
Selamat membaca!
.
.
.
.
HUP
Ternyata Liloyd berhasil mendapatkan bola lebih dulu. Pria itu kemudian mendrible bola berusaha melewati Rhiana yang berjaga di depannya.
Tap
Tap
Tap
SET
Liloyd berhasil melewati Rhiana. Pria itu menyeringai melirik Rhiana yang tertinggal di belakang.
Rhiana dengan tenang menyusul Liloyd dan berjaga di depannya. Rhiana menatap berbinar pada kecepatan Liloyd mendrible atau menggiring bola. Rhiana tetap tenang melihat setiap gerakan Liloyd.
Tap
SET
"Kemampuan seperti itu ingin disponsor?" Suara Liloyd terdengar meremehkan setelah melepaskan bola melewati kaki Rhiana dan menangkapnya kembali di belakang Rhiana.
Tap
Tap
Tap
Liloyd tetap menggiring bola hingga hampir mendekati ring.
SYUT
TUK
Treeet...
Liloyd berhasil mencetak 2 poin pertamanya.
Rhiana mengangguk dan tersenyum karena kemampuan Liloyd benar-benar hebat. Pria itu sangat cepat.
Sudah 5 menit berlalu, tapi Rhiana sama sekali belum mencetak poin. Liloyd sendiri sudah mencetak 10 poin dari lima kali shoot.
Prrrrttt...
Suara peluit membuat Rhiana dan Liloyd menatap penuh tanya pada Stanly. Ini masih setengah pertandingan dari set pertama.
"Apa sebaiknya ganti kaca matamu dengan yang khusus olahraga? Kamu terlihat tidak bergerak bebas." Stanly berpikir pergerakan Rhiana yang pelan di lapangan karena tidak nyaman dengan kaca matanya. Padahal Rhiana hanya sedang mengamati lawannya.
"Kurangi tindakan belas kasihanmu, Stanly. Dia saja yang lemah." Liloyd menyahut penuh ejekan.
"Aku baik-baik saja, Kak. Kaca mataku tidak mengganggu." Rhiana tersenyum tipis tidak menyangka Stanly sangat khawatir padanya.
"Baiklah. Kita lanjut,"
Permainan kembali berlanjut. Rhiana dan Liloyd kini saling menatap dengan Rhiana yang sedang mendrible bola di tempat.
Tap
Tap
Tap
SET
Rhiana mengelak ke samping kiri saat Liloyd ingin mengambil bola darinya. Rhiana kemudian mendrible bola ingin pergi dari sana. Namun, Liloyd justru terus mengejar hingga Rhiana terpojok di ujung lapangan bagian kiri dekat ringnya sendiri. Padahal Rhiana ingin menuju ring lawan, dia justru di desak ke ringnya sendiri.
SET
Bola berhasil diambil oleh Liloyd yang kemudian tersenyum senang.
SYUT
TUK
Treeettt...
Liloyd kembali mencetak poin dari ujung lapangan ke ring milik Rhiana. Semua penonton bertepuk tangan karena Liloyd melakukan gerakan acak tetapi bola berhasil masuk.
"Hm?" Rhiana memiringkan kepalanya merasakan familiar akan sesuatu, tapi dia lupa apa itu.
"Aku heran, kenapa perusahaan ingin mensponsori orang dengan kemampuan sepayah ini?" Liloyd kembali mengejek. Rhiana sama sekali tidak tersinggung. Rhiana tetap tenang dan menghela nafas pelan.
Hingga set pertama berakhir, Rhiana sama sekali tidak mencetak poin. Penonton di luar lapangan bertepuk tangan dan bersorak memuji kemampuan Liloyd yang sama sekali belum pernah dikalahkan.
"Kamu baik-baik saja? Jangan kecewa, kemampuan Liloyd memang sehebat itu. Kami tidak heran dengannya lagi. Sampai saat ini belum ada yang bisa mengalahkannya." Stanly menghampiri Rhiana berusaha menghibur.
"Dia itu maniak latihan. Setiap seminggu sekali dia akan mempelajari gerakan baru. Satu gerakan baru yang dia pelajari akan dikuasai hanya dalam waktu seminggu. Wajar jika kemampuannya yang paling tinggi dari semua orang di sini." Arlan ikut menyahut setelah duduk di samping Rhiana.
"Heh... ini semakin menarik," Ucap Rhiana dalam hati sebelum meneguk air mineral yang diberikan Stanly.
"Oke. Waktu istirahat berakhir," Stanly memberitahu setelah menatap waktu digital di layar monitor yang terletak di bagian atas lapangan.
"Sedari tadi kamu belum memperkenalkan diri. Siapa namamu?" Arlan baru sadar ternyata dia belum tahu nama Rhiana.
"Panggil saja Rhiana, Kak."
