Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Saudari Angkat


__ADS_3

Rhiana mengangkat kepalanya penasaran seperti apa ekspresi Sienna sekarang. Sesuai dugaan, ekspresi wanita itu terlihat tidak senang padanya.


"Siapkan kebutuhannya," Artya memberi perintah pada Felix.


"Baik, Tuan."


"Halo, Ibu. Saya tidak menyangka ternyata kita masih keluarga." Rhiana membuka suara dengan tenang.


"Ibu? Kalian saling kenal?" Artya bertanya penasaran.


"Ibu Sienna wali kelas sementara di kelasku. Aku sangat terbantu karena setiap jam pelajarannya, aku selalu menjadi siswa pertamanya yang menjawab soal paling sulit di kelas. Bukankah itu tandanya Ibu Sienna sayang padaku?"


"Heh... Jadi, begitu. Aku harap kamu tidak menyusahkanku selama tinggal di sini, Sienna. Meski Rhiana adalah muridmu, tapi di sini, dia adalah penguasa pertama di rumah ini. Jangan semena-mena padanya karena ini bukan lingkungan sekolah." Artya tanpa diberitahu, langsung mengerti apa yang dilakukan Sienna pada Tupai kecilnya selama di sekolah.


Rhiana bisa melihat betapa kesalnya Sienna melalui kedua tangannya yang meremas roknya hingga kusut. Entah Artya dan Felix melihat itu atau tidak.


"Kamu bisa pergi. Felix akan membantumu selama di sini. Jangan pernah mencariku jika tidak ada hal penting. Katakan semua kebutuhanmu pada Felix."


"Silahkan ikuti saya, Nona." Felix dengan sopan menuntun Sienna.


"Aku ingin mengatakan satu hal sebelum pergi. Sebagai saudari kakak, dan sebagai wali kelas Rhiana, aku hanya ingin mengingatkan. Sangat tidak sopan jika kakak bertindak seperti itu. Rhiana masih di bawah umur." Sienna kemudian pergi dengan wajah tersenyum senang. Wanita itu senang karena berpikir perkataannya pasti menyinggung Rhiana dan Artya.


"Sepertinya dia sangat membencimu, Tupai kecil." Artya sedikit terkekeh. Pria itu tidak merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan Sienna. Dia tidak peduli.


"Begitukah? Aku tidak peduli."


"Bagus. Itu baru milikku. Ayo masuk, sudah waktunya tidur siang."


......................


Pagi hari, kediaman Artya Amstrong.


Waktu sarapan pagi.


Rhiana sedikit bersyukur, karena kedatangan Sienna membuatnya bisa keluar dari kamar untuk sarapan bersama seperti hari ini. Rhiana juga bisa melihat suasana rumah ini yang cukup besar dan nyaman. Sayangnya, dia tidak tahu di mana sebenarnya letak rumah ini.


"Aku mencoba memasak dua masakan asal Thailand untuk sarapan hari ini. Silahkan dicoba, Kak." Sienna dengan senyum manisnya mendorong dua piring masakan buatannya ke arah Artya.


Rhiana yang duduk di sebelah Artya hanya menatap datar piring berisi salad ala Thailand dan semacam telur dadar tetapi sedikit berbeda. Itu terlihat enak baginya yang seorang pecinta masakan kuliner. Masalahnya, apakah Artya akan memakan itu atau tidak dengan kondisi pria itu.


"Kamu tidak tahu kondisiku dari ibu?" Artya bertanya dengan datar.


"Aku tahu, tapi..."


"Tuan tidak memakan masakan orang lain selain masakan koki yang sudah bekerja sejak Tuan masih kecil, Nona." Felix yang setia berdiri di samping Artya segera menjelaskan.


"Apa nama masakan ini, Kak? Boleh aku coba?" Rhiana sebenarnya ingin sekali ikut menyudutkan Sienna, tetap melihat hidangan lezat itu, lidahnya tidak tahan untuk segera mencicipinya. Jadi, jika soal makanan, dia akan bermurah hati.


"Yang ini namanya Som Tam atau salad ala Thailand. Sedangkan yang satu ini namanya Nai Mong Hoy Tod. Seperti yang kamu lihat, ini mirip telur dadar tapi diberi beberapa bumbu untuk topingnya." Meski Sienna kesal karena makanannya ditolak, apalagi Rhiana seperti sengaja meminta makanannya, tetapi wanita itu berusaha tenang dan menjawab dengan ramah.


