
Bruk!
Rhiana mendarat dengan sempurna setelah melompati pagar kediaman Lawrence setinggi 3 meter itu. Rhiana menatap jam tangannya. Sudah pukul 4 pagi. Dia sebaiknya pulang dan beristirahat sebentar, sebelum kembali ke Rusia pukul 9 pagi.
Rhiana naik ke motor sportnya yang terparkir cukup jauh dari kediaman Lawrence kemudian meninggalkan tempat itu.
Beberapa kilometer dari kediaman Lawrence, hampir memasuki jalan tol, Rhiana menghentikan motornya. Ada club 24 jam yang menarik perhatiannya. Dia selalu dilarang datang ke tempat bernama club ini.
Rhiana menatap sekitar memastikan apakah dia diikuti atau tidak. Dia tidak ingin mata-mata kedua saudara kembarnya melaporkannya. Bisa diceramahi habis-habisan dia.
Merasa aman, Rhiana menyeringai dan bergegas menuju club itu. Menunda kepulangannya ke Rusia tidak menjadi masalah. Dia bisa memesan penerbangan siang atau sore. Yeandre juga masih aman. Jadi dia bisa bersantai. Rhiana sangat ingin tahu seperti apa tempat bernama club ini. Selagi ada kesempatan, dia harus menuntaskan rasa penasarannya.
Ketika akan masuk, Rhiana dilarang karena pakaiannya terlalu mencurigakan. Rhiana menatap pakaiannya yang panjang dan serba hitam, juga masker yang menutupi sebagian wajahnya. Tentu saja terlihat sangat mencurigakan.
"Ada butik serba ada di seberang sana jika anda berminat, Nona." Salah satu pengawal menunjuk butik di seberang jalan yang tepat berhadapan dengan club ini.
"Terima kasih, Paman." Rhiana mengangguk dan menyeberang jalan untuk membeli pakaian di butik yang dimaksud itu.
...
Kebisingan club membuat Rhiana menguap malas. Jadi seperti ini aktivitas di tempat yang tidak diizinkan oleh kedua saudaranya untuk dia datangi. Rhiana menatap sekeliling melihat interaksi orang-orang di sana. Ternyata mereka begitu intens.
"Hmm? Bukankah itu menjijikan?" Rhiana menatap jijik beberapa pasangan yang terlihat berciuman dengan penuh semangat.
"Pantas saja aku tidak diizinkan datang ke sini. Tempat ini sangat menjijikan. Sebaiknya aku pulang. Lagipula aku sudah melihat keadaan di sini." Rhiana berniat pulang. Ternyata tidak ada yang menarik untuk dilihat. Dia hanya merasa jijik melihat betapa bergairahnya aktivitas orang-orang di sini.
"Tes..."
"Tes..."
"Ekhem"
[Kyak!!!]
[Freslly akan tampil!]
[Dia sangat tampan!]
[Ingin sekali aku membuatnya meniduriku.]
[Jangan pernah bermimpi!]
[Dia hanya kerja paru waktu di sini.]
[Benar! Dia tidak pernah tertarik untuk bercinta dengan siapapun.]
Rhiana yang mendengar kehebohan itu berbalik melihat siapa Freslly yang wanita-wanita dengan pakaian sexy itu maksud.
Bruk!
"Apa-apaan ini?" Rhiana kesal, karena sebelum berbalik, dia sudah lebih dulu didorong hingga dia tiba-tiba berdiri paling depan. Tepatnya di bawah panggung dimana Freslly akan tampil.
Sepertinya para fans si Freslly ini berdesakan ingin menontonnya, sehingga mereka membuat Rhiana terdorong dan berakhir di bawah panggung.
Rhiana dengan malas menatap ke arah panggung. Seorang pria muda terlihat duduk dengan gitar dan microfon di depannya. Jelas sekali dia akan menyanyi.
"Wajahnya biasa saja," Komentar Rhiana tanpa sadar ditatap tajam oleh beberapa gadis yang mendengarnya. Beraninya ada orang mengatakan wajah fans mereka biasa saja? Mereka sangat marah.
Ketika para wanita itu ingin memarahi Rhiana, mereka membatalkan niat itu. Melihat betapa cantiknya Rhiana, mereka tidak berani berkutik. Mereka tentu saja tahu tipe pria seperti apa yang diinginkan gadis dengan wajah secantik itu. Mereka hanya bisa mengutuk dalam hati karena kecantikan Rhiana.
