
"Karena pertanyaanku sudah dijawab, sekarang giliranmu. Kamu bisa mengajukan satu pertanyaan untukku," Rhiana berbicara sambil memutar-mutar ponselnya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin kamu melakukan sesuatu untukku," Rhiana menaikkan sebelah alisnya menatap Marie.
"Bunuh aku sekarang!" Marie melanjutkan. Respon Rhiana biasa saja.
"Kenapa ingin mati begitu cepat?" Tanya Rhiana santai.
"Lebih baik aku mati di sini, dari pada harus mati di tangan mereka." Marie tentu saja masih mengingat jelas apa yang akan terjadi pada penghianat di organisasi bawah tanah.
Orang yang berkhianat pada organisasi bawah tanah, matinya tidak akan mudah. Dia akan ditelanjangi tanpa memikirkan jenis kelaminnya. Selanjutnya, orang itu digantung secara terbalik di depan semua anggota organisasi bawah tanah dan disiksa dengan kejam. Bukan hanya itu. Tubuh orang itu akan dimutilasi dan dikirim kepada keluarganya. Bukankah itu sama saja menyakiti keluarga mereka?
Selagi ada pilihan untuk mati di tangan gadis ini, Marie lebih baik memilihnya. Meski organisasi bawah tanah tidak tahu tentang keluarganya, tapi mereka pasti akan menemukan keluarganya cepat atau lambat. Apalagi ketika Marie mati, keberadaan keluarganya pasti akan tereskpos.
"Jika aku mengatakan aku bisa melindungimu dan keluargamu, apa kamu percaya?" Marie tertegun mendengar perkataan Rhiana.
Jika itu benar, Marie tentu sangat senang. Sayangnya, kesetiaannya pada organisasi bawah tanah tidak bisa dianggap remeh. Biar bagaimana pun, organisasi itu sudah membantu keluarganya selama beberapa tahun ini. Marie menatap Rhiana dan tersenyum tulus. Ini pertama kalinya senyum tulusnya diberikan untuk orang asing selain ibu dan adiknya.
"Bisakah aku memberi penawaran?" Marie berharap Rhiana menyetujui permintaannya.
"Silahkan,"
"Aku tidak perlu kamu lindungi. Sebagai gantinya, lindungilah keluargaku. Jika kamu setuju, aku bisa berdiri diantara dua sisi mulai sekarang." Maksud dua sisi adalah bekerja untuk organisasi bawah tanah dan bekerja untuk Rhiana.
"Heh... kamu sangat berani," Rhiana tersenyum kemudian melanjutkan. "Entah dua sisi itu bisa kamu lakukan atau tidak. Tapi... mari percaya padamu untuk saat ini."
"Terima kasih." Rhiana hanya mengangguk membalas perkataan Marie.
"Kalau begitu, aku akan membantumu membersihkan tempat ini dan membuat skenario untukmu." Setelah mengatakan itu, Rhiana kemudian berdiri dan meninggalkan gedung olahraga itu.
Setelah kepergian Rhiana, beberapa orang muncul dan meletakkan satu mayat wanita diantara anggota organisasi bawah tanah yang pingsan. Mereka membuat seakan-akan wanita itu adalah Rhiana dan Marie yang sudah membunuhnya.
Marie hanya diam menatap apa yang dilakukan pengawal bayangan kepercayaan Rhiana itu. Semuanya dilakukan dengan cepat dan rapi. Semua diatur sedemikian rupa, hingga naskah pun diberikan pada Marie.
Marie hanya menerima itu dan membaca isi kertas putih ditangannya. Marie bersyukur karena dia memilih berada di dua sisi mulai sekarang. Tapi, jika disuruh memilih salah satu, Marie tentu akan beralih memilih gadis berbahaya itu. Tentu saja Rhiana bisa menebak apa pilihan Marie.
Untuk sekarang, Marie tetap aman karena tidak ada saksi tentang penghianatannya. Selain itu, entah kenapa, Marie memilih percaya pada gadis yang menjadi buronan organisasi bawah tanah tempatnya bekerja. Perkataannya membuat Marie percaya padanya.
***
Karena insiden penyanderaan di gedung olahraga itu, olimpiade untuk sementara dihentikan. Ada juga beberapa ruangan yang harus diperbaiki karena kerusakan akibat ledakan yang Rhiana buat.
Rusia seketika heboh karena insiden penyanderaan di gedung olahraga olimpiade Rusia. Banyak korban penyanderaan dimintai keterangan tentang kejadian itu.
