
"Kondisi Rhiana sudah stabil, tapi masih dalam keadaan koma. Jika dalam seminggu Rhiana belum sadar, maka kita harus membangunkannya dengan paksa. Ini bertujuan untuk memastikan efek samping karena racun yang sudah menyatuh dalam tubuhnya." David menjelaskan dengan tenang pada para pria muda yang menatapnya dengan serius.
"Bukan karena kemampuan anda tidak cukup 'kan?" Dalfi menyahut dengan pedas. Kakak kedua Rhiana ini sekali membuka mulut, pedas juga rupanya.
"Terima kasih sudah membantu adik saya, Dok. Sisanya biar dokter keluarga kami yang mengurusnya." Dalfa membuka suara tanpa peduli dengan perkataan Dalfi.
"Tidak masalah. Untuk sementara Rhiana tidak boleh dijenguk dulu. Rhiana tidak boleh diganggu selama 24 jam. Setelah itu, kalian boleh melihatnya." David kembali menjelaskan.
"Kami paham. Terima kasih, Dok."
"Ya. Saya pamit, kalau begitu." David beranjak pergi setelah memberikan senyum tipis pada Dalfi yang hanya menatapnya datar.
"Maaf, Dok. Bagaimana dengan Brilyan?" Triztan menahan ujung jas dokter David sebelum bertanya.
"Oh, anak itu? Dia baik-baik saja. Hanya butuh istirahat yang cukup. Biarkan dia istirahat dulu,"
"Syukurlah. Terima kasih, Dok."
"Ya."
"Sebaiknya kalian kembali ke sekolah." Ucap Dalfa pada Triztan dan Hann setelah kepergian David.
"Meski aku tahu hubungan kalian dengan Rhiana, tapi aku akan tetap di sini. Biarkan Triztan saja yang pergi,"
"Ak... aku juga ingin di sini," Triztan menyahut dengan gugup.
"Bawa pergi dua orang ini ke sekolah." Ucap Dalfi datar. Hann menatap heran pada Dalfi, karena penasaran dengan siapa dia berbicara.
"Huh? Siapa kalian? Lepaskan aku!" Hann kaget sekaligus kesal karena kemunculan dua orang secara tiba-tiba dan membawanya dan Triztan pergi secara paksa.
"Jadi, apa yang kamu temukan?" Tanya Dalfa setelah kepergian Hann dan Triztan.
"Mereka seperti itu karena efek permen yang mereka konsumsi."
"Jadi, ibu Sienna berhubungan dengan organisasi bawah tanah?"
"Hm."
"Sial. Tapi identitas Rhia belum ketahuan, kan?" Dalfa menatap Dalfi menunggu jawaban yang diinginkan.
"Hm. Jangan bertanya lagi, jemput paman Galant sana!" Dalfi memberi isyarat pada Dalfa untuk segera pergi.
"Bocah satu ini. Aku ini kakakmu!"
"Hanya beda beberapa menit."
"Ck... mau minum apa? aku bisa mampir untuk membelinya," Meski kesal, Dalfa tetap menurut dan pergi. Tidak lupa juga kakak Rhiana itu menanyakan keinginan Dalfi. Sepertinya sifat penurut ini menurun dari sang daddy.
"Terserah." Dalfi menjawab singkat dan menutup matanya setelah bersandar pada kursi di depan ruang rawat Rhiana.
***
Sienna di rumah sakit sedang menatap dua orang yang tertidur di brankar. Lebih tepatnya dua siswa yang mengamuk pertama kali. Sienna menyeringai setelah membaca berkas di tangannya yang berisi data pribadi dan kondisi dua siswa itu.
"Bagus. Terimalah semua nutrisi yang kuberikan untuk kalian. Pada waktunya nanti, kalian harus membalas budi padaku. Lebih tepatnya kalian harus menjadi anjing yang patuh!" Ucap Sienna menyeringai sebelum kembali ke tempat duduknya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
"Nona, semua sudah siap!" Lapor seorang pria dengan pakaian serba hitam yang hanya menampilkan bagian matanya.
"Bagaimana dengan orang-orang itu?" Tanya Sienna setelah meletakkan iPad di meja.
__ADS_1
"Mereka juga sudah siap. Kami hanya menunggu perintah anda."
"Bagus! Pergi dan jangan gagal. Aku tidak terima alasan apapun."
"Dimengerti!"
Setelah kepergian pria itu, Sienna melipat kedua tangannya di dadanya dan bersandar pada sofa. Sudut bibirnya yang berwarna coklat karena lipstik itu menyeringai senang. Rencananya malam ini harus berhasil. Dengan begitu, rencana masa depannya akan semakin mudah.
