Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Guru Baru


__ADS_3

Rhiana menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia sedang bersiap ke sekolah. Kemarin Rhiana menerima email dari Marrie bahwa seorang mata-mata organisasi bawah tanah sudah disusupkan ke sekolah elit Swiss.


Jadi, Rhiana harus pergi ke sekolah mulai hari ini meski sebenarnya dia sedang disembunyikan oleh kedua kakaknya dari Artya.


"Ada apa, Gledy?" Tanya Rhiana setelah menekan chip di belakang telinganya.


^^^"Hasil penyelidikan sudah keluar!"^^^


"Kirim hasilnya padaku. Aku akan membacanya di sekolah," Rhiana menarik sedikit bibirnya kemudian memakai kaca mata bulat besar miliknya dan mengambil ranselnya bersiap keluar.


Hasil penyelidikan yang Gledy maksud adalah hasil penyelidikan robot pintar itu terhadap Annalisha. Rhiana sudah menunggunya selama beberapa hari. Entah apa hasilnya, Rhiana sangat tidak sabar.


Rhiana menuruni tangga sambil mengaktifkan ponselnya yang sengaja dinonaktifkan kakaknya Dalfi.


Ting!


Ting!


Ting!


Notifikasi pesan masuk di ponsel Rhiana menghentikan langkah kakinya yang ingin turun tangga.


Si Penggila Kebersihan:


'Sampai kapan kamu bersembunyi dariku, Tupai kecil?'


'Sudah cukup kamu menghindariku!'


'Angkat teleponku, Tupai kecil!'


'Aku tidak peduli kamu punya kekasih atau tidak. Meski dia akan menjadi suamimu sekalipun, aku akan tetap membuatmu berada di sisiku. Karena kamu milikku!'


'Sampai ke ujung dunia pun, aku akan mencarimu!'


'Tidak peduli harus memakan banyak waktu, selagi aku masih hidup, kamu harus menjadi milikku!'


Rhiana tiba-tiba merinding membaca pesan dari Artya. Bukankah si penggila kebersihan ini sudah terobasesi padanya? Rhiana kini menyesali keputusannya untuk lepas dari Artya waktu itu. Jika saja dia setuju untuk Artya pergi, pria itu pasti akan berhenti terobsesi padanya.


Bukan hanya pesan, tetapi notifikasi panggilan tidak terjawab dari Artya, Brilyan, dan Yeandre.Pesan masuk beruntun membuat Rhiana berhenti hanya untuk membaca beberapa pesan yang dikirim para pria itu padanya.


Brilyan Scoth:


'Rhiana... kamu dimana?'


'Please, jawab teleponku!'


'Jangan begini, Rhiana. Aku bisa gila...'


'Tolong hubungi aku jika kamu membaca pesan ini.'


"Gila? Jangan aneh-aneh, bung." Gumam Rhiana menggelengkan kepalanya.


Kakak Lycoris:


'Rhiana...'


'Aku benar-benar minta maaf. Apa lukamu sangat parah?'


'Kamu bahkan tidak bisa dihubungi.'


'Jangan khawatir tentang sekolah. Aku sudah mengurus izin sakitmu. Cepat sembuh.'


'Rhiana... balas pesanku, ya. Secepatnya.'

__ADS_1


'Aku menunggumu!'


Rhiana berkedip beberapa kali tidak menyangka Yeandre, kakak sahabatnya ini begitu khawatir padanya. Tentu saja dia khawatir dan merasa bersalah. Rhiana terluka itu karenanya. Bagus juga, pikir Rhiana. Dengan begini, Rhiana bisa menjaga Yeandre lebih dekat lagi.


"Wah... orang-orang ini... Mereka sangat bekerja keras. Balas tidak, ya." Rhiana sedang menimbang apa dia harus membalas pesan mereka atau tidak. Tentu saja yang Rhiana maksud adalah Brilyan dan Yeandre. Untuk Artya, Rhiana harus berpikir dengan matang sebelum membalas pesan pria itu.


"Tidak perlu. Jangan dibalas! Sangat mengganggu. Biarkan saja mereka," Dalfi yang baru turun segera menyahut tidak senang.


"Tau begini, aku blokir saja nomor mereka." Gumam Dalfi sebelum mencium pipi Rhiana dan menarik lembut tangan adik kesayangannya itu untuk turun ke lantai satu.


Dalfa yang ada di belakang hanya tersenyum dan menggeleng. Kakak pertama Rhiana itu segera menyusul ke lantai satu. Mereka akan sarapan sebelum berangkat sekolah.


