Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Psikopat Gila


__ADS_3

"Rhiri..."


"Rhiri..."


"Siapa yang memanggilku?" Ucap Rhiana dalam hati. Suara itu sedikit familiar. Nama panggilan itu juga tidak sembarang orang memanggilnya begitu. Tapi siapa yang memanggilnya di kegelapan ini?


"Lihat aku, Rhiri. Aku di sini!"


Rhiana membuka matanya dan menatap wajah cantik yang tersenyum lembut padanya. Rhiana meneteskan air matanya. Betapa dia sangat merindukan gadis di depannya.


"Lycoris... aku merindukanmu," Ucap Rhiana sebelum memeluk teman masa kecilnya itu dengan erat.


"Aku juga merindukanmu, Rhi. Tapi apa yang kamu lakukan di sini?" Perkataan Lycoris membuat Rhiana melepas pelukannya. Pandangannya dialihkan ke sekeliling. Hanya hamparan gurun pasir yang dilihatnya.


"Gurun?" Gumam Rhiana bingung. Kenapa dia bisa ada di sini?


"Kenapa?" Tanya Lycoris tersenyum tipis.


"Aku tidak tahu kenapa bisa sampai di tempat ini. Tapi, kenapa gurun?" Rhiana balik bertanya.


"Aku juga tidak tahu, Rhi. Tapi sebaiknya kamu pergi sebelum mereka datang."


"Mereka? Apa maksudmu? Jika pergi dari sini, kamu harus pergi bersamaku, Ly." Ucap Rhiana memegang pergelangan tangan Lycoris.


Lycoris menatap pergelangan tangannya yang dipegang Rhiana dan tersenyum tipis.


"Ini tempatku, Rhi. Kamu harus pergi tanpaku. Dengan begitu kamu akan selamat. Aku akan menahan mereka untukmu,"


"Tidak! Kamu harus pergi bersamaku. Aku yang akan melindungimu,"


"Sudah tugasku untuk melindungimu di sini. Tugasmu melindungi kakakku, Rhi."


"Tapi..."


DOR


DOR


DOR


Tiga tembakan beruntun terdengar. Rhiana terkejut dan menarik Lycoris agar berlindung. Sayangnya Lycoris tidak bergeming membuat Rhiana menoleh ke belakang melihat teman masa kecil yang sudah dianggapnya saudara sendiri.


"Ly..." Panggil Rhiana pelan.


TES


TES


TES


Rhiana semakin terkejut melihat darah menetes dari kepala dan mengenai wajah Lycoris. Bahkan baju putih yang dipakai Lycoris sudah berubah warna menjadi merah secara perlahan-lahan. Lycoris sudah terjatuh dengan tubuh berlumuran darah.


"Tidak... jangan pergi lagi!" Rhiana menggeleng tidak terima. Rhiana sudah menangis menatap wajah pucat Lycoris di pangkuannya.


"Pergilah..." Ucap Lycoris pelan.


"Mana mungkin aku pergi meninggalkanmu lagi? Tidak mau!" Rhiana bersikeras ingin tetap di sana.


"Mereka sudah di sini, Rhi. Sebaiknya kamu pergi sebelum terlambat."


"Pokoknya aku tidak akan pergi!"


"Mereka sangat jahat, Rhi. Mereka tidak akan membiarkan orang yang menghalangi mereka hidup dengan damai. Sebelum kamu ketahuan, sebaiknya kamu pergi, Rhi."


"Aku ti-"


DOR


"Ugh..." Rhiana merintih kesakitan karena tiba-tiba merasa sakit di bagian pinggangnya. Ternyata tembakan tadi berhasil menembus bagian itu.


Rhiana menoleh ke belakang mencari si penembak. Sayangnya tidak ada siapapun di sana. Ketika Rhiana berbalik ingin melihat Lycoris, ternyata pangkuannya kosong. Hanya tersisa dirinya sendiri di hamparan gurun pasir yang luas ini.