"Wah... Rasanya luar biasa, Kak. Boleh aku menghabiskannya?" Rhiana sungguh menikmati dua masakan ini. Tentu saja dia tidak takut dengan racun. Jika makanan ini dibuat khusus untuknya, dia akan berpikir dua kali sebelum memakannya.


"Ya." Sienna hanya menjawab dengan singkat.


"Sangat enak? Makanmu seperti anak kecil saja," Artya tidak menikmati sarapannya, tetapi dia justru menikmati wajah senang Rhiana. Tangannya saat ini terulur membersihkan sisa makanan di sudut bibir Rhiana.


"Iya. Kakak mau coba?" Rhiana dengan semangat menawarkan.


"Tidak, kamu saja. Aku akan mencoba lain kali jika itu masakanmu."


Perkataan Artya jelas sekali menunjukan bahwa dia hanya akan memakan makanan buatan Rhiana di masa depan. Betapa kesalnya Sienna mendengarnya. Nafsu makannya seketika menghilang


"Untuk yang satu itu... Aku akan belajar di masa depan, Kak. Aku tidak bisa memasak," Rhiana dengan malu mengakui betapa buruknya dia dalam urusan dapur.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Jika itu masakanmu, aku yakin pasti enak." Felix yang bediri di belakang Artya tidak tahu bagaimana harus berkomemtar. Betapa majikannya ini sudah banyak berubah. Itu semua karena si anak bungsu keluarga Veenick ini.


"Bagaimana jika yang aku masak itu racun?" Rhiana sudah pernah mencoba memasak beberapa tahun lalu, dari penilaian sahabatnya dan kedua kakaknya, yang dimasaknya seperti racun. Setelah hari itu, Rhiana tidak berani lagi menyentuh dapur. Itulah kenapa Bibi Ratih ikut bersamanya ke Swiss agar memasak untuknya.


"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu pasti tidak akan membunuh suami masa depanmu sendiri. Aku selalu percaya padamu,"


TRING


Suara berisik dentingan sendok dan piring mengalihkan perhatian Rhiana dan Artya.


"Aku ingat belum selesai menyiapkan materi untuk mengajar hari ini. Aku pergi dulu, Kak. Selamat makan." Sienna kesal dengan interaksi dua orang di depannya yang mengabaikannya, segera pergi dari sana.


"Sungguh mengenaskan nasibku," Keluh Felix dalam hati. Padahal keberadaan Sienna cukup membantunya karena tidak merasa seperti nyamuk, kini dia benar-benar merasakannya.


......................


"Kamu dimana, baby?"


Suara Dalfi di seberang telepon terdengar khawatir. Kakak Rhiana itu tentu saja khawatir karena Rhiana tidak ada kabar selama hampir seminggu.


^^^"Aku yakin, kakak sudah tahu dimana aku sekarang."^^^


"Apa sebaiknya pria itu kakak beri pelajaran? Dia terlalu sering menculikmu, Baby. Kakak tidak suka padanya."


^^^"Untuk sementara, jangan lakukan apapun, Kak. Aku punya rencana sendiri. Lagipula, ini mungkin terakhir kalinya aku membiarkannya membawaku."^^^


"Baik. Kakak percaya padamu. Kakak juga punya informasi untukmu,"


^^^"Apa itu, Kak?"^^^


"Menurut penyelidikan mata-mata kita, orang yang membuat serum X adalah seorang perempuan. Identitasnya masih dilacak. Entah dia yang membuat serum berbahaya lainnya atau tidak. Semuanya masih dalam penyelidikan."


^^^"Aku mengerti. Kabari aku jika ada informasi penting lainnya, Kak."^^^


^^^"Iya, Kak. Sampai ketemu nanti,"^^^


"Bye, Baby."


^^^"Tunggu, Kak. Aku melupakan sesuatu."^^^


"Ada apa, Baby?"


^^^"Kakak tahu? Ibu Sienna sekarang tinggal bersamaku. Maksudku, dia juga tinggal di rumah Artya."^^^


"Jangan bilang..."


^^^"Tepat sekali. Ibu angkat Sienna yang berasal dari Swiss adalah ibu kandung Artya."^^^


"Pantas saja dia memusuhimu. Itu artinya dia menyukai pria itu. Berhati-hatilah. Jangan sampai dia melakukan hal buruk padamu, Baby."


^^^"Aku tahu, Kak. Aku baik-baik saja,"^^^


"Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya. Sebentar lagi wanita itu masuk. Jaga dirimu, Baby."


^^^"Iya, Kak. Bye."^^^


......................


"Ada hubungan apa kamu dengan Kakak Axell?" Sienna bertanya pada Rhiana. Axell adalah nama panggilan Sienna untuk Artya yang diambil dari nama tengah pria itu.


