
Rhiana menopang kepalanya sambil menatap Brilyan yang terlelap. Tangan kanannya menopang kepalanya, sedangkan tangan kirinya sedang digenggam oleh Brilyan. Meski pria itu tidur, tapi tangannya sama sekali tidak mengendur menggenggam tangan Rhiana.
Rhiana menghembuskan nafas pelan. Dia sudah mulai bosan menunggu di sini. Tangan mungilnya bahkan tidak bisa terlepas dari genggaman Brilyan.
"Manusia atau robot? Genggamannya seerat ini," Komentar Rhiana karena tangannya sama sekali tidak bisa bergerak dalam genggaman Brilyan.
Rhiana tersenyum tipis, kemudian mengusap pelan tangan Brilyan hingga sedikit demi sedikit, tangan pria itu melonggar. Kesempatan itu Rhiana pakai untuk menarik tangannya dengan lembut.
Rhiana lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk kedua saudaranya. Dia harus menyiapkan diri mendengar omelan mereka.
"Selamat tidur, Bung. Aku pamit," Rhiana kemudian keluar dari UKS setelah memasukan ponselnya dalam saku seragam.
...
Pulang sekolah, Rhiana mendengus ketika melihat Brilyan yang sudah menunggunya tepat di samping motor meticnya. Mendekati Brilyan yang bersandar pada motornya, Rhiana mengerutkan kening karena wajah Brilyan terlihat tidak senang.
"Naik, aku antar pulang!" Nada suara Brilyan sama sekali tidak ingin dibantah. Rhiana meski kesal, terpaksa naik juga.
"Lain kali jangan pergi sebelum aku bangun," Brilyan membuka suara sebelum menyalakan mesin motor dan pergi dari sana dengan membonceng Rhiana.
Rhiana hanya menguap malas dibalik helm fullface yang dia pakai. Untung Brilyan tidak melihatnya. Biarkan pria ini mengatakan apa yang dia inginkan. Jika Rhiana merasa berat, tentu saja dia tidak akan mengikuti kemauan Brilyan.
***
Sekolah berjalan seperti biasa. Kini sudah waktunya kejuaraan olimpiade untuk semua jenis olahraga. Rhiana dan Brilyan dikhususkan untuk takewondo dan basket. Dalfa dan Dalfi juga bergabung dengan club basket dan volly putra.
Mereka akan berangkat hari ini. Semua peserta olimpiade sudah siap di gerbang sekolah. Mereka akan berangkat dengan bus sekolah menuju bandara.
Rhiana mengerutkan kening ketika melihat Hann di sana. Sepertinya pria itu juga ikut olimpiade ini. Setelah bertanya lewat pesan pada Dalfa, ternyata Hann ikut dalam olimpiade renang dan volly putra.
Yeandre, Annalisha dan Sony juga ikut. Yeandre dan Sony ikut di club tenis, sedangkan Annalisha di club volly putri. Rhiana sedikit terbantu karena Yeandre ternyata juga ikut olimpiade. Dengan begini, dia tidak perlu mengawasi kakak sahabatnya itu dari jauh.
Setelah semua peserta siap, mereka diarahkan masuk ke dalam bus. Jadwal keberangkatan mereka dua jam lagi.
Masuk ke dalam bus, Rhiana mengambil tempat duduk didekat jendela. Baru saja Rhiana akan meletakkan ranselnya di samping, Brilyan lebih dulu duduk di sana. Rhiana mendengus dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Brilyan hanya tersenyum tipis dan mengambil ransel milik Rhiana kemudian memangkunya. Karena hanya ransel kecil, Brilyan tidak kesusahan. Ketika Rhiana ingin mengambilnya kembali, Brilyan justru menahannya.
"Rhi..." Rhiana mengalihkan pandangannya pada Triztan yang memanggilnya. Pria culun itu duduk di bangku depan Rhiana.
"Hai... kamu juga ikut?" Tanya Rhiana dengan senyum tipis.
Brilyan sudah mengeluarkan aura tidak senang ketika melihat Triztan. Jika visual keduanya di bandingkan, Brilyan yakin dia yang menang. Hanya saja, cara Rhiana berinteraksi dengannya dan Triztan sangat berbeda. Itu yang membuat Brilyan merasa kalah dan cemburu.
"Ya. Aku ikut tenis meja," Triztan menjawab dengan malu-malu. Tingkah Triztan membuat Brilyan semakin tidak senang.
"Wah... kamu hebat." Rhiana memuji tanpa memikirkan aura tidak senang Brilyan.
"Dia tidak pernah tersenyum seperti itu padaku," Gumam Brilyan dalam hati. Tentu saja dia cemburu. Rhiana jarang sekali tersenyum padanya. Jika tersenyum, itu hanya senyum paksa.
