milikku!" Artya membuka suara saat sampai di meja khusus keluarga utama. Padahal Artya ingin mengatakan secara langsung kalau Rhiana dan Brilyan hanya kekasih palsu. Sayangnya, Rhiana sudah mencegahnya untuk bicara lebih lanjut.
Rhiana tidak mungkin membiarkan Artya mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Scoth. Tentu saja jika kenyataannya terungkap, yang repot dia sendiri. Rhiana masih punya banyak pekerjaan yang harus diurus.
"Apa maksudnya ini? Seseorang tolong jelaskan padaku." Tuan besar, alias kakek Artya dan Brilyan berbicara sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Sepertinya seseorang dengan tidak tahu diri menggunakan rencana licik untuk menggoda dua pria keluarga Scoth. Padahal wajahnya biasa saja," Seorang wanita berusia sekitar 50-an dengan anggun membuka sindiran.
Rhiana menatap wanita setengah abad itu dengan polos. Tentu saja wajah Rhiana terlihat polos, tapi kepalanya sedang berpikir siapa wanita tua ini.
"Ini meja khusus keluarga utama. Berarti... dia ibu Brilyan? Wah... akhirnya aku bertemu langsung dengan karakter ibu jahat yang sering kubaca di novel. Sepertinya akan ada kejadian seru. Aku menantikannya," Ucap Rhiana dalam hati.
"Rhiana bukan wanita seperti itu, Bu." Brilyan tidak terima Rhiana disamakan dengan gadis lain yang selalu mengejarnya karena keluarganya.
"Baru sebulan lalu Brilyan memperkenalkanmu sebagai kekasihnya. Kenapa kamu sudah bersama Artya? Kakek ingin mendengar penjelasanmu, gadis kecil." Mantan kepala keluarga Scoth itu berusaha berpikir dengan tenang.
"Ini salahku, Kek. Rhiana meminta putus denganku karena kesalahpahaman. Aku masih berusaha mengajaknya kembali padaku. Sayangnya, Kak Artya sudah mengambilnya dariku. Padahal kak Artya punya gadis lain dari keluarga Veenick, tetapi entah kenapa dia selalu ingin mengambil milikku."
Brilyan yang tidak ingin mendengar Rhiana mengatakan semuanya, mengambil tindakan lebih dulu. Dengan begini, kakeknya akan membantunya memarahi Artya. Padahal Rhiana sudah siap mengatakan omong kosong untuk membantunya berdalih, ternyata Brilyan menyahut dengan cepat. Rhiana bisa tenang.
"Gadis dari keluarga Veenick? Maksudmu Nona muda Veenick yang itu?" Kali ini kepala keluarga Scoth yang berbicara. Kepala tuanya seketika memikirkan keuntungan apa yang akan diperoleh jika berhubungan dengan keluarga Veenick yang terkenal itu.
"Iya, Ayah." Brilyan menjawab dengan cepat.
"Ekhem... Apa benar kamu berhubungan dengan Nona muda keluarga Veenick, Artya? Jika itu benar, seharusnya kamu perkenalkannya dengan keluargamu, bukannya mengambil kekasih adikmu." Michail, kepala keluarga Scoth yang sekarang, berusaha terlihat tenang padahal ada maksud tersembunyi dalam hatinya.
"Saya berhubungan dengan siapapun bukan urusan anda. Saya bisa mengurus diri saya sendiri. Jangan pernah mencampuri urusan saya, Tuan Michail."
Artya memang selalu berbicara formal pada Michail yang merupakan ayah kandungnya. Bagi Artya, pria tua itu bukan siapa-siapanya. Hanya orang asing baginya. Artya hanya menganggap kakeknya Joozya sebagai keluarganya karena mantan kepala keluarga Scoth itu sangat menyayanginya dan ibunya sejak dulu.
"Ck... orang asing benar-benar merusak suasana." Maksud ibu Brilyan adalah Rhiana. Padahal wanita tua itu sudah mempersiapkan sesuatu untuk acara malam ini, tapi jika ada masalah lain, rencananya akan berantakan.
"Bukan waktunya kamu bicara, Lodia!" Kakek Joozya berbicara dengan marah pada ibu Brilyan yang sejak dulu tidak pernah berubah.
"Sampai kapan kamu bicara formal dengan ayah, Artya?" Michail sedikit mengeluh. Dia tidak peduli dengan kemarahan ayahnya pada istri keduanya.