Meski pihak keamanan Rusia sudah menyelidiki, tetapi tidak ada petunjuk apapun. Wajar saja, tidak ada petunjuk apapun, karena Rhiana sudah membersihkan tempat itu untuk menghilangkan jejaknya dan jejak para pengawal bayangan. Sisanya jejak anggota organisasi bawah tanah yang tentu sudah dibersihkan oleh Marie.
Olimpiade akan dilanjutkan minggu depan setelah gedung diperbaiki. Rhiana juga bisa memikirkan rencana selanjutnya pada organisasi bawah tanah.
***
Rhiana sedang menatap paket yang dikirim padanya. Di dalam kotak itu berisi gaun, higheels, kotak perhiasan, dan sebuah topeng perak. Rhiana sedang berpikir, siapa yang mengirim kotak ini padanya.
Baru saja dia akan meminta bantuan seseorang untuk mencari tahu siapa yang mengirim kotak ini, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
Tertera nama pelukis A3 di sana. Rhiana mengerutkan kening dan menjawab panggilan itu.
"Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat sore. Maaf mengganggu waktumu, Rhi. Bisakah kamu menghadiri pelelangan malam ini? Mewakili pelukis A3."
"Mewakili anda? Kenapa harus saya, Tuan?" Rhiana sedang berpikir, apa dia harus setuju atau tidak.
"Hanya kamu yang saya percaya, Rhi. Dan juga, saya di Swiss. Kamu tidak lupa, jika pekerjaan utama saya seorang asisten, 'kan?"
"Saya mengerti. Pukul berapa pelelangannya, Tuan?" Rhiana akhirnya menyetujuinya juga. Hitung-hitung menghilangkan rasa bosannya karena sudah dua hari ini dia tidak melakukan apapun.
Untungnya, Brilyan tidak mengganggunya. Bagaimana dia bisa mendekati Rhiana, jika Dalfa dan Dalfi selalu membuatnya jauh dari Rhiana.
__ADS_1
"Pukul 8 malam. Untuk jelasnya, ada undangan di dalam kotak itu. Kamu juga harus memakai gaun itu. Paketnya sudah sampai, 'kan?"
"Sudah, Tuan."
"Ya, sudah. Saya akan menutup panggilan ini,"
"Baik, Tuan. Selamat sore."
"Ya."
Panggilan pun berakhir.
Rhiana beralih mengambil undangan di dalam kotak itu dan membacanya. Menganggukkan kepalanya, Rhiana kemudian mengirim pesan pada seseorang. Hanya beberapa menit, sebuah email masuk di ponselnya. Rhiana lalu mengambil iPad miliknya dan membaca file yang dikirim padanya.
Ternyata pelelangan ini diselenggarakan oleh sebuah serikat yang dikenal dengan nama Pentagon. Pentagon adalah sebuah serikat yang dibentuk 10 tahun lalu. Semua anggota Pentagon berjumlah 100 orang. Ditambah 5 orang wakil ketua dan seorang ketua yang merupakan pemimpin tertinggi serikat Pentagon. Jadi, total semuanya ada 106 orang.
Syarat untuk masuk kedalam Pentagon adalah anggotanya harus mempunyai bisnis sendiri entah itu legal atau ilegal, asalkan menghasilkan milyaran maupun trilunan dollar setiap bulannya. Pentagon tidak peduli tentang bisnis ilegal setiap anggotanya, karena identias setiap anggota pentagon sangat rahasia. Hanya ketua dan 5 wakilnya yang tahu identitas setiap anggota.
Setiap pertemuan serikat Pentagon, semua orang harus memakai topeng sehingga mereka tidak mengenal satu sama lain. Identitas mereka hanya dikenali sebagai ketua, wakil Ketua dan anggota, melalui topeng dan inisial nama yang tertera di bagian dada sebelah kiri masing-masing.
Topeng emas untuk Ketua, topeng perak untuk 5 wakil ketua dan terakhir topeng hitam untuk 100 anggota tersisa.
Serikat ini dibentuk hanya untuk kesenangan para konglomerat. Mereka hanya menghamburkan uang, ataupun berinvestasi untuk menambah kekayaan masing-masing.
"Hm... kelompok orang kaya ini... semoga ada hal menarik di sana," Gumam Rhiana lalu meletakkan kembali iPadnya di atas nakas.
...
Tepat pukul 7 malam, Rhiana sudah siap dengan setelan gaun hitam yang dikirim untuknya. Rhiana malam ini membiarkan rambutnya digerai dengan sebagian dijepit di belakang. Tidak lupa juga, Rhiana memakai topeng perak yang tersedia dalam kotak.
"Seleranya ternyata tidak buruk," Rhiana memberi penilaian pada gaun yang dia kenakan. Gaun ini sesuai seleranya. Tidak kurang bahan dan tidak terlalu mewah. Gaun hitam ini sangat sesuai dengannya.