"Aku biasa saja. Tidak sepertimu, yang mengikuti basket dan takewondo. Kamu benar-benar hebat, Rhi." Triztan tidak kalah memuji Rhiana.
"Terima kasih. Mari berjuang untuk sekolah kita." Rhiana membalas dengan senang.
"Tentu. Anu... Rhi..." Triztan menggaruk kepalanya malu. Brilyan yang melihat gerak-gerik Triztan sudah menebak apa yang siswa culun ini akan lakukan.
"Kenapa?"
"Aku punya sesuatu untukmu. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku," Triztan memberikan sebuah kotak kecil yang diikat dengan pita perak di atasnya.
"Aku menolongmu tanpa menginginkan imbalan," Rhiana menolak dengan lembut.
"Kalau begitu, anggap saja sebagai hadiah pertemanan."
"Aku terima jika sebagai teman. Boleh aku buka?" Rhiana menerima kotak itu dengan senyum tipis.
"Sebaiknya jangan dibuka sekarang, Rhi. Kamu boleh membukanya di saat kamu sendiri,"
"Ck... padahal aku juga ingin melihat apa yang dia berikan," Brilyan menatap menyipit ke arah kotak di tangan Rhiana.
__ADS_1
"Oke. Terima kasih, Triz."
"Sama-sama." Rona merah terlihat jelas di wajah Triztan. Tentu saja dia sangat senang karena Rhiana menerima hadiah darinya. Brilyan sendiri mengepalkan tangannya melihat ekspresi senang Triztan.
"Aku mengantuk, biarkan aku tidur sebentar." Brilyan berbicara setelah memposisikan kepalanya di bahu Rhiana. Brilyan ingin menunjukan pada Triztan daerah kekuasaannya.
Rhiana ingin menolak, tetapi kalimat selanjutnya Brilyan membuatnya mengurungkan niatnya.
"Dilarang menolak! Ini untuk menebus yang waktu itu." Maksud Brilyan, kejadian Rhiana yang meninggalkannya tidur sendiri di UKS.
Triztan yang melihat Brilyan, menunduk dan beralih duduk menghadap ke depan. Pria culun itu tiba-tiba murung.
Sedangkan di kursi belakang Rhiana, ada Dalfa dan Dalfi. Keduanya tentu saja tidak ingin jauh dari adik kesayangan mereka. Melihat kelakuan Brilyan, Dalfi ingin sekali memukul kepala pria itu. Sayangnya, Dalfa menahannya.
Dalfa mulai sedikit tertarik pada Brilyan. Ingat! Hanya sedikit. Dia hanya ingin tahu apakah Brilyan adalah pria yang cocok dengan adiknya atau tidak.
Meski Dalfa tidak ingin adiknya diambil dari sisinya, tapi dia sadar, selamanya adiknya tidak akan bersama mereka. Rhiana pasti akan bertemu seseorang yang dia cintai, yang akan menjaganya seumur hidup di masa depan.
Dalfa ingin menyeleksi para pria itu mulai sekarang. Dia tidak peduli dengan penampilan mereka. Asalkan mereka bertanggung jawab dan menjaga adiknya selama sisa hidup mereka, Dalfa tidak masalah.
Berbeda dengan Dalfa, Dalfi justru ingin adiknya selalu bersama mereka. Dia mungkin akan melepaskan adiknya untuk orang lain, jika adiknya sudah cukup dewasa. Bagi Dalfi, Rhiana saat ini masih adik kecilnya. Belum lagi, umur mereka masih sangat muda. Dalfi belum merasa cukup menghabiskan waktu bersama adik kesayangannya.
***
Rusia. Tempat diadakan olimpiade. Tempat ini juga merupakan negara di mana markas utama organisasi bawah tanah berada. Ini juga alasan utama Rhiana mengikuti olimpiade. Rhiana hanya ingin menyusup ke markas organisasi itu. Dia ingin mencari petunjuk di sana.
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat 20 menit lalu. Semua peserta olimpiade sudah berada di pintu keluar bandara. Mereka sedang menunggu bus yang menjemput mereka ke hotel. Olimpiade akan diadakan lusa.
Menunggu bus, Rhiana kini berdiri bersama kedua saudaranya, Brilyan, dan Triztan. Yeandre, Sony dan Annalisha berdiri tidak terlalu jauh dari mereka.
Brilyan berdiri tepat di belakang Rhiana. Brilyan tidak ingin satu pria pun mendekati Rhiana. Pria itu begitu waspada seakan takut Rhiana diambil darinya.
...
Karena lusa baru diadakan olimpiade, sehingga Rhiana berencana menyusup dini hari ini. Semua sudah disiapkan. Karena dia hanya tidur dengan seorang siswi, jadi Rhiana bisa keluar tanpa takut.
