
Rhiana mengerutkan kening sebelum membuka matanya. Dia sedikit meringis karena merasa pusing. Pandangannya lalu beralih menatap ke sisi kanan tempat tidur. Ada seorang pria dengan jas dokter berdiri di sana. Tatapan keduanya bertemu.
"Anda bangun lebih awal, Nona. Saya akan memeriksa kondisi anda lebih dulu."
Rhiana tidak mengatakan apapun dan membiarkan pria dengan jas dokter itu memeriksanya.
"Dia cukup hebat," Komentar Rhiana dalam hati ketika melihat dokter muda ini memeriksa denyut nadinya. Jarang sekali bertemu dokter di zaman ini yang menggunakan teknik pengobatan jaman dulu.
"Kondisi anda tidak terlalu parah. Kaki anda akan membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu untuk pulih. Sedangkan luka lainnya akan pulih hanya dalam beberapa hari." Rhiana hanya mengangguk pelan.
"Kenapa anda tidak mengajukan pertanyaan pada saya, Nona?" Dokter itu bertanya karena biasanya orang lain akan mengajukan banyak pertanyaan ketika mereka berada di tempat asing. Tapi gadis ini berbeda. Dia terlihat sangat tenang.
"Yang seharusnya aku tahu, pasti aku akan tahu." Rhiana menjawab dengan malas. Pandangannya kini menelisik dokter muda ini. Mulai dari postur tubuh, warna rambut, bentuk wajah, Rhiana menatapnya penuh saksama. Lumayan tampan menurutnya.
"Nama saya Calypso, Nona." Dokter itu memperkenalkan dirinya ketika tidak tahan lagi dengan tatapan Rhiana padanya. Tentu saja dia tidak nyaman dengan tatapan itu. Terakhir kali dia diperhatikan secara detail, itu beberapa tahun lalu saat dia baru saja datang menjadi dokter pribadi.
Rhiana tersenyum tipis. Tanpa dia bertanyapun, dia akan tahu dengan sendiri nama dokter di depannya ini.
"Ada yang salah dengan nama saya, Nona?" Senyum Rhiana membuatnya merasa aneh. Rhiana hanya menggeleng.
"Kamu bisa keluar. Aku ingin istirahat," Rhiana melambaikan tangan mengusir Calypso.
Sebelum Calypso bereaksi, dia sudah berada di luar pintu.
"Bagaimana bisa?" Calypso tersadar. Dia seharusnya berjaga di dalam, tapi kini dia diusir. Dia bertanya dalam hati, bagaimana bisa gerak tubuhnya tidak mendengarkan pikirannya.
***
Dua hari berlalu dengan cepat. Rhiana sudah bisa bangun dan bersantai di tempat tidur tetapi tidak diijinkan untuk turun dari sana. Padahal dia masih bisa bergerak hanya dengan satu kaki. Akan tetapi dia hanya duduk di sana menunggu dilayani hingga selesai. Meski tidak suka, tetapi dia tetap menahan diri untuk tidak memukul seseorang.
Rhiana juga sudah tahu siapa yang membawanya ke sini. Tentu saja, dengan hanya melihat bagaimana cara kerja para pelayan, melihat interior kamar ini, Rhiana bisa menebak bahwa dia ada di kediaman si pria penggila kebersihan. Artya.
Rhiana juga belum melihat wujud Artya. Entah kemana kakak Brilyan itu pergi. Mengingat insiden waktu lalu, dimana Artya sama sekali tidak menjauh darinya. Kali ini, pria itu sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Rhiana juga malas memikirkannya.
...
Rhiana sedang menonton TV sambil bersandar pada kepala tempat tidur. Dia ingin tahu keadaan di luar sana. Lebih tepatnya insiden ledakan gedung olimpiade itu. Rhiana juga penasaran apa yang dilakukan kedua saudaranya itu. Mereka pasti khawatir padanya.
"Dimana chip itu?" Rhiana bertanya pada Calypso yang selalu setia berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.
Rhiana bisa merasakan belakang telinga tempat chip itu berada, kosong. Hanya ada perban di sana.
"Itu..." Calypso merasa canggung karena chip milik Rhiana sedang diteliti oleh tim ahli.