Merasa penampilannya cukup, Rhiana mengambil tas tangan yang juga berwarna senada dengan gaun yang dia kenakan. Rhiana kemudian bergegas keluar. Rhiana berjalan dengan tenang tanpa peduli ada yang mengenalinya. Toh, dia memakai topeng dan penampilannya berbeda dengan biasanya.
Sampai di pintu keluar hotel, Rhiana berdiri menunggu jemputan yang dikatakan Felix akan tiba pukul 19.10. Berarti sebentar lagi. Rhiana dengan sabar menunggu, hingga sebuah ferari merah berhenti di depannya. Rhiana tidak mengira ferari ini yang menjemputnya.
"Naik," Rhiana mengenali suara pria di dalam ferari itu yang juga mengenakan topeng berwarna perak sepertinya. Rhiana tidak mengatakan apapun dan masuk ke dalam mobil.
"Jika itu kamu, tidak masalah. Dan juga... Berhenti memanggilku kakak ipar." Artya tentu saja tidak suka dipanggil seperti itu.
"Tidak ada yang salah dengan panggilan itu. Kak Artya memang kakak iparku, 'kan?" Rhiana tersenyum tipis tanpa menatap Artya yang meliriknya dengan datar.
"Ganti panggilan itu!" Nada suara Artya terdengar mengintimidasi.
"Kenapa harus? Aku masih menjunjung tinggi sopan santun," Rhiana tidak akan semudah itu patuh pada kakak Brilyan ini.
Artya menghela nafas berusaha tenang. Ternyata berbicara dengan gadis kecil ini tidak mudah. Selama ini, Artya tidak banyak bicara dan perkataannya tidak pernah dibalas seperti ini. Dia selalu mengatakan beberapa kata, selanjutnya orang yang mendengarnya pasti mengerti.
Belum lagi, orang-orang sangat takut padanya, mengingat satu kesalahan yang mereka buat, nyawa adalah taruhannya. Tapi gadis ini berbeda. Dia sama sekali tidak takut padanya. Artya semakin ingin membuat gadis kecil ini berada di sisinya.
"Terserah." Artya terpaksa mengalah. Rhiana tersenyum tipis lalu menatap keluar mobil.
"Tapi, kenapa kakak ipar yang menjemputku?" Ini yang membuat Rhiana penasaran.
"Karena itu kamu."
"Karena aku?" Rhiana memasang pose berpikir. Dia tahu, Artya sedang menggodanya. Sayangnya, Rhiana berpura-pura tidak tahu.
"Gadis ini..." Artya bergumam dalam hati.
Meski memakai topeng yang menutupi bagian dahi hingga hidung, tapi Artya bisa membayangkan betapa menggemaskan wajah gadis kecil di sampingnya ini. Setelah tersadar, Artya menggeleng. Bisa-bisanya dia memikirkan wajah gadis yang berstatus adik iparnya ini.
Artya tidak memberi jawaban yang Rhiana inginkan. Rhiana akhirnya hanya diam dan tidak lagi bertanya hingga mereka tiba di gedung Pentagon.
Sebelum turun, Rhiana melirik papan nama di dada kiri Artya. Ada inisial AX di sana. Milik Rhiana sendiri FL. Rhiana sepertinya harus mencari tahu lebih detail alasan Artya bergabung dalam serikat ini.
"Ayo!" Rhiana tersadar ketika Artya mengulurkan tangan padanya.
__ADS_1
"Kakak ipar tidak berencana merebutku dari Brilyan, 'kan?" Rhiana bergurau sebelum menyambut tangan Artya.
"Jika iya, kenapa?" Artya menjawab setelah memposisikan tangan Rhiana untuk menggandengnya.
"Huh?" Rhiana mengerutkan kening meski tidak terlihat karena tertutup topeng. Artya tidak menjelaskan dan beralih menatap ke depan.
"Tunggu, Kakak ipar...! tidakkah kakak ipar merasa aneh saat berdekatan denganku?" Rhiana baru sadar dengan kondisi Artya yang memiliki penyakit kebersihan.
'Kakak ipar lagi...'
Artya ingin sekali membungkam bibir yang sedari tadi memanggilnya kakak ipar. Tentu saja membungkam dengan cara yang sedikit... er... begitulah.
"Kamu terlalu cerewet. Diam sebelum aku cium!" Kalimat keramat itu akhirnya keluar juga dari bibir Artya. Dengan ini, Rhiana akhirnya diam juga. Rhiana tentu saja yakin, jika perkataan pria ini tidak main-main.