"Semangat, Rhiana!" Senyum tulus dari Arlan membuat Rhiana ikut tersenyum. Ternyata tidak buruk dia datang ke sini. Rhiana mengangguk sebelum masuk ke lapangan.
__ADS_1
"Rhiana? Nama yang familiar," Ucap Arlan dalam hati. Pria itu terus menatap punggung Rhiana berusaha berpikir dimana dia mendengar nama itu.
***
SYUT
TUK
Treeett...
Liloyd kembali mencetak poin pertama di set kedua.
"Perasaan familiar ini..." Ucap Rhiana dalam hati. Rhiana menggeleng dan menaikkan kaca matanya merasa ada yang salah dengan pikirannya.
Permainan terus berlanjut.
Tap
Tap
Tap
Rhiana sedang menggiring bola ke ring Liloyd dengan sedikit menambah kecepatannya. Dan juga sedikit mengelabui Liloyd.
SYUT
TUK
Treeett...
Setelah menit kelima di set kedua ini, Rhiana akhirnya mencetak 2 poin. Arlan yang paling heboh di luar lapangan hanya karena Rhiana berhasil mengubah angka nol di papan skor digital menjadi 2 poin.
"Semangat, Rhiana! Pelan-pelan saja, kamu pasti bisa." Suara Arlan yang tanpa malu menggema di ruang olahraga khusus basket itu. Bahkan Arlan menjadi pusat perhatian penonton yang lain.
Sayangnya, si mulut keran air julukan para pemain di sana tidak peduli dengan sekitarnya. Dia justru membuat suara dari dua botol mineral di tangannya untuk mendukung Rhiana.
"Astaga... dia bahkan lebih heboh dari Axtton." Ucap Rhiana dalam hati merasa geli.
"Setelah 7 menit permainan, kamu berhasil mencetak poin juga. Sayangnya, perbandingan 20 dan 2 terlalu jauh untuk orang payah sepertimu." Suara penuh ejekan itu kembali Rhiana dengar. Anehnya, Rhiana masih tenang. Padahal dia dalam masa puber yang biasanya sensitif, ternyata dia tenang-tenang saja.
Justru kalimat penuh ejekan itu membuat Rhiana semakin bersemangat. Tentu saja kalimat penuh ejekan itu harus dikemas dan dibalas dengan epic.
Tap
Tap
Tap
Rhiana saat ini sedang menggiring bola menuju ring Liloyd. Kecepatannya masih sama seperti mencetak poin sebelumnya.
SET
Rhiana mundur selangkah saat Liloyd ingin mengambil bola di tangannya.
Tap
Tap
Tap
Rhiana melepas bola ditangannya ke belakang, saat tangan Liloyd hampir menyentuh bola. Rhiana kemudian berputar dan menangkap kembali bola sebelum menggiring bola dengan sedikit berlari ke arah ring Liloyd.
Liloyd yang tertinggal, tercengang karena tidak menduga Rhiana bisa mengelak darinya dan bahkan begitu cepat menghindarinya. Liloyd mengerutkan kening sebelum berlari menyusul Rhiana.
"Jangan sombong hanya karena berhasil lepas dariku!" Suara Liloyd kini terdengar di samping Rhiana yang akan melompat untuk memasukan bola dalam ring.
Rhiana menghentikan niatnya yang ingin memasukan bola karena Liloyd berusaha membloknya. Rhiana kemudian turun dengan bola masih di kedua tangannya begitu juga dengan Liloyd yang ingin merebut bola.
Tap
Tap
Tap
Rhiana menggiring bola menjauh dari ring Liloyd hingga ke tengah lapangan. Liloyd masih mengikuti di sebelahnya.
SYUT
TUK
Treeett...
Rhiana mencetak 3 poin untuk shooting jauhnya. Rhiana kemudian menoleh menatap Liloyd yang terlihat tidak senang.
"Heh... kamu boleh juga. Tapi, itu tidak sebanding denganku," Ucap Liloyd dengan sombong.
SYUT
TUK
Treeett...
Liloyd menoleh menatap Rhiana dengan wajah sombongnya karena berhasil mencetak 3 poin juga.
Permainan terus berlanjut hingga set kedua berakhir. Poin keduanya 25 : 12. Rhiana sebenarnya ingin membalas di set terakhir nanti, tapi dia sedikit kasihan melihat wajah lesuh Arlan yang mendukungnya.
"Istirahat untuk set ketiga," Stanly memberitahu.
"Apa kakak keberatan jika set ketiga dan empat dilanjutkan saja? Aku masih ada urusan," Rhiana menatap Stanly dan Liloyd berharap disetujui.
"Aku terserah. Hanya saja, apa staminamu yang payah itu mampu?" Ucap Liloyd tidak keberatan.