Sejak Michail membawa pulang cinta pertamanya, Lodia yang sedang mengandung Brilyan, keadaan keluarga Scoth menjadi kacau. Tentu saja karena terjadi perang saraf dengan ibu Artya dan ayahnya sendiri, kakek Joozya.
Saat itu juga Artya yang sudah berumur 3 tahun, dengan cepat memahami kondisi keluarganya, sehingga kepala kecilnya yang seakan sudah berpikir dewasa itu secara otomatis mengubah panggilan ayah menjadi anda, dan selalu berbicara formal pada Michail seperti orang asing. Ibu Artya yang berusaha membujuk Artya, sama sekali tidak dihiraukan.
"Selamanya." Jawaban singkat Artya tidak bisa diganggu gugat lagi oleh Michail. Pria berusia 50-an itu hanya menunduk entah karena merasa bersalah atau karena malu diperhatikan oleh tamu lain.
"Sudahlah. Kita bahas ini nanti. Kalian berdua duduklah. Sudah waktunya acara dimulai." Kakek Joozya mengambil tindakan bijak sebelum suasana keluarganya kacau. Sudah hampir waktunya acara dimulai.
Artya dengan tenang menarik kursi untuk Rhiana sebelum dia sendiri duduk di sebelahnya. Tindakan Artya tentu saja mengundang tatapan kaget dan iri mereka yang melihat, karena baru kali ini si tiran penggila kebersihan itu peduli terhadap orang lain. Padahal orang itu hanya orang biasa.
Kakek Joozya juga cukup kaget melihat tindakan perhatian Artya. Pria tua itu menatap Rhiana dengan lekat. Gadis kecil ini sepertinya cukup menarik sehingga kedua cucunya yang tidak pernah bersentuhan dengan gadis lain sangat peduli padanya.
__ADS_1
***
Sudah menjadi tradisi dari zaman keluarga pertama Scoth, jika peringatan kematian anggota keluarga selalu diadakan acara makan bersama dengan sedikit pesta, agar mereka yang ditinggalkan tidak lagi bersedih karena kepergian orang yang dicintai.
Peringatan kematian ini selain mengenang yang telah pergi dan menghibur yang ditinggalkan, acara ini juga bertujuan mempererat hubungan keluarga inti dan kerabat, bahkan dengan investor. Jadi, banyak sekali orang yang datang malam ini.
"Ibu Sienna juga diundang?" Tanya Rhiana berbisik pada Artya. Matanya menangkap Sienna yang duduk di meja yang tidak jauh dengan mereka. Wanita itu sedang duduk bersama Felix. Sepertinya asisten Artya itu diberi perintah untuk menjaganya.
"Tidak." Jawaban singkat Artya sudah membuat Rhiana mengerti. Sudah pasti Artya tidak ingin Sienna ditinggal sendiri dan berbuat seenaknya dirumahnya lagi. Felix sebagai tangan kanannya harus ikut kemanapun dia pergi. Jadi, Sienna juga harus diikutsertakan.
"Bagaimana kabarmu?" Brilyan bertanya sekedar basa-basi. Padahal dengan melihat raut senang dan pipi cubby Rhiana yang semakin menumpuk, sudah pasti keadaan gadis itu sangat baik belakangan ini.
"Aku baik. Hanya saja ak-"
"Jangan mengajaknya bicara!" Artya berseru dengan aura intimidasinya yang begitu menekan. Tujuan perkataan itu untuk Brilyan. Rhiana di sebelah pria itu menatap memicing pada Artya karena memotong perkataannya.
"Berhenti berdebat. Jangan membuat keributan di acara peringatan kematian nenek kalian. Kakek akan bicara nanti pada kalian berdua." Kakek Joozya segera berdiri dibantu oleh sekretarisnya. Pria tua itu akan menyampaikan sepata dua kata. Tuan Michail juga ikut pergi, karena sebagai kepala keluarga, pria tua itu juga harus berbicara untuk semua tamu yang hadir.
"Brilyan, Nona muda keluarga Zakhari juga ibu undang. Jangan lupa berbincang dengannya. Ibu menyukainya," Perkataan ibu Brilyan dengan jelas mengisyaratkan jika gadis itu adalah menantu yang dia pilih sendiri.
"Aku harus bicara dengan Rhiana, Bu. Jangan membuatku mempermalukan Nona muda Zakhari." Brilyan dengan tegas menentang maksud ibunya.