Sekolah menyewa hotel berbintang untuk semua peserta olimpiade. Dua orang siswa menempati satu kamar hotel. Kebetulan Rhiana berpasangan dengan teman sekelasnya, sehingga Rhiana tidak perlu berbicara dengan siswi itu. Lagipula, siswi itu takut pada Rhiana jadi tidak mungkin dia berani mengajak Rhiana bicara.
Rhiana keluar dengan tenang dari kamar hotel. Melihat sekeliling kamarnya, terlihat sepi. Sepertinya semua orang sudah terlelap. Rhiana memakai penutup kepala jaket yang dia kenakan.
Sampai di luar hotel, Rhiana segera memesan taxi. Dia harus ke suatu tempat sebelum menuju markas organisasi bawah tanah. Tempat yang akan Rhiana tuju adalah sebuah perumahan sederhana. Di dalam rumah itu ada semua jenis perlengkapan yang Rhiana butuhkan untuk misinya dini hari ini.
Hanya membutuhkan setengah jam, Rhiana sudah rapi dengan pakaian siap tempurnya. Tentu saja fashionnya serba hitam. Rhiana juga tidak membawa banyak senjata berat. Hanya beberapa pistol, racun, dan jarum pelumpuh saraf yang dia bawa.
Keluar melalui pintu belakang rumah itu, sudah terparkir motor sport di sana. Rhiana dengan tenang naik ke atas motor. Motor sport berwarna hitam itu lalu melaju pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan, Rhiana terus menatap GPS di motornya. Itu koordinat yang dikirim Gledy. Koordinat markas utama organisasi bawah tanah. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Rhiana bergegas ke sana.
***
Rhiana masuk ke dalam bus dengan sedikit menguap. Dia mengantuk. Penyusupannya beberapa jam lalu cukup merepotkan, sehingga dia tiba di hotel sudah pukul 5 pagi. Sampai di hotel, Rhiana tidak langsung istirahat. Dia justru bersiap untuk olahraga bersama club lainnya.
Olimpiade akan dilaksanakan pukul 9 pagi. Peserta olimpiade diharuskan hadir di tempat, satu jam sebelum pembukaan. Jadi, semua peserta olimpiade sekolah elit Swiss sudah ada di bus tepat pukul 7 pagi.
"Jangan bilang, kamu bermain ke sana, Baby." Suara Dalfi yang baru saja duduk di samping Rhiana. Dalfi kali ini tidak ingin membiarkan Brilyan duduk bersama adiknya.
"Aku harus mencari petunjuk, Kak. Jadi, biarkan aku tidur sebentar. Bangunkan aku jika sudah sampai," Rhiana lalu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, kemudian terlelap.
Dalfi tersenyum tipis melihat adik kesayangannya yang terlelap. Meski memakai kaca mata dan tahi lalat buatan di samping dagunya, wajahnya tetap terlihat manis.
Baru saja tangan Dalfi terangkat ingin menyentuh kepala Rhiana, tiba-tiba Dalfi mengerutkan kening merasakan aura tidak senang yang mendekat ke arahnya. Ternyata aura tidak senang itu berasal dari Brilyan yang baru saja masuk ke dalam bus.
Brilyan tentu kesal karena Dalfi duduk di samping Rhiana. Brilyan sedikit terlambat karena teman sekamarnya memakai kamar mandi sangat lama. Brilyan tidak tahu saja, bahwa semua itu ulah Dalfi.
Akhirnya, Brilyan beralih duduk di belakang Dalfi, di samping Dalfa. Brilyan tidak ingin duduk jauh dari Rhiana. Dia harus mengawasi Dalfi.
***
Upacara pembukaan olimpiade baru saja selesai. Semua peserta olimpiade sedang mempersiapkan diri. Olimpiade akan dimulai 30 menit lagi.
__ADS_1
Rhiana mengerutkan kening ketika tidak sengaja matanya menangkap siluet seorang gadis yang familiar. Karena ingin memastikan penglihatannya, Rhiana mendekat agar jaraknya dengan gadis itu hanya beberapa meter.
"Hehh... Apa yang ingin dia lakukan di sini?" Rhiana menyeringai karena yakin dia tidak salah orang.
"Ada apa?" Tanya Brilyan setelah menepuk pelan bahu Rhiana.
"Tidak ada," Rhiana hanya menggeleng lalu kembali berkumpul dengan yang lainnya.
"Kak Anya?"
"Axtton? Kamu perwakilan dari New York?" Tanya Rhiana dengan senyum tipis.
"Iya, Kak. Aku ikut volly dan basket,"
"Bagus," Gumam Brilyan hampir tidak terdengar. Sayangnya, Rhiana mendengarnya. Rhiana seketika tersenyum karena sepertinya tahu maksud Brilyan.
