Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Artya Galau


__ADS_3

"Sampai kapan aku akan dikurung di sini, Kak?" Rhiana mengomel dengan kesal.


Ini sudah seminggu berlalu dia tinggal di rumah sakit. Bagaimana bisa waktu tinggal di rumah sakit karena luka tembak di bahunya yang tidak seberapa, sama dengan waktu dia tinggal di rumah sakit karena luka yang cukup parah?


Kedua kakaknya memang selalu memperlakukan tubuhnya dengan sangat istimewa. Meski hanya luka kecil, tindakan operasi langsung dilakukan. Rhiana bahkan tidak bisa membantah.


"Dalfi sudah mengurus administrasimu. Kita pulang sebentar lagi. Jangan memasang wajah seperti itu, Baby." Dalfa tersenyum lembut menatap Rhiana.


"Cari jalan lain!" Suara kesal Dalfi terdengar memasuki ruang rawat Rhiana.


"Apa terjadi sesuatu?" Dalfa bertanya dengan bingung. Dia sedikit waspada jika terjadi sesuatu yang mengharuskan mereka membawa pergi adik kesayangan mereka dengan hati-hati.


"Para pengganggu itu sudah di lobby." Dalfi menjawab dengan datar.


Bagi Dalfi, kecuali keluarga, satupun pria tidak boleh mendekati adik kesayangannya. Apalagi jika pria itu pengganggu.


Dalfi tidak suka melihat Brilyan dan Artya mendekati adiknya. Apalagi Yeandre. Kakak Lycoris itu paling dibenci oleh Dalfi. Tentu saja karena adiknya terlalu banyak terluka saat melindungi pria itu. Sayangnya, Dalfa dan Dalfi tidak diijinkan oleh Rhiana untuk menyentuh Yeandre, bahkan seujung rambutpun.


"Kalau begitu, ayo lewat jalan lintas. Aku tahu jalannya. Kamu urus mereka, Fi." Dalfa dengan cepat menuju brankar untuk menggendong Rhiana.


"Aku tidak lumpuh, Kak. Aku bisa jalan sendiri!"


"Tidak! Kakak akan menggendongmu biar cepat."


Biar cepat?


Memangnya dia selemah apa?


Lagipula, yang luka bahunya. Itu pun sudah sembuh beberapa hari lalu. Kakinya tidak ada masalah. Tapi kakaknya memperlakukannya seperti orang yang baru sembuh dari operasi karena lumpuh. Rhiana tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Dalfa tidak peduli dengan penolakan adiknya. Kakak pertama Rhiana itu sudah memposisikan Rhiana dalam gendongannya ala koala.


Rhiana mendengus dan mengalungkan kedua tangannya di leher Dalfa. Sejak dulu dia tidak bisa menang melawan kakaknya ini jika itu berkaitan dengan kesehatannya.


...


"Kamar Nona Rhiana kosong, Tuan." Felix memberitahu dengan pelan pada Artya.


Baru saja Felix menerima laporan dari bawahannya tentang kamar Rhiana yang kosong. Mereka hanya tahu jika kamar itu kosong sejak 10 menit lalu. Ternyata mereka terlambat.


Saat ini Felix tidak berani melihat langsung wajah Artya. Tentu saja punggungnya yang merinding sudah menjelaskan seperti apa ekspresi majikannya ini.

__ADS_1


SREK!


Artya berbalik dan pergi meninggalkan lobby Flower's Hospital.


"Selamat," Gumam Felix dalam hati.


Asisten Artya itu bersyukur karena majikannya sudah pergi tanpa melakukan apa-apa. Ini baik untuknya dan juga pihak rumah sakit.


Berbeda dengan Artya, Brilyan dan Yeandre yang tidak tahu perihal kepergian Rhiana dari rumah sakit, merasa kecewa karena tujuan kedatangan mereka tidak tercapai.


Yeandre segera balik badan dan pergi. Sedangkan Brilyan, pria itu masih termenung hingga beberapa menit kemudian dia menghubungi seseorang untuk mencari jejak kepergian Rhiana. Sayangnya, orang yang diberi tugas tidak menemukan apapun. Brilyan menghembuskan nafas pelan dan keluar dari ruangan itu.


Pada hari itu, tiga pria itu berusaha mencari keberadaan Rhiana tapi mereka tidak menemukan apa-apa.


***


"Adikku terlalu berharga untuk para pria itu," Gumam Dalfi dalam hati. Kakak Rhiana itu sedang menatap wajah tenang Rhiana yang terlelap di pangkuannya.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sangat mudah menghilangkan jejak mereka di Flower's Hospital. Jadi, tidak ada yang bisa menemukan keberadaan mereka saat ini. Selain karena kecepatan pergerakan mereka, ada Gledy juga yang membantu dari belakang, sehingga tidak ada satupun jejak tertinggal.


"Berhenti memasang wajah tembokmu, Fi! Tidak ada orang yang akan melihat wajahmu." Dalfa membuka suara di depan kursi kemudi.