"Aku ingin chipku kembali," Rhiana bisa menebak dimana chip itu sekarang.
__ADS_1
Rhiana tidak ingin mereka memecahkan sandi chip dan melihat isi di dalamnya. Itu bukan hanya chip untuk komunikasi, tetapi chip untuk penyimpanan file dan kegunaan lainnya. Jadi, jika mereka berhasil memecahkan sandinya, mereka akan tahu identitasnya dan rahasia keluarganya.
"Saya akan mengambilnya, Nona." Calypso dengan canggung keluar dari kamar.
Rhiana hanya tersenyum tipis melihat kepergian Calypso. Pandangannya lalu beralih ke atas nakas. Ada telepon nirkabel di sana. Tanpa penundaan, Rhiana segera meraihnya dan melakukan panggilan.
"Halo." Suara dingin terdengar di seberang.
"Ini aku, Kak."
"Kakak tahu kamu pasti selamat. Kamu dimana?" Suara di seberang sana seketika berubah menjadi lembut.
"Entahlah, Kak. Yang jelas aku baik-baik saja. Hanya ada luka ringan. Bagaimana dengan dia?"
"Dia juga aman. Untung saja kami membawanya pergi secepat mungkin dengan penjagaan ketat sehingga dia tidak berhasil diculik."
"Baguslah. Terima kasih, Kak."
"Hmm. Jika kamu tidak menelpon hari ini, kakak mungkin akan menelpon mommy."
"Hahaha... jangan membuat mommy kita khawatir, Kak. Lagipula aku tidak akan semudah itu mati. Tenang saja,"
"Kakak tahu."
"Ya, sudah. Akan kuhubungi lagi, Kak."
Panggilan berakhir.
Rhiana beralih menatap kakinya yang diperban. Itu masih sakit ketika digerakkan. Rhiana menghela nafas dan kembali bersandar pada kepala tempat tidur.
Tiba-tiba Rhiana mengerutkan kening. Seringai tipis muncul di bibirnya ketika menyadari sesuatu.
"Hei, Kakak ipar... bukankah tidak sopan mengambil chipku? Kamu bahkan tidak menunjukkan dirimu sama sekali. Padahal aku ingin berterima kasih," Rhiana berbicara sambil menatap cctv yang terpasang di sudut kamar atas. Sudah beberapa hari berlalu, cctv akhirnya aktif juga.
...
Di sudut lain ruangan, Artya menyeringai sambil menatap layar laptopnya. Padahal sedang ada rapat dengan para petinggi, tetapi pandangannya sama sekali tidak lepas dari laptopnya.
Para petinggi yang satu ruangan dengan Artya tiba-tiba merinding melihat seringai itu. Apalagi seorang paru baya yang sedang berbicara mempresentasikan pendapatan minggu ini, mulai berkeringat dingin. Melihat seringai Artya, dia berpikir, pasti dia melakukan kesalahan. Dia sudah siap menerima hukuman.
"Tuan, anda bahkan tidak fokus pada rapat." Felix yang berdiri di samping Artya mengeluh dalam hati.
Tanpa mempedulikan suasana di sekitarnya, Artya segera menutup laptop, melepas earpice tanpa kabel di telinganya dan berjalan keluar. Felix hanya bisa menghela nafas karena kelakuan sang tuan.
"Perbaiki kembali laporannya untuk rapat berikutnya," Felix mengatakan itu dengan datar lalu membawa laptop milik Artya dan bergegas keluar. Padahal dia belum menemukan kesalahan dalam laporan itu, tapi Felix sudah mengambil keputusan itu. Dia harus membuat alasan karena kepergian tuannya.
__ADS_1
Para petinggi yang ditinggalkan hanya bisa menghela nafas legah karena aura di sana sudah kembali normal. Hanya saja, mereka kembali frustasi karena harus bekerja keras lagi membuat laporan untuk pertemuan berikutnya. Ini sudah ketiga kalinya mereka mengubah proposal untuk pertemuan.
***
Rhiana yang sedang menonton TV sambil memakan cemilan, teralihkan dengan suara mesin di depan pintu masuk. Itu adalah mesin untuk mensterilkan semua kuman. Tentu saja, seorang penggila kebersihan seperti Artya mempunyai mesin itu di semua pintu masuk rumahnya.