"Aku baik-baik saja, Kak."
"Kalau begitu kita mulai saja. Karena dua set terakhir digabung sehingga waktu permainan menjadi 20 menit."
***
__ADS_1
"Hahahaha..." Rhiana tertawa sambil memegang perutnya. Dia tidak bisa menahan tawanya yang keluar begitu saja.
Semua penonton justru kebingungan melihat tingkah Rhiana. Mereka berpikir apa Rhiana tertawa karena Liloyd tidak berhasil memasukan bola? Tapi, Rhiana tidak berhak tertawa karena poinnya masih kalah jauh. Liloyd kehilangan dua poin tidak menjadi masalah baginya karena dia masih unggul.
"Kamu tertawa karena aku tidak berhasil memasukan bola?" Liloyd merasa tersinggung karena Rhiana menertawakannya.
"Ah... maaf, Kak. Aku tertawa karena baru menyadari sesuatu. Aku kepikiran sedari tadi, dari mana gerakan tidak biasa kakak. Dan perasaan familiar yang aku rasakan akhirnya terjawab." Rhiana menjelaskan setelah berhenti tertawa.
"Apa maksudmu?"
"Kakak akan tahu nanti," Rhiana tersenyum tipis merenggangkan lengannya sebentar ingin serius bermain.
Prrrttt...
Stanly meniup peluit tanda pertandingan dimulai lagi.
Rhiana sedang menjaga Liloyd yang mendrible bola di tempat.
Rhiana dengan cepat merebut bola di tangan Liloyd. Pria dengan nomor punggung 4 itu terkejut karena atmosfer di sekitar Rhiana berubah. Liloyd tercengang karena dia tidak bisa melihat Rhiana yang mengambil bola di tangannya. Itu gerakan yang sangat cepat.
Tap
Tap
Tap
Rhiana mendrible bola menjauh dari Liloyd dan menuju ring. Liloyd berusaha menyusul dari belakang. Rhiana yang melihatnya, menurunkan sedikit kecepatannya menunggu dihampiri oleh Liloyd.
"Mau kutunjukkan sesuatu, Kak?" Ucap Rhiana dengan santai. Liloyd mengerutkan kening tiba-tiba merasa waspada.
"Seperti ini," Ucap Rhiana, kemudian mundur dengan cepat dari samping Liloyd dan melompat ke arah ring. Liloyd menyusul ingin memblok Rhiana.
"Kemudian seperti ini..." Setelah mengatakan itu, Rhiana mengelak ke sisi lain menghindari Liloyd sebelum melempar bola dari belakang hoop atau belakang ring basket.
SYUT
TUK
Treeett...
2 poin untuk Rhiana.
Semua orang yang menonton, terkejut melihat aksi tidak biasa Rhiana. Mereka akhirnya mengerti kenapa Rhiana bisa tertawa tadi. Ternyata karena merasa lucu dengan Liloyd yang melakukan gerakan yang sama, tetapi bola sama sekali tidak masuk.
Liloyd sama sekali tidak bergerak di tempatnya berdiri. Gerakan memasukan bola seperti itu masih sangat sulit baginya. Dia sudah mempelajari gerakan itu hampir sebulan ini, tetapi bola yang masuk hanya karena keberuntungannya semata.
Waktu tersisa 5 menit lagi. Papan skor digital di atas lapangan menunjukan 30 : 25 poin. Rhiana masih tertinggal 5 poin. Tapi, mereka yang tadinya bersorak untuk Liloyd kini beralih mendukung Rhiana. Mereka yakin Rhiana bisa mengejar karena cara bermain Rhiana berubah total dari set pertama. Liloyd sendiri sudah ketar-ketir tidak tahu harus melakukan apa.
Rhiana yang serius bermain sama sekali tidak membiarkan Liloyd memasukan bola. Waktu lima menit ini Rhiana berencana membalas Liloyd habis-habisan. Selain membalas, Rhiana ingin menunjukan pada Liloyd 'seperti ini gerakan yang asli'.
Awalnya Rhiana merasa familiar dengan gerakan Liloyd yang melempar bola sembarangan dari ujung lapangan ke arah ring, kemudian melakukan gerakan bebas, gerakan melempar bola dari bawah kaki lawan, kecepatan mendrible bola dan gerakan lainnya.
Selanjutnya gerakan terakhir, yaitu melempar bola dari belakang hoop ke dalam ring membuat Rhiana akhirnya sadar, jika gerakan familiar yang dia rasa sejak awal itu karena Liloyd sedang meniru gerakannya saat olimpiade di Rusia.
Jadi, selain membalas tindakan sombong Liloyd, Rhiana juga sengaja menunjukan yang asli agar menjadi pembelajaran untuk pria itu dan pemain yang lainnya.
