Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Universitas AX


__ADS_3

"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?"


Suara penuh perhatian dari Brilyan menyambut Rhiana yang baru membuka matanya.


Rhiana dengan tenang bangun dan mendudukan dirinya sebelum bersandar pada kepala tepat tidur. Rhiana sedang mengumpulkan ingatannya tentang kejadian semalam setelah Brilyan membawanya pulang. Rhiana memijit pelipisnya merasa ceroboh sudah tertidur selama perjalanan pulang. Akhir-akhir ini dia memang sering tidur karena sudah kebiasaannya dalam kurungan Artya.


"Minum dulu! Sarapan sudah siap. Bersihkan dirimu dan kita sarapan bersama Bibi," Brilyan mengusap pelan pucuk kepala Rhiana dengan lembut. Setelah itu, Brilyan memberikan air yang sudah dia siapkan di atas nakaas samping tempat tidur dan memberikannya pada Rhiana.


Rhiana dengan patuh meminum air yang sedikit hangat pemberian Brilyan itu.


"Minum air hangat setelah bangun tidur bagus untuk tubuh," Brilyan mengatakan itu karena Rhiana terlihat mengernyit merasakan suhu air pemberiannya.


"Terima kasih," Rhiana mengangguk mengerti.


"Aku sudah menyiapkan air mandi untukmu."


"Pria ini." Ucap Rhiana dalam hati. Rhiana tidak pernah menduga, Brilyan begitu perhatian sampai menyiapkan air mandi untuknya.


"Kamu menginap di sini? Kenapa?" Rhiana bertanya karena sedikit penasaran melihat penampilan Brilyan yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


Padahal ini masih pukul 6 pagi. Gerbang sekolah elit Swiss dibuka pukul 8 pagi. Sekolah dimulai tepat pukul 9 pagi. Jadi, Rhiana berpikir Brilyan menginap di sini. Bibi Ratih bahkan memberi izin? Alasan apa yang dipakai Brilyan untuk membujuk pengasuh pribadinya?


"Iya. Aku hanya tidak ingin kakakku menculikmu lagi," Rhiana kembali mengangguk dan turun dari tempat tidur. Dia harus membersihkan diri.


Brilyan sendiri tersenyum tipis dan keluar kamar menunggu Rhiana di meja makan.


***


Rhiana menatap menu sarapan di atas meja dengan heran. Menu pagi ini cukup banyak tidak seperti biasanya. Padahal Bibi Ratih tidak pernah memasak banyak dan hanya memasak menu untuk sarapan dan itupun hanya beberapa menu ringan khusus sarapan. Tapi pagi ini, selain makanan ringan untuk sarapan pagi, ada juga makanan berat. Menu hari ini memenuhi meja, padahal hanya mereka bertiga yang makan.


"Iyan yang memasak semuanya. Ibu juga kaget melihat menu sebanyak ini," Bibi Ratih segera menjelaskan karena melihat ekspresi Rhiana. Ketika Bibi Ratih bangun, Brilyan sedang memasak dan tidak ingin dibantu sama sekali. Jadi, Bibi Ratih hanya membersihkan rumah dan halaman.


Rhiana menoleh menatap Brilyan yang sedang memasang wajah minta dipuji.


"Terima kasih sudah memasak sebanyak ini. Kamu pasti kerepotan. Tidak biasanya kami makan sebanyak ini," Rhiana hampir saja marah, tapi segera tersadar jika dia harus menjadi Rhiana yang polos.


"Sama-sama. Duduk dan kita makan," Brilyan tersenyum lembut sebelum berdiri dan membantu Rhiana duduk di meja makan.


Suasana hati Brilyan begitu baik pagi ini. Meski tidurnya hanya 3 jam karena melihat Rhiana sepanjang malam, tapi dia sama sekali tidak merasa mengantuk ataupun lelah.


Sebelum tidur, Brilyan sudah menghubungi pelayan pribadinya untuk menyiapkan pakaian seragamnya juga bahan-bahan makanan agar dibawa tepat pukul 4 pagi di rumah Rhiana.


Brilyan bisa saja menyuruh dibawakan menu yang sudah jadi, tapi pria itu ingin memasak sendiri. Selain itu, Brilyan tidak ingin kalah dari kakaknya dalam hal menambah berat badan dan pipi cubby Rhiana.