Rhiana menguap malas dan melipat tangannya di dada saat Freslly mulai memainkan senar gitar.
Lantunan musik yang dihasilkan oleh gitar dan suara merdu Freslly membuat Rhiana menaikkan sebelah alisnya. Lumayan, pikirnya. Para wanita bahkan pria yang menonton sudah mengangkat tangan melambai karena menikmati lagu yang Freslly nyanyikan.
Baru 5 menit, Rhiana sudah bosan. Dia mulai bergerak gelisah di tempatnya. Dia ingin pergi dari sana, tapi desakan penonton menutup jalannya untuk pergi.
Rhiana kesal. Dia segera mengambil ponselnya ingin memanggil Gledy. Tubuh keras Gledy tentu saja berguna untuk menyingkirkan para penonton ini.
Di saat semua orang menikmati betapa indah dan merdunya suara Freslly, Rhiana justru memasang wajah kesal karena teriakan para wanita di sekitarnya yang sangat mengganggu. Tangannya terus mengirim pesan pada Gledy agar segera ke sini menjemputnya. Dia sudah tidak tahan.
"Ini pertama dan terakhir kalinya aku datang ke tempat seperti ini." Gumam Rhiana dalam hati kesal.
Kegelisaan dan ketidaknyaman Rhiana berhasil mengusik pria muda yang sedang bernyanyi di atas panggung. Pria muda dengan nama panggung Freslly itu, tentu saja terusik karena ada orang yang tidak tertarik dengan suaranya.
Belum lagi, semua orang sangat menyukai wajah tampannya. Kenapa gadis yang berada di barisan paling depan para penonton terlihat tidak menyukainya? Freslly tentu saja merasa terganggu.
__ADS_1
Freslly terus menyanyi dan berusaha mengeluarkan bakatnya dengan sengaja agar menarik perhatian gadis yang sibuk dengan ponselnya itu, tapi tidak mempan. Bagaimana mungkin ada orang yang tidak tertarik padanya? Semua orang bersorak untuknya, tapi gadis itu sama sekali tidak tertarik.
Deg
Jantung Freslly seketika berdebar kencang, ketika gadis yang memainkan ponselnya itu mengangkat kepalanya dan menatapnya sambil memposisikan ponselnya di telinganya. Sepertinya dia ingin menelpon.
Tatapan keduanya bertemu. Tapi hanya beberapa detik sebelum gadis itu memutuskan kontak mata mereka dan kembali fokus dengan ponselnya.
Freslly tidak lagi bernyanyi. Dia memberi kode pada teman-temannya yang membantu mengiringinya untuk mengambil alih. Dia masih ingin melihat gadis itu lebih lama. Benar-benar cantik! Untuk pertama kalinya Freslly bertemu gadis secantik ini.
Sebelum Freslly bergerak turun untuk menghampiri gadis itu, seseorang datang dari belakang dan membawa gadis itu pergi. Belum lagi, senyum manis yang ditampilkan untuk pria itu membuat Freslly tiba-tiba mengepalkan tangannya. Dia tidak jadi turun dari panggung.
...
"Terima kasih sudah menjemputku, Gledy. Aku bisa mati bosan di sana. Tempat itu sangat mengerikan." Rhiana mengeluh setelah keluar dari sana. Rhiana tiba-tiba bergidik mengingat aktivitas panas orang di dalam sana.
"Jangan lupa untuk menghapus jejakku di sana, Gledy." Tentu saja sebelum orang menyadari dia adalah nona muda Veenick, alangkah baiknya menghilangkan jejak kemunculannya di sana.
"Oke."
"Ayo pulang!"
Keduanya pulang dengan motor Rhiana. Gledy yang membonceng Rhiana pulang.
***
Di ruang kerja Artya, pria itu menatap ponselnya dengan datar. Dia sedang menunggu notifikasi masuk dari seseorang. Tentu saja itu laporan dari Rhiana. Sayangnya, sudah hampir setengah hari, tidak ada pesan dari gadis itu.
"Waktumu 10 menit untuk mencari keberadaannya!" Artya memberi perintah dengan nada datar khasnya.
"Siap, Tuan!" Felix dengan cepat pamit untuk bekerja.
"Nona... hanya anda yang berani membuat Tuan marah," Keluh Felix dalam hati. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang berani melawan tuannya. Tingkah Rhiana yang selalu melawan Artya selalu membuat Felix kehabisan kata-kata. Bisa-bisanya ada orang seberani itu pada majikan tirannya.