"Wah... kamu hebat! Tapi, bukannya kamu masih 12 tahun? Kenapa sudah ikut olimpiade?" Setahu Rhiana, yang ikut olimpiade ini hanya setingkat sekolah menengah atas. Sedangkan Axtton masih sekolah menengah pertama.
"Sepertinya kak Anya lupa aku ikut kelas ekselarasi. Aku ingin mengejar kak Anya," Axtton menjelaskan dengan semangat.
Rhiana mengangguk. Dengan otak cerdas adik sepupunya ini, tidak heran dia bisa masuk SMA dengan cepat. Padahal beberapa bulan lalu, mereka bertemu di New York, Axtton masih di SMP.
Mendengar apa yang dikatakan Axtton, pandangan Brilyan berubah tajam pada Axtton. Brilyan tidak menyangka, perkataan Axtton waktu itu benar-benar ditepati. Brilyan berpikir Axtton hanya main-main, mengingat dia masih sangat muda.
...
Rhiana sedang memperhatikan permainan basket di lapangan sebelah. Tepatnya, Rhiana memperhatikan gadis yang familiar tadi. Gadis itu bermain di lapangan B. Rhiana sendiri di lapangan A.
Rhiana ingin tahu sehebat apa cara bermain gadis itu. Peserta dari sekolah elit Swiss akan bermain di jam kedua. Jadi, Rhiana punya waktu menonton gadis itu.
Tin.
Ponsel Rhiana berbunyi. Ada pesan masuk.
Nama : Marie Jacob
Umur : 17 tahun
Tanggal lahir : Rusia, 4 januari 2005
Alamat : Jln. Xxx
Asal sekolah : Sekolah sains Rusia.
Keahlian di olahraga : Basket, takewondo, volly.
"Dia hebat juga. Aku tidak sabar bertanding dengannya," Gumam Rhiana dalam hati. Rhiana lalu menyimpan kembali ponselnya.
Pandangan Rhiana beralih ke arah lapangan. Sorak sorai penonton terdengar. Mereka bersorak heboh karena sudah beberapa kali Marie memasukan bola ke dalam ring. Padahal baru 2 menit, tetap tim Marie sudah mencetak 10 poin. Itu pun Marie sendiri yang mencetaknya.
"Kamu lebih hebat darinya," Suara lembut Brilyan mengalihkan perhatian Rhiana.
Brilyan berpikir Rhiana khawatir jika timnya akan kalah dari tim Marie. Rhiana tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Brilyan sekilas kemudian beralih melihat permainan Marie dan timnya.
Rhiana mengerutkan kening ketika menyadari keanehan selama permainan basket putri berlangsung. Hanya melihat, semua orang jelas tahu, lawan tim Rusia yang di pimpin oleh Marie memberi tekanan yang besar untuk lawannya. Tekanan sebesar itu berakibat pada mental tim dari negara Jepang itu.
Rhiana menarik sudut bibirnya ketika menyadari dari mana tekanan itu datang. Dia tidak sabar ingin berhadapan langsung, dan satu lawan satu dengan Marie.
Pertandingan berakhir dengan 50 - 10 poin. Tim sekolah Sains Rusia memenangkan pertandingan pertama. Semua orang kagum dengan Marie yang hampir semua poin dia yang mencetaknya. Tentu saja kemampuannya sangat hebat. Marie seketika masuk dalam berita olahraga hari ini.
Rhiana kini fokus dengan timnya. Meski menjadi kapten, Rhiana lebih sering mengoper dan membiarkan semua anggotanya mencetak poin. Dengan kerja sama mereka, tim basket putri Sekolah elit Swiss lolos ke babak kedua dengan skor 40 - 25.
Rhiana juga tidak terlalu menonjolkan dirinya. Rhiana tidak menyadari bahwa timnya juga menjadi idola, karena kerja sama tim mereka yang sangat baik.
Bukan hanya basket. Takewondo yang diwakilkan oleh Rhiana dan satu temannya juga lolos babak berikutnya. Rhiana tetap menahan diri karena lawannya tidak terlalu merepotkan. Untuk takewondo, hanya perlu 3 babak lagi.
Rhiana juga tidak perlu mengukur kekuatan serangan Marie, karena dia sudah berhadapan dengan gadis itu di markas utama organisasi bawah tanah dini hari tadi.
Karena itu, ketika melihat wajah Marie, Rhiana langsung mengenalinya. Hanya saja, Rhiana belum tahu alasan Marie ikut dalam olimpiade ini. Entah karena kewajibannya sebagai siswi di sekolah Sains Rusia, atau karena organisasi bawah tanah sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Semua perwakilan olimpiade dari sekolah elit Swiss juga lolos ke babak kedua. Rhiana tidak menyangka semua anggota club sekolah mereka hebat-hebat.