Tanpa sadar, sudut bibir Artya sedikit tertarik ke atas melihat Rhiana yang seketika diam karena ancaman darinya. Sepertinya ancaman ini akan digunakan di masa depan.
***
Suasana di dalam aula utama untuk pelelangan malam ini sedikit berisik, mengingat setiap anggota Pentagon berdatangan. Orang yang hadir malam ini lebih banyak dari total keseluruhan anggota Pentagon. Tentu saja, karena kebanyakan datang dengan pasangan masing-masing.
Aturan lain dalam serikat ini yaitu, setiap pelelangan atau kegiatan di luar pertemuan khusus anggota Pentagon, diperbolehkan datang dengan pasangan ataupun diwakilkan. Jadi, malam ini cukup banyak orang yang hadir. Entah apa yang akan dilelangkan malam ini, Rhiana sendiri penasaran. Dia juga berharap ada hal menarik di sini.
Mereka yang melihat kemunculan Rhiana dan Artya tentu memberi hormat, mengingat keduanya adalah wakil ketua, terlihat dari topeng perak yang keduanya kenakan dan inisial nama mereka. Untuk Rhiana sendiri, mereka tahu dia hanyalah perwakilan. Karena yang mereka tahu, wakil ketua dengan inisial FL adalah seorang pria.
Rhiana dan Artya kemudian mengambil posisi di dua kursi kosong khusus para wakil ketua. Kursi lain sudah terisi oleh wakil lain bersama pasangan masing-masing.
Tepat pukul 8 malam, pelelangan dimulai.
"Kakak ipar... kenapa hanya sedikit orang yang memakai topeng perak, sedangkan kebanyakan memakai topeng hitam?" Rhiana berbisik pada Artya. Tujuannya hanya ingin mengganggu Artya. Dia jelas tahu, pria ini tidak suka banyak bicara.
"Topeng perak untuk 5 wakil ketua, hitam untuk anggota, dan emas untuk ketua."
"Kalau begitu, dimana ketua? Aku tidak melihatnya," Rhiana menatap sekeliling mencari seseorang yang mengenakan topeng emas yang dimaksud.
"Ketua punya tempat tersendiri untuk mengikuti pelelangan. Tepatnya di atas bagian belakang," Rhiana tersenyum tipis tidak menyangka Artya begitu sabar memberi penjelasan padanya meski dengan berbisik.
"Wah... hebat! Apa kakak ipar sudah melihat wajah ketua?"
"Hmm."
"Seperti apa orangnya?"
"Kenapa kamu sangat ingin tahu tentang ketua Pentagon?"
"Eum..." Rhiana kembali memasang pose berpikir.
"Jika dia tampan, mungkin aku bisa mendekatinya dan meminta beberapa aset yang dia miliki,"
Artya menutup mulutnya dengan tangan dan menatap ke arah lain tidak ingin Rhiana melihat senyumnya yang tidak bisa ditahan lagi. Gadis di sampingnya ini begitu menggemaskan, pikirnya.
"Kamu anak orang kaya, kenapa berpikir seperti itu?" Tentu saja perkataan itu hanya Artya katakan dalam hati.
"Bukankah kekasihmu orang kaya? Kenapa tidak meminta padanya? Kamu juga bisa meminta padaku." Bisik Artya di telinga Rhiana. Kali ini lebih sensual. Artya ingin menggoda gadis ini lagi.
"Tidak bisa, Kakak ipar. Yang kaya itu orang tua kekasihku. Jadi, aku tidak bisa meminta padanya." Rhiana menggeleng dan menjawab dengan polos. Entah kenapa malam ini Rhiana sangat nyaman berbicara bahkan menggoda Artya.
"Kalau begitu, minta saja padaku." Artya memberi penawaran.
"Memangnya apa pekerjaan kakak ipar?"
"Itu rahasia."
"Kalau begitu, tidak jadi. Aku tidak ingin ditangkap polisi karena memiliki aset dari hasil bisnis ilegal."
Artya ingin sekali mencubit pipi gadis ini. Suasana hatinya begitu bagus hanya karena mendengar celoteh polos gadis ini. Artya tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Artya juga menyadari perubahan pada tubuhnya yang menerima sentuhan langsung dari gadis ini. Dia tidak merasa jijik berdekatan dan bahkan bersentuhan dengan Rhiana.
"Kamu belum tahu pekerjaan apa yang aku miliki. Kenapa sudah berpikiran buruk?"
__ADS_1
"Hanya perasaanku saja, Kakak ipar."
Baru saja Artya akan mengatakan sesuatu, host yang memimpin pelelangan malam ini mulai membuka sesi utama. Yaitu, pelelangan.