***
Dalfi di luar ruang rawat Rhiana membuka matanya. Perasaannya tiba-tiba terasa tidak enak. Instingnya tidak pernah salah. Jika dia sudah merasa seperti ini, maka sesuatu pasti akan terjadi.
DEG
Pandangan Dalfi Tiba-tiba terlihat samar. Kepalanya pusing. Apa yang sudah terjadi? Dalfi berdiri dengan linglung karena merasa pusing. Dalfi segera melakukan panggilan telepon sebelum kesadarannya menghilang.
"Segera kembali!"
BRUK
Dalfi kemudian terjatuh tepat di depan pintu rawat Rhiana. Sebelum benar-benar pingsan, Dalfi bisa melihat asap menyebar di seluruh ruangan. Dalfi juga bisa melihat beberapa orang muncul dan membuka satu persatu pintu seperti mencari sesuatu. Dalfi yakin mereka yang melakukan semua ini.
"Kemari dan bawa Rhiana pergi!" Ucap Dalfi setelah menekan chip di belakang telinganya.
Setelah mengatakan itu, Dalfi bisa melihat perkelahian tidak jauh darinya. Sepertinya beberapa anggota Cruel Devil sudah datang setelah dipanggil.
"Tuan... bertahanlah sebentar, PB 020 dan PB 022 akan mengurus mereka. Saya akan menjaga anda,"
"Rhia..." Gumam Dalfi pelan sebelum kegelapan menyambutnya.
***
"Kita mampir sebentar membeli minum untuk bedebah yang sedang berjaga di rumah sakit, Paman." Ucap Dalfa pada Dokter Galant, dokter pribadi keluarga Veenick.
"Tidak apa-apa."
Tidak butuh waktu lama, Dalfa sudah mengantri di bagian kasir. Sambil menunggu giliran, saudara kembar Rhiana itu sedikit bercanda dengan bayi yang berada dalam gendongan ibu di depannya. Sebelum tangan Dalfa menyentuh tangan mungil si bayi, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
Nama 'si bedebah' tertera di layar ponselnya. Dalfa dengan malas menjawab panggilan itu.
"Segera kembali!" Hanya dua kata itu yang Dalfa dengar sebelum panggilan dimatikan.
"Apa maksud bedebah ini?" Gumam Dalfa kesal dan menyimpan kembali ponselnya. Dalfa bahkan tidak sadar dengan nada suara Dalfi yang sedikit berbeda dari biasanya.
Tersisa dua antrian lagi. Dalfa teralihkan dengan sirene mobil pemadam kebakaran yang melintas di jalan raya depan minimarket. Tidak ambil pusing, Dalfa maju selangkah karena antrean tersisa satu.
BRUK
Dalfa menjatuhkan keranjang berisi cemilan dan minuman di tangannya dan berlari keluar. Jantungnya berdebar kencang. Pantas saja Dalfi menelponnya sambil mengatakan dua kata itu. Bodohnya dia karena tidak mengerti maksud panggilan itu.
"Ada apa dengannya?" Tanya seorang pria muda yang ingin mengantri.
"Pelanggan yang tidak sopan! Jika tidak mampu membayar, jangan mengambilnya. Ck..." Si pegawai minimarket mengeluh dengan kesal. Keranjang berisi cemilan dan minuman kaleng dingin jatuh berhamburan di lantai.
"Dia berlari pergi setelah melihat berita." Gadis muda yang sedari tadi mengantri di belakang Dalfa menjelaskan.
"Berita kebakaran di rumah sakit Q?"
"Iya."
"Mungkin ada keluarganya yang dirawat di sana. Pantas saja dia seperti itu. Biar aku bantu, Kak." Ucap Gadis muda dengan tubuh sedikit gembul itu.
***
"Baby..." Dalfa kelabakan mencari di setiap brankar yang mengangkut korban kebakaran rumah sakit.
"Sial..." Dalfa frustasi tidak tahu harus melakukan apa. Kepalanya tidak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Aku harus masuk.Tolong berikan saya pelindung, Pak!" Ucap Dalfa pada petugas pemadam kebakaran.
"Jangan menambah korban jiwa, anak muda. Biarkan petugas yang mengevakuasi korban."
"Kedua adik saya masih di dalam. Bagaimana bisa saya berdiam di sini sedangkan mereka terjebak di sana?" Teriak Dalfa marah.
"Hei... apa yang kamu... hentikan anak itu!" Petugas pemadam kebakaran itu memberi perintah karena Dalfa mengambil paksa setelah pakaian pemadam kebakaran dan dry powder kemudian berlari masuk ke dalam kobaran api.
20 menit kemudian.