Jika kakaknya menambah 10 kg berat badan Rhiana, maka Brilyan ingin menambah dua kali lipat dari itu. Dia tentu saja tidak mau kalah. Memikirkan Rhiana yang akan menjadi segemuk sapi, senyum Brilyan sama sekali tidak luntur selama sarapan. Rhiana hanya menikmati sarapannya tanpa mempedulikan kelakukan tidak biasa Brilyan.


TRING


Rhiana meletakkan sendoknya. Dia berhenti makan. Tindakannya membuat Brilyan khawatir. Apa masakannya mengganggu pencernaan Rhiana?


"Kenapa? Ada yang sakit? Kamu alergi?" Brilyan bertanya dengan panik. Padahal Rhiana hanya mengerutkan kening merasa tidak nyaman.


"Sepertinya ini waktunya," Bibi Ratih baru sadar tanggal berapa sekarang.


"Waktu apa? Ada apa, Bibi?" Brilyan semakin panik. Apa Rhiana mempunyai penyakit dalam? Apa ini waktunya bertemu dokter?


"Aku hanya datang bulan, aku baik-baik saja. Tidak ada masalah dengan makanannya,"


Setiap minggu kedua dalam sebulan, Rhiana selalu kedatangan tamu bulanannya. Dan orang yang selalu mengingatkannya lebih dulu adalah Bibi Ratih yang sudah menjadi pelayan pribadinya. Karena Rhiana selalu sibuk dengan misi sehingga dia ikut lupa dengan waktunya. Seperti sekarang.


"Syukurlah. Kalau begitu, ada yang bisa aku bantu? Benar juga, pembalut apa yang biasanya kamu pakai? Sudahlah, aku akan membeli semuanya. Tunggu sebentar, aku akan menyuruh paman Yan membelinya," Brilyan sudah berdiri dan pergi keluar mencari paman Yan, pelayan pribadinya.


Rhiana dan Bibi Ratih sama sekali belum mengatakan apa-apa, Brilyan sudah menghilang di ruang makan.


"Saya minta maaf karena lupa memberitahu Nona muda. Maafkan saya, Nona." Bibi Ratih menunduk merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Bi. Aku juga tidur lebih awal  makanya Bibi tidak bisa memberitahuku," Rhiana tentu saja tidak mungkin marah. Ini juga salahnya.


Biasanya gadis lain membuat alarm untuk mengingatkannya, tapi Rhiana sejak pertama kalinya tahun lalu hingga sekarang, keluarganya yang selalu mengingatkannya. Apalagi karena waktunya selalu teratur. Selain itu, selama masa menstruasi, Rhiana selalu sensitif. Jadi, keluarganya selalu overproktetif padanya.


...****************...


"Mau makan apa? Katakan padaku," Brilyan bertanya dengan khawatir. Ekspresi Rhiana sejak mulai kelas hingga waktu istirahat kelas pertama terlihat tidak nyaman. Rhiana hanya menghela nafas dan menggeleng.


Brilyan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pria itu kemudian membuka ponselnya dan mencari tahu lebih jauh tentang wanita yang mengalami menstruasi. Brilyan ingin menjadi orang pertama yang membantu Rhiana yang terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


Asik membaca artikel di ponselnya, Brilyan tidak sadar dengan kemunculan Dalfa dan Dalfi di tempat duduknya dan Rhiana.


"Terima kasih," Rhiana menarik senyum tipis melihat 4 macam susu kotak dan beberapa cemilan kesukaannya. Hanya ini yang selalu membantu moodnya kembali membaik.


Suara terima kasih Rhiana menyadarkan Brilyan. Pria itu menatap horor pemberian Dalfa dan Dalfi. Lebih parah lagi saat melihat ekspresi senang Rhiana.


"Dia menyukai susu kotak dan cemilan? Bagaimana bisa mereka tahu?" Ucap Brilyan dalam hati. Dia tidak senang melihat kemunculan si kembar ini. Tapi, setidaknya dia tahu kesukaan Rhiana.


"Browsur apa itu?" Tanya Rhiana pada Dalfa.


"Browsur Universitas AX. Aku tidak sengaja melihatnya di tangga lantai 2. Sepertinya milik senior kita yang mau mendaftar di sana."


"Universitas AX? Apa universitas itu bagus?" Tanya Rhiana dengan polos. Padahal dia jelas tahu tujuan kakaknya membawa browsur itu.


