Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Alun-alun Kota


__ADS_3

Rhiana memijit pelipisnya pusing. Sedari tadi dia ditarik ke sana kemari hanya untuk berfoto bersama. Rhiana berpikir, setelah lepas dari Brilyan dia bisa beristirahat, ternyata tidak. Dia disuruh mengganti seragam takewondonya dengan seragam basket sekolah elit Swiss untuk sesi foto bersama lagi.


Kali ini foto untuk album tahunan sekolah. Setelah itu, Rhiana ditarik untuk foto bersama dua saudara kembarnya, foto bersama teman-teman sekolahnya, dan yang paling banyak foto bersama fansnya. Entah pria atau wanita, semuanya ingin foto bersamanya.


Cukup banyak juga penonton yang mengantri untuk foto berdua, bertiga bahkan kelompok. Rhiana terus tersenyum hingga dia merasa giginya akan kering. Ternyata, aksinya selama pertandingan basket membuatnya semakin terkenal.


"Lelah?" Seseorang menyodorkan air mineral pada Rhiana yang baru saja duduk sambil mengipasi lehernya karena keringat.


"Terima kasih," Rhiana mengambil dan meminum air mineral itu tanpa melihat siapa orang itu.


Tunggu!


Sepertinya, suara dan wangi khas ini Rhiana mengenalinya.


Rhiana menyimpan botol yang isinya tinggal setengah itu di sampingnya dan menoleh menatap senyum tipis pria yang masih berdiri di sampingnya.


"Penampilan macam apa ini?" Komentar Rhiana dalam hati melihat penampilan pria yang memberikan air kemasan padanya.


Pria itu memakai masker, kaca mata bulat besar, rambut menutupi dahinya. Pakaiannya juga sangat biasa.


"Tren baru?" Tanya Rhiana berbisik.


"Milikku ternyata mengenali penyamaranku," Pria itu ikut berbisik di telinga Rhiana.


"Milikku, kepalamu." Rhiana mencibir kesal.


"Sedang apa di sini, kakak ipar?" Tanya Rhiana pelan.


"Tentu saja untuk foto bersama idola." Artya menjawab setelah duduk di samping Rhiana.


"Kakak ipar punya idola? Mana orangnya? Dia pasti sangat keren!" Rhiana tiba-tiba bersemangat.


"Tentu saja dia sangat keren! Aku berharap bisa bermain bersamanya." Artya menjawab pelan dan menoleh menatap dengan mata tersenyum pada Rhiana.


"Siapa namanya? Pria atau wanita? Kenalkan padaku!" Rhiana begitu antusias. Dengan adanya idola yang Artya maksud, Rhiana bisa lepas dari pria ini.


"Kamu akan tahu nanti," Artya tersenyum dibalik maskernya kemudian mengeluarkan ponsel mahalnya dalam saku celana.


"Ya, sudah." Rhiana mendengus menatap Artya yang entah sedang apa dengan ponselnya.


"Foto bersamaku," Ajak Artya setelah memposisikan kamera di depannya dan Rhiana.


"Huh?" Rhiana mengerutkan kening tetapi memasang pose untuk berfoto bersama Artya.


"Berikan aku senyum terbaikmu!" Artya menginstruksi dan kembali mengambil foto bersama.


Setelah itu, Artya meminta tolong pada seorang penonton yang sedang mengantri untuk mengambil gambarnya bersama Rhiana.


Rhiana tidak bisa mengeluh dan terus memasang senyum paksa sambil berdiri di samping Artya. Bagaimana mau mengeluh, dia sudah lebih dulu diancam membuatnya bungkam.


Di saat para fans Rhiana ingin mengambil gambar bersamanya, Artya sudah memasang wajah tidak bersahabat disertai aura mencekam miliknya sehingga tidak ada yang berani mendekat untuk berfoto bersama Rhiana. Jadi, Artya dengan leluasa memonopoli Rhiana.


Untungnya dua saudara kembar Rhiana, Dalfa dan Dalfi, Brilyan dan Axtton tidak ada sehingga tidak terjadi perdebatan. Keempat pria yang selalu menempel pada Rhiana itu juga diboyong oleh para fans masing-masing untuk foto bersama.


"Sejak kapan penggila kebersihan dan anti sosial seperti kakak ipar bisa berada di sini?" Tanya Rhiana setelah dia dan Artya sedang mencari udara segar di luar gedung.


"Tentu saja untuk berfoto bersama idola." Artya menjawab dengan santai.


