
Rhiana baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Dia duduk sambil mengumpulkan nyawanya. Setelah merasa lebih baik, Rhiana mengambil ponselnya karena teringat sesuatu.
"Jadi, si penggila kebersihan itu yang menelponku? Entah apa yang kak Dalfi katakan, sudah pasti akan berimbas padaku." Gumam Rhiana dalam hati. Gadis itu kemudian turun dari tempat tidur dan menuju balkon kamarnya.
Melihat perumahan mewah di depannya, Rhiana jelas tahu dimana dia sekarang. Kedua kakaknya pasti membawanya ke sini agar tidak diketahui oleh orang lain.
"Di luar dingin, Baby." Suara lembut Dalfa mengalihkan perhatian Rhiana.
"Aku baik-baik saja, Kak." Rhiana menjawab setelah merapatkan kain selimut yang sengaja dibawa Dalfa untuknya.
"Ya, ya... Kamu selalu baik-baik saja. Apa rencanamu selanjutnya?"
"Rencana yang mana, Kak? Aku punya banyak rencana. Ketahuilah jika aku orang yang sibuk."
Pletak!
"Tidak baik menjawab kakakmu seperti itu, Baby." Dalfa berbicara setelah menyentil pelan dahi Rhiana.
"Padahal kita hanya beda beberapa menit," Rhiana mendumel dengan pelan. Dalfa yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
Cup
Wajah Rhiana yang cemberut terlihat menggemaskan di mata Dalfa. Jadi, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk mencium pipi tembem kesayangannya ini.
"Kamu terlalu menggemaskan, Baby. Pertanyaan kakak, apa yang akan kamu lakukan pada Annalisha."
"Entahlah, Kak. Untuk sekarang, aku akan fokus pada Yeandre. Lagipula, kak Anna masih dalam pemeriksaan."
"Hm. Okelah. Bagaimana dengan si penggila kebersihan itu? Kakak tebak, dia sedang galau sekarang. Hahaha..." Dalfa masih merasa lucu dengan pembicaraan Dalfi dan Artya waktu lalu.
"Galau? Memangnya apa yang sudah kak Dalfi bicarakan dengan kak Artya?"
"Hahaha... Kakak tidak tahan. Lebih baik kamu tanyakan sendiri pada Dalfi. Kakak pergi dulu. Ada misi yang menunggu. Jangan terlalu lama di luar, Baby." Dalfa bergegas pergi meninggalkan Rhiana dengan masih terus tertawa.
"Pasti kak Dalfi membuat pria itu cemburu. Jika tidak, kenapa dia harus galau? Sudahlah. Kita lihat saja nanti apa yang akan dia lakukan."
***
"Ng?" Rhiana menaikkan sebelah alisnya karena melihat seorang pelayan yang berjalan cepat menuju kamar kedua kakaknya. Sepertinya ada sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Kak... Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rhiana pada pelayan pria itu yang kebetukan berjalan di depannya.
"Saya diperintahkan oleh Tuan besar untuk memanggil Tuan muda pertama dan kedua karena ada hal penting, Nona."
"Hal penting? Hal penting apa?"
"Tuan Muda Amstrong sedang berkunjung kemari, Nona. Saya tidak tahu ada urusan apa Tuan muda Amstrong datang ke sini. Tuan besar hanya menyuruh saya untuk memanggil Tuan muda pertama dan kedua, Nona."
"Huh? Dia sudah sampai di sini? Hebat sekali dia. Semoga dia belum tahu aku di sini." Gumam Rhiana dalam hati. Rhiana malas berurusan dengan Artya sekarang. Dia masih harus fokus dengan pemeriksaan Annalisha yang kata Gledy, hasil pemeriksaan akan keluar beberapa jam lagi.
...
"Sebenarnya, ada urusan apa Tuan Muda Amstrong datang ke tempat saya?" Neo membuka suara dengan ramah.
Ayah baptis Rhiana itu sudah bisa menebak alasan Artya berkunjung ke mansionnya. Padahal mereka tidak ada hubungan kerja sama. Jadi, jika pria ini bertamu, sudah pasti dia datang untuk mencari Rhiana. Tentu saja, Neo akan mendukung sepenuhnya keputusan putri kesayangannya, alias Rhiana.
"Saya ada keperluan dengan kedua putra anda, Tuan." Artya segera menjawab dengan tenang.
"Dengan Dalfa dan Dalfi? Setahu saya, anda tidak ada hubungan apa-apa dengan kedua putra saya. Atau, apa saya melewatkan sesuatu?"
"Anda akan segera tahu jika anda bertanya langsung pada mereka."
Hanya beberapa menit kemudian, Dalfa dan Dalfi muncul di ruang tamu. Wajah Dalfa biasa saja, sedangkan wajah Dalfi sangat tidak bersahabat.
"Tuan muda Amstrong sepertinya ada keperluan dengan kalian berdua. Silahkan berbincang dengannya. Ayah akan istirahat."