"Tentu saja. Ini universitas bergengsi yang melahirkan anak-anak elit dengan kemampuan tinggi di bidang sains dan teknologi. Banyak kakak senior kita akan mendaftar di sana. Hari ini mereka diundang ke sana untuk uji coba kemampuan sebelum mengikuti seleksi." Bukan Dalfa yang menjawab, tetapi Alviona. Gadis tomboy itu datang dengan sekantong penuh cemilan di tangannya.


Dalfa menatap tidak suka pada Alviona karena sudah mendahulukannya bicara.


"Mengganggu," Gumam Dalfi juga tidak senang.


"Ini harimu, ya? Kamu terlihat tidak nyaman. Aku tidak tahu apa kesukaanmu, jadi aku membeli macam-macam. Aku tahu rasanya jika seperti ini," Alviona berbicara tanpa mempedulikan tatapan tidak senang Dalfa dan sindiran Dalfi.


Entah dari mana Alviona mendengar jika Rhiana kedatangan tamu bulanan. Rhiana hanya tersenyum dan menyambut kantong plastik itu. Matanya berbinar melihat banyak cemilan di dalamnya.


"Terima kasih, aku suka semuanya." Rhiana dengan senang mengobrak-abrik isi kantong plastik pemberian Alviona itu.


"Sama-sama," Alviona ikut senang sambil menatap Rhiana dengan senyum khasnya. Entah sejak kapan Alviona sudah duduk di samping Rhiana bak anak anjing yang selalu menempel pada tuannya.


"Kamu sepertinya tahu lebih banyak tentang Universitas AX. Ceritakan padaku," Rhiana sengaja memancing isi kepala Alviona. Menikmati cemilan sambil mendengarkan Alviona cukup bagus, Pikirnya.


"Kakakku kuliah di sana. Jadi aku tahu sedikit tentang Universitas AX. Oh iya, kepala sekolah juga memberi izin pada anak kelas dua jika mau ikut melihat universitas AX. Kamu mengerti maksudku, kan?"


"Ayo pergi! Tapi, bagaimana dengan kelas?" Rhiana tersenyum tipis. Tentu saja dia harus ikut pergi ke sana karena Yeandre juga akan mendaftar di Universitas AX. Insting Rhiana mengatakan bahwa hari ini pasti akan terjadi sesuatu.


"Kepala sekolah tidak mempermasalahkan kelas dua yang tidak ikut pelajaran. Asalkan setelah kembali dari universitas harus ada catatan observasi. Kepala sekolah tidak ingin ada yang memanfaatkan pergi ke universitas padahal membolos," Alviona kembali menjelaskan. Rhiana hanya mengangguk senang.


Dalfa semakin menatap tidak suka pada Alviona. Bisa-bisanya gadis itu mengambil tempatnya dalam hal memperbaiki mood adik kesayangannya.


***


Alviona dengan cepat menggandeng tangan Rhiana ketika memasuki gerbang Universitas AX. Alviona tentu saja tidak ingin tempatnya direbut tiga pria yang mengekor di belakangnya dan Rhiana.


Rhiana hanya menatap Alviona sebentar sebelum kembali mendengar laporan Gledy melalui chip di telinganya. Gledy sedang melapor aktivitas Yeandre di Universitas AX sebelum mereka tiba.


"Jadi, jurusan mana yang mau kamu kunjungi lebih dulu?" Tanya Alviona antusias. Dia juga bercita-cita masuk ke sini. Apalagi lulusan terbaik universitas AX sudah pasti akan bekerja di Cognizant Technology yang merupakan perusahaan teknologi paling terkemuka.


Cognizant Technology sudah banyak meluncurkan teknologi canggih yang mendukung peradaban modern. Banyak sekali anak-anak muda yang belajar keras untuk bekerja di perusahaan itu. Bekerja di cabang perusahaan Cognizant Technology saja sudah menjadi kebanggaan, apalagi di perusahaan pusat.


Belum lagi Cognizant Technology bekerja sama dengan perusahaan raksasa milik keluarga Lesfingtone yang menciptakan kendaraan modifikasi yang sudah dilengkapi dengan sistem AI.


"Sains." Rhiana hanya menjawab singkat. Tentu saja karena di sana ada Yeandre.