Saat ini Rhiana dan Sienna berada dalam perpustakaan milik Artya. Sienna menerobos masuk ke dalam kamar dan mencari Rhiana untuk mengatakan apa yang dia pikirkan.


"Kenapa ibu menanyakan itu? Bukannya Kak Artya sudah mengatakan dengan jelas? Aku adalah penguasa pertama di sini. Aku adalah ratu di rumah ini. Itu berarti, aku adalah nyonya rumah ini." Rhiana menjawab setelah membuka lembar buku di tangannya.

__ADS_1


Meski sebenarnya Rhiana enggan menjadi nyonya rumah, tapi dia tidak ingin kalah dari Sienna. Berbohong sedikit tidak menjadi masalah'kan?


"Jangan bicara omong kosong. Setahuku kak Artya tidak pernah dekat dengan wanita manapun."


"Buktinya, sekarang aku di sampingnya, 'kan?" Rhiana dengan santai menyahut. Sienna terdiam. Tidak tahu bagaimana harus membalas Rhiana.


"Jadi, kedatangam ibu di sini cuman ingin menanyakan itu? Buang-buang waktuku saja,"


"Aku ingin mengatakan satu hal padamu, Rhiana. Selagi aku masih hidup, aku tidak akan merestui hubunganmu dan Kak Axell."


TAP


Rhiana menutup buku di tangannya. Dia tersenyum tipis menatap Sienna.


"Sebenarnya aku tidak peduli. Tapi, aku juga penasaran kenapa ibu tidak merestui kami? Jangan-jangan..." Rhiana menggantung perkataannya kemudian menatap Sienna dengan seringai khasnya. Rhiana berdiri dari tempat duduknya dan mengahampiri Sienna.


Sienna yang penasaran apa yang ingin dikatakn Rhiana berusaha tenang di sofa yang tidak jauh dengan Rhiana.


"Apa ibu menyukai kakak angkat sendiri? Saya harap ini tidak benar," Bisik Rhiana di telinga Sienna. Rhiana kemudian pergi meninggalkan Sienna.


"Oh, iya. Aku lupa mengatakan ini. Kak Artya sangat tidak suka orang asing masuk ke sini. Berdiri di depan pintu kamarnya saja itu sudah dilarang. Tapi, mengingat ibu adalah sau-da-ri ang-kat, ibu pasti baik-baik saja. Sampai ketemu lagi, Bu." Rhiana kemudian benar-benar pergi dari sana.


......................


Ruang kerja Artya.


"Alasan Nona Rhiana menjaga pria itu karena pesan terakhir sahabatnya yang meninggal setengah tahun lalu, Tuan. Nama sahabatnya itu Lycoris. Dia adalah adik kandung Yeandre. Nona Lycoris diadopsi oleh Tuan dan Nyonya Veenick sejak dia masih kecil. Untuk sementara, hanya itu yang baru kami dapatkan, Tuan."


"Hm. Bagaimana dengan wanita itu,"


"Nona Sienna maksud anda?"


"Ya."


"Nama lengkapnya Sienna Pheneass Vajiralongkorn. Dia sekarang menjadi putri mahkota Thailand. Dia diadopsi oleh Nyonya saat beliau melakukan perjalanan ke Kanada. Itu sekitar 15 tahun lalu. Nyonya bertemu dengannya yang tidak sengaja dipukul karena mencuri makanan.


Selain itu, menurut orang kita, Nona Sienna bisa mengakusisi takhta menjadi ratu di Thailand karena memiliki banyak pendukung di sana. Prestasi Nona Sienna sangat besar dan sudah diakui."


"Lalu, ada urusan apa dia datang ke sini?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Itu belum dikonfirmasi. Tapi menurut saya, kedatangan Nona Sienna karena hubungan anda dan Nona Rhiana yang menjadi perbincangan publik. Sepertinya Nona Sienna menyukai anda, Tuan."


"Awasi dia. Jangan biarkan dia mengganggu Tupai kecilku."


"Saya mengerti, Tuan."


"Kamu bisa pergi,"


"Ada yang ingin saya katakan lagi, Tuan." Felix terlihat ragu.


"Katakan."


"Nona Sienna saat ini sedang berbincang dengan Nona Rhiana di perpustakaan, Tuan."


"Wanita itu, dia sudah melewati batas." Artya segera berdiri dan bersiap keluar.


"Mau kemana, Tuan?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like chapter ini jika kalian suka.


Sampai ketemu di chapter selanjutnya😁

__ADS_1


__ADS_2