"Tapi aku tidak melihat kakak berfoto bersama idola yang kakak maksud." Rhiana mengerutkan kening menatap Artya sekilas.


"Sudah." Artya menjawab singkat setelah melepas topi dan maskernya untuk menghirup udara sekitar.


"Huh? Kenapa aku tidak meli... hat." Rhiana baru sadar, ternyata idola yang Artya maksud adalah dia sendiri. Hanya dia yang foto bersama pria ini.


Bagaimana bisa dia menjadi idola kakak Brilyan ini? Tapi... kenapa dia tiba-tiba malu? Ini tidak benar! Dia tidak boleh merasakan hal aneh ini. Tidak boleh! Rhiana menggeleng membuat Artya yang berjalan di sampingnya menoleh padanya dan tersenyum tipis.


"Kenapa? Sudah tahu siapa orangnya?"


"Lupakan! Sepertinya aku tidak perlu tahu siapa orangnya," Rhiana berjalan cepat meninggalkan Artya yang sedang menahan tawanya. Tingkah gadisnya sangat menggemaskan di matanya.


***


"Ini ibunya?" Gumam Rhiana sambil menatap foto dalam dompet Artya yang tertinggal.


Artya melupakan dompetnya di kafe depan hotel tempat peserta olimpiade menginap. Si penggila kebersihan yang dijuluki orang-orang, termasuk Rhiana melupakan dompetnya karena terburu-buru pergi setelah mendapat panggilan telepon. Dompetnya diletakkan di atas meja setelah membayar minuman untuknya dan Rhiana.


"Dia cukup manis saat masih kecil," Rhiana tersenyum tipis melihat penampilan Artya yang masih kecil memasang pose senyum bahagia di samping wanita muda yang sangat cantik.


Wajah Artya dan wanita itu sangat mirip, sehingga Rhiana menebak jika itu ibu dan anak.


"Tapi... wajah ibunya terlihat tidak asing, dimana aku pernah melihatnya." Tanya Rhiana merasa mengenal sosok ibu Artya.


Terlalu penasaran, Rhiana mengirim pesan bertanya pada kedua kakaknya di whatsup group khusus mereka bertiga. Fotonya juga disertakan.


^^^Rhiana:^^^


^^^Ada yang mengenal wanita di foto?^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Wah... siapa wanita itu? Dia sangat cantik!


Si Dingin, tapi posesif😑:


???


^^^Rhiana membalas Si Jahil Dalfa🙉:^^^

__ADS_1


^^^Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya, Kak.^^^


Si Dingin, tapi posesif😑:


Wanita itu bawahan daddy.


^^^Rhiana:^^^


^^^Aku ingat! Pantas saja aku merasa familiar, aku pernah melihat wajahnya di album foto milik daddy.^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Oh... aku tidak ingat! Tapi, jika dia bawahan daddy, berarti dia sangat ahli di bidang teknologi.


^^^Rhiana:^^^


^^^Itu benar!^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Di mana kamu mendapat foto dua orang itu?


^^^Rhiana:^^^


^^^Coba tebak! Bukankah wajah anak itu tidak asing?^^^


Si Dingin, tapi posesif😑:


Apa kalian sudah sedekat itu, little girl?


^^^Rhiana:^^^


^^^Tidak juga. Dompetnya ketinggalan di kafe tempat kami minum bersama.^^^


Si Jahil Dalfa🙉:


Dia... kakak Brilyan? Dia tidak semanis kita saat kecil.😎


^^^Rhiana:^^^


^^^Menurutku, dia lebih tampan daripada kak Dalfa.^^^


Rhiana segera menutup ruang obrolan karena malas dengan omelan Dalfa yang panjang lebar. Dia harus melakukan sesuatu malam ini. Sebelum itu, dia harus mempersiapkan semuanya dengan baik.


Malam ini akan diadakan pesta perpisahan yang disiapkan negara Rusia untuk peserta olimpiade dari negara lain. Pesta sengaja digelarkan besar-besaran di alun-alun kota. Semua orang bisa hadir di sana untuk memeriahkan pesta malam ini. Tujuan pesta ini juga untuk meminta maaf pada perwakilan negara lain atas insiden yang terjadi selama olimpiade dilaksanakan.


Rhiana harus datang karena Yeandre dan dua sahabatnya juga hadir di sana. Mereka tentu saja ingin bersenang-senang setelah mengikuti olimpiade yang begitu melelahkan.