"Benarkah? Berarti pilihan jurusan kita berbeda. Sayang sekali kita harus berpisah di sini. Aku akan menemuimu nanti jika selesai observasi. Sampai ketemu nanti, Rhi." Alviona dengan lesuh melepaskan diri dari Rhiana.


Alviona sangat ingin bersama Rhiana, tetapi dia tidak mungkin mengabaikan impiannya terhadap teknologi. Jadi, untuk sementara dia harus melepas Rhiana.


Tiga pria yang ditinggalkan justru senang karena Alviona sudah pergi. Kedatangan mereka ke sini bukan karena tertarik dengan universitas ini, tetapi karena Rhiana yang datang ke sini.


"Kalian tertarik juga dengan sains?" Tanya Rhiana basa-basi. Dia tahu tujuan kedua saudara kembarnya, tapi dia tidak tahu tujuan Brilyan.


"Ya." Ketiganya menjawab dengan serempak. Rhiana hanya mengangguk dan berjalan lebih dulu membiarkan tiga orang mengekor di belakangnya layaknya bodyguard.


***


BRUK


"Ughh..." Rhiana meringis pelan karena terjatuh akibat bertabrakan dengan seorang mahasiswi yang keluar dari kelas. Seragam sekolah Rhiana basah karena tersiram minuman cup yang dibawa mahasiswi itu.


"Kamu tidak apa-apa, adik kecil?" Mahasiswi yang menabrak Rhiana itu bertanya karena merasa bersalah.


"Kamu baik-baik saja, Rhi?" Tanya Dalfi yang membantu Rhiana berdiri.


"Aku baik-baik saja, Kak. Boleh aku tahu di mana toiletnya? Aku ingin membersihkan diri," Rhiana tersenyum ramah pada gadis di depannya.


"Aku yakin kakak tahu rencanaku," Bisik Rhiana pada Dalfi.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," Ucap Rhiana lagi karena melihat ekspresi Dalfi. Kakaknya ini selalu saja khawatir.


Rhiana memang sengaja membuat seolah-olah ini tidak disengaja, padahal semua ini adalah rencananya. Rhiana tidak bisa bebas bergerak jika ada Brilyan didekatnya. Jadi, jalan satu-satunya yaitu melepaskan diri lebih dulu.


"Belok kanan di ujung sana. Toilet khusus mahasiswa di sebelah kiri. Mau kakak antar?" Tawar mahasiswi itu.


"Kalian bisa pergi lebih dulu. Aku akan membersihkan diri,"


Dalfi menghelas nafas dan melepas Rhiana pergi. Dalfa juga hanya mengangguk memberi izin. Kedua saudara kembar Rhiana itu tahu jelas apa yang akan dilakukan adik kesayangan mereka itu. Brilyan sendiri hanya diam sedari tadi. Dia takut memaksakan kehendaknya, apalagi kondisi Rhiana seperti ini. Jadi Brilyan berusaha menahan diri.


Rhiana mengangguk dan pergi bersama mahasiswi itu karena yang dibutuhkan ada di dalam tasnya.


***


"Yeandre sedang melakukan uji coba bahan kimia bersama teman-temannya. Mereka ada di laboratorium lantai 4, Nona."


"Terima kasih, Kak. Apa aku sudah terlihat seperti mahasiswa di sini?" Tanya Rhiana pada mahasiswi di depannya yang memiliki identitas asli sebagai anggota Cruel Devil.


"Dari cara berpakaian, nona terlihat dewasa. Tapi wajah nona terlalu muda. Tapi jika menggunakan kaca mata, saya yakin sudah cocok."


"Baguslah. Ayo berangkat!"


"Baik, Nona! Silahkan ikuti saya,"


Rhiana dan Azera, nama anggota Cruel Devil wanita tadi, kini sudah berada di luar ruangan khusus siswa sekolah menengah yang diundang kemari. Rhiana dan Azera sedang melihat ke dalam melalui jendela kaca ruangan.


Ada sekitar 30-an orang dalam ruangan itu dengan seragam sekolah menengah masing-masing. Ada tiga macam seragam sekolah yang Rhiana lihat. Berarti ada tiga sekolah yang diundang ke sini. Mereka dibagi perkelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga siswa dengan seragam berbeda. Sepertinya universitas AX ingin menguji kemampuan siswa dari tiga sekolah unggul yang diundang ke sini.