***


Ruang kelas khusus sains dan teknologi yang merupakan kelas Rhiana begitu berisik. Bukan hanya anak-anak kelas itu sendiri, tapi juga dari kelas lain yang datang karena para pria tampan yang menerobos masuk ke sana hanya untuk melihat Rhiana.


Rhiana berusaha mempertahankan aktingnya sebagai gadis polos pemalu meski sebenarnya dia sudah muak sekarang. Ketika dia tiba dalam kelas, orang pertama yang menghampirinya adalah Brilyan. Pria itu sudah menerobos Rhiana dengan banyak pertanyaan yang semua pertanyaannya berbunyi khawatir.


Setelah Brilyan, muncul Yeandre kemudian Triztan. Dalfa dan Dalfi juga ikut menempel karena tidak suka melihat kesayangan mereka diperlakukan seperti itu.


Tentu saja kelakuan para pria itu yang begitu khawatir karena Rhiana tidak masuk sekolah selama dua pekan lebih. Mereka berpikir Rhiana sakit parah sehingga masa pengobatannya juga lama.


"Anu... Rhi, ma... mau makan siang bersamaku? Ak... aku yang traktir." Triztan yang dikenal sangat pemalu, mengajak Rhiana lebih dulu tanpa mempedulikan perang dingin antara Brilyan dan Yeandre bersama kedua kakak Rhiana.


"TIDAK BOLEH!!" Dalfa, Dalfi, Brilyan dan Yeandre segera menyahut tidak terima. Mereka segera menatap tajam Triztan.


"Bagaimana jika makan siang saja bersamaku?" Alviona yang juga baru tiba ikut mengajak.


"KAMU JUGA TIDAK BOLEH!" Lagi-lagi empat pria itu mengatakan hal yang sama.


"Ba... bagaimana jika kita dengar pendapat Rhiana? Si... siapa yang akan dia pilih untuk makan bersama?" Triztan meski ketakutan memberi saran yang cukup adil.


Semua personil menatap penuh harap pada Rhiana yang tiba-tiba memasang wajah datar. Dia sedang bingung siapa yang harus dia pilih. Jika dia tidak memilih kedua kakaknya itu bukan masalah besar. Begitu juga dengan Alviona.


"Dari pada bingung, lebih kalian semua makan saja bersama. Itu sangat adil untuk semua orang." Seorang teman sekelas Rhiana memberi usulan karena merasakan kebingungan Rhiana.


"Kami juga mau ikut jika makan bersama!"


"Benar! Mari buat pesta kecil-kecilan untuk menyambut Rhiana yang baru sembuh dan masuk sekolah."


"Aku setuju!"


"Aku juga setuju!"


Teman-teman sekelas Rhiana yang lain ikut menyahut. Sejak Rhiana mendisiplinkan mereka waktu itu, mereka bukan hanya takut, tapi juga semakin menghormati Rhiana. Meski sebenarnya masih ada beberapa orang yang membenci Rhiana dalam hati.


"Benar juga! Ayo makan bersama, teman-teman!" Rhiana tersenyum tipis menyetujui saran teman-temannya. Selain agar dia tidak kebingungan memilih, dia juga punya kesempatan mencari mata-mata yang kata Marrie sudah berada di sekolah ini. Sudah pasti mata-mata itu akan mudah beraksi jika dalam kerumunan.


"Karena Rhiana sudah setuju, siapa yang akan membantuku mengurus pestanya?" Alviona dengan semangat empat lima membuka suara.


"Aku akan membantu!" Triztan segera mengangkat tangannya.


"Aku!"


"Aku!"


"Aku juga!"


Ada beberapa orang yang mengajukan diri membantu Alviona.


Kelas Rhiana semakin berisik karena membahas apa saja yang harus disiapkan untuk pesta nanti.


"Ada apa ini? Sangat berisik! Yang bukan kelas saya, segera keluar dari sini. Keluar sebelum poinnya saya kurangi."

__ADS_1


Suara lembut dan tegas itu berhasil membuat keramaian layaknya pasar itu hening seketika. Tentu saja semua orang diam karena perkataan ancaman itu tidak main-main.


Semua orang segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Kelas lain juga berlari cepat menuju kelas mereka.


"Pengajar baru?" Tanya Rhiana dalam hati. Wajah itu terlihat asing di matanya.


"Dia guru baru, sekaligus wali kelas sementara." Brilyan berbisik memberitahu. Rhiana hanya mengangguk mengerti.