Tidak memusingkan kepergian Felix, Artya mengambil ponselnya untuk membuat panggilan. Sayangnya hanya suara operator yang terdengar. Panggilannya ternyata ditolak. Sebelumnya Artya sudah membuat panggilan, tapi nomor ponsel Rhiana tidak aktif. Setelah nomor tersambung, justru ditolak dengan cepat.
"Kamu ingin bermain, Gadis kecil?" Gumam Artya dan menyeringai.
Pria itu kemudian berdiri dan menatap pemandangan dibalik dinding kaca lantai paling atas salah satu hotel di Rusia. Sesekali Artya menatap jarum jam di pergelangan tangannya. Dia sedang melihat berapa lama lagi Felix akan datang. Dia sudah tidak sabar menyusul gadis kecilnya yang nakal itu.
...
"Kami juga tidak tahu, Tuan. Sepertinya kamera pengawas sudah diretas. Kami akan berusaha untuk memperbaiki bagian yang hilang." Kepala tim keamanan club berbicara pada Freslly dengan sopan. Mereka juga tidak berdaya. Ini pertama kalinya mereka mengalami ini.
"Baiklah. Aku tunggu kabar baik darimu." Freslly kemudian berlalu pergi dari sana.
Freslly adalah aset penting club ini. Dia orang kedua yang berkuasa setelah bos club. Jadi, mereka hanya bisa patuh begitu saja.
Padahal Freslly bukan seorang gigolo, dan hanya pekerja paru waktu, tetapi karena wajah tampannya, banyak pelanggan berdatangan hanya untuk melihat wajahnya, juga mendengar suaranya.
Para fans Freslly hanya bisa menontonnya tampil sambil berkhayal, pria itu meniduri mereka para wanita, sedangkan para pria berkhayal meniduri Freslly. Padahal mereka sedang bersama pasangan masing-masing.
Bos club juga tidak berdaya. Meski para fans ingin membayar mahal hanya untuk minum bersama dengan Freslly, tetapi selalu ditolak. Bos club itu tidak bisa melakukan apapun, karena ada orang kuat di belakang aset berharganya itu.
Padahal sebelum kedatangan Freslly, club ini hanya sedikit orang yang datang kemudian membeli wanita maupun pria yang bekerja di sana untuk memuaskan mereka.
Tapi sekarang, club ini perlahan-lahan sudah berubah menjadi cafe, karena Freslly yang sering bernyanyi di panggung. Untung masih ada beberapa pasangan yang tidak malu melakukan kegiatan intens di sini, sehingga masih terlihat seperti club.
Bos club pernah mengusulkan untuk mengubah club ini menjadi cafe saja, tapi ditolak oleh Freslly, juga beberapa pegawainya sehingga tempat ini tetap menjadi club. Entah kenapa Freslly tidak ingin tempat ini jadi cafe saja. Padahal Freslly juga hanya tampil.
Bos club juga pernah menawarkan untuk menjadi pekerja tetap di club, tapi lagi-lagi ditolak oleh Freslly. Bos club berusia akhir 40an itu hanya bisa mengikuti kemauan aset berharganya itu.
***
"Berikan dia padaku!" Suara dingin Artya terdengar ketika meminta Gledy memberikan Rhiana yang tertidur di gendongannya.
Wajah Artya menggelap ketika melihat kemunculan gadis kecilnya dalam gendongan seorang pria. Dia sudah kesal karena gadis itu dibonceng, semakin kesal melihat miliknya di gendongan pria yang tidak dia kenal.
"Dia milikku! Tidak ada urusan denganmu." Mode kekasih sistem Gledy tiba-tiba aktif.
"Milikmu?" Aura di sekitar Artya semakin mencekam. Beraninya orang ini mengklaim gadis kecilnya miliknya? Dia tidak senang.
"Berisik! Biarkan aku tidur, Gledy." Suara serak Rhiana terdengar karena tidurnya terganggu.
"Turun sekarang, Rhiana!" Rhiana mengerutkan kening mengenal suara datar itu. Tiba-tiba rasa kantuknya menghilang.
__ADS_1
"Gawat! Bagaimana mungkin dia sudah sampai di sini? Tidak bisa! Aku tidak ingin diganggu," Gumam Rhiana dalam hati. Tangannya semakin memeluk erat leher Gledy. Dia akan berpura-pura tidur. Dia tidak ingin diganggu oleh kakak Brilyan ini.