Rhiana menyipitkan matanya membaca formula yang tertulis pada layar hologram berwarna hijau yang ditampilkan seorang pria yang sepertinya penguji dari pihak universitas. Rhiana juga bisa mendengar perkataan penguji yang sedang berbicara sambil mengamati pekerjaan setiap kelompok.


Dari penjelasan penguji itu, Rhiana akhirnya tahu jika setiap kelompok diminta membuat formula baru dari formula yang tertulis di layar hologram. Maksudnya, setiap kelompok bebas menggunakan takaran formula yang tertulis bahkan mereka juga diberi izin menambah beberapa formula yang lain, asalkan tetap menggunakan 3 formula utama yang ditulis.


Mereka tidak perlu takut ada kecelakaan atau ledakan akibat salah takaran, karena uji coba yang mereka lakukan hanya berupa simulasi yang dibuat pada layar hologram masing-masing kelompok. Jadi, jika terjadi ledakan, itu hanya akan meledak di layar hologram.


Rhiana mengangguk cukup kagum dengan pengaturan universitas AX. Jika latihan secara simulasi dengan layar hologram, setiap orang bebas bereksperimen tanpa takut kecelakan. Jika simulasi di layar hologram berhasil, maka eksperimen secara nyata juga pasti berhasil.


Sepertinya orang yang menciptakan pengaturan dengan menggunakan layar hologram sangat jenius. Universitas AX benar-benar menggunakan sains dan teknologi dengan baik. Semua hal dalam gedungnya berupa sains dan teknologi. Rhiana tiba-tiba penasaran siapa pendiri universitas ini.


"Kenapa kalian berdua di situ? Tidak ada kelas?" Rhiana terlalu memperhatikan Yeandre hingga tidak menyadari kemunculan seorang wanita di sampingnya. Ternyata itu salah satu dosen, dilihat dari tagnamenya.


"Maaf, Bu. Saya hanya sedang melihat adik saya di dalam. Saya hanya ingin tahu apa dia bisa atau tidak." Azera berdalih dengan tenang.


"Lalu kamu?"


"Dia teman saya, Bu. Dia dari jurusan teknologi tetapi ingin tahu sedikit tentang sains." Azera kembali berdalih untuk Rhiana.


Dosen wanita bernametag Telly Jhonson itu menatap Rhiana dari atas ke bawah.


"Jurusan teknologi? Tapi kenapa saya tidak pernah melihat kamu?"


"Saya mahasiswa tahun pertama, Bu." Rhiana menjawab dengan sopan. Semoga alasannya diterima.


"Jadi, begitu. Kalau kamu ingin melihat kebih dekat, ikut saya masuk ke dalam."


"Baik, Bu!" Rhiana tentu saja dengan senang hati menyetujuinya.


"Namanya terdengar tidak asing. Tapi, dimana aku pernah mendengarnya?" Tanya Rhiana dalam hati. Dia yakin pernah mendengar nama Telly Jhonson di suatu tempat.


***


Rhiana dan Azera juga kebagian satu chip yang nantinya dikoneksikan pada sebuah alat mirip CPU kecil yang akan memancarkan layar hologram. Mereka juga diminta mencoba formula yang sedang diajarkan pada Yeandre dan siswa lainnya.


Tangan Rhiana dengan cepat membuat takaran dengan berbahan dasar 3 formula utama. Sudah lama dia ingin bereksperimen tetapi belum diizinkan oleh sang mommy. Takutnya ada hal gila yang akan diciptakan, katanya.


Tangan Rhiana dengan cepat menyentuh layar hologram menambah formula ini dan itu yang tersedia di layar hologram. Rhiana cukup mengenal nama formula yang tertulis di layar hologram juga sedikit fungsinya masing-masing. Jadi, Rhiana hanya perlu menambahkannya pada eksperimennya untuk mendapatkan serum yang dia inginkan.


"Ternyata formula Z ini juga ada?" Ucap Rhiana dalam hati. Setahunya, formula Z ini juga tercampur dalam serum x yang berfungsi mencuci otak manusia. Jika dia menambahkannya sedikit pada eksperimennya, apa yang akan dihasilkan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terima kasih sudah membaca ceritaku....


...Like jika kalian suka cerita ini....


...Sampai ketemu di chapter selanjutnya....

__ADS_1


...😁😁😁...


__ADS_2