"Saya hanya ingin melihat alat tulis kalian di atas meja masing-masing! Saya akan memberikan kuis tentang materi yang sudah diajarkan minggu lalu. Saya tidak peduli dengan siswa yang tidak ikut kelas saya minggu lalu. Entah karena alasan sakit atau tidak. Kuis tetap kuis!"


Rhiana menaikkan sebelah alisnya merasa perkataan itu ditujukan padanya yang tidak masuk sekolah hampir tiga minggu.


"Waktu kalian hanya 1 menit untuk menyiapkan semua perlengkapan. Saya akan memberikan lembar jawabannnya, jadi tidak perlu ada secarik kertas pun di depan kalian. Lakukan sekarang!"


"Gunakan tangan bukan mulut. Jangan berisik jika tidak ingin poinnya saya kurangi!"


"Wah... aku baru tahu, ada orang seperti ini. Apa guru baru itu sejahat ini?" Gumam Rhiana dalam hati.


Rhiana merasa senang dengan fenomena ini. Setidaknya hari-hari di kelasnya akan lebih menyenangkan. Tentu saja itu menurut Rhiana, dan bukan menurut teman sekelasnya.


...


"Memang... Jawaban siswa yang mengikuti pelajaranku dan yang tidak, ternyata sangat berbeda."


Rhiana mengerutkan kening merasakan sesuatu akan terjadi. Instingnya tidak pernah salah.


SREK!


'SIAPA NAMA GURU BARU ITU?'


Rhiana menulis disecarik kertas memo dan memberikannya pada Brilyan. Mereka sama sekali tidak dizinkan berbicara. Guru baru itu langsung tahu jika ada yang berinteraksi hanya dari gerakan tubuh mereka.


Jadi, Rhiana memanfaatkan tempat duduk mereka yang paling belakang, juga gerakan yang tidak biasa, sehingga tidak ketahuan.


'ALLENA!'


Brilyan segera menjawab dan menggeser dengan pelan kertas itu pada Rhiana.


"Untung saja namanya hanya sedikit mirip dengan bibi Alen. Aku tarik kembali perkataanku tadi yang mengatakan kelasnya akan menyenangkan. Wanita ini tipe yang suka mengajak ribut." Gumam Rhiana dalam hati.


"Rhiana Senora! Siapa yang menyuruhmu menulis jawaban seperti ini? Saya tidak suka ada siswa yang mengerjakan soal tidak memakai cara yang saya ajarkan!"


"Wah... Orang ini benar-benar berbeda dari pada yang lain." Rhiana mendumel dalam hati.


BRAK!


"Bu... Siswa tidak harus mengikuti semua cara yang diberikan gurunya. Asalkan dia bisa menjawab soal, asalkan dia mengerti, cara apapun tidak masalah. Ibu berhak marah jika Rhiana menjawab tanpa menuliskan cara pengerjaannya." Dalfa segera menyahut tidak terima setelah menggebrak meja.


Apa guru baru ini punya dendam pribadi dengan adiknya? Dalfi sangat tidak menyukai wanita itu.


"Kamu berani melawan saya? Di sini tertulis poinmu paling banyak ketiga di seluruh sekolah. Jadi, sekarang saya kurangi poinmu sebanyak 5."


Ancaman pengurangan poin itu tidak membuat Dalfa takut sama sekali. Ketika dia ingin membantah lagi, Rhiana sudah angkat suara lebih dulu.


"Bu... saya minta maaf sebelum mengatakan ini. Apa ibu ada dendam pribadi dengan saya? Bukankah seorang guru harusnya senang jika ada siswa yang bisa menjawab soal menggunakan cara yang lebih mudah dan cepat?


Apalagi jika siswa itu tidak mengikuti pelajaran tapi sudah bisa menjawab soal dengan benar. Jika ibu ingin menghukum saya karena tidak masuk sekolah, saya terima. Tapi ibu tidak boleh melakukan hal seperti ini." Jantung Brilyan yang duduk di samping Rhiana berdebar kencang. Tentu saja pria itu terpesona karena keberanian Rhiana.


"TIDAK BISA! Rhiana tidak bisa dihukum karena tidak masuk sekolah. Dia punya surat izin sakit yang resmi." Dalfi juga berbicara dengan kesal.


BRAK!


"Kalian bertiga berani membantah saya? Ikut ke ruangan saya. Sekarang!" Guru wanita berusia 20 tahun itu segera keluar dengan wajah memerah karena menahan marah.

__ADS_1


__ADS_2