Masuknya Artya diikuti oleh Calypso dan dua pelayan. Mereka ikut masuk untuk mempertanggungjawabkan tugas mereka yang menjaga Rhiana.
Calypso dan kedua pelayan tercengang karena melihat Rhiana yang dengan santainya memakan cemilan di tempat tidur. Remahan keripik kentang yang Rhiana makan berceceran di atas seprei. Bukan hanya itu. Ada juga dua bungkus cemilan sejenis kacang yang sudah tidak ada isinya yang tergeletak di lantai.
Mereka tentu saja tahu seperti apa tempramen sang majikan. Melihat sedikit saja kotoran di rumahnya, maka orang yang bertugas membersihkan tempat itu akan dibunuh. Apalagi melihat sesuatu yang terlihat menjijikan baginya, orang itu pasti akan mati di tempat. Mereka kini memandang Rhiana kasihan.
"Hai, Kakak ipar..." Rhiana menyapa dengan ramah. Tangannya juga masih sibuk memasukan keripik ke dalam mulutnya.
"Mari kita lihat bagaimana reaksinya," Komentar Rhiana dalam hati. Ada seringai diam-diam terlihat dari bibirnya.
Rhiana memang sengaja melakukan ini. Karena Artya penggila kebersihan, maka dia ingin melihat seperti apa reaksi kakak Brilyan itu ketika melihat kotoran di depannya.
"Bunuh!" Satu kata dari Artya membuat mereka yang ada dalam ruangan itu tercengang.
Mereka semakin menatap Rhiana kasihan. Masih muda, kini harus mati sia-sia.
"Apa yang kau lalukan?" Artya bertanya dengan dingin pada salah satu pengawal yang menghampiri Rhiana.
"Saya akan membawanya, Tuan Muda."
"Bukan dia."
Kalau bukan gadis yang sudah membuat majikan mereka jijik, jadi siapa yang harus mereka bawa? Dua pengawal yang disuruh itu kebingungan.
"Bukan dia, tapi mereka." Calypso kali ini yang berbicara.
Calypso tidak menyangka, tuannya ini bisa membiarkan Rhiana hidup padahal sudah membuat rumahnya kotor. Tapi, setelah dipikir lagi, itu tentu saja mungkin mengingat Rhiana dibawa ke sini. Setahu Calypso, belum pernah ada satupun orang yang dibawa pulang oleh sang Tuan. Jadi, sudah pasti gadis ini istimewa.
Sebelum dua pelayan yang berdiri didekat Calypso membuka suara, mereka sudah dibawa pergi oleh dua pengawal. Kini hanya tersisa Calypso bersama Artya dan Rhiana. Tiba-tiba saja dokter muda itu merinding karena aura dalam kamar berubah drastis menjadi dingin.
Ada apa ini?
Bahkan AC di sini tidak sedingin itu. Tapi suasana benar-benar dingin. Calypso menatap Artya dari samping. Bagaimana dia bisa lupa dengan aura majikannya ini? Dan lagi, apa-apaan dengan ketenangan gadis yang dibawa tuannya ini? Dia ingin sekali keluar dari sini, tetapi tidak berani. Gadis yang masih santai memakan keripik kentang di tempat tidur itu justru sangat tenang. Tidakkah dia merasa aura menyesakkan ini? Calypso menatap kagum pada ketenangan Rhiana.
"Apa itu sangat enak?"
"Apa?" Calypso tercengang. Aura di dalam ruangan ini juga berubah normal dalam sekejap.
"Tentu. Ingin mencobanya, Kakak ipar?" Rhiana membalas dengan senyum lembut. Tangannya yang memegang bungkusaan keripik kentang terulur ke arah Artya.
__ADS_1
"Nona... anda cari mati? Bagaimana mungkin anda menawarkan makanan menjijikan seperti itu pada tuan?" Keluh Calypso dalam hati.
Calypso yang menjadi dokter pribadi Artya tentu saja tahu kondisinya. Dia juga tahu apa saja yang sangat dan tidak suka dimakan oleh majikannya ini. Pandangan kagum Calypso tiba-tiba berubah menjadi kasihan lagi.