Sudah banyak gadis yang dijodohkan sebelumnya dengan Brilyan. Semua gadis yang dijodohkan itu dari keluarga berpengaruh, tapi sikap dingin dan acuh tak acuh Brilyan membuat gadis yang dijodohkan dengannya tidak tahan dan memilih mundur dengan sukarela. Jika ada yang berani menggoda Brilyan, pria itu dengan tenang mempermalukan mereka.
***
"Selamat malam, para tamu undangan sekalian! Saya mengucapkan banyak terima kasih karena anda semua sudah meluangkan waktu untuk hadir di peringatan kematian istri saya. Saya tidak akan basa-basi lagi.
"Menurutmu, siapa yang akan dipilih menjadi penerus?" Artya tiba-tiba bertanya pada Rhiana yang sedang menikmati cake di depannya.
Brilyan yang duduk di depan Rhiana ikut penasaran dengan pendapat Rhiana. Meski sedari tadi dia selalu curi pandang melihat Rhiana, tiba-tiba dia tertarik dengan jawaban Rhiana. Pria itu menatap penuh harap dengan jawaban Rhiana nanti.
"Pemilihan penerus sebelumnya, apa yang dilakukan keluarga Scoth?" Rhiana bertanya dengan tenang.
"Penerus langsung dipilih, karena sejak dulu, dalam keluarga Scoth, hanya satu anak laki-laki yang lahir. Jadi, secara otomatis dia sudah menjadi penerus sah tanpa ada pemilihan lagi." Kali ini Brilyan yang menjawab.
"Kepala keluarga sebelumnya sangat setia, ya. Dia bahkan hanya memiliki satu istri." Perkataan ceplos Rhiana mengundang kekehan diam-diam dari Artya, sedangkan tatapan tajam dari Lodia, ibu Brilyan.
"Jadi... siapa menurutmu yang akan menjadi penerus?" Artya bertanya setelah tenang.
"Entahlah. Tapi aku yakin pertarungan ini akan seru." Rhiana menjawab dengan santai.
***
"Karena ada dua calon penerus, saya ingin mendiskusikan lebih dulu dengan para tetua, pertarungan apa yang harus mereka lakukan. Atau, jika diantara para tamu ada yang ingin disampaikan, saya persilahkan. Maksud saya, jika ada yang ingin memberi pendapat terkait pemilihan penerus, saya dengan senang hati mempertimbangkan itu jika masuk akal." Kakek Joozya menatap ke arah semua tamu yang hadir.
Perkataan kakek Joozya mengundang ketertarikan para tamu. Ada beberapa kepala keluarga segera mengajukan diri memberi saran yang menurut mereka cocok untuk dua calon penerus. Sudah 3 orang yang mengajukan sarannya. Dan semuanya sudah ditulis oleh sekretaris kakek Joozya.
__ADS_1
Rhiana ikut berpikir, kira-kira pertarungan apa yang menarik dan cocok untuk dua pria calon penerus keluarga Scoth ini.
SET
Rhiana dengan tenang mengangkat tangan kirinya ke atas mengajukan dirinya sendiri. Tindakan Rhiana mengundang tatapan penasaran para tamu.
"Ternyata kamu, gadis kecil. Kamu juga ingin mengajukan pendapat? Silahkan!" Kakek Joozya mengangguk cukup terkejut dengan keberanian Rhiana.
Rhiana mengangguk pelan sebelum berdiri dan berbicara.
"Terima kasih, Kek. Saya tidak perlu memperkenalkan diri, karena sepertinya semua tamu sudah mengenal saya dengan baik. Sejak melewati pintu masuk, saya sudah menjadi banyak perbincangan para tamu. Jadi, saya tidak perlu memperkenalkan diri. Saya akan langsung mengatakan pendapat saya.
Saya ingin dua calon penerus untuk mendidik secara langsung anak-anak panti asuhan Oxzard. Maksud saya, setiap seminggu sekali mereka diwajibkan mengajar langsung anak-anak panti yang memiliki tempramen paling buruk di sana. Kenapa hanya seminggu sekali? Itu karena Kak Artya sudah disibukkan dengan pekerjaannya, sedangkan Brilyan juga harus sekolah. Sekian,"
"Bukankah saran itu terlalu mudah? Saya tidak setuju dengan pendapat itu! Lebih baik mereka mengajukan proposal yang menguntungkan perusahaan keluarga." Seorang pria tua mengatakan ketidaksetujuannya. Pria tua itu adalah salah satu kepala keluarga investor yang diundang. Dia juga sudah mengajukan pendapatnya paling pertama.