"Aku tahu kamu sudah bangun, Gadis kecil." Rhiana mendengus mendengar suara datar itu. Bagaimana bisa pria ini tahu? Rhiana menghela nafas dan berpura-pura bangun dengan malas dan turun dari gendongan Gledy.
"Kakak ipar? Sedang apa di sini?" Tanya Rhiana pura-pura kaget.
"Jangan menguji kesabaranku, Gadis kecil. Ikut aku!" Artya menggenggam tangan mungil Rhiana dan membawanya masuk ke mobilnya.
Gledy yang ditinggalkan, pergi setelah mendapat kode dari Rhiana.
...
Grep!
"Huh? Apa-apaan?" Rhiana kaget Artya memeluknya setelah mereka masuk ke mobil.
"Ck... aromanya masih tertinggal." Artya kesal karena aroma lain tercium di tubuh Rhiana.
"Pergi ke hotel!" Perintah Artya pada sopir.
"Untuk apa pergi ke hotel?" Rhiana bertanya dengan bingung. Rumahnya di belakang. Untuk apa dia ikut bersama pria ini?
"Kamu harus dihukum karena melawan!" Setelah mengatakan itu, Artya segera memposisikan Rhiana telungkup di pangkuannya.
Plak
Plak
Plak
"KAU GILA?" Rhiana begitu kesal karena Artya memukul bokongnya. Orang tuanya bahkan tidak pernah menghukumnya dengan cara ini. Ini benar-benar memalukan!
"Tuan... apa ini sisi lain anda?" Komentar si sopir dalam hati. Sopir itu hanya bisa menahan malu, juga hidungnya yang hampir mengeluarkan darah. Tingkah tidak biasa majikan tirannya membuatnya benar-benar malu.
"Hukuman untuk gadis nakal sepertimu!"
Plak
"Hei..." Suara Rhiana tertahan.
"Beraninya pergi ke club?"
Plak
"Tugasmu belajar, bukan pergi ke club!"
Plak
"Kamu masih terlalu kecil."
Plak
"Hiks... itu sakit!" Rhiana tiba-tiba menangis karena sakit bercampur malu. Dia sudah 15 tahun, oke. Hukuman di tempat seperti itu sangat memalukan.
Tangisan Rhiana menghentikan tangan Artya. Pria itu tersadar karena mendengar tangisan itu. Ini pertama kalinya dia mendengar tangisan seperti itu. Rasanya dia semakin ingin mendengarnya lama. Suara tangisan Rhiana, bagi Artya terdengar sangat... sudahlah. Berhenti memikirkan hal jahat!
Grep!
"Lain kali jangan seperti itu," Artya berbicara dengan lembut setelah membawa Rhiana dalam pelukannya.
"Hiks... itu memalukan," Artya terkekeh senang karena suara gadis kecilnya terdengar seperti rengekan manja.
"Rasa ingin tahumu berbahaya. Jangan diulangi!" Artya tidak suka gadis kecilnya pergi ke tempat seperti itu.
Mendengar laporan Felix tentang keberadaan gadis kecilnya di club 24 jam, Artya sangat tidak senang. Dia tanpa penundaan menaiki jet pribadinya menuju Swiss. Dia harus membawa pulang gadis kecilnya dengan tangannya sendiri.
Ketika sampai, ternyata Rhiana sudah tidak ada. Artya kemudian memutuskan untuk pergi ke rumah Rhiana. Ternyata Rhiana belum juga pulang. Rupanya dia masih berkeliling dengan Gledy. Artya tentu saja sangat marah.
"Kenapa menolak panggilan dariku, hum? Kenapa tidak melapor aktivitasmu? Kamu akan dihukum jika mengulanginya." Suara Artya masih terdengar lembut tapi penuh penekanan.
"Kamu hanya kakak iparku. Kamu tidak berhak atasku!" Rhiana menjawab dengan masih sesegukan. Dia juga masih dalam pelukan Artya.
"Mulai sekarang kamu milikku! Itu tidak akan pernah berubah!"Artya mengklaim miliknya dengan tegas.
"Seenaknya saja," Rhiana mendengus dan berniat turun dari pangkuan Artya.
__ADS_1
"Jangan bergerak! Berani coba, kamu aku cium sekarang juga!" Rhiana dengan patuh diam di tempatnya.