Rhiana harus mengantisipasi jangan sampai ada serangan lagi dari organisasi bawah tanah, mengingat rencana mereka terakhir kali gagal. Rhiana menduga, malam ini mereka akan beraksi lagi. Apalagi pesta perpisahan ini dibuka untuk umum. Ada juga tamu-tamu penting yang akan hadir karena mendapat undangan khusus.


...


Rhiana menguap melihat banyaknya lautan manusia di sana. Tidak hanya peserta olimpiade, tetapi masyarakat juga bisa datang ke sana. Selain menikmati pemandangan alami maupun buatan, mereka yang hadir di sana bisa menikmati makanan dan cemilan yang disiapkan oleh pemerintah Rusia untuk semua orang.


Rhiana tidak tahu berapa banyak anggaran yang dikeluarkan hanya untuk pesta perpisahan ini. Belum lagi, kedatangan para pemimpin setiap negara perwakilan olimpiade dan beberapa pengusaha kaya yang terkenal di seluruh dunia.


Rhiana tiba-tiba menyipit melihat kemunculan kedua orang tuanya di atas panggung yang sengaja dibuat di sana untuk para tamu penting. Tidak biasanya kedua orang tuanya hadir di acara seperti ini.


Rhiana tidak tahu saja, kehadiran kedua orang tuanya di sini karena ingin melihat anak-anak mereka.


Rhiana mengirim pesan pada Gledy dan juga beberapa orang kepercayaannya untuk melihat keadaan sekitar. Dia harus mengamankan keadaan sekitar. Jika banyak orang penting hadir di sini, itu berarti kesempatan bagus untuk organisasi bawah tanah melakukan aksinya.


Ting.


Notifikasi pesan masuk di ponselnya.


Mommy❤:


Butuh bantuan mommy?


"Mommy benar-benar," Gumam Rhiana dan tersenyum tipis.


Mommynya seakan tahu apa yang dia pikirkan. Rhiana dengan tenang mengirim pesan balasan pada mommynya.


^^^Rhiana:^^^


^^^Aku bisa menanganinya, Mom. Ada Gledy yang membantuku.^^^


Mommy❤:


Oke. Hati-hati, Sayang.


^^^Rhiana:^^^


^^^Siap, Mom!^^^


Rhiana menyimpan kembali ponselnya. Pesta juga dimulai dengan penampilan artis-artis terkenal, juga atraksi beberapa orang yang disiapkan pihak Rusia untuk memeriahkan pesta malam ini.


"Hm? Wajah yang tidak asing. Di mana aku pernah melihatnya?" Tanya Rhiana dalam hati.


Dia merasa mengenal pria muda yang bernyanyi atas panggung. Rhiana terus melihat pria itu hingga Rhiana menyeringai melihat tato bintang di pergelangan tangan pria itu.


"Organiasi bawah tanah?" Gumam Rhiana kemudian mengirim pesan pada Marie.


^^^Rhiana:^^^


^^^Dia salah satu anggota organisasi itu 'kan? Pria yang sedang bernyanyi itu.^^^

__ADS_1


Marie:


Kamu benar! Di organisasi, jabatannya lebih tinggi dariku. Dia termasuk kepercayaan pemimpin. Dia salah satu pelindung rahasia pemimpin organisasi. Keahliannya dalam bela diri sangat tinggi.


^^^Rhiana:^^^


^^^Mereka merencanakan penyerangan malam ini?^^^


Marie:


Aku juga tidak tahu. Tapi, melihat kehadirannya di sini, sepertinya begitu. Ini pasti misi rahasia, jadi kami tidak diikutsertakan. Pemimpin mungkin curiga pada anggota seperti kami, sehingga menurunkan pelindungnya untuk misi rahasia.


^^^Rhiana:^^^


^^^Aku mengerti. Terima kasih, Marie.^^^


Marie:


Aku sarankan, jaga dirimu baik-baik. Pria itu tidak bisa dianggap remeh.


Rhiana menyimpan ponselnya dan menoleh ke samping. Sudah ada Gledy yang berdiri di sana.


"Bagaimana?" Rhiana bertanya setelah mengalihkan pandangannya ke atas panggung.


"Untuk saat ini, aman. Tidak tahu dengan keadaan penonton."


"Aku mengerti. Kamu tahu siapa nama pria itu?" Pria yang Rhiana maksud adalah pria yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar di depan sana.


"Dia adalah pekerja paru waktu di club 24 jam yang kamu datangi di Swiss."


"Kalau tidak salah, namanya Freslly? Aku masih ingat pujian para wanita di club itu."


