
Pertandingan volly putri antara Prancis dan Rusia berakhir dengan kemenangan tim Prancis. Kini kedua tim saling bersalaman.
Tepat saat Rhiana bersalaman dengan Marie, genggaman Marie pada tangan Rhiana begitu erat. Rhiana jelas tahu, Marie sangat tidak terima dengan kekalahannya.
"Siapa namamu?" Tanya Marie berusaha terlihat tenang.
"Siana." Rhiana menjawab dengan santai. Jangan lupakan senyum tipis seakan tidak terpengaruh dengan genggaman Marie pada tangannya.
"Lain kali aku akan mengalahkanmu!"
"Semoga beruntung," Rhiana tersenyum tipis menunggu pertandingan mereka berikutnya.
...
Baru saja Rhiana akan mengambil botol minum untuk dirinya, terdengar suara melalui earpice berbentuk chip yang terpasang di belakang telinganya. Ternyata orang-orang yang mengawasinya sudah menyadari penyamarannya.
Rhiana berbalik lalu menatap Marie. Mungkin insting, sehingga Rhiana refleks berbalik ingin melihat Marie. Dapat Rhiana lihat, Marie juga baru saja selesai menerima telepon dan berbalik menatapnya. Keduanya sama-sama saling menatap. Rhiana yakin, Marie pasti menerima perintah untuk menangkapnya.
Rhiana dengan santai memutuskan kontak mata dengan Marie dan beralih meminta izin pada pelatih untuk ke toilet. Rhiana harus segera pergi dari sini. Untungnya Yeandre masih aman dalam pengawasan kedua saudara kembarnya, sehingga Rhiana tidak terlalu khawatir.
Rhiana dengan cepat menghindar dari kejaran orang yang mengawasinya dan segera mengganti pakaiannya. Jika ditanya dari mana Rhiana mendapatkan pakaian, maka itu disiapkan oleh salah satu orang kepercayaannya. Dengan pakaian santai, Rhiana keluar dari salah satu toilet. Ada juga masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Di pertengahan lorong, Rhiana tiba-tiba mengerutkan kening. Apa perasaannya saja, atau bukan, lorong tempat dia lewat terasa sepi. Sebelum bertanya, seseorang sudah memberitahu situasi di sini melalui earpice di belakang telinganya.
"Heh... sebegitunya kalian ingin menangkapku?" Gumam Rhiana dan menggeleng. Langkah kakinya dipercepat menuju lapangan utama.
...
Rhiana saat ini sedang menatap dari langit-langit gedung olahraga tempat olimpiade diselenggarakan. Di bawah sana, tepatnya di lapangan volly berwarna orange itu, banyak orang sedang disandera. Sepertinya orang-orang dari organisasi bawah tanah akan menggunakan sandera untuk memancingnya keluar.
"Sepertinya aku memerlukan sedikit bantuanmu," Rhiana berbicara sambil menyentuh chip di belakang telinganya.
Mendapat jawaban yang diinginkan, Rhiana lalu merayap untuk keluar dari lubang di langit-langit gedung olahraga itu. Dia harus turun dan memulai aksinya.
Axtton yang berada dalam kerumunan sandera yang berjongkok di lapangan menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan kakak kesayangannya. Meski dia tahu kakaknya itu hebat, tetap saja ada rasa khawatir dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Kak Anya pasti kesulitan mengurus orang-orang sebanyak ini," Gumam Axtton dalam hati.
Axtton terus mencari dalam kerumunan sandera tapi tidak menemukan Rhiana di sana. Dia beralih mencari sekiranya ada pintu atau tempat tersembunyi yang mungkin bisa digunakan untuk melarikan diri nanti. Sayangnya, tidak ada jalan keluar sama sekali.
Bukan hanya penonton yang disandera, tetapi peserta lomba, kru tv dan semua orang yang ada di gedung olahraga itu disandera. Ada sekitar 10 orang yang menjaga para sandera. Sisanya, setahu Axtton sedang berkeliling gedung untuk mencari Rhiana. Mereka yakin, Rhiana masih ada di gedung ini, mengingat semua jalan keluar sudah ditutup.
BOOM!
Ledakan cukup kuat membuat para sandera ketakutan. Ini semacam serangan t*****s membuat mereka sangat takut.
"Apa itu kak Anya? Sayang sekali, mereka memutuskan akses jaringan di sini. Sial... aku harap kak Anya baik-baik saja." Axtton tentu saja khawatir.
Axtton juga belum bisa menggunakan akses panggilan darurat mengingat kemampuannya untuk ikut dalam misi sama sekali belum ada. Jadi, remaja 12 tahun itu hanya bisa berdoa agar kakak sepupu kesayangannya itu baik-baik saja.