"Jika membahas proposal, bukankah yang paling diuntungkan hanya satu pihak? Kak Artya dikenal sebagai orang yang sangat teliti. Jadi, sudah pasti proposal yang dibuat akan membuahkan hasil yang sempurna. Sedangkan Brilyan, meski aku yakin dia juga bisa membuat proposal yang baik, itu belum tentu diterima, apalagi pengalamannya tidak sebaik kak Artya. Belum lagi, koneksi pihak luar Brilyan dan Kak Artya sudah pasti berbeda."
Perkataan Rhiana membuat wajah Brilyan memerah. Pria itu merasa Rhiana sedang membelanya. Sedangkan kakek Joozya dan para tetua beserta beberapa tamu setuju dengan komentar Rhiana.
"Anda mengatakan bahwa mendidik anak-anak panti adalah hal yang mudah? Apa anda sudah pernah terjun langsung ke sana? Anda sepertinya tidak tahu seperti apa keadaan panti asuhan itu. Ada beberapa anak nakal di panti asuhan yang sama sekali sulit diatur. Jadi, dari pada mengandalkan koneksi untuk naik menjadi penerus, bukankah mendidik anak-anak nakal itu lebih baik?
Kak Artya dan Brilyan sama-sama memiliki kepribadian yang tidak tersentuh. Mereka tidak pernah berhubungan dengan orang asing. Jadi, jika mereka diberi tanggung jawab mendidik anak-anak itu, bukankah lebih bagus? Keduanya sama-sama diuntungkan. Mereka tidak perlu menggunakan orang lain atau kekayaan keluarga untuk membantu mendidik. Mereka hanya perlu diberi dana secukupnya untuk mendidik anak-anak panti.
Satu lagi. Setahuku, panti asuhan Oxzard di bawah naungan keluarga Scoth. Bukankah tujuan panti itu berdiri adalah untuk mendidik langsung anak-anak berbakat yang nantinya mendukung dan membantu keluarga Scoth kedepannya? Kebetulan panti asuhan itu sudah cukup lama tidak mendapat donasi. Jadi, dengan begini, saya harap pihak sponsor lebih memperhatikan anak-anak malang itu." Rhiana berbicara panjang lebar membuat Brilyan baru pertama kali melihat sisi lain Rhiana yang dia kenal polos dan penakut, terkejut. Selain itu, Brilyan begitu terkesima melihat wajah tegas Rhiana sekarang.
"Tunggu sebentar, dari mana kamu tahu keadaan panti asuhan Oxzard?" Kali ini Tuan Michail bertanya karena penasaran.
"Saya punya satu kenalan yang bekerja di saja. Dia selalu mengeluh karena mereka sudah lama tidak diperhatikan." Tentu saja Rhiana sedang berbohong.
Panti asuhan itu termasuk dalam penyelidikan Gledy, sehingga Rhiana cukup tahu keadaan panti itu. Selain itu, ada tujuan lain Rhiana memilih panti asuhan itu. Ada yang harus dia gali di panti asuhan itu.
"Jadi... siapa yang bertanggung jawab mengurus tempat itu? Aku menunggu laporan lengkap aktivitas tempat itu." Kakek Joozya tiba-tiba merasa pusing mendengar berita ini.
Panti asuhan Oxzard sudah berdiri cukup lama, dan selalu menjadi bantuan bagi keluarga Scoth dalam menghadirkan anak-anak berbakat.
Jadi, kakek Joozya tidak pernah sekalipun mengalihkan perhatian dari panti asuhan itu. Tapi, sejak dia pensiun dari kepala keluarga, kepala keluarga selanjutnya yang harus mengurus panti itu. Tapi kini, panti itu tiba-tiba tidak diperhatikan. Betapa marahnya kakek Joozya mendengarnya.
Beberapa pihak yang mengurus panti asuhan itu menatap Rhiana dengan kesal. Beraninya gadis ini mengungkit masalah panti. Padahal mereka sudah susah payah merekayasa data panti, mereka tiba-tiba ketahuan.
"Silahkan lanjutkan pestanya. Pendapat yang sudah diajukan, akan dibahas oleh para tetua. Kabar baiknya akan disampaikan setelah rapat. Selain itu, manajer umum, manajer pemberdayaan dan manajer keuangan, segera ikuti aku untuk membahas lebih lanjut tentang keadaan panti asuhan Oxzard." Tuan Michail segera mengambil langkah bijak sebelum penyakit jantung ayahnya kumat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terima kasih sudah membaca ceritaku....
...Like jika suka cerita ini....
__ADS_1
...Sampai jumpa di chapter selanjutnya....
...Bye-bye......