Di sisi luar lapangan, Arlan yang tertegun melihat cara bermain Rhiana akhirnya menyadari sesuatu. Pria itu kemudian mengambil ponselnya dan membuka file gambar. Menscroll foto-foto yang ada, hingga Arlan membuka salah satu foto dari sekian banyaknya foto dalam ponselnya.
Arlan kemudian mengangkat ponselnya sedikit di depan wajahnya dan membandingkan foto di ponselnya dengan wajah Rhiana yang sedang bermain di lapangan. Senyum manis gadis berkaca mata yang sedang mendrible bola dalam ponselnya dan senyum manis gadis berkaca mata yang berada di lapangan benar-benar mirip.
"Akhirnya aku bertemu dengannya. Idolaku..." Arlan hampir saja menangis karena terharu.
Sejak olimpiade berakhir hingga sekarang, Arlan sangat ingin bertemu dengan idolanya, yaitu Rhiana. Sayangnya, dia sama sekali tidak diizinkan pergi terlalu jauh dari perusahaan. Jadi, Arlan hanya menyimpan bermacam foto idolanya dan rekaman pertandingan idolanya dalam ponselnya.
Kembali pada Rhiana dan Liloyd di lapangan.
Rhiana benar-benar menghajar Liloyd habis-habisan. Mulai dari mempercepat permainannya, mengulang gerakan memasukan bola dari ujung lapangan dengan sembarangan ke arah ring, menembak bola dari lapangannya sendiri ke ring lawan untuk mencetak 3 poin, sampai mengulang kembali gerakan memasukan bola dari belakang hoop.
Kecepatan Rhiana kali ini lebih cepat dari pada saat bermain dengan Marrie. Tentu saja karena tingkatan Marrie dan Liloyd berbeda. Liloyd lebih unggul dari Marrie, sehingga Rhiana tidak segan-segan menyudutkan Liloyd.
SYUT
TUK
Treeett...
Rhiana melakukan shoot dari bawah ringnya ke arah ring Liloyd menghasilkan 3 poin untuknya, sekaligus mengakhiri pertandingan mereka. Tentu saja pemenangnya adalah Rhiana dengan selisih poin 30 : 50.
PROK
PROK
PROK
Tepuk tangan meriah mengalihkan pandangan semua orang ke arah pintu masuk. Tepuk tangan itu membuat mereka yang menonton pertandingan segera memberi hormat tidak berani berteriak padahal dalam hati sangat ingin bersorak untuk Rhiana.
"Tidak sia-sia saya menyusul ke sini. Akhirnya bisa menonton langsung permainanmu yang menakjubkan. Terima kasih juga sudah mau datang. Saya CEO Star's Sport, Gibran Lolldwik. Senang bertemu denganmu,"
"Senang bertemu juga dengan anda, Pak Gibran. Saya Rhiana Senora."
Setelah Rhiana memperkenalkan namanya, semua yang ada di sana syok. Tentu saja karena mereka terkejut. Mereka yang suka bermain basket saat menonton siaran langsung pertandingan Swiss melawan Rusia waktu itu sangat ingin bertemu secara langsung dengan Rhiana.
Mereka sedang berusaha mempelajari setiap gerakan tidak biasa Rhiana di lapangan saat olimpiade, tetapi sangat sulit bagi mereka. Hanya seorang Liloyd yang lumayan bisa melakukan beberapa gerakan itu. Mereka menyesal karena tidak menyadari identitas Rhiana sejak awal.
"Kalian bodoh sekali tidak sadar saat melihatnya bermain. Lihat gerakan luar biasa itu? Aku rasa jika mati sekarang, aku sanggup... aku-"
PLAK
"Tahan bibirmu itu, Arlan. Ada CEO di sini." Stanly yang hampir saja mengeluarkan album basket miliknya untuk ditanda tangani oleh sang idola, mengurungkan niatnya.
Stanly tidak ingin dimarahi oleh pelatih basket yang berdiri tepat di sebelah CEO mereka yang memang wajah 'jangan berulah', segera memukul tengkuk Arlan agar diam.
Liloyd sendiri sudah jatuh berlutut di tengah lapangan. Pria itu sedang malu. Dia berharap Ada sumur di dekat sini agar dia bisa melompat masuk ke sana untuk bersembunyi sekaligus tenggelam dan mati dari pada menanggung malu.
"Bukankah kalian sangat ingin bertemu dengannya? Saya sudah membawa idola kalian ke sini," CEO Gibran tersenyum ramah menatap anak-anak asuhannya.
"Idola?" Tanya Rhiana kebingungan. Kenapa perkataan pria yang mungkin berusia sekitar 40-an ini seakan mengartikan bahwa kedatangannya ke sini bukan untuk diponsori tetapi justru untuk memotivasi pemuda-pemudi ini?
__ADS_1