"Lycoris... kamu di mana?" Teriak Rhiana setelah memaksakan tubuhnya berdiri ingin pergi dari sana.


"Ugh..." Rhiana terus merintis kesakitan. Padahal biasanya luka karena satu peluru tidak pernah sesakit ini. Kenapa ini begitu menyakitkan?

__ADS_1


"Gadis menyebalkan, bangun kamu!"


Rhiana membuka matanya dan terkejut melihat wajah senang Sienna yang berdiri di sampingnya.


"Tadi mimpi?" Ucap Rhiana dalam hati masih mencerna apa yang terjadi. Rhiana kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ingin memastikan keadaan sekitar.


Melihat Brilyan yang terbaring di brankar sama sepertinya, Rhiana melotot tersadar. Sepertinya dia dan Brilyan diculik oleh Sienna dan dibawa ke laboratorium ini.


TSUK


"Ugh..." Rhiana merintih lagi karena seseorang menekan luka pasca operasinya yang masih sangat baru. Tentu saja pelakunya Sienna.


"Aduh... sakit, ya? Maaf, aku tidak sengaja." Suara menyebalkan dari Sienna itu membuat Rhiana menutup matanya berusaha tidak merintih kesakitan agar wanita di depannya ini tidak merasa di atas awan.


"Loh... kamu kuat juga, ya. Sudah kutekan, tapi tidak ada suaranya? Ini aneh..." Ucap Sienna memasang wajah bingung karena telunjuknya yang menekan luka jahitan Rhiana yang sudah mengeluarkan darah itu sama sekali tidak berefek pada Rhiana.


Sedangkan Rhiana mati-matian menahan diri untuk tidak berteriak karena ini sangat menyakitkan. Dipermainkan saat terluka seperti ini benar-benar menyakitkan. Demi harga dirinya, Rhiana tidak akan mengikuti permainan itu. Meski bibirnya terluka karena menggitnya untuk meredam suara, Rhiana tidak peduli. Lebih baik dia mati kesakitan dari pada melihat wajah kemenangan Sienna.


"Bagaimana kalau begini..." Ucap Sienna sebelum mengambil pena di saku pria yang datang bersamanya tadi kemudian memakainya untuk menekan luka Rhiana.


TSUK


CPRAT


"Wah... ada aliran air..." Ucap Sienna kesenangan melihat darah Rhiana menyiprat karena pena ditanganya berhasil menusuk hingga hanya tersisa bagian ujung yang dipegangnya.


Rhiana hanya bisa mengerang dalam diam, menahan suaranya. Wajah Rhiana semakin pucat. Rhiana juga tidak bisa bergerak karena kedua tangan dan kakinya sudah di borgol bersama dengan brankar.


Mereka yang menyaksikan tindakan ekstrim Sienna bergidik ngeri. Ternyata orang yang mereka layani ini seorang psikopat gila.


SRET


CPRAT


Sienna dengan santai menarik pena keluar dari luka Rhiana.


"Masih mau diam?" Ucap Sienna menatap Rhiana penuh kemenangan. Wajah pucat Rhiana saat ini menjadi kesenangan tersendiri baginya.


"Apa maumu?" Tanya Rhiana basa-basi setelah merasa sedikit legah karena Sienna menarik pena itu keluar.


"Kamu bertanya apa mauku? Sudah pasti menghilangkan semua sampah yang mengotori jalanku!" Sienna menjawab santai sebelum mengambil selembar tisu dari kotak tisu yang diberikan pria di sebelahnya. Melihat sikap sigap pria itu, Rhiana bisa menebak pria itu adalah orang kepercayaan Sienna.


"Kalau begitu, bunuh aku maka semua rencanamu akan lancar."


"Awalnya aku ingin membunuhmu, tapi aku berubah pikiran setelah melihat pria malang ini." Ucap Sienna sebelum menghampiri brankar Brilyan. Rhiana mengepal tangannya berusaha menghilangkan pikiran buruk di kepalanya.


"Oh, jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh pria ini. Aku punya rencana lain. Tentu saja kamu pasti akan senang." Rhiana sedikit legah karena Brilyan tidak dibunuh.