"Kapten memberi perintah. 5 orang ikut pergi melihat situasi ledakan!" Salah satu anggota organisasi bawah tanah yang baru saja datang memberitahu yang lainnya.
Para sandera hanya bisa melihat tanpa bersuara. Jika mereka mengeluarkan suara atau melakukan gerakan mencurigakan, mereka pasti akan ditembak mati di tempat.
Axtton mengerutkan kening karena tidak terlalu mendengar dengan jelas pembicaraan orang-orang itu. Dia hanya melihat 5 orang dari 10 orang yang mengawasi mereka bergerak keluar. Axtton hanya menebak, mereka pasti pergi melihat ledakan.
Axtton terus menatap interaksi orang-orang organisasi bawah tanah itu. Hingga dia tersadar karena ponselnya bergetar. Dengan gerakan hati-hati, dia mengambil poselnya. Sebelum itu, Axtton melirik samping kiri dan kanannya untuk memastikan keamanannya sendiri.
Axtton berkedip pada seorang anak kecil di samping kirinya yang sedang dipeluk oleh ibunya. Dia memberi isyarat pada anak kecil itu untuk tetap tenang. Di sebelah kanannya ada seorang gadis muda dengan pakaian olahraga juga menatapnya dan diberi isyarat yang sama.
Merasa aman, Axtton melihat ponselnya. Ternyata pesan darurat dari Rhiana. Senyum legah terukir di bibirnya karena kakak kesayangannya itu baik-baik saja. Axtton berkedip dengan mata jernihnya ketika membaca kalimat terakhir dari pesan itu.
"Kak Anya memang selalu keren!" Puji Axtton dalam hati.
__ADS_1
Axtton lalu menyimpan kembali ponselnya dan mengalihkan pandangannya ke arah depan. Pandangannya tertuju pada interaksi orang-orang organisasi bawah tanah itu. Tepatnya, satu objek di depan sana.
...
10 menit kemudian.
Bruk
Bruk
Bruk
Bruk
Bruk
Lima orang yang mengawasi para sandera jatuh secara tiba-tiba. Hanya tersisa satu orang yang tetap tenang memainkan ponselnya. Para sandera yang melihat itu kaget. Bagaimana bisa orang-orang yang menyandera mereka jatuh begitu saja?
Semua sandera lalu mengalihkan pandangannya pada orang yang memainkan ponselnya yang wajahnya sama sekali tidak bisa mereka lihat, mengingat orang itu memakai penutup kepala.
Orang itu kini berdiri dan menatap ke arah sandera. Dia lalu menarik penutup kepalanya dan hanya menampilkan rambut panjang yang dikuncir ke atas. Sayangnya, wajahnya tertutup masker hitam. Mereka tidak menyangka ternyata itu seorang gadis.
Axtton yang melihat itu tersenyum. Dia tentu saja mengenali orang itu. Itu adalah kakak kesayangannya. Ya, gadis itu adalah Rhiana. Sangat mudah membuat salah satu orang organisasi bawah tanah pingsan, kemudian mengambil pakaiannya. Selanjutnya, membuat ledakanbdan mengalihkan perhatian mereka. Hingga, Rhiana berada di sini. Dengan menggunakan jarum bius, 5 orang yang mengawasi para sandera pingsan.
Rhiana mengetik sesuatu di ponselnya, kemudian mengalihkan pandangannya ke layar monitor besar di lapangan itu. Semua sandera juga mengalihkan pandangan mereka ke layar monitor. Mereka membaca tulisan di sana.
...'Aku akan membebaskan kalian semua dari sini, asalkan kalian tetap tenang. Jangan membuat keributan, dan kalian akan aman!...
...Aku akan keluar sebentar. Sampai aku kembali untuk menjemput kalian, tunggu aku di sini....
...Jika mereka bertanya apa yang terjadi pada lima orang ini... aku yakin, kalian tahu apa yang harus dijawab.'...
Setelah melihat mereka sudah membaca tulisan itu, Rhiana mengembalikan layar monitor seperti semula. Rhiana kemudian keluar dari sana.
...
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Marie saat ini sedang mendobrak paksa pintu di depannya. Beberapa saat lalu, dia mengikuti seseorang dan berakhir dikunci dalam sebuah ruangan. Dia tidak menyangka bisa terjebak di sini.