"Baik, Ayah." Dalfa menyahut dengan sopan.
"Jika kedatangan anda untuk mencari adik kami, dia tidak ada di sini. Rhiana sedang bersama teman masa kecilnya." Dalfi segera memberi pukulan telak pada Artya. Dalfa yang berdiri di belakang Dalfi berusaha untuk menatap ke arah lain karena tidak ingin Artya melihatnya menahan tawa.
Dalfi tentu saja tetap pada skenario yang dia buat sejak awal. Dengan begini, Artya pasti akan menyerah terhadap adiknya. Begitu yang Dalfi rencanakan.
"Teman masa kecil? Setahuku, teman Tupai kecilku sudah meninggal." Artya hanya sedang berusaha mengorek informasi, sekaligus membuat seakan-akan dia tidak terpengaruh dengan provokasi Dalfi. Padahal sebenarnya Artya berusaha keras menahan sesuatu dalam dirinya untuk tidak meledak.
"Tupai kecil? Beraninya pria ini membuat nama panggilan untuk kesayanganku?" Kesal Dalfi dalam hati. Dalfi berusaha tenang sebelum menyeringai dan ingin menambah pukulannya.
"Teman masa kecil Rhiana bukan hanya Lycoris tapi juga Qreezant."
"Qreezant? Jadi itu nama tunangan Tupai kecil?" Gumam Artya dalam hati. Setidaknya dia sudah tahu siapa pria yang mengangkat teleponnya waktu itu. Artya akan mencari hingga ke akarnya siapa tunangan Tupai kecilnya yang diciptakan Dalfi secara tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Kamu salah, Fi. Rhiana dan Qreez bukan hanya teman masa kecil. Mereka bahkan sudah dijodohkan." Dalfa ikut membantu dengan senang hati. Meski dia sendiri sudah merasakan aura tidak senang di sekitar Artya.
"Benar juga. Aku hampir lupa." Dalfi mengangguk dengan tenang.
"Aku sarankan, sebaiknya anda berhenti mengganggu Rhiana." Dalfi menambahkan dengan dingin.
"Bukankah bagus jika Tuan Muda Amstrong semakin menganggu adik kita? Semakin anda berusaha dekat dengan Rhiana, maka pertunangan keduanya semakin dipercepat." Dalfa tersenyum menatap Artya seakan menantang, apa keputusanmu setelah aku menambah minyak dalam api?
Tanpa sadar kedua tangan Artya mengepal. Dan itu dilihat dengan senang hati oleh kedua kakak Rhiana.
"Sepertinya kedua calon kakak iparku ini tidak suka denganku." Artya menyeringai menatap Dalfa dan Dalfi.
"Calon kakak ipar?" Dalfi menatap kesal pada Artya. Ternyata pria di depannya ini tidak mudah dihadapi.
"Ya. Mereka hanya bertunangan, belum menikah. Tapi, jika mereka menikah sekalipun, aku masih bisa merebut Rhiana ke sisiku. Bagiku itu bukan hal yang sulit. Ah... Sepertinya aku ada urusan. Aku pergi, calon kakak ipar." Artya tersenyum penuh kemenangan sebelum berdiri dan membenarkan jas yang dipakainya kemudian keluar.
"Dia bukan lawan yang mudah ternyata, Fi. Setidaknya calon adik ipar kita ini sedikit menarik, ya." Dalfa sudah berdiri dan bersiap masuk setelah menepuk pelan pundak Dalfi.
Dalfi yang ditinggalkan merenung, sebelum mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Dia tidak mungkin membiarkan Artya begitu saja.
***
"Ekhem... Apa ada tempat yang ingin anda kunjungi, Tuan?" Felix membuka suara dengan gugup. Sudah 10 menit berlalu sejak majikannya ini masuk ke mobil. Mereka juga masih di depan gerbang mansion milik Neondra Jacon Chixeon.
Felix tentu saja sudah tidak tahan dengan atmosfer dalam mobil ini. Satu mobil bersama majikan tirannya di saat suasana hatinya seperti ini sangat menyesakkan bagi Felix.
Artya tersadar dari lamunannya dan menatap tajam Felix lewat kaca spion.
"Pulang."
"Siap, Tuan!"
"Cari tahu pria bernama Qreezant." Artya memberi perintah dengan nada khasnya. Pria itu sedang memejamkan matanya memikirkan sesuatu.
"Siapa dia, Tuan?" Pertanyaan Felix segera mendapat tatapan tajam dari Artya.
Pertanyaan bodoh, Felix! Jika majikanmu tahu, dia tidak mungkin menyuruhmu mencari siapa pria bernama Qreezant itu. Felix hanya bisa mengutuk kebodohan sesaatnya dan fokus menyetir.
"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu denganmu, Tupai kecil? Apa aku harus mengurungmu agar tidak lari dariku? Aku akan membuatmu hanya melihatku seorang."
__ADS_1