"Karena kamu baru sadar, pasti kamu tidak tahu kenapa aku menyebutnya pria malang."


Benar juga. Apa yang sudah terjadi hingga Brilyan disebut pria malang? Rhiana juga penasaran.


"Melihat ekspresimu, sudah pasti kamu penasaran. Karena aku orangnya baik hati, jadi aku akan menjawabnya." Sienna tersenyum menatap Rhiana sebelum beralih menatap Brilyan.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriak Rhiana kesal melihat Sienna ingin menarik baju Brilyan ke atas.


PLAK


"Jangan berteriak padaku. Kamu hanya anak kecil. Jangan berlagak di depanku!" Karena jarak brankar Rhiana dan Brilyan hanya beberapa langkah, sehingga Sienna yang berdiri di antara mereka mudah bergerak.


PLAK


"Jangan juga memberikan tatapan itu padaku!" Ucap Sienna setelah menampar pipi Rhiana yang lainnya karena diberi tatapan tajam.


Rhiana memejamkan matanya sedikit mengalah. Rhiana tidak bisa melakukan apa-apa sekarang karena kondisinya. Untuk saat ini dia menerima semua perlakuan buruk ini. Tapi jika bebas, Rhiana bersumpah akan membalasnya berkali-kali lipat. Tangan Rhiana bahkan mengepal erat memikirkan balas dendamnya yang entah kapan akan datang.


"Kamu harusnya mengerti setelah melihat luka ini," Ucap Sienna setelah menunjukan perban di bagian pinggang depan Brilyan.


"Itu..." Gumam Rhiana melihat perban Brilyan sebelum beralih melihat lukanya sendiri. Bagaimana bisa Brilyan seberani itu mendonorkan ginjalnya padanya? Mereka bahkan belum kenal lama. Kenapa dia bisa mengorbankan salah satu organ tubuhnya tanpa memikirkan resiko ke depannya? Rhiana tidak habis pikir.


"Bukankah dia pria malang? Dia bahkan rela mendonorkan ginjalnya pada gadis menyebalkan sepertimu yang tidak pernah meliriknya sedikitpun. Kamu bahkan menyukai orang lain,"


"Apa maksudmu?"


"Loh... masih mengelak? Bukannya kamu menyukai Kak Axell? Tapi tenang saja, Kak Axell tidak akan pernah menjadi milikmu." Perkataan Sienna membuat Rhiana semakin bingung. Axell itu nama tengah Artya, dan Sienna mengatakan bahwa ia menyukai Artya? Apa itu benar? dan ia bahkan tidak menyadarinya?

__ADS_1


"Jadi... apa tujuanmu?" Rhiana malas memikirkan hal yang tidak penting. Lebih baik mengorek informasi lain.


"Benar juga. Aku ingin kamu melihat dengan matamu sendiri, bagaimana nasib pria malang ini." Ucap Sienna dan menyeringai. Rhiana mengerutkan kening merasa waspada. Entah apa yang akan Sienna lakukan pada Brilyan.


"Bangunkan dia!" Perintah Sienna. Pria paru baya sebelumnya juga bergerak dengan cepat membangunkan Brilyan. Rhiana bersyukur karena metode membangunkan Brilyan tidak sama dengannya. Brilyan hanya diberi sedikit setrum kejutan dua kali dan pria itu seketika bangun.


"Rhia..." Nama Rhiana dipanggil pertama kali saat Brilyan bangun karena terkejut. Seakan-akan dia baru saja bangun dari mimpi buruk. Brilyan menyesuaikan keadaan sekitar sebelum ingin menerobos turun menghampiri brankar Rhiana setelah dia bertatapan dengan Rhiana.


"Tahan dia!"


"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?" Brilyan merontah ingin lepas. Sayangnya dia ditahan oleh dua orang pria berpakaian hitam yang sedari tadi berjaga di bagian pintu.