"Ya. Nama aslinya, Freslly Lurimana. Dia pelindung rahasia pemimpin organisasi bawah tanah yang sekarang. Dia baru bergabung dengan organisasi itu 3 tahun lalu."


"Hm. Kamu bisa pergi."


Setelah kepergian Gledy, Rhiana bergegas ke toilet untuk mengganti pakaiannya. Dia harus menyamar menjadi gadis misterius untuk beraksi malam ini.


Untung saja, dia sudah kabur dari Brilyan sebelum pria itu mengekorinya ke sana kemari. Untuk saudara kembarnya dan Axtton, Rhiana sudah mengirim mereka pesan agar tidak mencarinya.


Sedangkan untuk Artya, Rhiana menutup semua akses pria itu. Rhiana meminta Gledy menutup semua akses Artya agar tidak bisa menghubunginya. Jika dia tidak menutup akses itu, Artya pasti akan dengan mudah menemukannya. Kehebatan Artya dalam menemukannya benar-benar di luar dugaan.


Setelah dipikir-pikir, tidak heran Artya bisa menemukannya. Ibu Artya adalah bawahan daddynya yang ahli di bidang IT. Tentu saja wanita itu akan mewariskan bakat IT pada Artya.


...


Rhiana sudah siap dengan senjata sniper miliknya. Dari pada dia kesusahan mengawasi Yeandre maupun para tamu khusus di bawah sana, lebih baik dia berjaga di atas sini agar lebih mudah.


Rhiana saat ini ada di salah salah satu jendela gedung tinggi di alun-alun kota ini. Senjatanya diarahkan ke segala arah mencari apakah ada orang yang mencurigakan atau tidak di bawah sana.


Melihat melalui senjata sniper miliknya, Rhiana mengerutkan kening. Ada satu titik merah tepat di jantung Yeandre.


"Sudah dimulai?" Gumam Rhiana sebelum mengalihkan arah senjatanya untuk mencari dimana asal penembak jitu yang menargetkan Yeandre berada.


Rhiana terus mencari hingga dia tersenyum tipis sambil mengunyah permen karet di mulutnya ketika menemukan target yang diincar.


Rhiana mengarahkan senjatanya tepat ke dada penembak jitu itu.


SYUTT


Rhiana tersenyum tipis karena penembak jitu itu berhasil diamankan.


Rhiana kemudian mengalihkan senjatanya kembali ke arah Yeandre.


"Hm? Berapa banyak yang mereka siapkan?" Tanya Rhiana dalam hati.


Ternyata masih ada titik merah di dada Yeandre. Rhiana kembali mencari asal titik merah itu.


Senjata Barrett M82 yang dibuat khusus untuknya kembali mencari dimana posisi penembak jitu yang menargetkan Yeandre.


Sebelum menarik pelatuk untuk menargetkan dada penembak jitu itu, Rhiana tiba-tiba terdiam. Dia merasakan pergerakan penembak jitu yang dikirim organisasi bawah tanah itu. Ternyata penembak jitu itu juga menyadari keberadaannya. Penembak jitu itu terlihat mengarahkan senjata ke arahnya.


Rhiana tersenyum tipis dan mengubah arah tembakannya. Tadinya menargetkan dada penembak jitu itu, kini menargetkan tepat di ujung senjata milik penembak jitu itu.


Posisi Rhiana dan pria itu sama-sama menargetkan ujung lubang senjata tempat keluarnya peluru.


SYUTT


Rhiana melepaskan tembakan, begitu juga dengan pria itu.


SRET


TSKK


Peluru dengan cepat mengenai bahu kanan Rhiana karena menghindar. Untungnya dia cepat. Jika tidak, mata kanannya pasti akan buta dan mungkin dia akan mati.


Rhiana ingin tahu bagaimana kondisi pria penembak jitu itu. Dia kembali melihat menggunakan senjata Barrett M82 miliknya untuk melihat pria di menara depan gedung dimana dia berada sekarang.


Ternyata penembak jitu itu sudah mati karena tembakan melalui matanya dan menembus kepalanya.


Rhiana menghela nafas sebelum menurunkan senjata miliknya karena dia ingin mengobati luka di bahunya. Sebelum itu, Rhiana mengirim pesan pada Gledy agar menelusuri gedung-gedung tinggi di alun-alun kota Samara ini. Dia harus membersihkan para penembak jitu yang mungkin bersembunyi.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa like dan komen cerita ini, ya.

__ADS_1


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.


__ADS_2