Dalfa terus memadamkan api untuk membuka jalannya ke depan. Ruang rawat Rhiana masih beberapa meter lagi. Dalfa bergerak cepat meski sedang khawatir. Pikirannya kalut hingga lupa bahwa dia seharusnya meminta bantuan para anggota cruel devil.
Dalfa tidak peduli dengan korban lain. Kedua adiknya lebih penting dari apapun. Dalfa hanya mengamankan beberapa korban yang terlihat terluka parah ke tempat yang sedikit lebih aman sebelum bantuan tiba.
"Dalfi..." Teriak Dalfa setelah melihat tubuh tergeletak tidak jauh dari pintu masuk ruang rawat Rhiana.
Dan benar saja, tubuh itu memang Dalfi. Dalfa bernafas legah karena masih merasakan nafas hangat saudara kembarnya itu. Dalfa kemudian memindahkan Dalfi sedikit bersandar pada tembok yang belum terjemah oleh api.
Dalfa menatap sekeliling melihat beberapa tubuh tergeletak. Melihat pakaian yang mereka kenakan, Dalfa mengenali mereka. Itu anggota Cruel Devil yang bertugas hari ini untuk menjaga Dalfi. Saat itu juga Dalfa tersadar, kemudian menekan chip di belakang telinganya untuk meminta bantuan.
Setelah membuat panggilan, Dalfa bersiap masuk ke ruangan Rhiana.
DEG
Dry powder yang dibawanya habis. Wajar saja, karena sudah dipakai mulai dari lantai bawah hingga ke sini. Tidak heran isi dry powder seberat 5 kg itu habis terpakai.
Dalfa menghembuskan nafas pelan mempersiapkan diri menerobos kobaran api untuk masuk ke dalam.
"Kami di sini, Tuan."
"Terima kasih sudah datang, Kak. Bantu buka jalan ke sana. Yang lainnya bawa Dalfi dan kakak Cruel Devil di sana. Semoga mereka baik-baik saja. Jika semua sudah dievakuasi, bantu juga korban yang masih tersisa di rumah sakit ini." Ucap Dalfa.
"Siap, Tuan!"
***
Dalfa terkejut melihat keadaan dalam ruangan tempat Rhiana dirawat. Kobaran api besar membuatnya kesusahan melihat sekitar. Bahkan alat-alat rumah sakit berbahan dasar besi dan baja itu mulai terbakar perlahan-lahan.
PB 013 yang masuk bersama Dalfa kemudian menyemprotkan dry powder yang dibawanya ke sekitar hingga ke brankar. Tubuh Dalfa melemas melihat tubuh yang terbaring di brankar. Tubuh itu sudah hangus terbakar. Bagaimana bisa? Dalfa tidak pernah memikirkan ini. Bagaimana mungkin adiknya mengalami hal ini?
Meski tubuh itu sudah hangus terbakar, tapi Dalfa sedikit mengenalinya karena postur tubuh yang mirip dengan Rhiana.
"Tidak... semua akan terungkap setelah tim forensik memeriksanya. Jangan memikirkan hal buruk." Ucap Dalfa pada dirinya sendiri sebelum membawa jasad yang sudah hangus itu keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nona... misi berjalan sukses. target juga berhasil dibawa!"
"Ho? Bagus. Ayo pergi. Aku sudah tidak sabar melihat mereka," Sienna tersenyum senang dan bersiap pergi. Pria yang melapor tadi juga ikut dari belakang.
30 menit kemudian.
Laboratorium pribadi milik Sienna.
"Mereka di sini, Nona." Sienna dengan langkah anggun menuju dua brankar di depannya.
"Jadi dia yang mendonorkan ginjalnya. Pria yang baik. Sayangnya kamu akan menjadi peliharaanku yang setia. Bersiaplah!" Ucap Sienna sambil menatap Brilyan yang terbaring di brankar.
"Dan kamu, si penerima ginjal. Sekaligus gadis kecil yang menyebalkan. Dengan adanya dirimu, rencana masa depanku tidak akan berjalan lancar. Harus kuapakan dia, ya." Sienna mengusap pelan wajah halus Rhiana yang juga terbaring di brankar.
"Bangunkan dia!" Perintah Sienna setelah mundur sedikit kemudian melipat kedua tangannya di dada.
"Kondisinya masih kritis, Nona. Jika dibangunkan sekarang, kondisinya akan semakin parah." Seorang pria paru baya dengan setelah lab menjelaskan kondisi Rhiana dengan gugup.
"Memangnya aku peduli? Lagipula yang aku butuhkan adalah tubuh fisik yang masih bernafas. Tidak masalah jika tubuh itu sakit." Sienna membalas dengan sarkas.
"Ba... baik, Nona."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...