"Rhia... kamu baik-baik saja?" Tanya Brilyan khawatir. Meski kedua tangannya ditahan, Brilyan tidak peduli dan terus merontah ingin melepaskan diri.


TSUK


"Ugh... sialan... apa yang kamu lakukan?" Teriak Brilyan kesakitan karena lagi-lagi Sienna menekan bekas jahitannya seperti yang dilakukannya pada Rhiana.


PLAK


"Sepertinya kalian berjodoh! Kemarahanmu mirip dengannya." Ucap Sienna setelah menampar pipi Brilyan.


"Apa yang kamu lakukan pada Rhiana?" Tanya Brilyan geram.


TSUK


"Ugh..."


"Kamu penasaran? Jika benar, teriaklah dengan kencang maka aku akan menjawabmu."


TSUK


Jahitan Brilyan sudah berdarah karena Sienna semakin menekannya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Argggh..."


"Benar, seperti itu. Suaramu enak didengar." Ucap Sienna semakin menekan luka Brilyan. Si pemilik luka sendiri terus berteriak kesakitan. Rhiana bahkan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tahu betapa sakitnya luka itu saat ditekan.


"Berhenti! Lakukan saja padaku. Dia sudah kesakitan," Rhiana tidak bisa melihat Brilyan diperlakukan seperti itu. Rhiana mengepal tangannya dan menggertakkan giginya marah.


"Wah... tenang saja, setelah ini giliranmu."


"Tidak. Lakukan saja padaku!" Brilyan sadar, ternyata Rhiana diperlakukan seperti ini juga. Dan Brilyan tidak bisa melihat orang yang disukainya itu kesakitan.


"Hoho... aku cemburu. Romantis sekali kalian. Jadi, bagaimana ini... siapa yang harus aku pilih?" Sienna sudah menarik tangannya. Sienna sedang memasang pose berpikir yang tentu saja membuat Rhiana ingin sekali membunuh wanita itu.


"Lakukan saja padaku." Sahut Brilyan cepat.


"Kamu gila? Kamu bukan siapa-siapa bagiku. Jangan sembarangan berkorban! Jangan bertindak bodoh!" Teriak Rhiana kesal pada Brilyan.


Bukannya marah atau kecewa, Brilyan justru memberikan senyum lembutnya pada Rhiana. "Tidak masalah kamu tidak menganggapku. Tapi satu yang harus kamu tahu... apapun akan aku lakukan untukmu. Hanya untukmu, Rhiana. Nyawa pun akan aku berikan."


"Sialan... berhenti! Jangan sok di depanku. Lodwik, bawa 'itu' padaku!" Sienna kesal setengah mati karena bisa-bisanya ada orang yang begitu mencintai orang lain dan bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri. Tidak ada seorang pun seperti itu padanya. Hidupnya selama ini hanya dipenuhi dengan kepalsuan. Tidak ada seorangpun yang tulus padanya. Apalagi jika orang yang merasakan semua keberuntungan itu adalah Rhiana, Sienna sangat marah.


Melihat isi kotak yang dibawa Lodwik, si orang kepercayaan Sienna itu, Rhiana terkejut. Itu seperti serum X.


"Jangan bilang..." Ucap Rhiana dalam hati.


"Aku ingin kamu melihat dengan matamu sendiri, bagaimana orang yang tulus padamu berubah." Setekah mengatakan itu, Sienna mengambil jarum suntik berisi cairan berwarna kuning keemasan itu dan menyuntikkannya pada leher Brilyan.


"Apa yang..." Ucapa Brilyan tertahan sebelum pria itu pingsan.


"Hm... 5 menit cukup." Ucap Sienna sambil menatap jam tangannya.


Jantung Rhiana berdebar gugup. Entah apa yang akan berubah dari Brilyan. Semoga itu bukan sesuatu yang buruk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rhiana : Brilyan pasti baik-baik saja, kan, Thor?


Author : Mari berdoa bersama untuk Brilyan.


Rhiana : Apa maksudmu, Thor?


Author : - - -

__ADS_1


__ADS_2