Entah siapa yang melakukan ini, Marie berjanji akan menyiksa orang itu dan berakhir membunuhnya dengan tangannya sendiri. Marie begitu kesal karena dipermainkan. Hari ini benar-benar hari sial untuknya. Belum lagi, ruangan ini sama sekali tidak ada jalan keluar. Hanya pintu ini satu-satunya jalan keluar untuknya.
Ternyata orang yang menjebaknya ini sangat pintar memilih tempat. Marie sudah mendobrak pintu selama 30 menit dan tidak ada perubahan sama sekali. Marie tidak tahu saja, bahwa dibalik pintu, ada dua lemari yang menghalangi jalan keluarnya.
Marie sudah berulang kali memanggil anak buahnya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Padahal alat komunikasi yang dia bawa masih terhubung. Tentu saja bawahannya tidak menjawab, karena mereka semua sudah Rhiana buat pingsan.
Hampir satu jam, Marie bisa mendengar suara-suara dibalik pintu. Seseorang sepertinya sedang melakukan sesuatu. Hingga, pintu akhirnya terbuka dan muncul bawahannya. Marie bernafas legah karena bisa keluar dari sini. Tujuan utamanya saat ini adalah mencari orang yang sudah mengurungnya di sini.
"Di mana teman-temanmu?" Tanya Marie pada pria di belakangnya.
"Mereka semua sudah pingsan, Kapten. Hanya saya sendiri yang selamat."
"Sial... Dimana para sandera itu?"
"Mereka masih di lapangan, Kapten."
"Antar aku ke sana. Aku sedang ingin memukul orang sekarang," Sebelum menangkap dalang dibalik semua ini, Marie ingin melampiaskan kekesalannya pada para sandera itu lebih dulu.
__ADS_1
"Siap, Kapten."
Keduanya menuju ke lapangan.
Sampai di lapangan, wajah Marie merah padam. Orang-orang yang katanya disandera di sini tidak ada lagi. Hanya ada bawahannya yang pingsan. Marie sangat marah sekarang.
"Apa-apaan ini? Dimana para sandera itu?" Tanya Marie dengan marah. Marie kemudian berbalik menatap pria di belakangnya, ternyata tidak ada orang lagi di sana.
"Sialan... gadis itu... aku ingin sekali membunuhnya!" Tangan Marie terkepal karena emosi.
"Yo... kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu?" Sebuah suara mengalihkan perhatian Marie.
Marie mengerutkan kening bingung. Sejak kapan ada orang duduk di kursi penonton? Sejak dia masuk tadi, dia sama sekali tidak melihat siapapun di sana.
Marie menggertakkan giginya melihat dengan jelas wajah seorang gadis muda yang duduk santai di kursi penonton. Gadis itu adalah orang yang mereka cari. Marie tidak menyangka, gadis itu mampu membuat semua bawahannya pingsan seorang diri.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Marie sambil mengepalkan tangannya. Marie sedang berusaha meredamkan emosinya. Dia tidak ingin terlihat terprovokasi. Nyatanya gadis yang duduk di kursi penonton itu tidak peduli.
"Benar juga, kita belum berkenalan. Namaku Rhiana. Salam kenal, Marie." Rhiana memperkenalkan diri kemudian berdiri dan berjalan santai menuju Marie.
"Dari mana kamu tahu namaku?"
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, setelah kamu menjawab pertanyaanku. Aku ingin jawaban jujur. Bagaimana?" Rhiana memberi penawaran dengan senyum tipis. Rhiana sedang tidak menyamar. Toh, organisasi bawah tanah sudah mengenali wajah aslinya.
"Baik."
"Kenapa organisasi bawah tanah mengincar Yeandre?" Meski Rhiana tahu alasannya, tapi dia hanya ingin menguji Marie. Tentu saja, Rhiana ingin tahu apa Marie menjawab jujur atau tidak.
"Dia adalah aset berharga bagi organisasi bawah tanah. Untuk jelasnya, itu rahasia kami. Sekarang jawab pertanyaanku!" Rhiana mengangguk karena Marie menjawab sesuai perkiraannya meski tidak lengkap.
"Siapa yang tidak mengenalimu? Seorang kapten basket tim Rusia. Gaya bermainmu yang keren itu membuatmu menjadi terkenal di hari pertama olimpiade. Bukan hanya kapten basket, kamu juga kapten volly. Meski permainan vollymu juga tidak kalah hebat, tapi tetap saja kamu kalah melawan Seina." Memprovokasi seorang Marie tentu saja membuat Rhiana senang. Rhiana juga tidak akan menjawab dengan jujur alasan sebenarnya.
"Ingin sekali aku membunuhnya!" Kesal Marie dalam hati.