Dalfi hanya mendengus dan menunduk melihat wajah tenang Rhiana yang terlelap. Tangan kakak kedua Rhiana itu mengusap lembut pucuk kepala Rhiana.


Drtttt


Drtttt


"Si penggila kebersihan. Siapa ini?" Dalfi mengerutkan kening membaca nama penelpon di ponsel Rhiana.


"Sudah pasti si Tuan Muda Amstrong." Dalfa menyahut sebelum menarik senyum tipis.


Dalfi sedikit berpikir, apakah dia harus menjawab panggilan ini atau tidak. Setelah memikirkan sesuatu dan berdehem untuk mengatur suaranya, Dalfi segera menggeser ikon hijau di layar ponsel. Tidak lupa juga ia mengaktifkan mode speaker.


"Kamu dimana, Tupai kecil? Berhenti bersembunyi! Jangan sampai aku menemukanmu." Suara Artya di seberang sana terdengar penuh mengintimidasi.


^^^"Ada urusan apa kamu dengan Rhiana? Dia sedang tidur. Jangan pernah mengganggunya lagi! Rhiana sudah dijodohkan sejak kecil. Jadi, jika kamu punya niat memilikinya, segera batalkan itu!"^^^


"Dijodohkan? Dengan siapa? Tunggu... siapa kamu?"


^^^"Aku kekasih masa kecil Rhiana. Berhenti menghubunginya lagi. Kami sudah bertunangan. Setelah lulus, kami akan menikah."^^^

__ADS_1


"Jangan bercanda denganku! Berikan ponsel Rhiana kembali! Aku akan berhenti menghubunginya setelah bicara dengannya."


^^^"Sudah kubilang, dia sedang tidur."^^^


"Aku tidak percaya!"


^^^"Keras kepala,"^^^


Dalfi mendengus kemudian menatap Dalfa di kursi kemudi yang sedang menahan tawa sebelum mengalihkan pandangannya pada Rhiana.


"Baby... ada telepon untukmu," Dalfi membangunkan Rhiana dengan lembut. Tangannya mengusap pelan pucuk kepala Rhiana.


"Dari siapa? Aku masih mengantuk. Jangan menggangguku."


"Ya, sudah. Tidur lagi."


Keadaan Artya di seberang telepon yang mendengar suara Rhiana, membatu. Tentu saja dia mengenali suara serak Rhiana yang mengantuk. Pria yang menjawab panggilannya bahkan punya nama panggilan untuk Tupai kecilnya?


Jadi... yang menjawab panggilannya benar-benar kekasih masa kecil Tupai kecilnya? Artya rasanya ingin membunuh orang sekarang. Kenapa tidak ada informasi tentang kekasih masa kecil dari hasil penyelidikan kehidupan Rhiana? Jangan bilang, intelijen miliknya payah?


^^^"Jangan mengganggu Rhiana lagi."^^^


Setelah mengatakan itu, Dalfi segera memutuskan sambungan telepon.


"Wah... rencanamu sungguh sempurna, Fi. Jika aku di posisi Tuan Amstrong itu, aku pasti sudah membuat kekacauan." Dalfa sedikit bertepuk tangan ikut senang dengan apa yang dilakukan Dalfi sebelum kembali memegang kendali mobil.


...


"Aku ingin semua informasi tentang Rhiana. Sampai detail terkecil." Artya menatap tajam Felix yang terlihat berkeringat menunggu perintah.


"Bukannya sudah kuberikan sejak dulu? Kenapa anda meminta lagi, Tuan? Apa ada yang salah? Anda menambah pekerjaan saja," Tentu saja kalimat bantahan itu hanya Felix katakan dalam hati. Mana berani dia mengatakannya langsung pada Artya. Bisa hilang nyawanya.


"Siap, Tuan! Ada lagi yang bisa saya lakukan?"


"Tidak ada."


"Baik, Tuan. Saya pamit."


Setelah kepergian Felix, Artya merenung memikirkan pria yang menjawab panggilan tadi. Suara itu memang terdengar asing baginya. Kenapa dia baru tahu jika Rhiana sudah dijodohkan? Orang tua Rhiana bahkan tidak melarangnya dekat dengan anak gadis mereka.


Jika Rhiana sudah dijodohkan, seharusnya dia dilarang mendekati Rhiana. Bukan hanya itu. Setahu Artya, Paman Zant dan Bibi Rihan tidak seperti orang tua lain yang suka menjodohkan anak mereka. Apalagi untuk suatu keuntungan.

__ADS_1


Artya tidak tahu, apa yang sudah dia lewatkan. Apa jangan-jangan orang tua Tupai kecilnya sengaja menyembunyikan perihal perjodohan itu? Apa mereka ingin mempermainkannya?


"Jika itu Paman dan Bibi, wajar jika Felix tidak menemukan apa-apa tentang masa kecil Rhiana." Gumam Artya dan menghembuskan nafas pelan.


__ADS_2