"Selanjutnya pertanyaan terakhir. Kamu juga boleh mengajukan satu pertanyaan padaku." Rhiana berbicara setelah mengambil posisi duduk di kursi panjang di sana. Sepertinya itu kursi untuk pelatih maupun pemain.
"Aku ingin tahu alasanmu mengikuti olimpiade. Yang jelas itu pasti bukan hanya untuk nama sekolah, 'kan? Jawabanmu menentukan jalan hidupmu!" Rhiana mengajukan pertanyaan setelah menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
"Aku tidak pernah takut mati!" Rhiana tersenyum tipis tidak menyangka Marie begitu setia pada organisasi bawah tanah.
"Bagaimana dengan keluargamu jika kamu mati? Jangan kaget jika hanya aku yang tahu keberadaan mereka,"
"Kamu..." Marie menggertakkan giginya menahan emosi. Keluarganya adalah segalanya. Tidak ada yang tahu jika Marie memiliki keluarga. Termasuk organisasi bawah tanah. Marie menyembunyikan mereka dengan rapat. Keluarganya juga tinggal di tempat yang jauh.
Alasan Marie bekerja untuk organisasi bawah tanah adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Adiknya sakit keras dan butuh biaya yang besar. Karena itu, Marie rela melakukan apa saja untuk adiknya itu. Dia hanya punya ibu dan adik laki-laki yang berusia 5 tahun yang menderita kanker sejak berusia tiga minggu.
Bahkan jika nyawanya harus ditukar untuk adiknya, Marie rela. Apapun akan dia lakukan untuk keluarganya. Bekerja untuk organisasi bawah tanah, membuatnya harus menjadi kejam. Dia akan selalu setia untuk organisasi bawah tanah yang sudah membantunya dan keluarganya selama ini.
Marie menatap Rhiana dengan wajah merah padam. Dia tidak menyangka, gadis di depannya ini tahu tentang keluarganya. Ternyata dia bukan gadis biasa. Gadis di depannya ini sangat berbahaya.
"Aku memberimu dua pilihan. Organisasi bawah tanah atau keluargamu?" Dengan memberikan pilihan ini, Rhiana akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tangan Marie terkepal mendengar dua pilihan yang Rhiana berikan padanya.
"Aku harus menjaga seseorang selama olimpiade ini. Dan juga... kami menerima pesanan organ tubuh dari beberapa pengusaha besar di luar negeri. Waktu pengiriman dua hari lagi," Marie akhirnya memilih keluarganya. Jika dia ketahuan berkhianat, dia tentu akan mati. Tapi tidak masalah. Setidaknya keluarganya tetap aman.
"Meski aku ingin tahu siapa yang kamu lindungi, tapi sudahlah. Aku bisa mencari tahu sendiri. Tapi, aku salut ternyata kamu sangat menyayangi keluargamu. Kamu orang baik, kenapa ingin bekerja pada mereka? Bukankah uang yang selama ini dinikmati oleh keluargamu adalah uang ilegal? Seharusnya kamu tahu itu."
Marie jelas tahu itu. Tapi apa boleh buat? Hanya ini pekerjaan yang cocok untuknya. Dia sudah mencoba semua jenis pekerjaan tapi berakhir dengan dia dipecat karena memiliki tempramen yang buruk.
Marie tidak bisa sabar untuk melayani orang lain. Intinya dia sangat kesulitan berinterkasi dengan orang lain karena mulutnya yang pedas itu. Setiap kata yang dikeluarkan akan membuat pendengarnya tersinggung dan berakhir dengan dia yang dilaporkan karena tidak ramah.
Bekerja di tempat yang tidak mengharuskannya berinterkasi dengan orang lain, justru dia akan menghancurkan apa saja yang dia pegang. Marie tidak bisa bersikap lembut pada orang lain selain ibu dan adiknya.
Semua pekerjaan sudah dia coba tetapi berakhir gagal. Pada akhirnya, seorang pria paru baya merekrutnya untuk bergabung dengan organisasi bawah tanah. Dia lalu mengikuti pelatihan hingga menghasilkan Marie yang baru. Menghasilkan Marie, seorang rubah yang kejam.
__ADS_1
Dengan kepribadian yang baru, Marie bisa mencari pekerjaan yang baru dan halal, tapi percuma. Dia sudah terikat kontrak hidup dan mati bersama organisasi bawah tanah. Jadi, hidupnya hanya untuk organisasi itu dan kedua kesayangannya. Mungkin setelah ini, mereka tahu dia membocorkan misinya pada lawan, maka hidupnya tidak akan lama lagi. Marie sudah pasrah dengan itu.